NovelToon NovelToon
Anak CEO Memanggilku Mama

Anak CEO Memanggilku Mama

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Angst / Pengasuh / Ibu Tiri / Pelakor jahat
Popularitas:6.3k
Nilai: 5
Nama Author: Chandria

Dikhianati keluarga kandung yang kejam, Naya dipenjara empat tahun demi menutupi kesalahan adiknya Rania. Malam sebelum ditangkap, ia bertemu pria misterius Arkan Wiratama di kebun dan mengandung bayi kembar. Satu bayi dicuri Rania jadi pewaris keluarga Wiratama, satu lagi dibuang paksa. Saat bebas penjara, takdir mempertemukan mereka lagi—semua kebohongan akan terbongkar, dan Naya akan menuntut kembali semua haknya yang dirampas.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chandria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 23

Bab 23 - Catatan dari Dua Anak

Pagi berikutnya, pintu apartemen Naya dijaga dua orang.

Bukan preman.

Bukan polisi.

Satpam pribadi dari Wiratama.

Naya membuka pintu dengan wajah tanpa ekspresi.

"Siapa yang menyuruh kalian?"

Salah satu satpam menunduk. "Pak Arkan, Bu."

"Saya bukan Bu."

"Maaf, Mbak."

Naya menutup pintu lagi.

Di dalam, Lila duduk di sofa kecil sambil memeluk boneka kelinci. Rayyan sedang membuat gambar di meja makan. Anak itu dibawa Raka pagi-pagi dengan alasan ingin memastikan Lila tidak takut. Naya tahu alasan sebenarnya: Arkan ingin memastikan ia tidak menghilang.

"Mereka jahat?" tanya Lila pelan.

Naya menarik napas.

"Tidak. Tapi mereka membuat Mama merasa tidak bebas."

Rayyan mengangkat wajah. "Papa bilang mereka jagain."

"Papa kamu sering mengira menjaga dan mengunci itu sama."

Rayyan memiringkan kepala. "Kalau dikunci, pintunya tidak bisa dibuka."

"Nah."

"Tapi ini bisa." Rayyan turun dari kursi, membuka pintu, melongok ke luar, lalu menutup lagi. "Bisa, Ma."

Naya ingin marah, tetapi tawa kecil hampir keluar.

Ia menahan.

"Kamu makan dulu."

Di kantor, Arkan menerima laporan dari Raka sambil berdiri di depan jendela.

"Mbak Naya marah."

"Aku tahu."

"Satpam bilang dia menolak dipanggil Bu."

"Aku tahu juga."

"Pak, mungkin cara ini..."

Arkan menoleh.

Raka berhenti. Ia sudah bekerja terlalu lama untuk tahu kapan kalimat harus ditelan.

Namun Arkan justru berkata, "Lanjutkan."

"Mungkin cara ini membuat dia merasa seperti tahanan."

Arkan diam.

Kata tahanan terlalu dekat dengan masa lalu Naya.

"Ada ancaman nyata," katanya akhirnya.

"Ada. Tapi Mbak Naya tidak hanya butuh aman. Dia butuh memilih."

Arkan mengambil ponsel. Pesan untuk Naya sudah ia tulis sejak pagi, tetapi belum dikirim.

`Aku akan tarik satpam kalau kamu mau menerima satu orang pengawal perempuan pilihanmu.`

Ia menatap kalimat itu lama, lalu menghapus bagian `kalau kamu mau`.

Ia mengetik ulang.

`Aku salah. Aku kirim daftar pengawal perempuan. Kamu pilih sendiri. Kalau tidak mau, aku tarik semuanya, tapi tolong beri tahu aku sebelum pergi ke mana pun.`

Pesan terkirim.

Naya membacanya di apartemen.

Ia hampir tidak percaya.

Rayyan mengintip. "Papa minta maaf?"

"Tidak."

"Tapi itu kayak minta maaf."

Lila mengangguk kecil.

Naya menatap dua anak itu. "Kalian kompak sekali kalau soal membela Papa."

Rayyan menggeleng. "Aku bela Mama juga."

Ia mengambil kertas gambar dan melipatnya asal. "Aku punya surat."

