Keira Wulandari — gadis adopsi dari perumahan subsidi, dianggap bodoh, jelek, dan tidak berguna.
Tapi tidak ada yang tahu... di kehidupan sebelumnya, dia adalah Blood Shadow — pembunuh nomor satu dunia, hacker terhebat, dan dokter legendaris.
Sekarang dia terlahir kembali. Dengan semua kemampuan dari kehidupan sebelumnya, dia kembali untuk melindungi adiknya, membalaskan dendam, dan membuat semua orang yang pernah meremehkannya berlutut.
Dan CEO konglomerat terkaya di Indonesia — Tan Hansel — yang dingin kepada semua orang kecuali dia?
"Dia istriku. Ada masalah?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 11
Bab 011: Obat untuk Bayu
Keira memilih tengah malam untuk memulai pengobatan pertama.
Rumah Prasetyo sudah hampir sunyi. Bu Sri tertidur di depan televisi dengan remote di tangan. Laras masih di kamar, sesekali tertawa kecil melihat video. Pak Prasetyo sudah masuk kamar sejak pukul sembilan, lelah dan seperti biasa tidak ingin terlibat apa pun.
Di ruang belakang, Bayu duduk di kasur tipis dengan celana digulung sampai lutut.
"Kalau sakit, bilang," kata Keira.
Bayu mengangguk terlalu cepat. "Iya, Mbak."
"Jangan pura-pura kuat."
"Iya."
"Kamu selalu bilang iya sebelum paham."
Bayu menutup mulut. Keira membersihkan kulit kakinya dengan alkohol. Bau tajam memenuhi ruang sempit. Ia menekan beberapa titik, memastikan respons saraf. Kaki Bayu menegang saat jarinya menyentuh sisi betis bagian dalam.
"Di sini?"
Bayu menggigit bibir. "Kebas. Tapi sakit juga."
"Bagus."
"Sakit kok bagus?"
"Berarti belum mati rasa total."
Bayu tidak tahu harus lega atau takut.
Jarum pertama masuk.
Tubuh Bayu tersentak, tetapi ia tidak bersuara. Tangannya mencengkeram ujung kasur sampai buku jarinya memutih. Keira melihat itu, lalu meletakkan tangan di atas pergelangan tangannya.
"Napas."
Bayu menarik napas pendek.
"Lagi."
Kali ini napasnya lebih panjang. Perlahan, otot di kakinya berhenti melawan. Keira memasang jarum kedua, ketiga, lalu menempelkan kain hangat yang sudah diberi ramuan pahit.
Di luar, angin malam melewati celah atap seng. Suara tetangga batuk terdengar samar. Dunia tetap kecil, tetapi di ruang belakang itu, sesuatu yang selama bertahun-tahun dianggap tidak mungkin mulai digeser sedikit demi sedikit.
"Mbak belajar ini di tempat buruk itu?" tanya Bayu pelan.
Keira menatap jarum. "Sebagian."
"Orang di sana baik?"
"Tidak."
Bayu diam. Ia tidak bertanya lagi.
Setelah dua puluh menit, Keira mencabut jarum satu per satu. Bayu menggerakkan jari kakinya. Awalnya ia hanya ingin memastikan tidak tambah sakit. Lalu wajahnya berubah.
"Mbak."
"Apa?"
"Hangat."
"Efek obat."
"Bukan." Bayu menatap kakinya, suaranya mulai bergetar. "Biasanya bagian sini dingin. Sekarang hangat."
Keira merapikan jarum ke kotak kecil. "Itu baru awal."
Air mata Bayu jatuh tanpa suara.
Ia cepat-cepat menghapusnya dengan punggung tangan. "Maaf."
"Untuk apa?"
"Aku... aku cuma..."
Selama bertahun-tahun, kaki itu adalah alasan ia tidak ikut lomba, tidak bermain bola, tidak berdiri lama saat upacara, tidak membela diri saat diejek. Semua orang di rumah sudah terbiasa melihatnya pincang sampai lupa bahwa Bayu sendiri belum pernah benar-benar menerimanya.
Keira duduk di lantai, punggung bersandar ke lemari.
"Kamu adikku."
Bayu menatapnya.
"Jadi berhenti minta maaf karena ingin sembuh."
Tangis Bayu makin sulit ditahan. Ia menunduk dalam-dalam agar suaranya tidak keluar.
Keira membiarkannya.
Di dunia lama, ia tidak pernah tahu cara menenangkan anak menangis. Di Shadow, tangis biasanya berarti hukuman akan bertambah. Di sini, ia hanya duduk di samping Bayu sampai napas anak itu stabil lagi.
Setelah tangisnya berhenti, Bayu mencoba berdiri.
