NovelToon NovelToon
Obsesi Ketua OSIS

Obsesi Ketua OSIS

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Anak Genius / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Nalara amora

Kanaya Leticia Clarissa hanya ingin masa SMA-nya berjalan tenang tanpa gangguan. Namun, kecantikannya yang mencolok justru menjadikannya target perundungan oleh senior OSIS yang iri. Di tengah ketakutan itu, Alden Arsenio Malik—sang Ketua OSIS yang dikenal sempurna dan dingin—datang mengulurkan tangan. Letta mengira itu adalah sebuah perlindungan, tanpa menyadari bahwa di balik tatapan tegas Alden, ada obsesi gelap dan posesif yang siap mengurung seluruh hidupnya.

"Kamu aman di sini, Letta. Tapi ingat, kamu hanya milikku."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nalara amora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

tekad bulat aleta

Suara pintu kamar mandi yang terbuka lebar dan dentuman langkah kaki yang berat membuat jantung Aleta berpacu lebih kencang. Ia tidak perlu menoleh untuk mengetahui siapa yang datang; aura dominasi yang menekan ruangan itu adalah milik Alden.

Aleta tetap bergeming dalam posisi berjongkok, memeluk lututnya dengan selimut yang kini terasa berat karena basah kuyup tersiram air shower. Kain itu menempel di kulitnya yang gemetar, menciptakan sensasi dingin yang menusuk, namun ia tidak peduli. Ia hanya menundukkan kepala, berusaha menyembunyikan ekspresi wajahnya yang penuh dengan kepedihan dan rasa muak yang teramat sangat.

Alden berhenti tepat di hadapan Aleta. Ia tidak segera berbicara. Suara napasnya yang tenang terdengar kontras dengan rintihan pelan yang tertahan di tenggorokan Aleta.

Alden berjongkok, menyamakan tingginya dengan Aleta.

"Apa yang kamu lakukan?" suara Alden terdengar rendah, sebuah campuran antara rasa heran dan peringatan yang terselubung.

"Kamu bisa jatuh sakit, Aleta."

Aleta tidak menjawab. Ia justru mengeratkan pegangannya pada selimut, menatap lantai kamar mandi yang basah dengan tatapan kosong. Air menetes dari rambutnya yang basah ke arah mata dan pipinya, menyatu dengan jejak air mata yang masih tersisa. Tubuhnya berguncang halus—bukan hanya karena kedinginan, tetapi karena rasa sakit di tubuhnya yang kembali terasa saat ia dipaksa berada dalam posisi ini.

"Aku hanya... ingin merasa bersih," bisik Aleta

Alih-alih merasa iba, kilatan obsesif kembali terlihat di matanya. Ia tidak suka melihat Aleta dalam keadaan seperti ini—seolah-olah gadis itu sedang mencoba menghapus kehadirannya dari kulitnya.

Alden mematikan shower dengan satu sentakan kasar, menghentikan suara gemericik yang sedari tadi menjadi satu-satunya pelindung Aleta. Kamar mandi seketika sunyi, hanya menyisakan suara napas mereka yang bersahutan. Ia menatap Aleta yang masih berjongkok di lantai dengan tatapan yang sulit diartikan—ada kemarahan karena Aleta mencoba melakukan sesuatu tanpanya, namun ada juga hasrat posesif yang masih berkobar.

Tanpa berkata apa-apa, Alden beranjak mengambil handuk mandi besar yang tergantung di dekat pintu. Ia kembali berjongkok tepat di depan Aleta, membiarkan tubuhnya menghalangi akses gadis itu untuk melarikan diri.

Dengan gerakan yang sangat teliti, Alden menarik selimut basah yang tadi membalut tubuh polos Aleta. Selimut itu ia buang ke sudut lantai dengan tidak peduli. Kini, Aleta benar-benar terekspos di bawah tatapan Alden yang gelap, telanjang dan gemetar hebat karena rasa dingin yang mulai menusuk tulang.

Alden membentangkan handuk besar itu dan langsung melilitkannya ke tubuh Aleta. Ia melakukannya dengan gerakan yang lambat, sengaja membiarkan tangannya menyentuh kulit Aleta yang masih basah dan memerah. Alden merapatkan handuk itu dengan erat di dada Aleta, menyimpulnya di bagian bahu dengan ketelitian yang obsesif, memastikan tidak ada satu inci pun kulit yang tertinggal untuk terkena udara dingin.

