Hari pertama bekerja seharusnya menjadi awal yang sempurna bagi Naira Putri Prameswari. Namun semua rencananya berantakan ketika tanpa sengaja ia menumpahkan segelas kopi ke jas seorang pria asing yang dingin dan menyebalkan. Masalahnya, pria itu ternyata adalah Arga Mahendra Wijaya—CEO perusahaan tempat Naira baru diterima bekerja. Sejak saat itu, setiap pertemuan mereka selalu diwarnai adu mulut, sindiran, dan kekacauan yang mengundang tawa. Naira menganggap Arga terlalu kaku dan perfeksionis, sementara Arga merasa Naira adalah sumber masalah yang tak pernah habis. Takdir rupanya punya selera humor. Sebuah proyek penting memaksa mereka bekerja dalam satu tim. Semakin sering bersama, semakin banyak sisi lain yang mereka temukan. Di balik sikap dingin Arga tersimpan perhatian yang tulus, sementara di balik kecerobohan Naira ada hati yang hangat dan selalu membawa warna. Saat kebencian perlahan berubah menjadi rasa nyaman, masa lalu Arga datang menguji hubungan mereka. Mampukah mereka mengalahkan ego, atau justru kembali menjadi dua orang yang saling menyakiti? Karena terkadang, orang yang paling membuat kita emosi adalah orang yang paling sulit kita lepaskan. ❤️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Seranovelle, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 18 - Pria yang Datang Membawa Masa Depan
Suasana pesta perlahan kembali ramai setelah insiden kecil tadi.
Nadira masih belum berani menatap Arga. Wajahnya terasa panas setiap kali mengingat bagaimana pria itu menangkapnya di depan hampir semua tamu.
"Dir."
Rina menyenggol lengannya pelan.
"Hm?"
"Kamu merah banget."
"Panas."
"Boong."
"Nggak boong."
"Kalau panas kenapa yang merah cuma pipinya?"
Nadira mendesah pelan.
"Rin..."
"Oke, oke. Aku nggak ganggu."
Rina tertawa kecil lalu pergi menyapa tamu lain.
---
Di sisi lain halaman, Arga sedang membantu ayahnya membereskan kursi.
Ayahnya menatapnya sambil tersenyum.
"Capek?"
"Sedikit."
"Bukan karena angkat kursi."
Arga berhenti bekerja.
"Maksud Ayah?"
Ayahnya mengangguk ke arah Nadira yang sedang membantu Mama Arga membagikan potongan kue.
"Capek nahan perasaan."
Arga hampir menjatuhkan kursi yang sedang dipegangnya.
"Yah..."
"Ayah cuma nebak."
"Tebakan Ayah sering benar."
"Itu masalahnya."
Arga hanya bisa menggeleng sambil tersenyum pasrah.
---
Tak lama kemudian, seorang pria menghampiri Mama Arga.
"Tante."
Mama Arga langsung tersenyum lebar.
"Eh, Farhan!"
Pria itu menyalami beliau dengan sopan.
"Maaf baru datang. Tadi pesawatnya telat."
"Nggak apa-apa."
"Nah, sini."
Mama Arga menoleh ke arah Nadira.
"Dir."
"Iya, Tante?"
"Kenalin."
Nadira menghampiri dengan senyum ramah.
"Ini Farhan."
"Anak sahabat Tante."
"Baru pulang dari Bandung."
Farhan mengulurkan tangan.
"Halo."
"Nadira."
"Senang kenal."
Pria itu tampil rapi dengan kemeja putih dan celana hitam. Wajahnya teduh, tutur katanya sopan, dan senyumnya hangat.
"Aku sering dengar cerita tentang kamu."
Nadira tampak bingung.
"Cerita?"
Mama Arga langsung tertawa.
"Aduh, Tante ini."
Farhan ikut tersenyum.
"Mama saya sama Tante sering telepon."
"Oh..."
Obrolan mereka berlangsung ringan.
Namun tanpa mereka sadari...
Dari kejauhan, Arga melihat semuanya.
Tangannya berhenti menyusun kursi.
Tatapannya tidak lepas dari sosok Farhan yang tampak begitu mudah mengajak Nadira berbicara.
---
"Gar."
Suara Pak Dimas yang ternyata ikut datang ke acara membuat Arga menoleh.
"Kamu kenapa?"
"Nggak apa-apa."
Pak Dimas mengikuti arah pandang Arga.
"Oalah."
"Hah?"
"Cemburu?"
Arga langsung tersedak air mineral yang baru diminumnya.