Keira tidak langsung menolong. Ia hanya mengangkat tangan, siap menangkap jika anak itu jatuh. Bayu menapak perlahan. Satu langkah. Dua langkah. Masih pincang, masih kaku, tetapi wajahnya berubah saat menyadari rasa sakit yang biasa menusuk lututnya tidak datang secepat biasanya.
"Mbak," bisiknya.
"Jangan senang dulu. Ini belum sembuh."
"Tapi tadi aku berdiri tanpa pegangan."
"Tiga detik."
"Biasanya satu detik juga sakit."
Keira menatapnya. Bagi Bayu, tiga detik itu seperti jendela kecil yang terbuka setelah bertahun-tahun dikunci.
"Besok jangan pamer," katanya akhirnya. "Kalau Bu Sri tahu, dia akan banyak bertanya."
Bayu mengangguk cepat. "Aku pura-pura biasa."
Pagi harinya, Keira menggunakan sisa malam untuk mengambil pekerjaan keamanan digital kecil. Ia memperbaiki celah sistem pembayaran sebuah toko online lokal dan mendapat bayaran cukup untuk membeli obat lanjutan. Tidak besar, tetapi bersih.
Pekerjaan itu ia pilih dengan hati-hati. Tidak ada pasar gelap, tidak ada uang kotor, tidak ada jejak yang bisa menarik Shadow terlalu cepat. Hanya celah keamanan di toko online yang pemiliknya terlalu percaya pada plugin murah. Keira memperbaikinya, mengirim laporan singkat, lalu menolak bonus tambahan yang berlebihan.
Uang kecil lebih aman.
Di rumah ini, aman lebih penting daripada kaya.
Ia baru tidur hampir subuh.
Saat bangun, Bu Sri berdiri di depan sekat dengan mata menyipit.
"Semalam kamu di kamar Bayu lama sekali."
Bayu yang sedang memakai sepatu langsung tegang.
Keira menguap kecil. "Belajar."
"Belajar apa sampai tengah malam?"
"Matematika."
Laras yang lewat dengan rambut masih basah tertawa. "Mbak ngajarin Bayu matematika? Lucu banget."
Keira menatapnya. "Besok kamu mau ikut?"
Tawa Laras berhenti.
Bu Sri melihat kotak kecil di meja. Keira sudah menyembunyikan jarum, tetapi bau obat masih tertinggal samar.
"Jangan macam-macam di rumah ini," kata Bu Sri. "Kalau ada barang aneh, Ibu buang."
Keira menutup tasnya. "Silakan cari kalau bisa."
Hari itu, Bu Sri benar-benar menggeledah ruang belakang. Lemari, bawah kasur, tas sekolah. Ia tidak menemukan jarum. Keira sudah memindahkannya ke dalam kotak bekas komponen elektronik yang disembunyikan di plafon rendah.
Namun Bu Sri menemukan buku catatan Bayu yang penuh rumus dan coretan Keira.
Ia membolak-baliknya dengan wajah tidak mengerti, lalu melemparkannya ke meja.
"Dasar anak-anak aneh."
Bayu baru berani mengambil buku itu setelah Bu Sri pergi ke depan. Ia memeriksa halaman satu per satu, takut ada yang sobek. Saat melihat satu sudut halaman terlipat, wajahnya langsung berubah.
"Mbak, ada yang baca."
Keira sedang menjemur kain kompres. "Siapa?"
"Aku nggak tahu."
"Kamu tahu."
Bayu menunduk. "Laras."
Nama itu keluar pelan, tetapi cukup jelas. Di rumah ini, menuduh Laras sama saja menyalakan kompor di bawah tumpukan minyak.
Keira mengambil buku tersebut, melihat bekas jari tipis di pinggir halaman. "Mulai sekarang, bawa buku ini ke mana pun."
"Kalau dia sudah foto?"
"Bagus."
Bayu mendongak, tidak paham.
"Orang yang mencuri umpan biasanya lupa mengecek kail."
Bayu memeluk buku itu ke dada. Rasa takutnya belum hilang, tetapi ada sesuatu yang baru di matanya. Bukan keberanian besar. Hanya keberanian kecil untuk percaya bahwa kali ini, jika Laras mengambil sesuatu darinya, ia tidak akan sendirian menanggung akibatnya.
"Aku akan jaga bukunya," kata Bayu.
"Jaga dirimu dulu."
"Dua-duanya."
Keira mengangkat alis, tetapi tidak membantah.
Untuk anak yang biasanya selalu mengalah, kalimat itu sudah termasuk perlawanan.
Keira menyukai perlawanan kecil. Lebih mudah dirawat daripada keberanian yang meledak sekali lalu padam.
Malamnya, Keira melihat posisi buku itu berubah. Seseorang selain Bu Sri juga pernah menyentuhnya.
Laras.
Keira menatap meja lama itu cukup lama.
Rupanya besok akan lebih berisik.