Saat ia memasangkan handuk itu, jemarinya terus menelusuri garis bahu hingga ke leher Aleta, memberikan tekanan lembut namun mengancam di setiap titik yang ia lalui. Ia memastikan handuk itu membalut Aleta dengan sempurna, layaknya seorang pemilik yang sedang membungkus barang berharganya agar tidak rusak.

Setelah selesai, Alden tidak langsung melepaskan tangannya. Ia membiarkan telapak tangannya menangkup pipi Aleta, menekan wajah gadis itu agar mendongak, memaksa mata mereka untuk kembali bertemu dalam jarak yang sangat dekat.

"Jangan pernah berpikir untuk membilas jejakku lagi," bisik Alden

Ia kemudian mengangkat tubuh Aleta dalam posisi bridal style, membungkusnya rapat dengan handuk menuju ranjang yang masih hangat.

🌍🌍🌍

Langkah Alden terhenti tepat di samping ranjang saat ia hendak membaringkan Aleta. Matanya yang gelap menangkap sebuah pemandangan yang seketika membuat sudut bibirnya tertarik ke atas—sebuah seringai tipis yang sarat akan dominasi dan kepemilikan mutlak.

Di tengah seprei yang kusut, terdapat bercak merah yang tertinggal, bukti nyata dari kehancuran pertahanan Aleta semalam.

Alden tidak melepaskan Aleta. Justru, ia mengeratkan dekapannya, membuat Aleta yang terbungkus handuk itu terjepit semakin dekat ke dada bidangnya. Ia menundukkan kepala, membiarkan dagunya menyentuh puncak kepala Aleta, lalu matanya terpaku pada noda itu dengan tatapan yang jauh dari rasa bersalah. Baginya, bercak itu adalah segel permanen, bukti bahwa Aleta tidak lagi sama seperti gadis yang ia temui kemarin.

"Lihat itu," bisik Alden, suaranya terdengar sangat rendah dan berat di telinga Aleta. Ia mengarahkan dagunya ke arah noda tersebut, memaksa Aleta untuk melihat bukti kehancurannya sendiri.

Aleta memejamkan mata erat-erat, menahan sesak di dadanya yang kian menjadi. Ia merasa dunianya hancur berkeping-keping saat melihat bercak itu. Ia ingin memalingkan wajah, ingin menghapus penglihatannya, namun Alden tidak mengizinkannya.

"Itu adalah tanda bahwa kamu sudah bukan lagi milik duniamu yang lama," lanjut Alden, nada suaranya berubah menjadi lebih posesif dan dingin.

"Mulai detik ini, setiap inci dari tubuhmu, setiap tetes yang kamu tumpahkan, adalah milikku. Kamu tidak bisa menghapusnya, Aleta. Kamu tidak bisa lari dari apa yang sudah terukir di sana."

Alden kemudian membaringkan Aleta ke ranjang dengan hati-hati, namun gerakannya tidak menyisakan ruang bagi Aleta untuk bergerak. Ia segera menindih tubuh Aleta, mengunci posisi gadis itu di bawahnya, menutupi noda merah tersebut dengan tubuhnya sendiri, seolah-olah ia ingin memastikan tidak ada orang lain yang akan melihat jejak miliknya.

"Jangan pernah mencoba untuk membersihkan dirimu lagi," gumamnya tepat di depan bibir Aleta, matanya yang tajam menuntut pengakuan.

"Karena aku tidak akan membiarkan satu tetes pun bukti kepemilikanku hilang dari pandanganku."

Aleta hanya bisa terdiam, napasnya tercekat. Strategi "patuh" yang ia susun terasa semakin berat untuk dijalankan saat Alden secara eksplisit menunjukkan betapa obsesifnya dia terhadap setiap detail kehancuran gadis itu.

Alden bangkit dari atas tubuh Aleta dengan gerakan yang luwes, Aleta hanya bisa terbaring diam di atas ranjang, masih terbungkus handuk yang dipasangkan Alden tadi. Matanya yang kosong menatap langit-langit, membiarkan tubuhnya tetap pasrah. Ia memilih untuk menutup diri, membiarkan pikirannya mati rasa agar tidak hancur oleh kenyataan.

Dari balik pintu, terdengar suara langkah pelayan yang masuk dengan tertunduk dalam, tidak berani mengangkat wajah sedikit pun.

