"""Kalau kakak tidak mau, aku saja yang nikah!""
Safira nekad menawarkan diri sebagai pengganti kakaknya untuk menikahi Arga. Bukan karena cinta, tapi demi bebas dari neraka berkedok rumah.
Seumur hidup, Safira diperlakukan seperti budak oleh keluarganya sehingga ketika Arga datang dengan mobil tua dan pakaian sederhana untuk melamar kakaknya yang matre, Safira tahu ini kesempatannya. Tidak peduli bila keluarganya dan orang-orang menghinanya menikahi pria miskin, yang penting ia bebas!
Tapi, adakah yang bisa menjelaskan mengapa tiba-tiba suaminya dipanggil bos dan mertuanya trending di sosial media?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sri Wahyuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 23
Bab 23 - Pacar Palsu Yang Terlalu Sigap
Dinda benar-benar menunda pernikahan.
Keesokan paginya, ia mengirim pesan ke grup keluarga calon pengantin. Isinya sopan, terlalu sopan untuk ukuran perempuan yang semalam menangis sampai hidungnya merah.
`Assalamualaikum. Setelah mempertimbangkan pembicaraan terakhir, saya dan Reza perlu waktu untuk memikirkan ulang rencana pernikahan. Untuk sementara semua persiapan saya tunda sampai ada kesepakatan yang sehat untuk kedua pihak. Terima kasih.`
Safira membaca pesan itu di ruko sambil memegang kuas cat.
"Kalimatmu bagus," katanya lewat telepon.
Di seberang, Dinda terdengar menghela napas. "Aku gemetar waktu kirim."
"Tapi kamu kirim."
"Iya. Setelah itu ibunya Reza telepon lima kali."
"Kamu angkat?"
"Tidak."
"Bagus."
Dinda diam sebentar. "Safa, aku takut."
Safira meletakkan kuas. "Takut kehilangan Reza?"
"Takut ternyata selama ini aku mempertahankan orang yang tidak mau mempertahankan aku."
Safira tidak langsung menjawab.
Kalimat itu terlalu jujur.
"Kalau dia mau memperbaiki, dia akan datang bicara sebagai laki-laki dewasa. Kalau dia datang bersama ibunya untuk menyalahkanmu, kamu dapat jawaban."
"Kamu terdengar seperti Bu Nadia."
"Aku belajar dari sumber yang mahal."
Dinda tertawa kecil.
Panggilan baru masuk di ponsel Dinda. Ia mengerang.
"Reza lagi."
"Kamu mau angkat?"
"Tidak. Tapi aku kerja siang ini. Kalau dia datang ke klinik?"
Safira melihat Arga yang sedang mengukur tinggi rak di sudut ruangan. "Aku bisa jemput kamu nanti."
Arga langsung menoleh.
"Kamu ada fitting Bu Laras," katanya.
"Aku bisa setelah itu."
Bima yang baru datang membawa baut rak langsung mengangkat tangan. "Saya bisa."
Safira dan Arga sama-sama menatapnya.
Bima menurunkan tangan sedikit. "Apa? Kemarin saya sudah menawarkan jasa pacar palsu. Harus konsisten dengan brand."
Dinda mendengar dari telepon. "Mas Bima, jangan bercanda."
"Saya tidak bercanda kalau Mbak Dinda butuh dijemput supaya tidak diganggu."
Arga menatap Bima lebih lama dari biasa.
Bima merapikan kerah bajunya. "Saya bisa bersikap normal."
"Itu yang saya khawatirkan," kata Arga.
Sore itu, Bima benar-benar menjemput Dinda di depan klinik.
Safira tidak melihat langsung, tetapi Dinda mengirim pesan suara setelahnya dengan napas terengah.
"Safa, gawat. Reza benar-benar datang."
Safira yang sedang fitting Bu Laras di ruang sementara hampir menjatuhkan jarum pentul. Ia menunggu sampai fitting selesai, lalu menelepon balik.
