NovelToon NovelToon
TIRAKAT 5

TIRAKAT 5

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Mata Batin / Misteri
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: DENI TINT

Sebagian besar cerita berdasarkan kisah nyata dari narasumber (Nisa dan Gendis).
.
.
.
SERIES KE LIMA DARI UNIVERSE NOVEL "TIRAKAT"

Kini... Gendis sudah menjadi anak angkatku, dengan nama baru yaitu "Harum" yang kuberikan untuknya...

Harum menjalani kehidupan barunya bersamaku, setelah tragedi yang hampir merenggut sukma jiwanya di pondok pesantren daerah Kediri itu...

Aku menjalani kehidupan yang bahagia bersama Harum, tapi juga dengan segala bahaya yang mengintai jiwaku dan jiwanya...

DISCLAIMER!
Jika terdapat kesamaan detail nama tokoh, latar tempat, seni, budaya, agama, dan jenis laku tirakat tertentu dengan para pembaca, bukan karena unsur kesengajaan penulis. Harap dimaklumi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 19 MURID BARU KELAS 2C

Selanjutnya, pelajaran kesenian pun berjalan dengan baik. Bu Hafsah mengajar semua murid di kelas 2C ini dengan tegas, namun tetap penuh perhatian.

Harum juga bisa mengikuti pelajaran kesenian itu dengan baik. Meski beberapa kali ia tampak kesulitan karena matanya yang tidak bisa melihat, tapi dengan bantuan Tina dan Dian, ia bisa terbantu.

Suasana kelas pun terasa lebih tenang. Tak ada suara berisik dari semua siswa di kelas itu. Karena mereka semua cukup takut dengan Bu Hafsah.

Akhirnya, setelah satu setengah jam berlalu, pelajaran kesenian itu pun selesai. Jam dinding di kelas menunjukkan pukul 08.32 pagi.

Lalu, terdengar suara bel pergantian jam pelajaran.

Bu Hafsah pun menutup pembelajarannya. Dan ia segera pergi meninggalkan kelas Harum.

"Akhirnyaaa... Keluar juga tuh guru." kata Dian.

"Heh! Gak boleh gitu kamu, Dian!" kata Tina.

"Tau nih, gak boleh kayak gitu sama guru!" tambah Harum.

"Halaaah... Kamu berdua juga kesel, kan? Dari tadi ngomel-ngomel mulu dia." tanya Dian.

"Ah, aku enggak tuh!" sanggah Harum.

Dian pun bertanya pada Tina, karena ia mulai berdiri dari bangkunya.

"Mau kemana?"

"Mau ke WC, kebelet nih!" jawab Tina.

"Eh, ikut dong!" kata Dian.

Dan akhirnya, Tina serta Dian bersama-sama keluar kelas, menuju ke WC sekolah.

Harum masih duduk di bangkunya. Beberapa kali ia tampak mengobrol dengan teman kelasnya yang lain. Sambil menunggu guru jam pelajaran berikutnya.

Beberapa teman Harum yang lain, terlihat keluar kelas sebentar, karena guru berikutnya belum juga datang. Mereka mengobrol santai di teras kelas. Sesekali riuh bercanda dengan riang.

Beberapa menit kemudian, mereka semua yang ada di teras kelas, tampak tergesa-gesa masuk lagi ke dalam.

"Eh, Pak Guntur dateng! Masuk! Masuk!" ucap Wawan.

"Grubuk-grubuk-grubuk!" suara mereka yang duduk rapi lagi di bangku masing-masing.

Ternyata benar, yang mulai datang dari arah ruang guru bukanlah guru pelajaran berikutnya. Melainkan Pak Guntur, sang wali kelas 2C itu.

Tapi, kali ini, Pak Guntur berjalan tidak sendirian. Dia berjalan dengan seorang anak perempuan di belakangnya.

Semua siswa di kelas 2C itu pun menjadi sedikit heboh. Saling berbisik-bisik tentang siapa anak perempuan yang ikut berjalan bersama wali kelas mereka itu.

Harum pun, menjadi sedikit penasaran karena mendengar bisikan teman-temannya itu.

"Mawar! Mawar!" panggil Harum, kepada teman sekelasnya yang bernama Mawar. Dia duduk tepat di barisan sebelah kanan bangku Harum.

"Kenapa, Rum?" tanya Mawar.

"Ada siapa, sih?" tanya Harum penasaran.

"Gak tau, Rum!" jawab Mawar.

Dan, sesampainya di depan kelas, Pak Guntur tampak mengobrol sebentar dengan anak perempuan itu.

Semua teman-teman Harum yang berada di barisan bangku dekat pintu kelas, sampai berdiri, mencoba mengintip dari dalam jendela kelas.

"Wih! Murid baru! Murid baru!" celetuk salah satunya.

