Enam tahun menjalani biduk rumah tangga tanpa kehadiran seorang anak, Helyara kerap kali disudutkan lantaran kekurangan ada pada dirinya yang di vonis sulit memiliki keturunan.
Cap mandul pun tersemat, keluarga suaminya sering mencibir membuatnya merasa kerdil.
Namun Helyara merasa dunia masih berpihak kepadanya, sebab sang suami berdiri di sisinya.
Sampai suatu ketika kehadiran bayi asing seolah membunyikan alarm bahaya — satu persatu rahasia tersembunyi mulai terkuak. Membuat wanita baik hati memiliki kepribadian introvert itu meradang, tak terima dicurangi.
Helyara Utomo yang lemah lembut dalam satu malam berubah menjadi sosok lain, berambisi membalikkan keadaan, membalas setiap kecurangan.
Sebenarnya apa yang terjadi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gelombang kejut pertama : 20
“Ada ya, pemilik rumah jadi beban seseorang yang statusnya menumpang?” sarkasnya dengan nada santai, seolah hanya bercanda, sorot mata pun tak menunjukkan kebencian apalagi dendam.
Mereka semua tercengang, seperti mendengar suara memekakkan telinga dan melihat hal menyeramkan yang membuat jantung sejenak berhenti berdetak.
Alan lebih dulu tersadar, ia berbicara dengan suara nenekan. “Helyara! Kamu sadar tidak barusan ngomong apa? Ucapanmu sudah merendahkan Mas sebagai seorang suami, imam!”
Dalam hati Helyara mendengus, sekuat mungkin menahan anggota gerak agar tidak menerjang dan memukul mulut pria sedang bermain peran, membalikkan keadaan seolah-olah dialah si pendosa, yang bersalah.
Helyara berputar setengah lingkaran sampai berhadapan dengan suaminya, menjaga ekspresi senatural mungkin.
“Lantas, bagaimana dengan mamamu yang setiap ada kesempatan selalu merendahkan aku, Mas?”
Ditanyai secara terang-terangan, sang istri yang biasanya anti menunjukkan gejolak pertengkaran di depan orang, tentu Alan tersentak sampai kesulitan menyembunyikan mimik wajah.
Namun dia segera menguasai keadaan, pun nada suaranya diatur sedang kecewa berat. “Kamu tau sendiri kalau lagi kecapean, Mama pasti bawaannya emosi.”
Ganira tersenyum puas, ekspresinya penuh kemenangan lagi-lagi dibela putranya.
Helyara mendengus, terkekeh hambar. “Mas pikir cuma Mama saja yang lelah? Aku juga letih seharian bekerja —”
“Halla! Cuma nyoret-nyoret kertas kok mau disamakan dengan orang yang jalan seharian —”
Ia juga membalas memotong kalimat ibu mertua. “Tanpa gambar coretan tanganku, maka apa yang Mama beli, nikmati hari ini cuma sebatas angan tanpa pernah bisa diwujudkan!”
“Kamu ngebantah terus, ya?!” kesabarannya benar-benar diuji.
“Karena Mama terus menyerang, mengatai, meremehkan aku! Sekarang gini deh ….” sengaja kalimatnya menggantung.
“Gimana kalau kita tukar posisi, biar sama-sama enak, dan aku gak melulu disudutkan. Mas Alan, mbak Zanaya, dan mas Wandi kan sering mengeluh, merasa kalau tugas kalian sangat berat, dan mengharuskan aku tidak banyak menuntut. Bagaimana kalau mulai besok, cobalah merancang desain perhiasan, gak usah mikirin ngatur toko Emas Utomo lagi. Setuju …?”
Mereka membisu dengan ekspresi serentak gagal menutupi rasa terkejut teramat sangat.
“Kamu mau buat toko emas gulung tikar, iya? Tanpa anak menantuku sudah bangkrut sedari dulu!” bukan Ganira, tetapi Sapto sang ayah mertua yang barusan menghardik.
Lirikan sinis tertuju ke pria sewaktu datang ke pernikahannya masih terlihat sangat udik. Berpakaian tabrak warna, kulit menghitam kusam, tapi sekarang jauh lebih berkelas baik dalam berbusana maupun gaya hidup.
“Sebelum mas Alan bekerja di toko Emas Utomo, toko tersebut sudah berdiri, beroperasi selama 23 tahun lamanya,” katanya tegas.
Alandi langsung bertindak, merangkul pundak istrinya, melembutkan suaranya, membujuk. “Kita istirahat saja ya. Maaf, Mas baru memperhatikan kalau kamu sangat kelelahan.”
Bahu Helyara didorong agar kakinya mau bergerak.
“Siska, kamu kerjakan apa yang tadi Nyonya perintahkan, baru sesudahnya istirahatlah.” Alan memperingati lewat mata tajamnya, agar semua orang menjaga sikap. Ini darurat.
“Baik, Tuan.” Siska mengangguk dan menunduk. Ia mendekati kitchen sink dengan wajah tertekuk menutupi kemarahan.
‘Hahahaha … kau datang kesini sebagai pembantu, maka berlakulah sesuai peranmu itu!’ batin Helyara menertawai, tadi sempat melihat kilatan amarah di netra Siska.