Naya menerima kertas itu.

Di dalamnya ada gambar empat orang. Satu laki-laki tinggi, satu perempuan dengan rambut panjang, dua anak kecil. Di samping mereka ada bayi kecil seperti bola.

Naya menatap gambar itu terlalu lama.

"Ini siapa?"

"Kita."

"Bayi itu?"

Rayyan menjawab polos, "Adik di perut Mama."

Tangan Naya gemetar.

Lila menatap gambar itu, lalu mengambil pensil. Dengan hati-hati, ia menambahkan satu kelinci di samping bayi.

"Biar dia tidak takut," katanya pelan.

Naya menutup mulutnya.

Ponselnya bergetar lagi.

Nomor tidak dikenal.

Ia mengangkat dengan waspada.

"Naya Prameswari?"

"Siapa?"

"Saya dari Klinik Kartika Medika. Kami ingin konfirmasi janji konsultasi yang dibatalkan kemarin. Ada pihak keluarga yang menanyakan apakah Ibu sudah melakukan tindakan."

Naya langsung berdiri.

"Pihak keluarga siapa?"

"Maaf, kami tidak bisa..."

"Anda menelepon saya karena pihak keluarga bertanya. Jadi jangan pura-pura soal privasi."

Petugas di seberang terdiam.

"Namanya Rania Pradipta?"

Hening itu sudah jawaban.

Naya menutup telepon.

Rayyan memandangnya. "Mama?"

Naya memaksa wajahnya tenang. "Tidak apa-apa."

Tapi ia tahu sesuatu.

Rania tidak hanya menyebarkan gosip.

Ia sedang mencari bukti untuk membuat Naya terlihat ingin membunuh bayinya.

Sore itu, Rania duduk di kamar Bu Mira, menatap amplop cokelat di meja.

"Ini dari orang lab," kata Bu Mira.

Rania membuka amplop.

Di dalamnya ada formulir kosong dengan cap klinik DNA swasta, hasil pemeriksaan yang belum diisi, dan nomor sampel.

"Bisa dipakai?"

"Bisa, kalau kamu tidak bodoh seperti kemarin."

Rania membaca nama pada bagian subjek.

Rayyan Wiratama.

Rania Pradipta.

Kemungkinan hubungan biologis: 99,98 persen.

Tangannya gemetar, bukan karena takut, tetapi karena lega yang kotor.

"Kalau ini keluar, Arkan tidak bisa menolak aku."

Bu Mira menatapnya tajam. "Jangan hanya pikir Arkan. Pikir warisan, rumah, saham yayasan. Anak itu kunci."

"Kalau Arkan tetap membela Naya?"

"Kita paksa keluarga Wiratama. Nenek Ratih boleh galak, tapi keluarga besar lebih takut skandal daripada dosa."

Rania memasukkan laporan palsu itu kembali.

Di apartemen kecil, Naya menempel gambar Rayyan dan Lila di kulkas.

Ia tidak tahu ada laporan palsu sedang disiapkan.

Ia hanya tahu dua anak itu sudah menuliskan dirinya ke dalam keluarga yang belum berani ia percayai.

Dan di balik gambar bayi kecil itu, Rayyan menulis dengan huruf miring:

`Jangan pergi lagi, Mama.`

Naya melipat kertas itu perlahan, lalu gagal.

Kertasnya terlalu lembut, atau tangannya terlalu lemah.

Rayyan menatap wajahnya. "Mama marah?"

"Tidak."

"Kenapa diam?"

Naya menarik napas, lalu duduk di lantai supaya matanya sejajar dengan dua anak itu.

"Karena Mama takut janji."

Rayyan mengerutkan kening. "Janji itu bagus."

"Kalau orang menepati."

Lila memeluk boneka lebih erat. "Kalau tidak?"

"Kalau tidak, rasanya sakit."

Rayyan berpikir. "Kalau begitu aku tidak janji Mama tidak pergi."

Naya menatapnya.

Anak itu melanjutkan, "Aku janji kalau Mama pergi karena takut, aku cari. Kalau Mama pergi karena mau, aku tunggu."