"Eh, iya! Murid baru, woy! Cewek cakep lagi!" celetuk yang lain.

Akhirnya, Pak Guntur pun mengetuk pintu kelas. Dia masuk ke dalam. Sepertinya, murid baru itu sengaja diminta olehnya untuk menunggu terlebih dahulu di depan kelas.

"Assalamu'alaikum..." sapa Pak Guntur kepada semua muridnya.

Semuanya menjawab serempak, "Wa'alaikumsalam..."

"Langsung aja ya, Bapak minta izin dulu sama kalian. Sebelum guru pelajaran selanjutnya masuk." kata Pak Guntur.

Semua murid di kelas itu pun seperti sudah tahu, kedatangan Pak Guntur adalah untuk memperkenalkan murid baru perempuan itu.

"Pak-Pak, itu siapa?" tanya ketua kelas.

"Iya Pak, siapa itu?" tanya yang lain.

"Husss! Udah, diem dulu! Ini kan Bapak mau ngomong." jawab Pak Guntur sambil tersenyum.

"Murid baru ya, Pak?" tanya yang lain lagi.

"Eh! kalian diem dulu, sih!" kata yang lain lagi.

"Udah-udah... Tenang dulu, ah! Kalian tuh ya, liat cewek cakep dikit aja udah heboh! Hahahaha..." ledek Pak Guntur, kepada murid lelaki yang barusan bertanya karena penasaran.

Semua murid lelaki di kelas Harum itu pun tertawa kecil.

Harum yang duduk paling belakang di ujung kelas, semakin penasaran juga. Tapi ia sedari tadi hanya diam. Tak seberisik teman-temannya yang lain.

"Oke... Ini saya lanjutin apa gak, nih?" tanya Pak Guntur, karena suasana kelas belum juga tenang.

Akhirnya, semua murid di kelas itu pun tenang.

Tapi, sebelum Pak Guntur melanjutkan, Dian dan Tina pun masuk. Sudah kembali mereka dari WC sekolah. Mereka berdua juga langsung duduk di bangkunya.

"Tin, beneran ada murid baru, kah?" tanya Harum, saat Tina sudah duduk di sebelahnya.

"Lah, mana aku tau, Rum!" jawab Tina.

"Oke... Saya lanjutkan ya..." ucap Pak Guntur.

"Hari ini, Bapak akan memperkenalkan seseorang sama kalian. Dia murid baru di sekolah ini. Dan Alhamdulillah, dia akan berada di kelas kalian ini!" tambah Pak Guntur.

Seketika, suasana kelas kembali riuh tipis.

Pak Guntur pun memberikan kode, supaya semua murid perwaliannya itu kembali tenang dulu.

"Bapak bawa masuk, ya..." kata Pak Guntur kemudian.

Dan, Pak Guntur pun berjalan menuju ke depan kelas.

"Ayok, masuk!" ajak Pak Guntur pada anak perempuan itu.

Dan, dengan mengikuti langkah sang wali kelas, anak perempuan itu pun masuk.

"Naaah... Mulai hari ini, kamu belajar di kelas 2C ini, ya!" kata Pak Guntur kepada anak perempuan itu, yang kini sudah berdiri tepat di sebelahnya.

Murid baru itu pun mengangguk pelan, sambil tersenyum.

Sebagian besar murid di kelas itu pun menjadi sedikit riuh lagi, karena melihat wajah anak perempuan itu.

Akan tetapi...

Sebagian yang lain, malah langsung menatap ke arah Harum yang duduk di bangku paling belakang.

Begitu pun dengan Dian dan Tina. Mereka berdua langsung menengok ke arah Harum.

Sedangkan Harum, hanya diam saja. Tatapannya lurus ke arah Pak Guntur. Karena ia tak bisa melihat ekspresi teman-temannya yang kini menatap wajahnya.

"Nah, baik. Sekarang, coba kenalin dulu diri kamu, ke semua teman-teman baru kamu ini, ya..." ucap Pak Guntur mempersilahkan.

Dan, anak perempuan itu pun maju satu langkah di depan kelas. Lalu anak itu tersenyum sangat manis.

Sementara sebagian murid yang lain, masih bergantian menatap ke arah Harum, lalu menatap ke wajah murid baru itu.

Dan, murid baru itu pun memperkenalkan dirinya.

"Assalamu'alaikum, teman-teman..." ucapnya.

"Wa'alaikumsalam..." jawab semua murid.

Suara murid baru itu terdengar sangat lembut.

Wajahnya tersenyum sangat manis.

Membuat sebagian besar murid lelaki senyum-senyum sendiri melihatnya.

Di tengah riuhnya suasana kelas, Tina berbisik ke Harum.

"Rum... kamu tau, gak?" tanya Tina.

"Apaan, Tin?" tanya Harum.

