Seorang ojol yang masih muda. mengidamkan hidup di tahun 90an karena cerita kakeknya. siapa sangka keinginannya itu malah membuatnya terjebak dalam lintasan waktu.
Warning: cerita ini alur sangat lambat. dan buat yang punya masalah psikotis lebih baik tak baca cerita ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Keesokan paginya, sebuah motor matik berwarna putih terparkir di depan laboratorium. Usianya sekitar dua tahun dengan kondisi yang masih sangat bagus.
Ardi melemparkan sebilah kunci ke arah Zain. "Mulai hari ini pakai yang ini."
Zain menangkapnya dengan sigap. "Lumayan juga."
"Jangan dibawa balapan."
"Tenang. Saya saja kalau membawa penumpang paling ngebut cuma pas dikejar hujan."
Ardi terkekeh kecil. "Kalau lecet?"
"Tanggung jawabmu."
"Waduh..."
...
Motor milik Zain sendiri dipindahkan ke ruang pengujian utama. Untuk pertama kalinya, kendaraan itu benar-benar berhenti menjadi alat transportasi harian. Kini, ia murni menjadi sebuah objek penelitian.
Di bawah joknya masih tersimpan Inti Resonansi, sementara puluhan sensor tambahan telah dipasang di sekeliling bodi. Kabel-kabel tipis tampak menjuntai menuju berbagai alat ukur.
Profesor Surya memperhatikan setiap sudutnya dengan teliti. "Hari ini... kita tidak mengalirkan energi."
Seorang teknisi terlihat heran. "Lalu apa yang diuji?"
Profesor menjawab singkat, "Keadaan diam."
Semua orang saling berpandangan. "Diam?"
Profesor mengangguk. "Kita ingin tahu apakah anomali itu hanya muncul saat sistem aktif, atau tetap terjadi ketika semuanya benar-benar tidak bekerja."
Ardi langsung mengerti arah pemikiran itu. "Pengamatan pasif."
"Tepat."
...
Seharian penuh, motor itu hanya dibiarkan berdiri di tempatnya. Tak ada tombol yang ditekan, tak ada aliran daya, dan tak ada dengungan. Monitor hanya menampilkan garis-garis datar yang stabil.
Pukul sembilan pagi, normal.
Pukul sebelas, normal.
Pukul satu siang, masih normal.
Zain yang sejak tadi membantu membersihkan bengkel mulai menyenderkan badan dan menguap. "Ternyata penelitian bisa membosankan juga."
Seorang teknisi tertawa. "Kalau eksperimen selalu seru, ilmuwan bakal cepat kehabisan energi."
...
Menjelang pukul empat sore, suara alarm kecil tiba-tiba berbunyi.
*Bip...*
Suaranya tidak keras, hanya terdengar satu kali. Namun, seluruh ruangan langsung terdiam seketika.
Ardi menoleh ke arah monitor. "Ada perubahan."
Profesor mendekat cepat. "Berapa?"
"Sangat kecil. Garis medannya naik."
"Berapa lama?"
"Dua detik. Lalu kembali normal."
Semua data langsung disimpan otomatis. Tak seorang pun berani menyentuh motor atau bahkan bersuara.
Profesor mengamati grafik di layar cukup lama. "Listrik gedung?"
"Normal."
"Suhu?"
"Normal."
"Getaran?"
"Tidak ada."
Semua kemungkinan penyebab yang sederhana dicoret satu per satu. Tak ada satu pun yang cocok dengan lonjakan data tersebut.
...
Sore perlahan berganti malam. Saat semua orang bersiap untuk pulang, Profesor berdiri tertegun di depan motor.
"Lusa..." katanya pelan, "...kita coba sesuatu yang berbeda."
Ardi mengangguk. "Motor tetap di sini?"
"Iya."
"Lalu apa yang berbeda?"
Profesor menoleh kepada Zain. "Kali ini... yang akan bergerak bukan motornya."
Zain mengernyit bingung. "Maksudnya?"
Profesor tersenyum tipis. "Kamu."
Ruangan kembali sunyi. Untuk pertama kalinya, nama Zain disebut sebagai bagian utama dari rencana eksperimen—bukan lagi sekadar pemilik kendaraan.
"Lho... saya?" Zain spontan menunjuk dirinya sendiri.
Profesor Surya mengangguk pelan. "Iya. Tenang, bukan eksperimen berbahaya."
