NovelToon NovelToon
Arkaholic

Arkaholic

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Dijodohkan Orang Tua / Perjodohan
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: siyunr

Satu sekolah tahu Lintang Gentariana adalah gadis paling gigih yang setiap hari memanggil nama Arka—atlet pencak silat kebanggaan sekolah yang sedingin es.

Dua tahun cintanya bertepuk sebelah tangan, sebuah wasiat tiba-tiba memaksa mereka menikah secara rahasia di bangku SMA.

Lintang mengira impiannya jadi nyata. Namun, ia keliru. Arka menikahinya tepat ketika dunia cowok itu di ambang runtuh.

Di sekolah Lintang adalah gadis yang selalu terlihat mengejar Arka, tapi di rumah, Lintang harus menghadapi kemarahan dan luka terdalam Arka.

Lantas, bagaimanakah kelanjutan kisah pernikahan rahasia mereka?

Sanggupkah Lintang bertahan, atau perpisahan justru menjadi jalan terbaik bagi keduanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon siyunr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Benang Merah ll

Minggu malam. Rumah Lintang terasa jauh lebih sunyi dari biasanya.

Hanya terdengar langkah kaki asisten rumah tangga yang berlalu-lalang di dapur.

Bunyi piring beradu pelan, disusul suara pintu kulkas yang ditutup.

Sejak pagi, rumah mewah itu kehilangan ramainya akhir pekan.

Tidak ada suara Mami Ilna yang mengomel nyaring dari lantai dua.

Tidak ada pula Leno yang duduk santai membaca koran di teras.

Penyebabnya jelas. Jam dinding sudah menunjukkan pukul setengah delapan malam.

Kedua orang tuanya belum juga pulang.

Setiap kali Lintang bertanya lewat WhatsApp, jawabannya selalu sama. Singkat dan terburu-buru.

“Mami masih di rumah sakit.”

Belum sempat Lintang menggerutu, ponsel di atas meja kaca bergetar heboh.

Layarnya menyala, menampilkan nama "Mami Ilna".

Jantung Lintang mendadak berdegup tidak enak.

"Halo," Lintang membuka suara. Nadanya datar, khas remaja yang malas diganggu.

"Sayang, kamu siap-siap sekarang ya. Papi lagi di jalan mau jemput kamu."

Lintang mengernyit. Dahinya berkerut dalam.

"Hah? Mau ke mana? Kok tiba-tiba?"

Pikirannya langsung melayang ke hal aneh. Kecelakaan? Utang? Dikejar debt collector?

"Nanti Papi jelasin di jalan. Udah jangan banyak tanya, siap-siap aja."

"Tapi Ma—"

Tut... Tut...

Sambungan telepon diputus sepihak.

"Mau ke mana, sih? Kenapa tiba-tiba?" Lintang mengomel kesal.

Ia melempar ponselnya ke sofa.

Meski terus menggerutu, kakinya tetap melangkah ke kamar.

Rasa penasarannya jauh lebih besar dibanding rasa malasnya.

Ia berdandan seadanya. Lipstik tipis, rambut dikuncir asal. Cukup.

...----------------...

Dua puluh menit kemudian.

Di dalam mobil BYD mewah yang melaju membelah jalanan malam, suasana mendadak meledak.

"NIKAH?! SEKARANG?!"

Suara Lintang melengking tinggi, nyaris menembus kaca mobil.

Ia bahkan hampir meloncat dari kursinya jika saja sabuk pengaman tidak menahan tubuhnya.

Leno melirik putrinya lewat spion tengah.

Wajah laki-laki paruh baya itu tampak tenang. Terlalu tenang.

Kedua tangannya tetap mantap menggenggam setir.

"Lintang, dengerin Papi dulu, Sayang..."

"Denger apa, Pi?!" Lintang menoleh cepat. Dadanya naik-turun karena emosi.

"Papi rela anak kesayangan Papi ini nikah dini? Sama cowok yang Lintang nggak tahu siapa? Nanti kalau nggak cocok gimana?!"

Ia sudah misuh-misuh sejak kalimat sakral itu terlontar dari mulut ayahnya.

Bagaimana tidak panik? Ia mendadak disuruh menikah malam ini juga. Malam ini!

Tanpa proses lamaran, tanpa persiapan apa pun.

Yang lebih membuat dadanya sesak: bagaimana dengan nasib crush-nya?

Cowok silat bermuka batu yang sudah dia sukai sejak masa MPLS itu?

Bagaimana dengan rencana kuliahnya?

"Sayang..." Leno menarik napas panjang.

Suaranya dibuat serendah mungkin untuk meredam kepanikan putrinya.

"Sahabat Mami sakit jantung. Beliau harus segera operasi transplantasi jantung."

Mata Leno sedikit meredup.

"Tapi beliau menolak operasi karena takut ninggalin anaknya sendirian. Beliau takut kalau operasinya gagal, anaknya harus lanjutin hidup tanpa siapa-siapa."

Sebagai seorang ayah, merelakan putri semata wayangnya menikah di usia muda sebenarnya terasa seperti pisau tumpul yang diseret di dadanya.

