Kinanti mengira tantangan terbesar dalam hidupnya hanyalah menghadapi Arkan, CEO perusahaannya yang terkenal dingin, perfeksionis, dan bermata tajam seperti predator. Sampai suatu malam, saat lembur badai di kantor, sekelebat petir menyambar dan Arkan tiba-tiba lenyap dari kursinya—menyisakan setelan jas mahal kosong dan seekor kucing oranye gembul yang mengeong galak.
Ternyata, sang CEO jenius terkena kutukan turun-temurun: ia akan berubah menjadi kucing oranye biasa setiap kali hujan turun atau saat emosinya tidak stabil. Celakanya, sifat "ras terkuat di bumi" sang kucing tetap terbawa. Ia tetap bosan, sombong, dan menuntut—tapi dalam wujud yang sangat ingin didekap.
Satu-satunya orang yang mengetahui rahasia ini adalah Kinanti. Kini, tugas Kinanti berlipat ganda: menjadi sekretaris profesional di siang hari, dan menjadi babu pelindung sang CEO di malam hari agar ia tidak diculik oleh saingan bisnisnya... atau tidak sengaja mengejar tikus saat rapat penting.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon La Runa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Faksi Kedua Terbangun
Awan hitam yang mendadak menggantung rendah di atas langit SCBD mengirimkan hawa sedingin es menembus kaca tebal lantai tiga puluh dua. Lampu indikator merah di meja Arkananta masih berkedip dengan ritme konstan yang mencekam, memantulkan cahaya merah samar di wajah sang CEO yang kini kembali mengeras.
"Sub-level lima?" Kinanti menatap layar tabletnya dengan dahi berkerut dalam, jemarinya mencoba meretas balik jalur data yang masuk. "Pak Arkan, setahu saya, cetak biru digital Mahardika Tower hanya menunjukkan ruang basemen sampai tingkat empat untuk parkir VIP dan tangki pengolahan air limbah. Sejak kapan kita punya lantai kelima?"
Arkan tidak langsung menjawab. Ia berjalan ke arah brankas tersembunyi di balik lukisan potret kakek buyutnya. Setelah memindai retina dan sidik jarinya, pintu baja tebal itu terbuka, menampilkan sebuah kotak beludru hitam berdebu yang tampaknya belum pernah disentuh selama puluhan tahun. Di dalamnya terletak sebuah kunci kuno berbahan kuningan berat dengan ukiran kepala badak bercula satu.
"Secara arsitektur modern, lantai itu tidak pernah terdaftar, Kinanti," ujar Arkan, suaranya berat dan bergema di dalam ruangan yang mendadak hening. "Itu adalah bunker penopang spiritual yang dibangun langsung oleh Faksi Mangkubumi pada tahun 1990, saat gedung ini pertama kali diletakkan batu pertamanya. Mereka adalah faksi arsitek gaib. Jika Faksi Selo memegang kendali atas energi dan mantra, maka Mangkubumi adalah mereka yang mengunci energi tersebut ke dalam struktur fisik—ke dalam beton, baja, dan marmer gedung ini."
Kinanti menelan ludah. "Dan sekarang seseorang di bawah sana sedang mencoba membongkar kuncinya?"
"Bukan membongkar," Arkan berbalik, memegang kunci kuningan itu erat-nerah. "Mereka sedang mengaktifkan struktur pembalik. Jika Faksi Mangkubumi membalikkan fondasi spiritual gedung ini, Mahardika Tower tidak hanya akan runtuh secara mistis, tapi seluruh energi kutukan yang selama ini saya tekan akan meledak ke radius lima kilometer di Jakarta pusat."
"Astaga," Kinanti memijat pelipisnya yang mendadak pening. Baru saja ia menikmati kopi Merbabu dengan tenang, sekarang ia harus berhadapan dengan potensi kiamat mistis berskala regional. "Bara! Panggil Tim Delta!" serunya ke arah interkom.
Lima menit kemudian, Arkan, Kinanti, dan Bara sudah berdiri di dalam lift privat eksekutif. Lift ini biasanya hanya memiliki tombol hingga lantai B4. Namun, Arkan memasukkan kunci kuningan kuno itu ke dalam sebuah slot tersembunyi di bawah panel angka digital, lalu memutarnya 180 derajat ke kiri.
KLIK. BZZZZT.
Layar digital lift mendadak berkedip, menampilkan huruf merah tunggal yang tidak pernah dilihat oleh karyawan mana pun di gedung ini: B5.
Lift meluncur turun dengan kecepatan yang membuat perut terasa agak mual. Suasana di dalam kubus besi itu mendadak sunyi. Bara memeriksa magasin senjata kejut listriknya, sementara Kinanti terus memantau grafik enkripsi di tabletnya.
