NovelToon NovelToon
IBU TIRI SEWAAN

IBU TIRI SEWAAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Orang Disabilitas / Menikahi tentara / Anak Genius
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Lisa

Demi uang, Asia menerima tawaran menikah kontrak dengan Kapten Hugo, seorang tentara yang mengalami kelumpuhan parsial karena cidera tugas. Baginya pernikahan itu hanyalah jalan tercepat untuk melunasi utang seratus juta rupiah yang ditinggalkan ayahnya setelah kabur karena kalah berjudi.

Namun ia harus menjadi ibu tiri bagi putra bungsu yang super aktif dan sulit dikendalikan. Serta putri kelas 3 SMP yang membencinya karena merasa Asia telah menggantikan posisi mendiang ibunya.

Asia tak berniat menjadi istri yang baik atau ibu yang penyayang. Targetnya hanya satu: mengumpulkan uang sebanyak mungkin, lalu pergi saat kontrak pernikahan berakhir.

Hanya saja, keluar dari keluarga itu ternyata jauh lebih sulit daripada masuk ke dalamnya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 11

"Baik. Saya permisi. Tapi ... apa saya tidak perlu berpamitan dulu pada ibu Anda?" tanya Asia, mencoba tetap menjaga sopan santunnya sebagai menantu baru di depan publik.

"Tidak apa-apa, pulang saja," potong Hugo cepat.

"Oh, baiklah."

Namun, saat itu Nyonya Malinda datang menghampiri mereka dari arah koridor dalam. "Hugo," panggil beliau, menghentikan langkah mereka berdua.

Asia membalikkan badannya untuk menghadap wanita tua itu.

​"Kamu pasti mau pulang, ya?" tebak Nyonya Malinda lembut pada Asia.

​"Ya. Aku memintanya segera pulang," Hugo yang menjawab, memotong sebelum Asia sempat bersuara agar wanita itu bisa cepat meninggalkan rumah ini.

​Nyonya Malinda menatap Asia dengan tatapan penuh sesal. "Kamu pasti terkejut dengan semua kejadian tadi."

​"Ah, itu. Saya bisa mengatasinya," jawab Asia dengan senyum tipis yang menenangkan.

​"Ibu minta maaf. Ibu harap kamu tetap dekat dengan Hugo," pinta Nyonya Malinda yang dirundung ketakutan. Beliau sangat takut pernikahan Hugo kali ini akan gagal lagi dan hancur berantakan hanya karena peristiwa amukan anak-anak tadi.

​"Oh, tentu. Mereka anak-anak, saya paham," Asia bersikap sopan dan formal, berusaha meredakan kecemasan wanita tua di hadapannya.

​"Syukurlah." Tangan beliau mengelus lengan Asia sekadar untuk menenangkannya. Beliau paham siapapun pasti akan terkejut dan tidak terbiasa dengan kekacauan yang terjadi di rumah ini.

​Setelah berpelukan dan berpamitan secara singkat, Nyonya Malinda segera kembali ke kamar Nero untuk mengecek kondisi cucu bungsunya yang menangis tadi. Kini tinggal Asia dan Hugo yang tersisa di area koridor depan.

​"Kamu pasti syok dengan kejadian tadi. Aku harap kamu tidak berubah pikiran karena ibuku terlihat mengharapkanmu," ucap Hugo dingin. Ia tidak ingin kebaikan ibunya membuat Asia merasa di atas angin atau justru terbebani.

​"Saya tahu. Itu kompensasi utang saya lunas, bukan?" kata Asia, memastikan kalimatnya diucapkan setelah ia melihat ke sekeliling dan memastikan sekitar mereka benar-benar aman dari rungu orang lain.

​"Ya," jawab Hugo pendek.

​"Jadi ... saya bisa minta nota bukti utang saya lunas? Saya butuh jika ada sesuatu yang terjadi kedepannya," pinta Asia tegas. Sebagai orang yang bergerak di bawah perjanjian hitam di atas putih, ia butuh jaminan keamanan yang legal.

​"Surat utang lunas sedang diproses. Jangan khawatir, setelah semua selesai aku akan berikan padamu," tegas Hugo memastikan hak wanita itu terpenuhi.

​"Terima kasih, Pak Hugo," tutup Asia formal sebelum akhirnya melangkah pergi meninggalkan rumah yang penuh ketegangan tersebut.

***

"Sah."

Kata itu diucapkan serempak oleh para saksi, memecah ketegangan yang sempat menyelimuti ruang akad nikah yang didekorasi sederhana. Hanya ada keluarga inti dan beberapa rekan kerja terdekat yang hadir di ruangan itu.

Setelah berminggu-minggu disibukkan dengan berkas administrasi yang rumit mulai dari tes kesehatan, menghadap komandan, hingga melewati Sidang Izin Kawin Kantor di Kodim yang menguras energi akhirnya hari ini mereka resmi terdaftar.

