Terdesak masalah hidup, Rina Amelia terpaksa menjadi wanita simpanan Adrian Wibawa—tanpa sadar bahwa pria itu adalah suami dari Profesor Eliza, dosen paling ditakutinya. Merasa dibohongi, Rina ingin mengakhiri hubungan terlarang itu, namun rayuan dan janji manis Adrian berhasil meluluhkannya.
Kini ia terjebak di antara dua dunia yang berbahaya: kekasih rahasia sang pengusaha, sekaligus mahasiswi yang nasibnya ada di tangan istrinya sendiri. Mampukah Rina bertahan di tengah jerat kebohongan ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sisi Ryri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lembaran Baru Rina
“Ya Tuhan, senangnya!” ucap Rina penuh sukacita saat melihat konfirmasi pembayaran via transfer untuk pemesanan pertamanya sudah masuk.
Dia lalu mengirim pesan untuk memastikan kembali rincian pesanan ke nomor pemesan roti. Setelah itu, dia bergegas menuju toko bahan kue untuk membeli kekurangan bahan baku, membeli dus untuk kemasan di toko dus, lalu kembali ke apartemen.
“Ibu?” panggil Rina, memastikan kondisi ibunya di dalam baik-baik saja.
“Ya, Rina, Ibu di kamar.”
“Baik, aku mau menelpon pemesan rotinya dulu ya,” dusta Rina, lalu melangkah menuju koridor.
Di sana, Rina sebenarnya tidak menghubungi Darmawan si pemesan roti melainkan Adrian, pria pemilik hatinya. Namun, kepala Rina menggeleng cepat.
Tuh, kan! Kalau sudah sampai Jakarta pasti deh nomor telepon Om Adrian nggak aktif! kesal Rina dalam hati.
Dia menghela nafas panjang, lalu kembali masuk ke dalam apartemen. Dia semakin sadar bahwa Adrian memang mempermainkannya.
Karena sudah pernah mengalami hal serupa, Rina kini jauh lebih tegar. Dia kembali berfokus pada kesibukannya tanpa melirik lagi ke layar ponsel untuk menunggu balasan dari Adrian.
Nama kontak Adrian yang tadinya bertuliskan "Cintaku" bahkan sudah dia ubah menjadi "Keparat". Seharusnya kata itulah yang sejak awal dia tulis untuk menandai suami Ibu Eliza tersebut.
Tangan Rina mulai menimbang bahan-bahan. Dia memastikan semuanya sempurna karena tidak ingin gagal di pesanan pertamanya yang berjumlah banyak ini. Setelah semua ditimbang dengan benar, Rina mulai menyalakan mikser kecil yang dia beli beberapa hari lalu.
“Kamu mau buat roti pakai mikser sebesar itu?” tanya Ibu.
“Ya, buat awal aja, Bu. Gimana lagi, namanya juga baru mulai,” sahut Rina mendengar ucapan lugas wanita paruh baya itu.
“Iya juga, sih. Lagipula beli mikser besar kan modalnya besar juga. Ya... kamu dari mana modal sebesar itu?”
Mendengar kata "modal", mata Rina menyipit. Sebenarnya dia punya ATM berjalan, tapi sayangnya ATM-nya sedang rusak.
Setelah sibuk seharian menimbang bahan, barulah pada malam harinya Rina mulai mengolah semuanya. Butuh waktu panjang untuk mengadon roti hingga bisa mengembang sempurna dengan rasa yang lezat.
Proses panjang itu akhirnya selesai saat oven kecil Rina mengeluarkan aroma nikmat yang menggugah selera. Satu per satu roti matang dan siap dimasukkan ke dalam kotak kemasan.
“Wah, banyak juga...” ucap Rina yang baru kali ini mendapat orderan sebesar ini.
“Syukurlah kamu bisa menyelesaikannya,” ucap Ibu setelah membantu memasukkan semua roti ke kotaknya.
“Sekarang tinggal antar,” ucap Rina bersiap mengirim pesanan.
“Hati-hati. Eh, kamu pergi naik apa?”
“Naik taksi online aja, Bu, biar rotinya enggak rusak.”
“Baiklah.”
Ibu Tina mengantar Rina sampai taksinya pergi. Dengan bersemangat, Rina bergegas menuju Hotel Perdana Wisata.
Sesampainya di sana, tangan Rina masih saja gatal ingin menghubungi Adrian. Dia ingin marah dan memaki pria menyebalkan itu, lalu memblokir nomornya sebagai ultimatum bahwa dia sudah menutup rapat hatinya untuk suami Profesor Eliza tersebut.
Namun sebelum semua itu dia lakukan, taksi sudah sampai di depan hotel dan Rina segera turun.
“Bantu saya bawa kresek satu lagi ya, Pak,” minta Rina, dan sopir taksi pun menyanggupinya dengan ramah.
Mereka tiba di lobi hotel tepat jam 10 pagi, sesuai janji Rina. Dia lalu menghampiri resepsionis. “Kak, saya Rina, mau antar roti.”
“Oh iya, sudah ditunggu Pak Darmawan,” ucap resepsionis lalu mengangkat gagang telepon. “Tunggu sebentar ya.”
Tak lama kemudian, pria bernama Darmawan melangkah ke hadapan Rina. Mata pria itu begitu lekat memperhatikan Rina hingga gadis ini menjadi salah tingkah.
Rina lalu tersenyum ramah. Namun sialnya, tangannya yang memegang ponsel malah gemetar dan...
Prang!
Ponselnya terjatuh ke lantai.
Berniat untuk memungut ponselnya, tangan Rina bergerak secepat tangan Darmawan yang juga hendak membantunya. Tangan mereka bersentuhan, dan pandangan mata keduanya saling bertabrakan, membuat senyum Rina mengembang tanpa sadar.
“Ah, maaf, Pak.”
“Enggak apa-apa,” jawab Darmawan lembut sambil terus menatap lekat mata Rina yang cantik.