"Arya Pratama adalah mahasiswa miskin yang hidup pas-pasan. Satu-satunya kebanggaannya adalah Kirana, pacar tercantik di kampus.
Namun segalanya hancur saat Kirana datang dengan kabar: ""Aku hamil."" Keluarga Kirana yang kaya raya menghina dan mengusirnya.
Dunia Arya runtuh—hingga sebuah sistem misterius aktif di kepalanya: [Sistem Ayah Level Dewa]. Setiap langkah tanggung jawabnya sebagai ayah diganjar hadiah luar biasa: uang miliaran, saham, teknologi canggih.
Kini Arya berjuang melawan preman, fitnah, dan musuh politik, sambil membangun kerajaan bisnis. Bisakah ia membuktikan bahwa menjadi ayah muda bukanlah akhir—melainkan awal dari segalanya?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Surya Mandala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 1
Bab 001 - Dua Garis Biru
Ponsel Arya Pratama bergetar di lantai kos-kosan.
Sekali.
Dua kali.
Tujuh panggilan tak terjawab.
Arya membuka mata dengan kepala berat. Kamar sempit itu masih bau kopi sachet dan mi instan semalam. Kipas angin tua berputar pelan di atas kasur busa. Di sudut kamar, laptop tua dan tumpukan berkas skripsi menunggu seperti tagihan.
Layar ponsel menyala lagi.
Kirana Putri Ayu.
Rasa kantuk Arya langsung hilang separuh.
Di Universitas Surya Laut, Kirana dikenal satu kampus. Mahasiswi manajemen, IPK tinggi, wajah sering muncul di poster acara fakultas. Banyak laki-laki mengejarnya dari jauh. Denny Hartono, anak orang kaya itu, bahkan sudah dua semester mengirim bunga dan hadiah.
Kirana menolak semuanya.
Lalu tiga bulan lalu, setelah acara fakultas, Arya dan Kirana melakukan satu kesalahan yang tidak pernah mereka bicarakan lagi dengan jelas.
Tangan Arya dingin. Ia menekan tombol panggil.
Panggilan langsung diangkat.
"Arya?"
Suara Kirana serak dan gemetar.
"Kirana, kamu kenapa? Ada apa?"
Ia mendengar napas Kirana tersendat.
"Kamu bisa ke RS Darmo sekarang?"
Arya duduk tegak. "Rumah sakit? Kamu sakit?"
"Datang saja. Tolong. Aku takut."
Arya menyambar jaket, dompet, dan kunci motor. Ia hampir tersandung ember cucian di dekat pintu.
"Bismillah," gumamnya, lalu keluar.
Honda Beat tuanya susah menyala. Arya memutar gas dua kali sampai mesin batuk dan hidup. Ia langsung menembus jalan pagi Surabaya. Lampu merah, angkot, motor ojek online, semua terasa menghalangi.
Di kepalanya hanya ada satu nama.
Kirana.
Mereka tidak pernah mengumumkan hubungan itu. Kirana terlalu terkenal. Arya terlalu biasa. Mereka hanya bertemu diam-diam setelah kelas, makan bakso di dekat kampus, lalu pulang sebelum terlalu banyak mata melihat.
Pagi ini, semua rahasia itu terasa rapuh.
Arya memarkir motor di halaman RS Darmo Surabaya, lalu masuk hampir berlari.
"Mas, cari siapa?" tanya perawat di meja administrasi.
"Kirana Putri Ayu. Dia telepon saya."
Perawat mengetik sebentar. "Poli kandungan, lantai dua. Jangan lari di koridor ya, Mas."
"Makasih, Mbak."
Kata "poli kandungan" membuat langkah Arya berat.
Di lantai dua, beberapa perempuan hamil duduk bersama suami atau keluarga. Ada yang memegang buku kontrol, ada yang mengelus perut sambil tersenyum kecil.
Kirana duduk sendirian di ujung bangku.
Cardigan kremnya kusut. Matanya merah. Kedua tangannya menggenggam benda kecil berwarna putih.
Arya berhenti di depannya.
"Kirana."
Begitu melihatnya, air mata Kirana jatuh.
"Aku telat," bisiknya.
Arya menelan ludah. "Telat... apa?"
Kirana mengangkat tangan.
Di telapak tangannya ada test pack.
Dua garis biru.
Jelas.
Arya menatap benda itu. Dadanya seperti ditindih batu.
Skripsi, wisuda, pulang ke Solo, membuat Bapak Hendra dan Ibu Sri bangga, semuanya mendadak menjauh.
