Menikah dengan teman sendiri? Tak pernah aku bayangkan sebelumnya.
Dulu kami saling bermusuhan. Em, no! Bukan bermusuhan. Lebih tepatnya berteman, bersahabat, tapi jarang sekali kita bisa akur.
Dan sekarang kami harus terlibat dalam suatu pernikahan.
Tidakk!!
Rumah tangga yang bagaimana yang akan kami jalani nanti?
Apa rasa sayang sebagai teman bisa berganti menjadi rasa sayang sebagai suami?
Tolong! Tolong katakan padaku kalau ini hanya mimpi!
Katakan padaku ini tidak nyata!
- Carissa Amalina -
Harus tinggal satu atap dengan perempuan yang bawel dan cerewet tak pernah terbayangkan olehku.
Kami berteman sejak kecil. Walaupun tidak bermusuhan tapi juga jarang akur.
Kami lebih banyak berdebat, tak ada yang mau mengalah. Apa jadinya kalau dikumpulkan didalam satu rumah?
- Raka Putra Wibawa -
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dhessy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TTM 29
Rissa takut.
Dia sangat takut kalau seandainya anak yang di kandung Windi adalah anak Raka. Dia tidak siap akan hal itu.
Hanya mendengarnya saja sudah membuat hatinya sakit apalagi kalau hal itu benar-benar terjadi. Entah bagaimana hancurnya perasaannya nanti.
Sudah dua hari Rissa kembali bekerja setelah hampir dua Minggu dia absen dari pekerjaannya. Setidaknya, dia bisa sedikit mengalihkan pikirannya dengan bekerja dan bertemu dengan rekan kerjanya. Termasuk sahabatnya, Gendis.
"Bumil cantik mau makan siang apa?" Tanya Gendis saat keduanya tengah berjalan menuju kantin rumah sakit.
"Apa, ya? Ayam kremes enak kali, ya?" Sahut Rissa sedikit bingung memilih menu makan siangnya.
"Oke. Bumil cantik duduk saja disana, biar aku yang pesan."
Rissa terkekeh pelan. "Oke."
Semenjak Gendis tahu perihal kehamilan Rissa, Gendis begitu perhatian dengan dirinya. Bahkan dua hari ini Gendis selalu membawakan buah potong untuk dirinya.
"Enggak apa-apa, hitung-hitung aku belajar biar terbiasa saat aku hamil nanti. Doain aku cepet hamil juga, ya?" Kata Gendis saat Rissa mengutarakan rasa sungkannya karena kebaikan Gendis.
Rissa paham. Setahun lebih berumahtangga dan Gendis belum mengalami tanda-tanda kehamilan. Rissa menyemangati Gendis dengan berkata bahwa mungkin saja Allah masih mau Gendis dan suaminya untuk berpacaran terlebih dahulu. Menikmati waktu berdua sampai Allah menggariskan takdir kehamilan untuk Gendis.
"Raka belum ada kabar?" Tanya Gendis sembari menikmati makan siang mereka.
Rissa menggeleng pelan. Sejak pagi tadi Raka belum juga kembali menghubunginya. Rissa merasa khawatir. Takut kalau ada hal buruk yang menimpa suaminya.
Astaghfirullahaladzim...
Rissa beristighfar dalam hati. Tidak seharusnya dia berprasangka buruk.
Gendis memang sudah tahu perihal permasalahan yang sedang menimpa rumah tangga Rissa. Bukan maksud Rissa untuk mengumbar masalah keluarganya. Hanya saja Rissa butuh tempat untuk berbagi. Selain dengan mamanya, Gendis-lah orang yang Rissa percaya untuk menyimpan masalahnya.
"Nggak mau coba menghubungi dia terlebih dahulu?"
Ingin, tapi gengsi.
"Ayolah, Ris. Bukan lagi waktunya untuk mengedepankan gengsi apalagi egois," ucap Gendis seolah tahu dengan apa yang di pikirkan Rissa. "Raka butuh dukungan kami, Ris. Jangan hanya dia saja yang berjuang demi rumah tangga kalian. Tapi kamu juga harus berjuang dengan terus memberinya semangat untuk membuktikan bahwa dia tidak bersalah," pungkas Gendis yang akhirnya membuat Rissa benar-benar menghubungi Raka.
***
"Kamu lagi dimana?" Tanya Rissa pelan pada Raka melalui sambungan telepon.
"Ini masih di Semarang, sayang. Masih ada yang harus aku selesaikan disini," jawab Raka di ujung sana. Suaranya terdengar semangat setelah menerima telepon dari Rissa.
"Urusan apa?" Tanya Rissa. Rissa memejamkan matanya dan menghela napas pelan. Membayangkan bagaimana jika Raka bertemu dengan mantan kekasihnya. Rissa merasa sangat cemburu jika memang hal itu terjadi.