"Kamu baik-baik saja?"
"Iya. Mas Bima tadi datang pas Reza mau narik tanganku."
Di seberang, suara Bima terdengar, "Saya tidak memukul. Catat itu. Saya sangat dewasa."
Dinda berkata, "Dia cuma berdiri, tapi Reza langsung emosi."
"Aku bukan cuma berdiri," protes Bima. "Aku juga tersenyum sopan."
"Sopan tapi nyebelin."
Safira menahan senyum. "Ceritakan dari awal."
Dinda menarik napas. Reza menunggunya di luar klinik, meminta bicara, lalu menuduhnya sengaja mempermalukan keluarga. Dinda menolak ikut ke mobil karena tidak mau bicara di tempat tertutup. Reza memaksa menarik lengannya. Saat itu Bima datang dengan kemeja rapi dan wajah santai.
"Dia bilang apa?" tanya Safira.
Dinda terdiam sebentar, lalu menirukan dengan malu, "Maaf, tangan calon istri saya jangan ditarik."
Safira langsung menatap Arga.
Arga memejamkan mata.
"Bima," katanya datar ke ponsel Safira, "saya tidak pernah menyuruhmu memakai kata calon istri."
Suara Bima menjawab dari jauh, "Situasi lapangan membutuhkan improvisasi."
Dinda berkata cepat, "Reza langsung marah. Dia bilang aku selingkuh."
"Kamu jawab apa?"
"Aku bilang, kalau dia bisa membawa ibunya ke setiap pembicaraan, aku juga boleh membawa orang yang membuatku aman."
Safira hampir bertepuk tangan.
"Terus?"
"Reza bilang dia tidak terima aku dekat dengan laki-laki lain. Mas Bima bilang, 'Mas, yang tidak terima itu biasanya yang sadar posisinya mulai tergeser'."
Arga menatap langit-langit.
"Kalimat itu tidak perlu," gumamnya.
Safira justru tersenyum.
Dinda melanjutkan, "Akhirnya Reza pergi. Tapi dia bilang urusan ini belum selesai."
"Kamu sekarang di mana?"
"Di mobil Mas Bima. Dia mau antar aku pulang, tapi aku takut Reza menunggu di rumah."
Bima menyela, "Saya usul makan dulu di tempat ramai."
Safira mengangguk meski Dinda tidak melihat. "Bagus. Kirim lokasi. Aku dan Arga menyusul setelah selesai."
Mereka bertemu di warung bakmi yang ramai. Dinda duduk dengan wajah masih pucat. Bima di sebelahnya terlihat seperti orang yang terlalu menikmati peran pelindung.
Arga duduk di depan Bima.
"Improvisasi?"
Bima mengambil sumpit. "Efektif."
"Berisiko."
"Hidup memang begitu."
"Jangan sok bijak."
Safira memotong, "Mas Bima, terima kasih sudah jemput Dinda."
Bima langsung tersenyum. "Sama-sama, Mbak. Akhirnya ada yang menghargai."
Dinda menatapnya. "Aku juga menghargai. Tapi jangan panggil aku calon istri lagi."
"Baik."
"Serius."
"Baik, calon..."
Dinda mengangkat sendok.
Bima cepat berkata, "Dinda. Baik, Dinda."
Safira tertawa. Arga, meski berusaha menjaga wajah datar, sudut bibirnya bergerak sedikit.
Di tengah makan, ponsel Dinda berbunyi lagi. Kali ini pesan dari ibu Reza:
`Perempuan baik tidak pulang diantar laki-laki lain saat masih punya calon suami.`
Dinda membaca pesan itu, lalu menaruh ponsel di meja.
Bima melihat. "Boleh saya balas?"
Tiga orang serempak menjawab, "Tidak."
Bima mengangkat tangan. "Baik. Demokrasi menindas saya."
Dinda mengambil ponsel dan mengetik:
`Perempuan baik juga berhak pulang dengan aman.`
Ia menekan kirim.