Naya tidak tahu siapa yang mengajari anak sekecil itu membedakan pergi karena takut dan pergi karena mau. Mungkin tidak ada. Mungkin anak-anak yang terlalu sering ditinggal memang belajar sendiri.

Ia memeluk Rayyan dengan satu tangan dan Lila dengan tangan lain.

"Mama juga akan belajar tidak pergi karena takut."

Malamnya, ketika anak-anak tidur, dokter perempuan datang. Ia tidak banyak bertanya. Ia memeriksa tekanan darah, memberi obat mual, dan menjelaskan tanda bahaya kehamilan awal dengan bahasa sederhana.

"Ibu perlu tenang."

Naya tertawa pelan. "Dok, kalau ketenangan bisa dibeli di apotek, saya ambil satu kardus."

Dokter tersenyum iba. "Tidak bisa dibeli. Tapi bisa dijaga sedikit-sedikit."

Setelah dokter pergi, pengawal perempuan bernama Siska mengetuk pintu.

"Mbak, ada paket."

Naya membuka amplop tanpa nama.

Di dalamnya ada foto dirinya di klinik kandungan, diambil dari jauh. Di belakang foto tertulis:

`Perutmu bisa jadi bukti, atau jadi bencana. Pilih.`

Naya langsung memanggil Arkan.

Panggilan tersambung pada dering pertama.

"Ada apa?"

"Rania tahu."

Tidak ada pertanyaan bodoh dari Arkan. Tidak ada "tahu apa". Ia langsung berkata, "Kunci pintu. Jangan sentuh amplop lagi. Aku kirim tim forensik."

"Saya sudah sentuh."

"Tidak apa-apa."

"Bapak jangan datang."

Hening sebentar.

"Kenapa?"

"Kalau Bapak datang setiap saya takut, saya akan lupa cara berdiri sendiri."

Arkan diam.

Lalu berkata, "Aku tunggu di lobi. Kalau kamu butuh, panggil. Kalau tidak, aku tetap di bawah."

Naya menutup telepon.

Ia berjalan ke jendela.

Di bawah apartemen, mobil hitam Arkan belum ada.

Sepuluh menit kemudian, mobil itu masuk pelan dan berhenti di tempat parkir tamu.

Arkan tidak naik.

Untuk pertama kalinya, ia menjaga jarak sesuai kata-katanya.

Naya menempelkan telapak tangan ke kaca.

Ia masih tidak percaya sepenuhnya.

Tapi malam itu, ketidakpercayaannya tidak lagi berdiri sendirian.

Di lantai bawah, Arkan duduk di dalam mobil tanpa menyalakan mesin.

Raka mengirim pesan tentang laporan palsu yang mulai bergerak dari pihak Pradipta. Ada nama laboratorium, ada orang dalam, ada rencana membawa hasil itu ke rumah utama Wiratama.

Arkan membaca semua, lalu menatap jendela apartemen Naya yang masih menyala.

Ia bisa naik dan memberi tahu.

Ia juga bisa menunggu sampai bukti lebih lengkap.

Dulu, ia selalu memilih menunggu sampai semuanya aman menurut versinya sendiri.

Malam ini, ia mengetik pesan.

`Rania menyiapkan sesuatu soal DNA Rayyan. Aku belum punya bukti final, tapi kamu harus tahu lebih dulu.`

Pesan itu terkirim.

Di atas, Naya membaca pesan tersebut dengan wajah tegang.

Ia tidak merasa aman.

Tapi untuk pertama kalinya, Arkan tidak menutupinya dengan alasan melindungi.

1
Allea
emg belom tes dna juga itu si arkan 😑naya gimana sih kamu🙄
fergusooo🙈
SEMANGATTT KAKAK💪🏻💪🏻
AKU BELA2IN BEGADANG BUAT BACA INI CERITA🤧
Ceritanya baguss dan aku belum pernah baca cerita yg alurnya sedarderdor ini😍
LUVVV buat kaka💕💕
Ariany Sudjana
dasar pelacur murahan kamu itu Rania
Dew666
👍
Citieana Pangestu
👍👍💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!