Bagaimana kalau justru mereka sedang bernostalgia mengenang hari-hari mereka saat bersama dulu?
Bagaimana kalau ternyata mereka sedang merencanakan kebahagiaan mereka di masa yang akan datang?
Astaghfirullah..
Rissa kembali beristighfar dalam hati untuk mengusir segala prasangka buruk dalam hatinya.
"Tunggu, ya. Yang pasti aku sedang berusaha untuk kembali mendapatkan kepercayaan dari kamu dan kita bisa sama-sama lagi kayak dulu."
Hati Rissa tersentuh melihat perjuangan Raka. Disini, bukan hanya Rissa yang merasa hancur karena kejadian beberapa waktu yang lalu. Tapi Raka juga sama hancurnya saat kepercayaan dari istrinya menghilang karena kesalahpahaman tersebut.
"Cepat pulang. Jangan terlalu lelah." Tutup Rissa yang sudah berderai air mata. Rissa segera mematikan sambungan teleponnya karena tak ingin Raka mendengar tangisannya.
***
Dengan berat hati Windi harus menuruti permintaan Raka untuk menemui Rissa dan menjelaskan semuanya. Itu artinya dia harus siap kehilangan Raka untuk selamanya.
Andai saja dulu dia tak jatuh dalam pesona dan bujuk rayu Krisna, pasti sekarang dirinya dan Raka sudah mengarungi hidup bahagia berdua.
Windi menyesal ? Tentu saja.
Namun tetap saja penyesalannya tidak dapat merubah keadaan.
Sore ini Windi dan Krisna sudah menunggu Rissa di parkiran rumah sakit tempat Rissa bekerja. Tentu saja dia mendapatkan informasi tentang di rumah sakit mana Rissa bekerja itu dari Raka.
Tentu saja lewat Krisna. Krisna yang meminta informasi tersebut karena Raka sama sekali tak mau berhubungan dengan Windi untuk hal apapun. Nomor ponsel Windi saja sudah Raka blokir sejak kemarin.
Sejenak Windi berpikir, dalam keadaan marah dan kecewa saja Krisna masih mau membantu dirinya yang tidak tahu diri itu. Windi sudah banyak menggoreskan luka pada hati laki-laki yang notabene adalah ayah biologis dari bayi yang di kandungnya.
Tepat pukul empat, Rissa sudah keluar dari rumah sakit. Windi yang masih duduk di mobil segera turun dan menghampiri Rissa sebelum Rissa masuk ke mobilnya sendiri.
"Rissa!" Teriak Windi memanggil Rissa membuat Rissa menoleh ke arahnya.
Dengan sekali melihat orang yang memanggilnya, Rissa langsung bisa mengenali Windi walaupun sebelumnya baru satu kali mereka bertemu.
Bagaimana bisa dia lupa dengan perempuan yang sudah membuat rumah tangganya berantakan?
Rissa menghembuskan napas jengah. "Ada apa?" Tanyanya datar.
"Bisa kita bicara sebentar?"
"Aku nggak ada waktu." Rissa bergerak membuka pintu mobil. "Tunggu!" Windi menahan Rissa.
"Sebentar saja. Ini tentang kejadian malam itu."
Rissa memejamkan matanya sesaat. Mengingat kembali malam itu, dia semakin muak melihat wanita yang sedang berdiri di hadapannya. Mantan kekasih suaminya.
Sejenak Windi memandangi penampilan dan wajah Rissa yang memang sangat cantik. Di tambah lagi dengan pakaian dan jilbabnya yang tampak tertutup menutupi keindahan dirinya.
Berbeda dengan dirinya yang masih suka memakai baju seksi ketika keluar rumah. Menampakkan aurat yang harusnya dia tutup.
Pantas saja Raka begitu mencintai Rissa dan begitu takut kehilangan Rissa.
"Aku minta maaf. Aku yang salah, Raka tidak bersalah sama sekali." Windi berhenti sejenak. Sedangkan Rissa hanya diam menanti ucapan Windi selanjutnya. Rissa pun enggan untuk menatap wajah Windi.
"Aku yang sudah menjebak Raka. Aku yang sudah mencampurkan obat tidur di minuman Raka. Aku memang hamil."
Rissa tersentak mendengarnya. Dia tidak siap kalau seandainya setelah ini Windi mengatakan bahwa itu adalah hasil perbuatan Raka.
"Tapi bukan anak Raka. Ini anak dari suamiku sendiri, Krisna," lanjut Windi.
Diam-diam Rissa menghela napas lega. Ada rasa membuncah bahagia di hatinya mendengar ucapan Windi yang terakhir. Raka benar-benar setia kepadanya.
Mendengar nama Krisna, sepertinya dia mengenal nama itu. Setelahnya dia ingat kejadian dimana dia menjadi korban pukulan Raka saat Raka bertengkar dengan seseorang di parkiran rumah sakit. Rissa sempat mendengar Raka memanggil lelaki tersebut dengan nama Krisna.