Safira meremas tangannya.
"Bangga padamu."
Dinda tersenyum kecil, matanya berkaca-kaca lagi. "Aku belum tahu akhir hubungan ini."
"Tidak harus tahu malam ini."
Bima menambahkan, kali ini lebih lembut, "Yang penting malam ini kamu pulang tanpa dipaksa ikut siapa pun."
Dinda menatapnya.
Nada Bima yang biasanya bercanda tiba-tiba tidak bercanda.
Safira melihat sesuatu bergerak di antara mereka. Masih kecil, masih terlalu awal, tetapi ada.
Arga juga melihat.
Di bawah meja, Safira menyenggol kaki Arga pelan.
Arga menoleh.
Safira memberi isyarat dengan mata: lihat mereka.
Arga menggeleng tipis, seolah berkata jangan ikut campur.
Safira tersenyum polos.
Tentu saja ia akan ikut campur sedikit.
Bukankah sahabat memang begitu?
Malam itu, Bima mengantar Dinda pulang sampai depan rumah. Ia tidak turun berlebihan, tidak membuat drama, hanya memastikan Dinda masuk pagar dan lampu teras menyala.
Dinda mengirim pesan kepada Safira setelahnya.
`Mas Bima ternyata bisa normal.`
Safira membalas:
`Jangan terlalu cepat percaya. Dia teman Arga. Pasti ada anehnya.`
Dinda mengirim stiker tertawa.
Safira meletakkan ponsel. Arga yang duduk di sampingnya di mobil bertanya, "Apa?"
"Tidak. Aku cuma merasa hari ini melelahkan tapi lucu."
"Hidupmu makin ramai."
"Kamu menyesal menikahiku?"
Arga menatap jalan. "Tidak."
"Jawabnya cepat."
"Karena tidak perlu dipikir."
Safira menoleh ke jendela, menyembunyikan senyum.
Di luar, lampu kota Bandung lewat satu per satu. Masalah belum selesai. Rahasia Arga belum selesai. Ruko belum selesai. Dinda dan Reza juga belum selesai.
Tapi malam itu, Safira merasa lingkaran kecil di sekitarnya mulai terisi orang-orang yang saling menjaga.
Tidak sempurna.
Tapi nyata.
Sesampainya di rumah, Arga menerima pesan dari Bima.
`Dinda sudah masuk rumah. Ibunya keluar sebentar, kelihatannya baik. Saya pulang.`
Arga menunjukkan pesan itu kepada Safira.
"Dia bertanggung jawab juga," kata Safira.
"Kadang."
"Kamu keras sekali pada teman sendiri."
"Kalau tidak, dia akan besar kepala."
Safira tersenyum. "Menurutku kepalanya sudah cukup besar."
Arga menyimpan ponsel. "Dinda akan baik-baik saja?"
"Tidak tahu. Tapi malam ini dia membuat satu keputusan untuk dirinya sendiri. Itu cukup besar."
"Seperti kamu dulu di ruang tamu keluargamu?"
Safira menoleh. Arga tidak sedang menggoda. Ia benar-benar mengingat.
"Mungkin," jawabnya. "Bedanya, aku waktu itu tidak tahu kamu akan jadi apa untukku."
"Sekarang?"
"Sekarang aku masih mencari tahu."
Arga menerima jawaban itu. Untuk saat ini, mencari tahu sudah lebih baik daripada menutup pintu.
Safira masuk kamar lebih dulu malam itu. Di meja rias, ia menemukan katalog kecil dari pameran yang tadi dibawa Arga tanpa sengaja. Di halaman belakang ada daftar sponsor.
Ia membaca beberapa nama perusahaan.
Salah satunya memakai logo kecil Kusuma.
Safira menyentuh nama itu dengan ujung jari.
Kecurigaannya tentang hidup Arga tidak berkurang.
Hanya saja sekarang, ia mulai memilih waktu untuk bertanya, bukan menelan semuanya sendirian.