"Apa benar ini rumah yang dimaksud? "
wajah Raisa pucat pasif sambil membawa tasnya di pundaknya.
Raisa beberapa hari lalu mendapatkan warisan dari kakek pihak ayahnya sebuah rumah di pinggir kota, saat berada dirumah dekat hutan itu memang rumah mewah tapi suasananya aneh.
tapi Raisa tidak punya pilihan karena dia juga tidak punya tempat tinggal di kota, daripada dia menjadi tunawisma lebih baik tinggal di rumah hantu itu.
saat tinggal di dalam sana, kejadian aneh terjadi padanya.
dari mulai bayangan manusia hitam, setiap tengah malam.
saat tengah malam, Raisa dikejutkan dengan kenyataan ternyata dirinya hidup dengan makhluk halus dirumah ini dan pemimpin rumah itu adalah makhluk Banaspati bernama Arya.
Dan siapa Arya itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anastasia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 19.Bermimpi.
Cahaya keemasan yang memancar dari tubuh Raisa perlahan menyebar lembut, merambat menyusuri setiap retakan merah yang melukai tubuh Arya. Satu per satu luka itu menutup perlahan, darah berhenti menetes, dan rasa panas yang menyiksa perlahan berganti menjadi kehangatan yang menenangkan. Arya memejamkan mata, menikmati sentuhan yang begitu asing namun begitu damai, sesuatu yang sudah ratusan tahun tak pernah ia rasakan lagi.
Namun di saat yang sama, tubuh mungil di pelukannya perlahan melemah. Cahaya yang menyelimuti Raisa meredup pelan-pelan, wajah cantiknya kembali pucat pasi, dan napasnya yang tadinya teratur kini terdengar samar dan berat. Sebelum sempat Arya bertanya apa yang terjadi, tubuh gadis itu limbung seketika.
"Raisa!"
Arya sigap menangkap tubuh itu sebelum sempat jatuh ke lantai. Ketenangan yang biasanya ia jaga dengan baik seketika runtuh. Matanya melebar panik, jantungnya berdegup kencang bukan karena luka yang baru sembuh, melainkan karena ketakutan melihat sosok yang baru saja memberinya makna kembali hidup kini tak berdaya di pelukannya.
"Raisa! Bangun! Apa yang terjadi?!" serunya gemetar, menepuk pelan pipi gadis itu, namun tak ada tanggapan.
Jatmika yang sedari tadi mengamati dengan mata tajam segera melangkah mendekat, memeriksa nadi di leher Raisa dengan jari yang terlatih. Wajahnya yang tenang sedikit melunak, namun masih menyiratkan keseriusan.
"Jangan panik, Tuan," ucapnya pelan namun tegas. "Nadi nona masih berdetak. Ia tidak terluka."
"Lalu kenapa dia pingsan? Kenapa dia tak sadarkan diri?" Arya menatap tajam, penuh rasa bersalah yang meluap. "Apa yang terjadi padanya?"
"Ini adalah harga yang harus dibayar," jelas Jatmika perlahan. "Untuk pertama kalinya raga nona Raisa terkejut bisa menyalurkan kekuatan inti sakti yang ada didasar bumi, padahal ini belum bulan merah muncul.Tuan tidak perlu khawatir,nona Raisa hanya tertidur saja karena kelelahan."
Mendengar itu, rasa bersalah menyergap hati Arya begitu kuat hingga ia hampir tak mampu bernapas. Ia memeluk tubuh mungil itu erat, seolah takut jika ia melepaskannya walau sedetik saja, gadis itu akan hilang dibawa angin. Tanpa banyak bicara, ia mengangkat tubuh Raisa dengan hati-hati, membaringkannya perlahan di atas ranjang empuk miliknya, lalu menarik selimut hingga menutupi bahu gadis itu.
"Kau istirahatlah," bisiknya lirih, menyentuh lembut rambut Raisa yang berantakan. "Maafkan aku... maafkan aku yang menyusahkanmu."
Dua hari dua malam berlalu begitu lama.
Arya hampir tak pernah beranjak dari sisi ranjang itu. Ia duduk diam di tepi tempat tidur, matanya tak lepas menatap wajah pucat Raisa, sesekali menyentuh pelan punggung tangan gadis itu untuk memastikan suhu tubuhnya tetap hangat. Jatmika sudah berkali-kali membujuknya untuk memulihkan energinya setelah bertarung.
"Tuan, biarkan saya yang mengawasi sebentar. Anda perlu memulihkan tenaga juga," ucap Jatmika lembut.