Sesak sekali.

"Kan masih ada bapaknya! Emang bapaknya ke mana dah?!" potong Lintang.

Air matanya sudah menggenang panas.

"Mereka udah cerai karena suaminya selingkuh. Anaknya sama sekali nggak mau ikut ayahnya," jelas Leno tenang.

"Terus aku gimana? Aku juga punya masa depan, Papi!" Lintang bersedekap dada.

Sekuat tenaga menahan tangis agar tidak pecah.

"Aku mau kuliah. Aku nggak mau jadi istri muda!"

Leno mengulurkan tangan kanannya, mengusap lembut puncak kepala Lintang.

Tangan yang dulu selalu menggendong Lintang saat demam, kini tampak sedikit rapuh.

"Ada kalanya kita harus merelakan sesuatu demi menolong seseorang, Sayang."

Jempol Leno bergerak lembut, mengusap setetes air mata yang jatuh di pipi Lintang.

"Setelah menikah nanti, Papi nggak janji rumah tanggamu bakal gampang. Bakal ada ributnya. Itu pasti.

Tapi pintu rumah selalu terbuka lebar buat kamu pulang. Kapan pun. Ada Papi, ada Mami."

Pertahanan Lintang akhirnya runtuh total.

Ia meraih lengan kemeja ayahnya, lalu menangis sesenggukan di sana.

"Aku tetep bisa kuliah, kan? Aku nggak dikurung, kan, Pi?"

Leno tersenyum tipis. Sebuah senyuman yang dipaksa tegar.

"Bisa, Sayang. Bisa banget. Kamu tetep anak perempuan Papi, cuma statusmu aja yang berubah."

Mobil BYD mewah itu berbelok halus. Gerbang Rumah Sakit Healthy Hope muncul di depan mata.

Mobil meluncur ke area parkir khusus VIP dengan tenang.

"Turun, Sayang," ujar Leno setelah membuka pintu untuk putrinya.

Lintang mengusap wajahnya cepat.

Ia berkaca sebentar di visor mobil, memastikan maskaranya tidak luntur.

Setelah menarik napas dalam, ia menyambut uluran tangan ayahnya dengan lutut yang lemas.

Lorong rumah sakit malam itu terasa dingin. Bau karbol antiseptik menyeruak tajam.

Lintang menggenggam tangan ayahnya erat-erat. Ia belum mau dilepas. Belum siap.

Sampai di depan pintu kayu bertuliskan ruang rawat VIP 304, langkah mereka terhenti.

Leno berbalik, menangkupkan kedua tangannya di pipi Lintang.

"Percaya sama Papi, ya? Papi selalu ada di belakang kamu. Oke?"

Lintang terdiam, menelan ludah dengan payah. Ia akhirnya mengangguk pelan.

Leno mendorong pintu kayu itu perlahan. "Assalamualaikum."

"Waalaikumsalam," sahut beberapa suara dari dalam ruangan secara serempak.

Detik berikutnya, mata Lintang langsung membelalak bulat sempurna.

Pasokan napasnya mendadak tercekat di tenggorokan.

Di samping ranjang pasien, tampak seorang cowok sedang duduk bersandar.

Wajah cowok itu kelihatan sangat lelah dan kusut.

Mata mereka berdua mendadak bertemu lurus. Kaget.

Sama-sama syok berat dan tidak percaya dengan apa yang ada di depan mata.

"Arka?" pekik Lintang tertahan.

Arka mengernyit samar. Kedua alisnya terangkat.

Cowok itu langsung memajukan punggungnya, duduk lebih tegak.

"Lintang? Kok lu bisa di sini?"

Mami Ilna yang sejak tadi duduk di kursi tamu langsung menoleh cepat. Matanya dipenuhi rasa bingung.

"Kalian... saling kenal?"

Bukannya menjawab, Lintang malah mengangkat telunjuknya.

Menunjuk lurus ke arah Arka dengan jari yang gemetar hebat.

"Jangan bilang... aku mau dinikahin sama dia?! Sama dia?!"

Arka ikut mengernyitkan dahinya dalam.

Ia kembali menyandarkan punggungnya di kursi sambil menyilangkan kedua tangan di dada. Kembali ke mode lempengnya.

"Jadi... lu anaknya Tante Ilna?"

Mami Ilna segera bergerak cepat.

Bunyi hak sepatunya beradu nyaring dengan lantai saat melangkah menarik lengan Lintang.

"Lintang, sini dulu! Jangan teriak-teriak begitu, ah. Malu, ini rumah sakit!"

Lintang mau tidak mau terseret. Namun, mulutnya jelas tidak bisa diam begitu saja.

"Iihhh, tunggu dulu Mami!" Lintang menghentakkan tangannya pelan hingga cengkeraman ibunya terlepas.

Lintang melirik was-was ke sekeliling ruangan.

Setelah memastikan aman, ia menatap ibunya tajam. "Coba jelasin ke aku dulu yang bener!"

Mami Ilna melirik suaminya, meminta pertolongan kode. Namun, Leno cuma mengangguk pelan. Pasrah.