"Pak!"
"Santai."
Pak Dimas tertawa pelan.
"Saya cuma bercanda."
Arga mengembuskan napas panjang.
"Bercandanya bahaya."
Pak Dimas menepuk pundaknya.
"Kalau memang suka, jangan terlalu lama diam."
"Kadang yang datang belakangan justru lebih berani."
Ucapan itu membuat Arga kembali melihat ke arah Nadira.
Kini Farhan dan Nadira sedang tertawa karena sesuatu.
Entah apa yang mereka bicarakan.
Yang jelas...
Ada rasa tidak nyaman yang perlahan memenuhi dadanya.
---
Menjelang acara selesai, Farhan berpamitan.
"Saya duluan ya, Tante."
"Iya."
"Jangan lupa main lagi."
"Pasti."
Sebelum pergi, Farhan menoleh kepada Nadira.
"Senang kenal."
"Semoga nanti kita ketemu lagi."
Nadira tersenyum sopan.
"Iya."
Farhan berlalu menuju mobilnya.
Namun sebelum benar-benar pergi, ia sempat berpapasan dengan Arga.
"Mas Arga, ya?"
Arga mengangguk.
"Iya."
"Saya Farhan."
Mereka berjabat tangan.
"Gimana acara ulang tahunnya?"
"Seru."
Farhan tersenyum.
"Syukurlah."
Lalu, dengan nada santai ia berkata,
"Nadira orangnya menyenangkan."
Arga membalas senyum itu.
"Iya."
"Saya baru kenal, tapi obrolannya enak."
"Semoga nanti bisa ngobrol lagi."
"Semoga."
Kalimat itu terdengar biasa.
Namun bagi Arga, ada sesuatu yang terasa mengganggu.
Ia baru menyadari satu hal.
Selama ini ia terlalu nyaman berada di dekat Nadira.
Sampai lupa bahwa suatu saat...
Akan ada orang lain yang juga melihat semua kelebihan perempuan itu.
---
Malam semakin larut.
Para tamu mulai pulang.
Saat mengantar keluarganya ke pagar, Nadira melihat Arga berdiri sendirian di halaman.
"Kamu nggak bantu beres-beres?"
"Aku lagi istirahat lima menit."
"Oh."
Nadira ikut berdiri di sampingnya.
Hening.
Angin malam berembus pelan.
"Dir."
"Hm?"
"Farhan..."
Nadira menoleh.
"Kenapa?"
"Orangnya baik."
"Iya."
"Kalian cocok ngobrol."
Nadira mengangguk.
"Baru kenal."
"Terus?"
"Ya... ngobrol biasa."
Arga tersenyum kecil.
"Bagus."
Namun senyum itu tidak sampai ke matanya.
Nadira memperhatikan wajahnya beberapa saat.
"Kamu kenapa?"
"Nggak."
"Bohong."
"Hah?"
"Kamu kalau lagi kepikiran..."
Nadira menirukan gaya Arga beberapa hari lalu.
"...rahangmu mengeras."
Arga tertawa pelan.
"Ternyata sekarang kamu juga mulai memperhatikan aku."
Nadira baru sadar dengan ucapannya sendiri.
Ia salah tingkah.
"Aku..."
Arga menggeleng sambil tersenyum.
"Nggak usah dijelasin."
"Malah makin lucu."
Nadira mendengus pelan.
"Kamu memang nyebelin."
"Iya."
"Tapi..."
Arga menatapnya.
"...aku lebih senang dibilang nyebelin sama kamu daripada dipuji orang lain."
Kalimat itu membuat Nadira kehilangan kata-kata.
Belum sempat ia menjawab, suara Mama Nadira memanggil dari depan pagar.
"Dir, ayo pulang."
"Iya, Ma."
Nadira melangkah pergi, tetapi sebelum masuk ke rumah ia menoleh sekali lagi.
Arga masih berdiri di tempat yang sama.
Menatapnya.
Dan untuk pertama kalinya...
Nadira mulai bertanya dalam hati.
*"Kalau suatu hari ada orang lain yang benar-benar mendekatiku..."*
*"Apa Arga akan memperjuangkanku?"*
Sementara di rumahnya sendiri, Arga memandang langit malam yang mulai cerah.
Ia tahu satu hal.
Kalau terus menunda, mungkin suatu hari ia benar-benar akan kehilangan kesempatan.
Dan Arga tidak ingin penyesalan itu terulang untuk kedua kalinya.
**Bersambung ke Episode 19...**