Namun Arya hanya menggeleng pelan tanpa mengalihkan pandangan. "Biarkan aku di sini. Bagaimana aku bisa tenang jika dia belum membuka mata?"
"Tapi Anda sendiri belum istirahat hanya menunggu nona disini," desak Jatmika pelan.
Arya terdiam sejenak, lalu menatap Jatmika sekilas dengan tatapan yang sulit diartikan. "Biarkan aku disini,sampai Raisa terbangun."
Perlahan namun pasti, perasaan yang selama ini ia pendam sendirian mulai terlihat jelas dari sikapnya. Ia yang biasanya dingin, angkuh, dan tak peduli pada makhluk lain, kini rela membiarkan dirinya tersiksa oleh rasa khawatir demi seseorang yang baru saja ia temui. Meski ia sendiri belum menyadarinya, benih-benih rasa yang lebih dalam dari sekadar kewajiban penjaga telah tumbuh subur di hatinya yang beku.
Sementara itu, di dalam alam bawah sadarnya, jiwa Raisa melayang masuk ke dalam dimensi yang dipenuhi cahaya keemasan samar. Ia merasa seolah terlempar melintasi waktu ratusan tahun silam.
Di hadapannya kini berdiri sebuah kuil kuno yang megah namun sederhana, tersembunyi di tengah hutan pegunungan yang asri. Di dalamnya, seorang petapa muda duduk bersila di atas batu datar. Wajahnya selalu tertutup kabut cahaya keemasan, sehingga tak dapat dikenali dengan jelas.
Raisa menyaksikan sang petapa bermeditasi selama bertahun-tahun, menyerap energi dari tanah, air, angin, pepohonan, sinar matahari, hingga cahaya bulan. Namun seiring berjalannya waktu, tubuh sang petapa perlahan berubah. Kulitnya menghitam, dipenuhi retakan persis seperti yang kini sering terlihat pada tubuh Arya, rambutnya memutih sepenuhnya, dan tubuhnya mengeluarkan aroma tanah bercampur belerang yang kuat.
"Aku ada dimana?,dan siapa pria itu?" tanya Raisa lirih, namun tak ada yang menjawab.
Dia berjalan menghampiri pria petapa itu, dan melambaikan tangannya tapi tidak diperhatikan saat menyentuh petapa itu malah menembus tubuhnya.
Ia baru mengerti ketika akhirnya sebuah mutiara kecil berwarna emas sebesar buah kelengkeng muncul dari dadanya,seperti mimpinya dulu yang di tunjukkan wujud inti sakti lewat mimpi yang berbeda. Itulah Inti Sakti. Semua perubahan itu bukan kutukan, melainkan pengorbanan diri yang tak terbayar harganya demi menciptakan kekuatan suci yang mampu melindungi dunia.
Dengan harapan tinggi, sang petapa keluar dari kuil membawa mutiara itu untuk melindungi kerajaan dari ancaman makhluk jahat. Namun apa yang terjadi sungguh menyakitkan hati. Rakyat kerajaan ketakutan melihat penampilan sang petapa yang berubah mengerikan. Mereka menghinanya, meneriakinya sebagai monster, bahkan melemparinya dengan batu. Tak ada satu pun yang percaya bahwa sosok yang berdiri di hadapan mereka telah mengorbankan seluruh hidupnya demi keselamatan mereka.
"Tolong berhenti! Dia tidak berbahaya!" teriak Raisa histeris, berlari mencoba menghalangi lemparan batu itu. Namun saat tangannya mencoba menangkap batu yang melayang, tangannya justru menembus benda itu tanpa hambatan.
Saat itulah Raisa sadar. Ia hanyalah pengamat dari masa depan. Ia tak bisa mengubah sejarah, tak bisa melindungi leluhurnya dari rasa sakit hati yang begitu dalam.
Petapa itu akhirnya kembali sendirian ke dalam kuil, menyimpan Inti Sakti di atas altar batu. Sebelum menutup mata, ia berdoa dengan penuh harap: "Semoga suatu hari nanti mereka bisa mengerti maksud baikku."
Dan petapa itu mengurung dirinya di kuil, menghindari hinaan warga desa.
Lalu tiba-tiba lautan api membakar kerajaan melahap isinya kecuali kuil dan petapa itu yang masih utuh.
Rasa marah dan sedih Raisa memuncak seketika. Dimensi kenangan itu mulai berguncang hebat, cahaya keemasan menarik jiwanya kembali dengan paksa menembus kabut waktu.
Mata Raisa perlahan terbuka berat. Cahaya matahari pagi yang lembut menyapa matanya. Hal pertama yang dilihatnya adalah sosok Arya yang duduk setia di samping ranjang, wajahnya tampak lelah namun matanya bersinar penuh lega melihat gadis itu sadar.