"Ini pesanannya, Tuan," suara pelayan itu terdengar gemetar saat ia menaruh nampan berisi makanan di meja kecil di dekat ranjang, lalu meletakkan tumpukan pakaian baru di atas kursi dengan sangat hati-hati.

Alden tidak membalas ucapan pelayan itu. Ia hanya mengawasi dengan dingin, memastikan tidak ada tatapan yang tertuju pada Aleta yang masih bersembunyi di balik selimut. Begitu pelayan itu meletakkan barang-barang tersebut dan segera mundur dengan langkah cepat untuk keluar, Alden menutup pintu dan menguncinya dengan bunyi klik yang nyaring—sebuah penegasan bahwa tidak ada lagi akses bagi siapa pun ke dalam dunianya.

Alden menatap tumpukan pakaian yang dibawa pelayan tadi, lalu tangannya terulur mengambil set piyama sutra berwarna lembut. Ia tidak ingin Aleta terlihat formal atau siap untuk pergi ke mana pun; ia ingin Aleta tetap berada dalam lingkup kenyamanan yang ia buat sendiri, dalam suasana rumah yang intim dan mengisolasi.

Ia kembali duduk di tepi ranjang, melemparkan piyama tersebut ke atas tubuh Aleta yang masih gemetar di balik handuk.

"Pakai ini," perintah Alden dengan nada yang lebih santai, seolah-olah ia sedang memberikan perhatian seorang kekasih yang protektif.

"Piyama ini jauh lebih nyaman untukmu daripada sekadar handuk. Aku tidak ingin kamu kedinginan."

🌍🌍🌍

Aleta menarik piyama itu. Sentuhan kain sutranya yang halus terasa sangat kontras dengan rasa kasar di kulitnya yang sensitif akibat perlakuan semalam. Dengan gerakan lambat yang dipaksakan, Aleta mulai melepaskan lilitan handuknya di bawah pengawasan tajam Alden. Pria itu tidak berpaling sedikit pun; matanya mengikuti setiap pergerakan Aleta dengan intensitas yang membuat gadis itu merasa seolah sedang dipreteli perlahan-lahan.

Saat Aleta kesulitan mengancingkan kemeja piyama yang bagian atasnya agak longgar karena tangannya yang masih lemas, Alden tidak membiarkannya berjuang sendiri. Ia mencondongkan tubuh, mengambil alih kancing-kancing itu dari jemari Aleta yang gemetar.

Alden mengancingkannya dengan telaten, setiap gerakan jarinya yang menyentuh kulit dada Aleta terasa disengaja. Ia tidak terburu-buru. Ia menikmati momen di mana Aleta terpaksa diam dan membiarkannya melayani—atau lebih tepatnya, menguasai—setiap aspek kecil dari aktivitas paginya.

"Nah," bisik Alden setelah kancing terakhir terpasang. Ia merapikan kerah piyama itu, lalu menangkup wajah Aleta lagi, ibu jarinya mengusap bibir bawah Aleta yang bengkak.

"Sekarang kamu terlihat jauh lebih baik. Sangat cocok berada di sini, di bawah pengawasanku."

Alden kemudian bangkit dan mengambil piring berisi makanan yang sudah disiapkan di meja makan, lalu membawanya kembali ke ranjang. Ia duduk di posisi yang membuat Aleta tidak punya pilihan selain berada di antara kedua kakinya.

"Makanlah," perintahnya sambil menyendokkan makanan dan menyodorkannya ke depan bibir Aleta.

"Aku tidak akan membiarkanmu melewatkan satu suap pun. Kamu perlu kembali pulih, Aleta. Aku tidak suka melihat mainanku terlihat terlalu rapuh."

Aleta menatap sendok di depan bibirnya, lalu beralih menatap mata Alden yang menuntut. Dengan tatapan yang kosong, ia membuka mulut dan menerima suapan itu, menelan makanan yang terasa hambar di lidahnya, sementara otaknya terus berteriak mencari celah untuk menghancurkan pria di depannya ini suatu saat nanti.

Suara jam dinding di kamar itu berdetak, terasa sangat lambat bagi Aleta. Setelah menyuapi Aleta hingga piring itu kosong, Alden beranjak berdiri. Ia berjalan menuju lemari pakaiannya sendiri, melepas piyama yang ia kenakan semalam, dan mulai bersiap dengan seragam sekolahnya yang rapi dan kaku.

