Seorang gadis cupu bernama Kiara dibully habis -habisan disekolah,tapi siapa sangka dibalik diamnya dia menyimpan sisi gelap yang mengerikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon oell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part II
"Lo ngapain sih teriak-teriak gitu?" Tanya Roy terengah-engah.
"Abis Lo bego banget, gak ngerti ngerti" jawab Vanes yang juga terengah-engah memegang perutnya yang kram karna terus berlari.
"Seharusnya Lo bilang dong, (kalo gue kedip mata Lo lari ya) gitu" ucap Roy sewot.
"Ya mana sempat" ujar Vanes.
"Alah alasan aja Lo, lagian kenapa mesti lari sih, kan banyak cara yang lain" tanya Roy duduk meluruskan kakinya di atas rumput yang nampak subur.
"Gue itu mau buat Kiara sama Rifki kencan berdua, Lo kok gak paham sih" jawab Vanes kesal, dia mengikuti Roy duduk meluruskan kakinya.
"Tapi kita kayak nya lari nya kejauhan deh" ucap Roy memandang langit.
"Iya kayaknya, Lo sih" jawab Vanes kesal.
"Terus aja salahin gue, udah yuk balik, ntar mereka khawatir lagi" Roy berdiri dan jalan duluan.
"Aauhh..." Vanes jatuh kembali saat hendak berdiri.
Gak tau, kaki gue kram banget, mungkin Karna kejauhan larinya" jawab Vanes memijit kakinya.
"Ya ampun, makanya Lo itu sering olah raga, baru lari segitu aja udah kram" Roy memijit kaki Vanes.
"Auuhh... Sakit tau pelan-pelan dong, Lo mau matahin kaki gue" teriak Vanes, Roy memijit kepalanya pusing.
"Udah sini gue gendong" Roy membalikkan badannya memberikan punggungnya pada Vanes.
"Gak mau, gue gak mau Lo gendong" ucap Vanes cemberut.
"Beneran nih? Yaudah kalo gitu, gue balik duluan" Roy berdiri dan berjalan dengan santai.
Vanes bimbang, dia malu jika Roy menggendong nya, tapi kaki nya tidak bisa di ajak kerjasama, hari juga semakin sore, di lihatnya Roy yang sudah semakin jauh darinya.
"Royyyy....jangan tinggalin gueee" teriak Vanes panik.
Roy tersenyum penuh arti dan pura-pura tak mendengar nya.
"Roooyyyyy.... Sialan lo... Jangan tinggalin gue please..." Teriak Vanes semakin kencang, dia
"Lo kenapa?" Roy menghampiri Vanes.
Bahkan menangis ketakutan.
Roy menghampiri Vanes yang sedang menangis menatap nya kesal, Roy hanya tersenyum mengejek.
6
73
"Cengeng banget Lo, makanya jangan bandel, sini naik" Roy memunggungi Vanes.
Dengan pelan Vanes merangkak menggapai punggung Roy Dan mengalungkan tangannya ke leher Roy.
Dengan kuat Roy berdiri dan berjalan santai seperti tak membawa beban apapun.
"Besok-besok jangan sok-sokan ngajakin lari, kalo kaki Lo lembek kayak jelly" ucap Roy.
"Diem Lo" ucap Vanes kesal. Roy tertawa renyah melihat Vanes yang tengah kesal.
***
"Mereka ini kemana sih? Lama banget" ucap Rifki kesal.
"Apa jangan-jangan mereka udah jadian ya, terus mereka lagi pacaran?" Tanya Kiara menebak-nebak
"Aduh gak mungkin Kia, mereka kan musuh bebuyutan" jawab Rifki.
"Mau main dekat danau gak?" Tanya Rifki.
Boleh, disini juga bosen" jawab Kiara berjalan duluan mendekati danau.
Mereka duduk bersila di pinggir danau, senyum Kiara tidak berhenti merekah melihat air danau yang begitu jernih.
"Lo itu pelit banget ya Kia" ucap Rifki tiba-tiba sambil terus menatap wajah Kiara.
Kening Kiara berkerut.
"Maksudnya? Aku gak pelit kok" jawab Kiara heran.
"Iyalah pelit, Lo punya senyum yang manis banget, tapi jarang tersenyum, malah kebanyakan diam" jawab Rifki
Kiara diam tak menyahut, tapi semu di pipinya tidak bisa di sembunyikan, pipinya memerah seperti tomat, Rifki yang melihat itu tersenyum gemas.
"Kiaraaa..." Panggil seorang wanita sambil melambaikan tangannya.
Rifki dan Kiara refleks menoleh ke belakang.
"Eh? Hai... Sini...." Teriak Kiara melambaikan tangannya juga.
Untung saja Dewi segera datang, Kiara bisa menyembunyikan rasa salah tingkah nya terhadap Rifki.
Bukannya itu Dewi? Lo berteman sama dia?