“Ayo, Sayang.” Tangannya turun ke pinggang.
Helya tidak membantah maupun menolak, ia menyamai langkah kaki suaminya.
Untuk sekarang cukup disini awal permulaan, belum boleh bertindak berlebihan karena semua masih abu-abu.
Zanaya, Ganira, Wandi, saling melirik. Memperhatikan punggung wanita dirangkul Alandi.
Pintu kamar kembali ditutup, dan Helya bergeming, menunjukkan ekspresi bibir sedikit maju, dahi berkerut menyampaikan perasaan kesal sekaligus sedih.
“Kamu sudah makan malam belum, Sayang?” Alan membelai pipi istrinya dengan punggung tangan kanan. Telapak kiri menekan pintu, mengukung si wanita.
“Kamu sebenarnya cinta gak sih sama aku, Mas?” tanyanya tentu memiliki maksud terselubung.
“Kok nanya gitu?” ini bukan sandiwara, tetapi dia memang merasa heran serta terperanjat.
Bibir Helyara tambah maju, pelupuk mata penuh air mata yang siap tumpah kapan saja. “Kenapa diam saja pas aku dihina Mama mu?”
Hust! Telunjuknya menempel dibibir Helyara.
“Sayang, diamnya Mas sebenarnya membela kamu. Kalau terlalu transparan menyela, bahkan membalikkan kata, yang ada Mama tambah marah dan memusuhimu,” suaranya melembut, selembut sorot mata yang dulu Helya kira cinta.
“Bohong. Apalagi sejak Mama bawa Rianti kesini, sikap mas Alan berubah, sibuk mengajak main Alamsyah, aku jadi diabaikan. Sampai tengah malam pun —”
Ciuman Alan tak tepat sasaran dikarenakan Helya memalingkan wajah, berujung singgah dipipi bukan bibir.
“Ternyata istri kesayangan Mas lagi cemburu.” Ia mempersempit jarak sampai tubuh bagian depan saling menempel.
“Istri mana yang gak cemburu melihat suaminya terlalu dekat dengan wanita lain. Tengah malam masuk ke kamar karena urusan anak yang kangen pelukan ayahnya. Siapa bisa menahan prasangka, sesak di dada, Mas?” air matanya terjun bebas, suaranya sarat kesedihan.
Alan Berbisik sensual tepat di telinga wanita masih enggan bersitatap. “Bercinta yuk, biar otot-otot tegang kita mengendur dan bisa tidur nyenyak setelahnya.”
‘Kawin saja sana kamu sama Siska!” pekiknya dalam hati.
Muak sekali dia harus bermain kata, padahal tangan sudah gatal ingin mendorong pria yang sedang menggesekkan badan. ‘Sudah mirip Anjing mau kawin harus melakukan ritual gesek-gesek kaki dulu.’
“Mau ya?”
Badan Helya merinding, lidah terasa getir dan perut mual. Ditahannya agar tidak muntah.
“Malas. Aku lagi ngambek besar, rayuan Mas kali ini gak bakalan mempan.” Dadanya dibusungkan berhasil memukul mundur satu langkah.
Helya mendorong ke samping pria yang tersenyum mirip Kambing meringis. Cepat-cepat dia masuk ke kamar mandi, mengunci pintunya.
“Dasar gendut. Baru digombali receh sudah bersemu kemerahan pipinya. Gampangan banget, gak ada menantangnya. Bisanya cuma pasrah,” cibirnya seraya melihat pintu kamar mandi.
Alan mengambil ponsel dan mengetik pesan ke Siska — Yang sabar ya sayangku. Si Kerbau lagi cemburu sama Rianti.
Pengalihan Helyara berhasil, demi menyamarkan perubahan sikap yang sempat mengejutkan semua orang, dia berpura-pura sedang cemburu buta.
Di dalam kamar mandi, Helyara memuntahkan sebagian mie disantapnya tadi.
“Kurang ajar siAlan.” Jarinya mengepal, kemudian meninju permukaan wastafel.
Pantulan cermin memperlihatkan perubahan nyata dari wanita yang sebelumnya bersikap lemah lembut, penakut, cengeng, kini sorot mata tegas menyimpan tekad membara.
Helya tidak bisa berlama-lama berdiam diri di kamar mandi. Dia harus mengikuti alur, menyembunyikan rahasia telah terbongkar.
Sewaktu keluar dari kamar mandi, Alan tidak ada di sana.
“Biarkan saja mereka bersenang-senang sebentar, sebelum gelombang kejut susulan menghantam.” Helyara naik ke ranjang, dan mencoba untuk tidur, dalam hitungan menit sudah terlelap.
Kamar yang dijaga sepenuh hati oleh seorang kakak supaya kenangan adik tercintanya abadi, telah dinodai dengan pergumulan panas.
“Aku jijik banget sama si gendut itu, Mas ... ahh. Percepat rencana kita, biar aku jadi Nyonya sungguhan dirumah ini.”
.
.
Bersambung.
mau minta duitmu itu, Hel...
tabok aja mukanya...bilang aja, reflek karena kaget 🤭
mobil udah di jual..
abis ini cari rumah baru.
rumah lama mau di apain nih?
kan umumnya yg dtang ke toko emas,orang yg punya duit 🤭