Kisah seorang anak yang di buang oleh keluarganya karena memiliki sisik hitam memenuhi sekujur tubuhnya.
Ya, Kania anak itu. Anak yang membuat orang akan takut melihatnya. Akankah dia bahagia atau terpuruk di kehidupan ini. ikuti kisahnya sampai tamat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon akos, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29. SIAPA ORANG TUA KANIA
Pagi harinya.....
Baron sudah bersiap-siap berangkat bekerja, Pria itu terlihat sudah rapi dengan stelan jas sudah melekat rapi di badan dan berdiri di depan cermin.
"Mas, kita sarapan dulu sebelum mas berangkat kerja," Gina memeluk manja Baron dari belakang.
"Aku sarapan di kantin perusahaab saja," Baron melepaskan pelukan Gina dan mengambil tas kerjanya diatas meja.
"Kenapa akhir-akhir ini mas selalu menghindariku, dan selama kita menikah mas tidak pernah ada romantis-romantisnya padaku,".
"Sudalah Gina, Aku tidak mau berdebat hal itu-itu saja. Kamu sendiri tahu bukan, Aku menikahimu karena hutang budi pada kedua orang tuamu dan mempertanggung jawabkan apa yang seharusnya bukan jadi tanggung jawabku,".
"Mas, kenapa mas selalu mengungkit hal yang tidak seharusnya mas ungkit dan sudah dikubur dalam-dalam. Kesalahan biar hanya menjadi kenangan. Kita sudah menikah hampir 19 tahun tapi sifat mas padaku dan Rakhel masih tetap dingin sama seperti pertama kali kita berjumpa,".
"Kamu yang membuatku seperti itu jadi jangan salahkan Aku bila Aku mengungkitnya. A..sudalah sebagaiknya Aku pergi saja dari pada berdebat denganmu yang pasti tidak pernah ada ujungnya,". Baron melangkah keluar dan masih diikuti Gina dari belakang.
"Mas, tunggu dulu, Aku belum selesai bicara denganmu,".
Baron tidak menghiraukan ucapan Gina, pria itu terus saja melangkah hingga tiba di depan garasi mobil.
"Mas, Aku ikut," Gina segera membuka pintu mobil dan masuk kedalam.
"Gina, kelakuanmu masih saja seperti anak-anak tidak pernah berubah, pak Anton antar Aku ke kantor,".
Pak Anton yang sedari tadi melap mobil segera mengangguk dan membuka pintu mobil buat Baron.
"Cepat pak, jangan biarkan Gina masuk kemari,"
"Baik Tuan,".
Anton pun segera masuk kedalam mobil dan menjalankanya pergi meninggalkan tempat itu.
"Mas.......," teriak Gina keluar dari dalam mobil sambil menghentak-hentakkan kakinya keatas lantai.
Mobil yang dikemudikan Anton pun menuju kearah perusahaan milik Baron.
"Anton, sebelum kita ke kantor, kita singgah dulu sebentar di rumah Desi, ada hal yang ingin Aku tanyakan pada Kania,".
"Baik Tuan,".
Tidak berselang lama kemudian mobil mereka pun berhenti di depan rumah sederhana milik bi Desi.
"Kamu tunggu sebentar disini," Baron keluar dari dalam mobil dan melangkah masuk pekarangan bi Desi.
Baron langsung menuju kearah warung karena dia tahu kalau biasanya bi Desi sudah ada di sana untuk memasak beberapa makanan sebelum warung kecilnya itu dibuka.
"Assalamualaikum," ucap Baron berdiri didepan pintu yang sudah terbuka.
"Waalakumsalam," balas bi Desi dari arah dapur.
Tidak lama kemudian muncul bi Desi dengan masih mengenakan celemek menghampiri Baron.
"Ada apa lagi Tuan datang kemari?, Apa Tuan belum puas Nyonya Gina menghinaku dan mengaitaiku yang bukan-bukan,".
"Tenang dulu, Aku benar-benar tidak tahu kalau Gina datang kemari membuat onar, Apa boleh Aku masuk dan berbicara denganmu sebentar?,".
"Sudalah, tidak ada lagi yang harus dibicarakan, cepat Tuan pergi sebelum kita jadi gunjingan para penghuni compleks ini,".
"Desi tolonglah, Ada hal penting yang ingin Aku tanyakan padamu," Baron sedikit memohon.
"Hal penting apa lagi, cepat katakan karena sebentar lagi para pelanggan datang untuk sarapan pagi,".
"Ini tentang Kania?,".
"Ada apa dengan Anak Saya?,". tanya bi Desi heran.
"Tolong jujur padaku, sebenarnya Kania itu anak siapa?,".
"Kenapa Tuan menanyakan itu?,".