"Lalu apa tujuan kamu melakukan ini semua?" Rissa bersikap tenang. Tidak ada alasan lagi baginya untuk marah pada Windi. Kali ini dia hanya ingin tahu apa alasan Windi melakukan ini semua.
"Aku masih menyayangi Raka. Aku tidak rela Raka bahagia dengan orang lain. Aku tidak ingin melihat Raka menjadi milik orang lain. Kalau aku tidak bisa memiliki Raka, maka wanita lain pun juga tidak akan bisa memilikinya."
Rissa terperangah mendengarnya. "Kamu gila," tukasnya.
"Iya. Aku memang gila, Ris. Tapi sekarang aku sadar bahwa itu hanya ambisi ku saja. Aku sadar bahwa di hati Raka tidak ada lagi namaku. Aku dapat melihatnya ketika dia berusaha membuat kamu percaya bahwa dia tidak melakukan apapun malam itu."
"Aku yang sudah menyakitinya dulu. Aku yang bersalah. Aku juga menyesal akan kejadian ini, Ris. Aku mohon maafkan aku."
Rissa mengusap wajahnya dan menarik napas panjang lalu menghembuskannya pelan. "Aku udah maafin kamu."
"Beneran, Ris?" Mata Windi berbinar.
Rissa mengangguk. "Iya."
"Terimakasih banyak ya, Ris. Kamu memang orang yang baik. Raka nggak salah pilih kamu."
Rissa tersenyum tipis mendengar pujian dari mulut Windi yang entah itu tulus atau tidak. "Jaga kehormatan kamu, Win. Jaga kehormatan suami kamu. Belajarlah untuk mensyukuri dan menerima kenyataan hidup. Memang tak semuanya sesuai dengan harapan kita, tapi kita tahu pasti itu terbaik untuk kita. Aku pulang dulu. Terimakasih sudah jauh-jauh datang hanya untuk menjelaskan soal ini padaku."
Setelah itu, Rissa langsung pergi meninggalkan Windi.
Rasanya tidak sabar lagi untuk bertemu dengan Raka. Dia penasaran apakah Raka sudah pulang atau belum.
Kali ini Rissa memilih untuk pulang ke rumah yang dia tempati bersama Raka.
Sayangnya, Raka belum terlihat sudah berada di rumah. Pintu gerbang masih terkunci. Lampu rumah juga masih padam. Rissa mendesah kecewa. Dia pikir dia bisa langsung memeluk Raka. Tapi ternyata dia harus menunggu Raka pulang.
Rissa memutuskan untuk menghubungi Raka.
Dia merasa cemas karena Raka tak kunjung mengangkat teleponnya.
Rissa baru bisa menghembuskan napas lega saat panggilannya yang ke lima diangkat oleh Raka.
"Assalamualaikum..." Ucap Raka di ujung sana.
Baru mendengar ucapan salam Raka saja Rissa sudah tersenyum senang.
"Waalaikumsalam," sahut Rissa pelan. "Kamu lagi dimana?" Tanya Rissa.
"Lagi perjalanan pulang. Ini lagi berhenti karena terima telpon dari kamu dulu. Windi sudah menemui kamu?"
Kenapa malah bahas Windi, sih! Rissa menggerutu dalam hati.
"Sudah. Kamu yang memintanya untuk menemui aku?"
"Tentu saja. Lagi pula kemarin kamu juga bilang kalau kamu tidak akan percaya kalau belum mendengar pengakuan Windi secara langsung."
Rissa tersentak. Dia baru ingat bahwa tempo hari dia mengatakan hal itu pada Raka.
"Jadi kamu percaya kan, sama aku?"
"Eh, iya... Aku percaya. Terimakasih sudah memperjuangkan ini semua."
"Apapun akan aku lakukan demi rumah tangga kita, sayang."
Rissa terharu. Dia tidak dapat menahan air mata bahagianya.
"Terimakasih," ucap Rissa sekali lagi. "Ya sudah. Hati-hati, ya. Aku tunggu kamu di rumah."
"Kamu pulang ke rumah kita?" Suara Raka di ujung sana terdengar begitu bahagia.
"Iya. Aku di rumah sekarang. Makanya kamu cepat sampai rumah. "
"Pasti. Tunggu ya, sayang. Aku kangen banget sama kamu."
Risa terkekeh pelan. "Aku juga kangen."
"Ya sudah. Aku tutup dulu telponnya. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Kalau saja Rissa tidak ingat bahwa dia sedang hamil, tentu saja saat ini dia sudah melompat dan berteriak saking bahagianya.
❤️❤️❤️
Duo R up 😍
usia 27 udah jadi spesialis kandungan .
wah Rissa termasuk jenius nii.