Season lanjutan dari Putra putri sang penguasa 2
Kenzo Osterin Anggara dan Kenzie Lutherin Anggara adalah dua anak kembar dari Lian dan Cheva yang memiliki kepribadian berbeda. Kenzo memiliki sikap yang tenang, bijaksana dan penuh pertimbangan. Sedangkan Kenzie sang adik memiliki sikap ceria, seenaknya dan dan tidak sabaran. Jika kebanyakan anak kembar tidak terpisahkan dan selalu bersama, maka lain halnya dengan Kenzo dan Kenzie. Mereka tidak suka menghabiskan waktu bersama karena sifat yang bertolak belakang,namun mereka tetap selalu menjaga satu sama lain dan bisa melakukan apa saja untuk saudara mereka.
Arisha Nedzara Kusuma adalah putri cantik dari Diaz dan Tania, dia juga merupakan saudara sepupu dari Kenzo dan Kenzie. Dia ceria dan manja namun dia juga gadis yang cerdas. Dia lebih sering menghabiskan waktu bersama saudara kembarnya daripada dengan orang tuanya sendiri.
Bagaimana keseharian dari ketiga saudara ini? Apakah mereka bisa memimpin perusahaan keluarga dengan baik?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kamu Memang Suamiku Yang Paling Pengertian
"Apa?! Perusahaan Sanjaya akan memproduksi film baru? Mereka juga mengumumkan audisi terbuka serta investasi pada siapa saja yang ingin berinvestasi?!"
Adnan sangat terkejut ketika dia mendengar kalau perusaahaan Diaz akan memproduksi film terbaru yang bertepatan dengan film yang akan diproduksi oleh perusahaannya
"Benar pak. Dan itu baru saja diumumkan saat pesta hari ini"
"Mereka mengadakan pesta hari ini hanya untuk mengumumkan itu?"
"Betul sekali pak"
"Sial. Gara-gara mereka kita mengalami kerugian besar setelah Fashion show kita gagal. Padahal biaya yang kita keluarkan juga cukup besar untuk ini"
Adnan terlihat sangat kesal karena ternyata fashion show yang dia rencanakan untuk menarik investor gagal dan itu membuat kerugian besar pada perusahaannya
"Lalu apa yang harus kita lakukan pak? Kita tidak bisa memproduksi film baru tanpa adanya investor" Zul bertanya dengan wajah bingung karena Adnan sepertinya tidak tahu cara mengatasi masalah ini
"Hmn ... kita harus mendekati satu persatu pebisnis yang mungkin akan tertarik dengan perusahaan kita. Kita harus mendapatkan investor bagaimanapun caranya"
"Maksud anda, kita akan menghubungi calon investor satu persatu?" Zul terlihat ragu dan hati-hati saat bertanya pada Adnan
"Tentu. Kita harus melakukan berbagai usaha untuk mendapatkan hasil yang maksimal"
"Baik saya mengerti" Zul pun beranjak pergi meninggalkan Adnan
***
"Bagaimana acaranya kak? Apa semuanya berjalan lancar?" Cheva sedang menghubungi Diaz setelah pesta selesai digelar
"Tentu saja. Besok pasti kita akan mendapatkan daftar investor untuk produksi terbaru kita" Diaz menjawab Cheva dengan bangga
"Lalu, apa kamu dengar bagaimana fashion show perusahaan Surendra?"
"Tentu saja acaranya tidak jadi di gelar karena tidak ada tamu yang hadir. menurutmu apa lagi?"
"Cih, sombong. Lalu, apalagi langkah kita selanjutnya? Apa kakak sudah punya rencana?"
"Tentu saja kita akan terus memotong pergeraakn mereka. Mereka tidak akan berhenti untuk mencari investor baru dan aku yakin kalau dia pasti akan mengajukan pinjaman pada bank jika tidak dapat investor. Adnan itu bodoh, dia sama sekali tidak tahu caranya berbisnis.. Kita akan memanfaatkan ini dan membuat dia kehilangan semuanya"
"Tapi membuat perusahaan itu bangkrut sama sekali tidak sebanding dengan apa yang telah mereka lakukan. Aku ingin mereka juga merasakan kesakitan yang sama"
Kini Cheva terdengar sangat serius dan juga dingin. Dia sama sekai tidak main-main dengan apa yang dia katakan
"Kenapa kamu tidak selidiki juga mengenai keluargaya? Dulu kita pernah membuat istri Adnan percaya dengan perselingkuhan suaminya, Lalu kenapa kita tidak cari cara juga untuk kembai menggunakan keluarganya?' Diaz berkata dengan sikap yang tenang dan senyum penuh arti
"Aku mengerti. Karena kita kehilangan Lea, jadi kita gunakan saja anak mereka. Itu pasti jadi kelemahan mereka" Cheva pun menanggapi Diaz dengan senyum yang sama
"Tentu. Kamu bisa bermain sepuasmu sekarang. Ah ini sudah sangat malam. Aku sudah lelah, Jadi nanti saja kita bahas lagi. Sampai jumpa"
"Baiklah, sampai jumpa"
Diaz dan Cheva langsung mengakhiri panggilan telepon mereka setelah selesai dengan pembicaraannya
"Sekarang apalagi yang direncanakan istri dan juga sahabat sekaligus kakak iparku, hah?"