"Enkripsinya berbentuk... geometris, Pak," lapor Kinanti, memperlihatkan layarnya pada Arkan. "Ini bukan kode biner standar. Ini seperti susunan pola pecahan batu candi yang digabungkan secara digital. Setiap kali saya mencoba memblokir jalurnya, polanya berubah membentuk struktur baru."
"Itu adalah Sandi Mangkubumi," kata Arkan tenang, meskipun urat-urat di lehernya mulai menegang akibat tekanan energi bawah tanah yang mulai terasa. "Mereka membangun proteksi digital menggunakan prinsip arsitektur candi kuno. Kamu tidak bisa meretasnya dengan logika matematika biasa, Kinanti. Kamu harus menemukan 'batu kunci' atau keystone dari struktur tersebut."
TING.
Pintu lift terbuka dengan suara dentang logam yang berat. Begitu pintu bergeser, bau udara lembap yang bercampur dengan aroma minyak bumi dan kemenyan kuno langsung menyergap indra penciuman mereka.
Lantai B5 sama sekali tidak terlihat seperti basemen gedung modern. Dinding-dindingnya terbuat dari blok-blok batu andesit besar yang disusun tanpa semen, persis seperti dinding dalam sebuah candi bawah tanah. Di langit-langit, jajaran kabel serat optik modern bergelantungan, berbaur dengan akar-akar pohon beringin tua yang entah bagaimana bisa menembus fondasi beton SCBD.
"Tempat apa ini..." Bara berbisik, senter taktisnya menyoroti lorong batu yang gelap. "Bagaimana bisa ada struktur seperti ini di bawah pusat finansial Jakarta?"
"Ini adalah jangkar bumi Mahardika," jawab Arkan, melangkah maju memimpin jalan.
Di ujung lorong, terdapat sebuah ruang aula bundar yang luas. Di tengah ruangan, sebuah generator server superkomputer modern berukuran raksasa berdiri tegak, memancarkan pendar lampu biru dan merah. Namun, yang membuat pemandangan itu terasa gila adalah fakta bahwa server canggih tersebut diletakkan tepat di atas sebuah altar batu kuno yang dikelilingi oleh sesaji dan mangkuk-mangkuk perunggu.
Di depan konsol utama server, berdiri seorang pria muda dengan pakaian kasual—celana jins dan jaket hoodie abu-abu—namun di lehernya tergantung sebuah kalung berbandul bongkahan batu hitam legam. Jarinya bergerak sangat cepat di atas papan ketik mekanis yang berisik.
"Raden Tegar Mangkubumi," suara Arkananta menggelegar di dalam aula batu, membuat pria muda itu seketika menghentikan aktivitasnya dan berbalik.
Tegar memiliki wajah yang tipikal dengan keluarga bangsawan lama, namun matanya memancarkan sinisme modern yang kental. Ia tersenyum tipis, memperlihatkan deretan giginya yang rapi. "Ah, Sang Singa Mahardika akhirnya turun ke liang lahatnya sendiri. Dan... oh, ini pasti si sekretaris ajaib yang membuat Faksi Selo menangis di Merbabu?"
Kinanti melangkah maju, tabletnya terangkat. "Mas Tegar, atau siapa pun nama Anda, tindakan sabotase jaringan internal tanpa izin ini melanggar Undang-Undang ITE Pasal 30. Dan secara mistis, Anda juga melanggar etika bertetangga di basemen."
Tegar tertawa renyah, sebuah suara tawa yang terdengar sangat santai di tengah atmosfer mistis yang tegang. "Undang-Undang ITE? Nona Kinanti, keluarga saya yang mendesain struktur baja yang menahan laptop Anda agar tidak jatuh ke inti bumi saat ini. Kami tidak peduli hukum Jakarta. Kami ke sini untuk menagih janji yang dilupakan."
Tegar menekan tombol Enter dengan dramatis pada papan ketiknya.
BZZZZZZRRRGGG!!!
Seluruh lantai batu andesit yang mereka pijak mendadak bergetar hebat. Dari celah-celah batu, cairan hitam kental mirip minyak bumi mulai merembes keluar, memancarkan hawa panas yang membuat tanda di pergelangan tangan Kinanti mendadak berdenyut perih kembali.
"Faksi Selo mungkin bodoh karena mengandalkan mantra dan data digital mentah," ujar Tegar, matanya berkilat penuh ambisi. "Tapi Faksi Mangkubumi tahu cara mengubah mantra menjadi realitas fisik. Malam ini, Mahardika Tower akan menjadi makam bagi sumpah leluhur kita, dan fondasi baru akan dibangun di atas darah sang Singa!"
Dua patung batu berbentuk penjara dwarapala di sisi altar mendadak retak, dan dari dalamnya muncul getaran energi murni yang mulai membentuk wujud fisik yang padat. Pertempuran demi mempertahankan fondasi Mahardika baru saja dimulai pada tingkat yang paling mendasar.