"Lintang... kan tadi udah dijelasin sama Papi," ujar Mami Ilna menghela napas.

"Iya, tapi Papi jelasinnya begitu doang!" sahut Lintang bersedekap dada. Langsung memasang sikap defensif.

"Tiba-tiba aku disuruh nikah sekarang. Nyuruh nikah kayak nyuruh bayar utang," ketusnya sewot.

Suasana ruangan mendadak hening sejenak, sampai sebuah suara datar memecah kecanggungan.

"Bunda gue mau operasi. Tapi sebelum masuk ruang operasi, Bunda mau lihat gue nikah dulu," Arka buka suara tanpa basa-basi.

Pandangan matanya menatap lurus ke arah ranjang rumah sakit.

Lintang spontan menoleh ke arah Arka dengan ekspresi yang sangat kompleks.

Ada rasa bingung, terkejut, dan sekilas... senang? Namun, ia buru-buru menutupnya dengan rasa prihatin.

"Oh..." Lintang menjeda kalimatnya selama dua detik.

"JADI GUE MAU DINIKAHIN SAMA LU?!" pekiknya lagi.

Volumenya sengaja dinaikkan dua tingkat saking tidak bisa menahan emosi.

Pletak!

Mami Ilna bergerak secepat kilat, menyentil telinga Lintang tanpa ampun.

"Dibilang jangan berisik, malah teriak-teriak lagi!"

Lintang langsung meringis memegangi telinganya.

"Ya lagian mendadak banget, Mi! Siapa yang nggak kaget coba dikasih tahu mau nikah pas lagi di jalan?!"

Tante Frina, yang sejak tadi hanya diam mengamati, akhirnya bersuara.

Suaranya terdengar sangat lemah namun jelas. Ia melirik putra tunggalnya.

"Kamu kenal dia, Arka?"

"Temen sekelas, Bun," ujar Arka singkat tanpa menoleh.

Wajah pucat Tante Frina seketika melembut.

Ada secercah binar lega yang terpancar dari sepasang mata sayunya.

"Kamu nggak apa-apa, kan? Nikahin temen sendiri? Setidaknya kalian udah saling kenal."

Arka terdiam beberapa saat. Garis rahangnya tampak mengeras kuat.

Mau bagaimana lagi? Ini adalah syarat mutlak demi keselamatan Bundanya.

Cowok itu akhirnya mengangguk pelan dengan gerakan kaku.

"Jadi... temen Mami itu ibunya Arka?" suara Lintang memecah keheningan lagi.

Otaknya baru selesai memproses semua benang merah ini.

"Iya," Mami Ilna mengangguk membenarkan. "Mami minta kamu nikah sama Arka."

Lintang perlahan menoleh ke arah Arka. "Lu mau nikah sama gue? Sama seorang Lintang?!"

Ia masih tidak percaya bahwa perjodohan yang dimaksud cowok dingin itu tadi pagi di chat adalah pernikahan mendadak dengan dirinya sendiri.

Tahu begitu, untuk apa dia menangis bombay tadi pagi?

Arka berdecak pelan, membuang muka. "Disuruh."

"Arka..." tegur Tante Frina pelan dari atas ranjang.

Suaranya menegur sang anak, meski terdengar sangat lemah. "Jangan gitu sama calon istrimu."

Lintang mengedipkan matanya cepat.

Di dalam kepalanya, otaknya langsung bekerja dengan kecepatan penuh. Peluang emas tidak boleh disia-siakan!

Tiba-tiba saja, gadis itu berlari pelan.

Dalam tiga langkah cepat, dia sudah berdiri tepat di sisi ranjang rawat Tante Frina.

Sikap barbarnya lenyap, berubah drastis seratus delapan puluh derajat dalam sekejap!

"Assalamualaikum... Calon Mertua..." suara Lintang mendadak berubah menjadi sangat halus, lembut, dan manis seperti madu.

Ia membungkukkan tubuhnya dalam-dalam, meraih tangan Tante Frina, lalu mencium punggung tangan wanita itu dengan sangat khidmat.

Mami Ilna yang melihat kelakuan ajaib anaknya langsung tertegun, sebelum akhirnya tersenyum lebar karena merasa lega.

"Waalaikumsalam, Sayang," sahut Tante Frina lembut. Ia mengusap pipi Lintang.

"Anak cantik... Kamu mau kan, dinikahin sama anak Bunda?"

"Mau Bunda, mau banget!" jawab Lintang jujur tanpa ada urat gengsi yang tersisa.

Senyumnya merekah lebar mirip orang yang baru saja menang lotre tanpa modal beli tiket. "Udah naksir dari lama soalnya."

Gadis itu melirik Arka sekilas dengan tatapan kemenangan yang hakiki.

Gila, ini sih namanya menang tanpa lomba!

Arka spontan memalingkan wajahnya lurus ke arah luar jendela.

Namun, di balik keremangan lampu kamar rumah sakit, Lintang bisa melihat dengan jelas kalau kedua daun telinga cowok kutub utara itu mendadak memerah.

1
siyuu nr
🩷
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!