Bagi Asia, interogasi saat sidang dinas kemarin barulah permukaan dari akting panjang yang harus ia perankan.

"Silakan tanda tangan di sebelah sini, Pak Hugo, Ibu Asia," instruksi petugas pencatat nikah sambil menyodorkan buku dokumen resmi negara ke hadapan mereka.

Asia menerima pulpen tersebut terlebih dahulu. Tangannya bergerak mantap menorehkan tanda tangan di atas kertas yang kini mengikatnya secara hukum sebagai istri sah dari seorang perwira, Kapten Hugo. Setelah itu, ia menyerahkan pulpen kepada Hugo. Dengan gerakan kaku namun pasti, Hugo melakukan hal yang sama.

Nyonya Malinda yang duduk di barisan kursi depan tampak berkaca-kaca. Menyeka sudut matanya dengan tisu sambil melempar senyum lega. Rencananya berhasil.

Sementara di sudut ruangan Jenny hanya bersedekap dengan wajah dingin. Sementara itu Nero sibuk memutar roda mainannya di lantai. Dia tidak peduli dengan status baru papanya.

Saat mereka berdua menunjukkan buku nikah ke arah kamera untuk dokumentasi, Asia melirik sekilas pria di sampingnya. Detik itu juga kontrak kerja mereka resmi dimulai dengan status baru yang sah di mata hukum dan institusi negara.

Ia sempat berpikir. Dengan serangkaian hal melelahkan yang mereka jalani, apa pria ini tidak menyesal menikah hanya untuk pura-pura. Untuk dirinya, dia mendapatkan kompensasi yang layak. Namun untuk pria itu, apa hal layak yang ia dapatkan?

***

Rumah dinas kapten Hugo.

"Kita satu kamar?" tanya Asia terkejut. Langkah kakinya mendadak terhenti di ambang pintu, menatap kamar tidur luas yang didominasi warna gelap tersebut.

"Tidak mungkin kita yang terdaftar sebagai istri tidur di kamar terpisah," jawab Hugo datar. Pria itu menggerakkan kursi rodanya masuk lebih dalam, bersikap santai seolah hal ini adalah konsekuensi paling logis yang tidak perlu dipertanyakan lagi. Ibu dan anak-anaknya ada di rumah ini. Sedikit saja ada kecurigaan sandiwara mereka akan hancur.

Asia tidak memperhitungkan ini. Sebelumnya, dia cukup senang utangnya lunas. Lalu menghadapi anak-anak Hugo meskipun tidak terduga kalau anak pria itu ada dua. Tapi dia masih merasa sanggup menghadapinya. Asia sudah mempersiapkan mental untuk menjadi ibu sambung bayaran. Menjadi tameng di depan Nyonya Malinda, bahkan menghadapi tatapan sinis Jenny dan amukan Nero.

Namun, sekarang ia sadar ada satu lubang besar dalam rencananya.

Dia lupa hubungan suami istri itu sendiri. Berbagi ruang paling privat dengan seorang pria asing meskipun status mereka sah di atas kertas kontrak dan hukum negara, sama sekali tidak pernah terlintas dalam skenario yang ia bayangkan.

Sial. Otakku tidak sampai sana, maki Asia dalam hati.

Ia merutuki kecerobohannya sendiri yang terlalu fokus pada angka-angka nominal utang dan pembebasan surat tagihan. Matanya bergerak gelisah, menatap kasur berukuran king size di tengah ruangan, lalu beralih pada Hugo yang kini sedang membuka kancing teratas kemejanya dengan ekspresi tanpa beban.

"Tutup pintu," perintah Hugo cepat.

Asia segera bertindak. Ia memutar tubuhnya dan merapatkan daun pintu kayu yang tebal itu hingga terdengar bunyi klik yang mengunci rapat.

"Aku sudah siapkan dua ranjang," lanjut Hugo, memecah kepanikan yang sempat merayap di kepala Asia.

Asia sedikit lega, namun pikirannya kembali berputar. "Lalu ... jika ada yang tahu?"

"Tidak ada yang masuk ke kamar ini kecuali aku. Sekarang kamu dan aku," tegas Hugo dengan nada mutlak. "Maka dari itu, tutup pintu secepat mungkin untuk menutup semua hal yang ada di kamar ini."

"Baik," jawab Asia lirih.

Asia paham mengapa Hugo menyuruhnya segera menutup pintu. Untung saja bentuk kamar ini unik. Setelah pintu masuk utama dibuka, pandangan seseorang tidak akan langsung tertuju ke arah ranjang. Masih ada semacam koridor pendek yang membatasi privasi ruangan.

Di sebelah kanan koridor itu, terdapat pintu kamar mandi. Baru setelah berjalan melewati koridor tersebut dan berbelok, barulah terlihat area utama kamar di mana dua ranjang mereka diletakkan secara terpisah. Desain arsitektur ini setidaknya memberi sedikit rasa aman bagi Asia dalam menjalani pernikahan kontrak ini.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!