"Aku tahu kamu mengetahui siapa Ayah dan Ibu kania dan Aku juga tahu kalau kamu menyembunyikan rahasia tentang Kania,".
"Kenapa Tuan baru menanyakan ini padaku, Atau jangan-jangan Tuan dan Nyonya Gina merencanakan sesuatu pada putri Saya itu,".
"Mana mungkin Aku merencanakan sesuatu pada anak yang sudah Aku anggap sebagai putriku sendiri. Tolonglah Desi beritahu padaku siapa Ayah dan Ibu Kania karena ini sangat penting bagiku,".
"Pergilah, karena sampai kapan pun Aku tidak akan memberi tahu pada siapa pun siapa orang tua Kania sesungguhnya,".
Bi Desi langsung menutup pintu dan menguncinya dari dalam.
"Ya TUHANku, untung saja Kania sudah berangkat kerja. Kalau tidak dia pasti sangat kecewa padaku bila mendengar ini,".
Bi Desi menyandarkan tubuhnya di balik pintu.
"Desi tolong buka pintunya, Abang janji Abang tidak akan menanyakan ini lagi padamu,". Baron mengetuk pintu tapi tetap saja tidak ada jawaban dari bi Desi.
Setelah suara Baron sudah tidak terdengar lagi, Bi Desi pelan-pelan membuka pintu.
"Syukurlah orang itu sudah pergi, mulai sekarang Aku harus hati-hati padanya. Aku takut rahasia terbesar Kania akan terbongkar dan keluarga Gunawan mengetahuinya. Dendam Kania harus terbalas sebelum semua tabir ini terbuka. Keluarga Gubawan harus merasakan apa yang telah mereka perbuat pada Kania,".
Sementara itu, Anton terus melajukan kendaraanya, bukan kearah perusahaan tapi kerestoran Arnold sesuai dengan perintah Baron. Baron tahu kalau Kania ada disana.
Tidak lama kemudian mobil mereka pun berbelok masuk kedalam halaman restoran. Restoran masih tampak sepi, hanya beberapa karyawan sedang terlihat bersih-bersih baik di dalam maupun di luar restoran.
Baron segera masuk, setiap karyawan yang berbapasan denganya pasti akan menunduk memberi hormat.
"Kania," teriak Baron mendekati Kania yang saat itu sedang melap meja satu-persatu.
"Eee ..paman, Apa paman ingin bertemu pak Arnold biar Kania mengantar paman ke ruanganya?," Kania merapikan pakainya dan menyimpan lap kain ketempatnya semula.
"Paman tidak ingin bertemu Arnold tapi ingin bertemu denganmu. Apa kamu ada waktu sedikit untuk paman?,".
"Bertemu Kania, memang ada hal penting apa sehingga paman sampai belain kemari hanya untuk bertemu Kania?,".
"Duduklah dulu, ada sesuatu hal yang ingin paman tanyakan padamu?,".
Baron kemudian duduk dan diikuti oleh Kania.
"Kania, apa boleh paman bertanya sedikit?,".
"Silahkan paman, jika Kania bisa menjawab, Kania akan jawab,".
"Apa benar kamu memiliki kekuatan lebih dari manusia biasa?,". Baron menatap lekat pada kedua bola mata Kania.
"Kekuatan apa maksud paman?,".Kania sedikit gelabatan mendengar pertanyaan Baron.
"Paman tahu kamu pasti akan menyembunyikan ini pada siapa pun kecuali Ibumu. Tapi paman sangat berharap kamu mau membantu paman. Saingan bisnis paman sangat kuat ,dia memiliki seorang putri yang memiliki kekuatan yang sama seperti kekuatan yang kamu miliki," Baron memegang tangan Kania.
Tanpa mereka sadari seorang perempuan mengambil gambar mereka.
Ya, Dia Vera, perempuan yang selalu mengganggu ketenangan Kania dari pertama kali Kania bekerja di restoran itu.
"Aku akan mengirim gambar ini pada Rakhel, ATM berjalan itu pasti akan memberi uang lebih padaku jika Aku mengirim gambar ini padanya,". Vera tersenyum bahagia dan meninggalkan tempat persembunyianya.
Jangan lupa untuk mampir ke channel youtube Aku ya ...terima kasih.
semoga saja tuan Baron bisa dengan cepat menyelesaikan urusan nya
apakah Arnold jodoh nya Kania 🤔
dia si Dewi ular 🐍 anak mu bang🤭
tau gak ya kalau Kania itu anaknya Lidia
semangat kak
sukurin lo nyonya GINA yang sombong
wah bisa seru ini cerita nya
semoga Kania dan bi Desi selalu di lindungi oleh ular raksasa itu
aku lanjut aja ah .... semoga tambah seru
kasian bayi itu dia juga tidak mau keluar dengan kulit yang seperti itu