"Aku... di mana?" suara Raisa terdengar parau dan lemah.
Arya segera mendekat, menahan diri agar tak terlalu bersemangat. "Kau ada dikamarku. Kau sudah bangun... syukurlah."
"Kau... kau menjagaku?" tanya Raisa pelan, mencoba duduk dibantu tangan kokoh Arya.
"Siapa lagi yang akan melakukannya?" jawab Arya datar, namun sudut bibirnya sedikit terangkat. "Kau tertidur di pelukanku, apa kau ingin aku membiarkanmu begitu saja?"
Raisa tersenyum tipis, mulai bisa menebak sifat pria di hadapannya. "Sepertinya kamu mencemaskan keadaan ku, bisa dilihat dari lingkar hitam di bawah matamu."
Arya membuang muka sedikit, berusaha menyembunyikan rasa malunya. "Hanya... hanya memastikan kau tidak mati konyol karena kelelahan. Kalau sampai mati, siapa yang akan merepotkanku lagi?"
"Jahat sekali mulutmu," cibir Raisa tertawa kecil, meski masih terasa lemah. "Bilang saja khawatir gak usah bilang dengan kata-kata kasar seperti itu. "
Arya kembali menatapnya, tatapannya kini jauh lebih lembut dari sebelumnya. " Terima kasih, Raisa. Terima kasih sudah menyembuhkan lukaku."
"Ternyata aku berguna juga. " Sambil tersenyum.
Lalu menceritakan sekilas apa yang ia lihat di alam bawah sadarnya. Tentang leluhur Margono, tentang pengorbanan yang tak dihargai, dan tentang doa yang melahirkan takdir mereka. Arya mendengarkan dengan saksama, sesekali mengangguk paham.
"Jadi... keberadaanku di sini bukan sekadar warisan rumah?" tanya Raisa pelan di akhir cerita.
"Sepertinya begitu," jawab Arya pelan. "Kau bukan sekadar penghuni baru. Kau adalah adalah tempat penyalur kekuatan inti sakti untuk ku."
"Berarti kau berhutang budi besar padaku dong?" goda Raisa tiba-tiba, mencoba mencairkan suasana haru yang mulai terasa berat. "Mulai sekarang kau harus menuruti kemauanku, memberiku makanan enak, melindungiku dari hantu, dan... jangan terlalu galak!"
Arya tertegun sejenak, lalu tak kuasa menahan senyum tulus yang merekah di wajahnya. "Dasar gadis tak tahu diri. Baru bangun sudah berani mengatur-atur."
"Tentu saja! Aku kan penyelamatmu!" cibir Raisa bangga, membuat Arya tertawa kecil—tawa yang begitu langka namun begitu indah didengar.
Tanpa kata-kata manis yang berlebihan, tanpa pernyataan cinta yang dramatis, kehadiran mereka berdua di samping satu sama lain sudah cukup menjelaskan segalanya. Hubungan yang awalnya dipaksakan oleh takdir kini tumbuh menjadi ikatan yang hangat, penuh rasa saling percaya dan perlindungan.
Sementara itu, tak jauh dari sana, Jatmika sedang sibuk memperbaiki segel pelindung Desa Suka makmur yang rusak parah akibat pertarungan dahsyat melawan Rak shaka. Ia bergerak sigap, melafalkan mantra-mantu kuno sambil menancapkan keris kayu ke titik-titik perbatasan desa.
Namun saat sedang memeriksa bagian paling ujung, matanya menangkap sesuatu yang janggal di atas tanah yang seharusnya hangus terbakar. Sebuah jejak kaki manusia yang utuh, tak sedikit pun terkena api atau getaran tanah.
Jatmika berjongkok, menyentuh jejak itu dengan jari telunjuknya. Wajahnya yang tenang seketika berubah serius.
"Jejak ini... tidak ada tanda terbakar sedikit pun," gumamnya. "Siapa pun yang melangkah di sini, ia terlindungi oleh sihir hitam yang kuat. Ia menyaksikan semuanya dari kejauhan tanpa tersentuh bahaya sedikit pun."
Ia berdiri tegak, menatap tajam ke arah hutan lebat di kejauhan.
"Mereka sudah datang," ucapnya berat. "Kehancuran Rak shaka bukanlah akhir dari ancaman. Itu hanya pertanda bahwa musuh yang sesungguhnya kini telah menemukan jejak kita. Mereka mengincar wadah dan inti sakti."
Perang yang sesungguhnya belum usai. Bahkan bisa dikatakan, perang itu baru saja dimulai.