Bukannya dia juga ikut membully Lo waktu itu? Dia kan se geng dengan Angel dan Monica" tanya Rifki heran.
"Kamu gak tau masalah nya, lagian bukannya kamu dulu juga bully aku?" Tanya Kiara sambil tersenyum.
"Iya deh, aku kalah lagi" jawab Rifki menggaruk kepalanya.
Dewi menghampiri mereka dan duduk di samping Kiara.
"Maaf ya telat, tadi macet banget" ucap Dewi tersenyum ramah.
kiara. "Gak papa, kamu naik apa kesini?" Tanya
"Naik taxi" Jawab Dewi sambil terus tersenyum menatap Kiara.
"Kamu kenapa kok senyum-senyum gitu?" Tanya Kiara heran.
"Aku gak nyangka bisa bebas berteman sama kalian, biasanya aku tidak pernah senang jika di ajak jalan-jalan" jawab Dewi.
Kiara memeluknya erat. Rifki yang melihat nya semakin heran.
Maksud Lo apa?" Tanya Rifki tidak bisa menahan rasa penasarannya.
Dewi menceritakan semuanya, cerita yang sama yang di ceritakan nya pada Vanes Dan Kiara.
"Whatt??" Rifki menutup mulutnya tak percaya.
"Wahhh... Ternyata gue ini belum terlalu nakal" sambungnya lagi.
Kiara dan Dewi tertawa melihat reaksi Rifki.
"Kalian ngetawain apa?" Tanya Roy tiba-tiba. Vanes masih ada di gendongan nya.
Rifki, Kiara, dan Dewi tak berkedip memandang mereka.
"Kaliaannn....?" Rifki menunjuk Roy dan Vanes bergantian.
"Apa? Jangan mikir yang aneh-aneh kalian, kaki dia kram, makanya gue gendong" Roy menurunkan Vanes yang terus cemberut.
"Astaga kamu gak papa Van? Sakit banget gak?" Tanya Kiara khawatir.
"Gak terlalu sakit Kia, tapi kram banget" jawab Vanes memijit kakinya.
"Biar coba aku pijit" Dewi mendekati Vanes Dan memijit kakinya dengan pelan.
Kamu udah lama datang nya Dew?" Tanya Vanes.
"Belum, baru aja, tadi macet makanya telat" jawab Dewi. Vanes hanya mengangguk.
"Udah mendingan gak?" Tanya Dewi.
"Udah lumayan enakan sih, tapi kalau di gerakkan masih kram" jawab Vanes.
"Ini pasti karna kamu lari gak pemanasan dulu, ini gak papa kok, biasanya besok udah sembuh" ucap Dewi.
"Iyaa... Makasih ya Dew" ucap Vanes.
Dewi mengangguk dan tersenyum.
"Udah kita pulang yuk, biar Lo bisa istirahat" ucap Roy yang terus melihat kaki Vanes.
"Tapi Dewi baru aja datang" jawab Vanes memandang Dewi tak enak.
"Gak papa Van, lain waktu kan kita bisa main lagi, lagian di sekolah juga sekarang aku udah bisa bebas berteman dengan kalian" ucap Dewi tersenyum.
"Roy anterin gue pulang ya, Lo bawa mobil kan? Besok gue bawain nasi goreng deh" ucap Vanes menyogok Roy
"Iyaaa, tapi awas ya kalo besok Lo gak bawa, gue datengin Lo di alam mimpi" jawab Roy menakut nakuti Vanes.
"Kalo Lo ngancam nya gitu, anak TK juga gak takut sama ancaman Lo" jawab Vanes.
"Okee kalo gitu gue ubah, kalo besok Lo gak bawa nasi goreng, gue cium Lo" ucap Roy tanpa basa-basi.
"Gue potong bibir Lo kalo berani macam-macam" jawab Vanes jutek.
"Dewi, kamu pulang bareng kami aja, biar nanti di anterin Rifki" ucap Kiara menawarkan tumpangan.
"Enggak, Dewi di semobil sama aku aja ya, aku takut di aniaya Roy" ucap Vanes cepat menahan tangan Dewi.
"Eh...tapi..." Kiara tak melanjutkan ucapannya, saat tangan Rifki menggenggam tangan nya.
"Udah gak papa, daripada sahabat Lo di aniaya" ujar Rifki menarik tangan Kiara berjalan mendahului mereka.
"Eh..itu..? Kalian pake gelang couple?" Teriak Vanes menengok ke belakang, melihat Kiara yang sudah berlari di tarik oleh Rifki.
"lihhh.... Nyebelin deh, mereka jadian gak bilang-bilang, tau gitu ngapain tadi aku lari-larian sampe kaki ku ini sakit" ucap Vanes cemberut.
Roy yang gak sabaran melihat Vanes yang terus merajuk, langsung menggendong Vanes, Dan berjalan ke arah mobil. Dewi yang gak tau apa-apa hanya mengikuti mereka dan duduk dengan santai di belakang.
Bersambung....