"Wajah murid baru itu, mirip banget sama wajahmu, loh!" kata Tina.

"Hah? Masa, sih?" tanya Harum.

"Iya, Rum! Beneran, loh!" tegas Tina.

Beberapa teman Harum yang lain, yang duduk di dekatnya pun berbisik hal yang sama. Membuat Harum merasa tak percaya, sekaligus penasaran.

Tiba-tiba, dengan berani, sambil tertawa kecil, Wawan bertanya pada murid baru itu.

"Siapa namanya niiih? Hihihihi..."

Pertanyaan dan tingkah Wawan itu, kembali membuat suasana kelas semakin riuh. Beberapa murid lelaki sampai meledek Wawan yang terlihat kecentilan.

Pak Guntur pun akhirnya kembali meminta semua muridnya itu untuk tenang dulu.

Dan, ketika suasana kelas kembali tenang, murid baru itu pun menjawab pertanyaan Wawan.

"NAMAKU... HARUM INTAN PURNAMASARI..."

Sontak, semua murid di kelas 2C itu, sedikit kaget mendengarnya. Dan sudah tentu, semuanya kini menatap Harum yang duduk di bangku paling belakang.

Harum pun menjadi kaget, mendengar nama murid baru itu.

"Weh?! Kok?! Namanya hampir sama kayak namamu, Rum?!" tanya Dian.

Harum pun hanya bisa menggelengkan kepalanya. Dia pun tak tahu harus menjawab apa.

Lalu, Mawar pun berkata, "Pak Guntur, berarti di kelas kita ada dua nama Harum, dong!"

Dan ucapan Mawar itu juga disambut respon yang sama dengan semua murid dalam kelas 2C itu.

"Waaah... Iya juga, ya!" kata Pak Guntur.

"Eh, nama panggilanmu siapa?" tanya salah satu murid lain.

Dan, murid baru itu pun menjawab, dengan jawaban yang tak kalah menghebohkan.

"AKU BIASA DIPANGGIL HARUM..."

"Waaahhh... Sama banget dong!" respon murid lainnya.

Saat suasana kelas semakin riuh, Pak Guntur pun bicara lagi.

"Udah-udah, tenang dulu, tenang... Jadi, Harum Intan Purnamasari ini, adalah teman baru kalian, ya! Tolong, kalian jangan bertingkah aneh sama dia, supaya dia betah di kelas ini."

"Iya Paaak..." jawab sebagian besar murid.

"Ya udah... Harum, kamu bisa duduk di bangku di ujung sana, ya. Di sebelah Dian." kata Pak Guntur.

"Iya, Pak. Terima kasih." jawab murid baru itu.

Akhirnya, setelah sesi perkenalan murid baru itu, Pak Guntur pun meninggalkan kelas. Karena ia merasa tak enak hati, jika sampai mengambil waktu lebih lama untuk pelajaran berikutnya.

.....

.....

Harum, sang murid baru pun, berjalan menuju bangku di sebelah Dian. Tepat di depan meja Harum dan Tina.

Langkahnya itu diiringi dengan tatapan semua mata murid di kelas itu.

Dan...

Ketika Harum, sang murid baru itu, baru saja akan duduk, Dian malah bertingkah.

"Eh, bentar-bentar!" kata Dian, membuat murid baru itu tak jadi duduk.

"Bentaaar... Sini-sini!" kata Dian, sambil ia berdiri, dan memegang tangan Harum, sang murid baru.

"Tina! Minggir dulu deh!" kata Dian.

"Lah? Mau ngapain?" tanya Tina.

"Udah, minggir dulu! Cepet!" desak Dian.

Semua murid pun penasaran dengan tingkah Dian.

Ketika Tina sudah berdiri dari bangkunya, Dian malah meminta Harum, sang murid baru itu, untuk duduk tepat di sebelah Harum.

"Naaah... Mirip banget, kan?!" kata Dian.

Sontak, semua murid pun benar-benar baru menyadari kemiripan antara Harum Sekar Putri Purnamasari dengan Harum Intan Purnamasari.

Seketika, Harum Intan Purnamasari dan Harum Sekar Putri Purnamasari, saling menatap.

Mereka berdua saling tersenyum manis.

((Dan, jika kita sebagai pembaca BAB ini menjadi teman di kelas mereka berdua, kita seperti melihat dua saudara kembar yang hampir sangat mirip wajahnya...))

1
Athnares
😍😍
💜⃞⃟𝓛 🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣѕ⍣⃝✰
next nya mana ini?
Ayuk Witanto
alm.bapakku juga dulu gitu kalau di bilangin
Deni Komarulloh: Sama dong Mas, hehehe... Saya juga jawab gitu kalo dibilangin buat berhenti merokok, hehehe... 🤭🤭🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!