Lian yang sejak tadi berada di samping Cheva mulai berkomentar setelah melihat sang istri mengakhiri panggilan teleponnya
"Tentu saja kami masih merencanakan cara membalas keluarga Surendra. Aku ingin membuat mereka hancur dan terpuruk. Bahkan seumur hidup itu tidak akan cukup untuk menyembuhkan luka yang mereka rasa"
Cheva menjawab dengan sikapnya yang manja pada Lian
"Apa kamu sudah memikirkan caranya?" Lian bertanya dengan sangat lembut
"Aku akan mencari tahu dulu mengenai anak mereka. Jadi aku bisa tahu apa yang harus ku lakukan pada mereka"
Cheva menjawab Lian dengan senyum lembut di wajahnya
"Kalau seperti ini istriku sangat menyeramkan. Ini untukmu"
"Apa?"
Cheva menatap dokumen yang diberikan Lian padanya
"Lihat saja dulu! Nanti juga kamu akan tahu apa isinya itu"
Lian bicara dengan sikap santai dan kembali menyilangkan kedua tangannya di dada
"Kak Lian? Ini …? Terimakasih, kamu memang suamiku yang paling pengertian. Kamu sangat mengerti langkah apa yang akan aku lakukan selanjutnya"
Cheva berhambur ke pelukan Lian dan bicara dengan ceria padanya
"Memang kamu punya berapa suami hingga mengatakan hal seperti itu padaku?"
"Hubby jangan marah. Tentu saja hanya kamu satu-satunya suamiku. Tidak mungkin ada yang lain. Menghadapi kamu dan papi saja sudah membuatku pusing. Bagaimana mungkin aku bisa mencari pria lain jika di sekelilingku ada pria-pria yang sangat possesif?"
Cheva merayu Lian dengan nada bicara dan sikap yang manja agar sang suami tidak marah berkepanjangan
"Baiklah aku percaya padamu"
Cheva kembali membaca dokumen yang diberikan Lian. Dokumen itu berisi informasi mengenai keluarga Surendra
"Pras, putra semata wayang Astria. Diam-diam pecandu obat terlarang dan terkadang berkelahi dengan rekan kampusnya. Bagaimana orang tua mereka mendidiknya? Anak jadi pecandu seperti ini tapi mereka tidak tahu. Tapi tidak papa, aku bisa manfaatkan ini. Ya meskipun sedikit kejam, tapi bukan aku yang menjerumuskannya. memang dia sudah terjerumus sendiri"
Lian hanya tersenyum melihat sang istri sepertinya merasa tidak enak jika harus melukai putra Astria
"Jika kamu tidak tega melukai anak kecil, sebaiknya jangan. Biar aku yang melakukannya"
Lian merangkul Cheva dan bicara dengan sangat lembut padanya
"Tidak bisa. Biar aku yang lakukan sendiri karena mereka juga telah menyakiti Lea, Galen dan Rey yang tidak bersalah. Kak Lian cukup jadi pendampingku saja. Saat aku tidak berhasil membuang sisa kotoran yang berat, maka kak Lian bisa menyelesaikan sisanya"
"Tentu. Aku akan melakukan apapun untukmu. Sekalipun harus membersihkan kotoran dengan tanganku sendiri. Aku tidak akan merasa keberatan"
"Kak Lian …"
Cheva dibuat terhanyut dengan kata-kata yang Lian ucapkan padanya
***
"Kakak, aku dengar perusahaan mengalami kerugian karena fashion show yang gagal. Apa yang terjadi?"
Astria bertanya pada Adnan saat sang kakak baru pulang ke rumah
"Ya, tamu yang aku undang untuk fashion show tidak ada yang hadir. Mereka membatalkan janji untuk hadir disaat terakhir"
Adnan menjawab dengan raut wajah kecewa
"Kenapa begitu? Apa yang membuat mereka tidak jadi hadir secara bersamaan?"
"Perusahaan Sanjaya. Perusahaan itu mengadakan pesta mendakak yang bertepatan dengan fashion showku. Jadi semua tamu undanganku lebih memilih pergi kesana daripada hadir di pagelaran busanaku"
"Hah? Mereka mengadakan pesta mendadak? Setahuku keluarga Kusuma sangat tidak suka pesta. Kenapa mereka tiba-tiba mengadakan pesta? Ini sangat aneh"
Astria terlihat bingung dan berpikir mengenai alasan Diaz mengadakan pesta yang mendadak
"Ya, pesta mereka digelar untuk mengumumkan kalau mereka akan memproduksi film terbaru. Dan yang lebih mengejutkan lagi adalah mereka melakukan audisi terbuka sekaligus menerima investor mana saja untuk bergabung dalam produksi film itu"
"Apa?! Mereka melakukan itu? Lalu bagaimana dengan kita?"
jiwa irit Emak2 meronta