Aleta memperhatikannya dari atas ranjang. Alden terlihat sangat berbeda—rambutnya disisir klimis, kemeja putihnya disetrika sempurna, dan emblem OSIS yang tersemat di dadanya membuat pria itu tampak seperti sosok ideal yang dikagumi banyak orang. Tidak ada yang akan menyangka bahwa tangan yang kini sedang mengikat dasi dengan tenang adalah tangan yang sama yang mengunci Aleta di sini.

Selesai berpakaian, Alden berbalik menatap Aleta. Ia berjalan kembali ke sisi ranjang dan mengusap lembut kepala Aleta—sebuah gestur yang sangat normal di mata orang lain, namun terasa seperti peringatan bagi Aleta.

"Aku harus pergi ke sekolah," ucap Alden dengan suara yang tenang.

"Ada rapat OSIS penting hari ini. Aku tidak bisa menunda tanggung jawabku."

Ia mengambil sebuah kunci dari saku celananya dan meletakkannya di atas meja nakas tepat di samping Aleta. Namun, kunci itu bukanlah kunci pintu utama rumah, melainkan kunci untuk lemari kecil di sudut ruangan.

"Aku akan mengunci pintu kamar ini," lanjutnya, matanya menatap tajam ke dalam mata Aleta, memberikan peringatan tersirat.

"dan jangan pernah berharap bisa melangkah keluar dari gerbang rumah. CCTV mengawasi setiap sudut, dan para pelayan sudah diperintahkan untuk melapor jika kamu bergerak sedikit saja dari kamar ini."

Alden menunduk, mengecup kening Aleta cukup lama.

"Jadilah gadis yang baik selama aku pergi. Aku akan kembali saat jam sekolah selesai. Jangan membuatku harus memberikan hukuman saat aku pulang nanti, mengerti?"

Aleta menelan ludah, ia mengangguk pelan, memastikan wajahnya tetap datar dan tidak menunjukkan gejolak apa pun.

Alden tersenyum—senyum yang benar-benar tampak tulus—lalu melangkah keluar dari kamar. Aleta mendengar suara pintu yang tertutup rapat, disusul oleh suara kunci yang diputar dari luar.

Begitu suara mobil Alden terdengar menjauh dari halaman, Aleta langsung bangkit dengan tertatih-tatih. Kakinya masih terasa linu, namun ia tidak peduli. Ia berjalan menuju jendela kamar, menatap gerbang tinggi di kejauhan, lalu beralih ke seluruh penjuru kamar.

Sekarang atau tidak sama sekali, pikirnya.

🌍🌍🌍

1
Putri Ayu/PqxxyZ
oh tidak bisa😭 sudah berkeliling pikiram
Nalara amora: di larang keras woy ka itulah 😭
total 1 replies
Putri Ayu/PqxxyZ
mama aku takut banget sama Alden 😭😭
Putri Ayu/PqxxyZ
obat itu... ngeri sih..😭 agak lain memang
Putri Ayu/PqxxyZ
wah ini nih.. oke lanjut baca lah.. 😭
Putri Ayu/PqxxyZ
gak bang.. aku gak bang😭😭
Putri Ayu/PqxxyZ
seperti ada kebanggaan ya😭
Putri Ayu/PqxxyZ
ayo bisa ayo kabur mbak😭 takut banget hidup kek gitu
Putri Ayu/PqxxyZ
mas yang bener aja lah... cinta memaksa gitu gak baik toh mas
Putri Ayu/PqxxyZ
Aleta.. run mbak.. run 😭😭
Putri Ayu/PqxxyZ
ini betulan gak dibawa ke RS gitu? kasian banget lemes gini
Enz99
menarik
Putri Ayu/PqxxyZ
langsung di hap aja deh🤭
Putri Ayu/PqxxyZ
no no ya.. gak boleh gitu ama cewek toh bang
Putri Ayu/PqxxyZ
lohh ini mah hukuman seumur hidup namanya
Putri Ayu/PqxxyZ
Sangat di rekomendasi baca ini.. Keren banget
Putri Ayu/PqxxyZ
enak tau teh di UKS tuh 🤣 kek beda gitu rasanya
Putri Ayu/PqxxyZ
aw gentle sekali... bungkus deh 😭🤭
Nalara amora
seruu bgt
Nalara amora
👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!