"Lalu saya harus melakukan apa?"
Profesor mengambil sebuah kotak kecil dari atas meja. Di dalamnya terdapat sebuah gelang hitam yang sekilas bentuknya menyerupai jam tangan pintar, namun tampilannya jauh lebih sederhana.
"Hari ini kamu hanya perlu memakai ini."
Zain mengambil gelang itu dan memperhatikannya. "Jam tangan?"
"Bukan, itu sensor biometrik."
"Fungsinya?"
"Merekam detak jantung, suhu tubuh, pergerakan, dan beberapa data spesifik lainnya."
Zain langsung melingkarkan gelang tersebut di pergelangan tangannya. "Begini?"
"Ya."
...
Motor milik Zain tetap berada di tengah ruangan—tidak dinyalakan dan tidak disambungkan ke sumber daya apa pun, benar-benar mati.
Profesor berdiri di depan monitor utama. "Mulai pencatatan."
Ardi menekan tombol, dan jam digital di layar mulai menghitung.
"Menit pertama. Silakan berdiri di samping motor."
Zain menurut. Tak terjadi apa-apa di sekelilingnya.
"Menit kedua. Jalan mengelilingi motor."
Zain berjalan perlahan membentuk lingkaran. Satu putaran, dua putaran, hingga tiga putaran, tetapi grafik di monitor tetap terlihat tenang.
"Lanjut," Profesor melihat catatannya sejenak. "Sekarang... sentuh setangnya."
Zain memegang setang motornya. Permukaannya terasa dingin dan biasa saja, tanpa sengatan ataupun getaran.
"Bagaimana rasanya?"
"Normal."
"Lepaskan."
Zain menarik tangannya kembali dan mundur beberapa langkah. Semua data direkam dengan teliti, namun tak ada perubahan berarti yang muncul.
...
Hampir satu jam berlalu dengan berbagai variasi posisi. Berdiri di depan motor, di belakang motor, duduk di atas jok tanpa menyalakan mesin, bahkan mendorong kendaraan itu sejauh beberapa meter. Semuanya memberikan hasil yang terbilang normal.
Zain mulai menghela napas panjang. "Saya kira bakal ada kejadian yang aneh."
Profesor tersenyum tipis. "Dalam sains, kalau tidak ada perubahan hasil, itu tetaplah sebuah data."
Zain mengangguk pelan, mulai terbiasa memahami pola pikir para peneliti di ruangan itu.
...
Saat rangkaian percobaan hampir selesai, Profesor memberi instruksi tambahan. "Terakhir. Duduklah."
Zain kembali naik dan duduk di atas jok motornya. Kedua tangannya memegang setang—sebuah posisi yang sangat akrab karena hampir setiap hari ia lakukan saat mencari nafkah.
Ardi memperhatikan pergerakan grafik di monitor. "Detak jantung normal. Suhu tubuh normal. Kondisi lingkungan juga normal."
Lima detik berlalu... sepuluh detik... lima belas detik.
Tiba-tiba...
*Bip... Bip...*
Suara alarm pendek kembali terdengar. Semua orang spontan menoleh ke layar.
"Apa itu?" tanya Zain bingung.
Ardi memperbesar grafik data yang baru saja masuk. Ada satu garis yang perlahan-lahan merambat naik.
"Sinyal ini bukan berasal dari motor," gumam Ardi.
Profesor melangkah mendekat. "Lalu dari mana?"
Ardi menelan ludah sebelum menjawab, "Dari gelang yang dipakai Zain."
"Hah?" Zain ikut memajukan badannya ke arah layar. "Memangnya ada apa?"
Ardi menarik napas panjang. "Sensor pada gelang membaca... ada medan gelombang lemah di sekitarmu."
"Medan apa?"
Profesor menggeleng pelan. "Belum tahu pasti. Namun yang jelas, medan itu hanya muncul saat kamu duduk di atas jok motor ini."
Ruangan kembali diselimuti kesunyian. Begitu Zain mengayunkan kakinya untuk turun dari motor, grafik di layar langsung melandai dan kembali normal.
Profesor memandangi rekaman data itu selama beberapa saat, lalu berkata pelan, "Besok kita ulangi lagi. Kali ini, kita harus mencari tahu... apakah motor ini yang mengenali Zain, atau justru Zain yang sedang memengaruhi motornya."