Berawal Dari sebuah kutukan. dari Hana yang mengutuk habis Tokoh kedua wanita bernama Elsa. Elsa (20thn) seorang gadis yang di jadikan jaminan hutang oleh orang tuanya. Elsa yang di dalam cerita di katakan terpaksa menikah menjadi istri kedua juragan Tama. pria tua. tak terima...pada akhirnya memilih berselingkuh pada bawahan Tama yang bernama Ardana. Nasib malang menimpa hana, gadis itu di tarik masuk oleh takdir, masuk kedalam buku Novel _The Jurag's Wife_ dan menjadi Tokoh Wanita yang sudah dia maki habis-habisan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tasya Chuky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Halaman 15
"Ahhhh..."
Tama mendesah panjang, menyuarakan kepuasan yang teramat pekat saat tubuh masifnya menegang hebat, mencapai puncak pelepasan tertingginya malam itu.
Di bawah kungkungannya, Elsa sudah tidak sadarkan diri akibat kelelahan. Jiwa Hana di dalam raga muda itu benar-benar dibuat menyerah setelah dipaksa mencapai puncak pelepasan beberapa kali berturut-turut oleh permainan panas sang Juragan. Tubuh indahnya kini hanya bisa terbaring lemas tanpa daya, dengan kebaya biru brukat yang dikenakannya tadi sore kini sudah terlepas sempurna dan teronggok di lantai kamar.
Tama, yang posisinya masih berada tepat di atas tubuh Elsa, berusaha mengatur napasnya yang tersengal-sengal. Jantungnya masih berdegup kencang. Pria bertubuh besar itu merunduk, lalu mengecup lembut pucuk kepala istrinya dengan penuh afeksi—sesuatu yang jarang sekali dia tunjukkan.
Pikiran Tama mendadak berputar pada momen beberapa menit yang lalu. Saat Elsa mendapatkan pelepasan terakhirnya, gadis itu sempat memeluk leher tegap Tama dengan sisa tenaganya, lalu berbisik lirih dengan suara serak yang teramat manis.
"Aku cinta sama Om..."
Mengingat ucapan spontan itu, sebuah senyuman geli dan penuh arti terbit di wajah tampan sang Juragan. Dia perlahan menarik keluar kejantanannya dari lubang inti Elsa yang masih berkedut hangat, lalu merebahkan tubuh tegapnya tepat di samping sang istri.
"Kamu masih sama seperti delapan belas tahun yang lalu, El..." bisik Tama dengan suara baritonnya yang rendah dan dalam.
Pria itu kemudian merengkuh tubuh polos Elsa, menariknya masuk ke dalam pelukan hangat dada bidangnya, lalu ikut memejamkan mata menyusul sang istri ke alam mimpi.
••••••••••••••••••••
Pagi hari datang dengan begitu cepat, membawa secercah cahaya yang menembus gorden rumah mewah tersebut.
Di lantai bawah, Andini sang Nyonya Utama sudah terlihat rapi. Wanita berusia 39 tahun itu berjalan dengan anggun, sibuk memberikan instruksi kepada beberapa asisten rumah tangga untuk memasak hidangan sarapan terbaik dan terenak bagi suaminya pagi ini.
Namun, saat langkah kakinya membawanya mendekat ke arah meja makan, atensi Andini mendadak tersita oleh sesuatu yang janggal. Dahinya berkerut dalam saat melihat salah satu kursi kayu berukir di meja makan tampak bergeser tak beraturan.
Andini melangkah mendekat, dan detik itu juga, matanya menangkap sebuah benda asing. Selembar celana dalam wanita berwarna hitam teronggok mengenaskan tepat di bawah kolong kursi tersebut.
"Milik siapa ini?" gumam Andini bingung dengan dahi yang semakin melipat.
Didorong rasa jijik sekaligus penasaran, Andini menyentuh dan membalikkan kain tipis itu menggunakan ujung sandal rumahnya.
"Nggak... Nggak mungkin ini punya pelayan. Mereka semua tahu tempat dan punya aturan ketat di rumah ini," analisis Andini, mencoba menepis kemungkinan terburuk.
Namun, sebuah pemikiran mengerikan mendadak melintas di kepalanya. Ingatannya berputar pada kejadian subuh tadi. Saat dia terbangun dari tidurnya yang lelap, dia sama sekali tidak mendapati keberadaan Tama di samping ranjangnya. Awalnya dia mengira suaminya hanya pergi ke peternakan lebih awal. Tapi sekarang... melihat kain tipis ini berada di ruang makan... apakah suaminya semalam menghabiskan waktu bersama Elsa? Di atas meja makan ini?!
Mata Andini seketika membulat sempurna. Wajah anggunnya menegang, menyiratkan syok yang luar biasa sebelum akhirnya digantikan oleh kobaran api cemburu yang membakar dada.
"Nggak bisa dibiarkan..." ucap Andini geram, mengepalkan kedua tangannya hingga buku jarinya memutih. "Bocah tengil itu... ternyata sudah berani bertindak sejauh ini untuk menggoda suamiku!"