Tabungannya tidak sampai Rp 2.000.000. Uang kos bulan depan saja masih ia hitung. Motor sering mogok. Pekerjaan belum ada. Gelar belum di tangan.
Kirana juga punya beban yang lebih berat. Ia anak tunggal dari Ibu Ratna Sari di Malang. Ibunya menjual kue bertahun-tahun agar Kirana bisa kuliah di Surabaya. Kalau kabar ini sampai ke kampus atau ke Malang, hidup Kirana akan habis dimakan gosip.
"Aku sudah pakai dua kali," kata Kirana lirih. "Hasilnya sama."
Arya membuka mulut, lalu menutupnya lagi.
Kirana menggigit bibir. "Kalau kamu mau pergi, pergi sekarang. Aku tidak akan mengejar."
Kalimat itu menusuk.
Kirana sudah menyiapkan diri untuk ditinggalkan.
Arya meraih test pack itu. Tangannya masih gemetar.
"Kamu sudah periksa ke dokter?"
Kirana berkedip. "Belum. Aku tidak berani masuk sendiri."
Arya berjongkok di depannya. Ia menggenggam tangan Kirana. Dingin.
"Dengar aku," katanya. "Aku tidak akan pergi."
Bibir Kirana bergetar.
"Arya, kamu belum tahu ini seberat apa."
"Aku tahu aku belum siap. Aku tahu aku belum punya uang. Aku tahu Bapak dan Ibu akan kecewa. Aku juga tahu ibumu bisa hancur kalau tahu dengan cara yang salah."
Kirana menunduk. Air matanya jatuh ke punggung tangan Arya.
"Aku takut," bisiknya.
"Aku juga."
Kirana mengangkat wajah.
Arya menatap matanya. "Tapi aku tidak akan lari."
Udara di depan mata Arya bergetar.
Panel transparan muncul di tengah pandangannya.
【Sistem Ayah Level Dewa telah aktif.】
Arya membeku.
Ia melirik Kirana. Gadis itu masih menangis dan tidak melihat apa pun.
Panel itu berkedip.
【Host terkonfirmasi: Arya Pratama.】
【Identitas baru: calon ayah.】
Jantung Arya berdebar keras.
Sistem?
Belum sempat ia berpikir, baris baru muncul.
【Tindakan terdeteksi: memilih bertanggung jawab dalam krisis keluarga pertama.】
【Hadiah awal diberikan.】
【Saldo rekening Bank Nusantara bertambah: Rp 200.000.000.】
Ponsel Arya bergetar.
Ia mengeluarkannya.
Bank Nusantara
Dana masuk: Rp 200.000.000
Saldo tersedia: Rp 201.438.750
Arya hampir menjatuhkan ponsel.
Dua ratus juta Rupiah.
Jumlah itu cukup untuk biaya dokter, vitamin, makanan sehat, kontrakan yang layak, dan semua kebutuhan darurat yang sejak tadi membuat dadanya sesak.
Panel sistem belum berhenti.
【Ensiklopedia Kehamilan Lengkap telah diunduh ke memori host.】
Informasi masuk cepat ke kepala Arya.
Folat. Trimester pertama. Mual pagi. Risiko anemia. Jadwal kontrol. Tanda bahaya perdarahan. Batas kafein. Nutrisi. Istirahat.
Kekacauan di kepalanya mulai tersusun.
【Penguatan fisik dasar: 100% selesai.】
Panas mengalir dari dada ke seluruh tubuhnya. Sakit kepala hilang. Napasnya lebih dalam. Tangan yang tadi gemetar menjadi stabil.
"Arya?" Kirana menatapnya cemas. "Kamu kenapa?"
Arya menyimpan ponsel. Ia belum bisa menjelaskan sistem itu. Ia juga belum tahu apakah ia sedang gila.
Yang jelas, uang itu nyata.
"Kita periksa dulu," katanya. "Biaya dokter, vitamin, apa pun yang kamu butuhkan, aku urus."
Kirana menatapnya lama. "Kamu serius?"
"Serius."
"Arya, masalahnya lebih besar dari biaya."
"Aku tahu." Arya menggenggam tangannya lebih kuat. "Ini soal kamu, bayi kita, dan keluarga kita nanti. Aku belum punya semua jawaban. Mulai hari ini, aku cari satu per satu."
Kirana menutup mulut. Tangisnya pecah lagi.
Kali ini Arya tidak panik.
Ia duduk di sampingnya, membiarkan Kirana bersandar sebentar di bahunya. Tidak lama. Cukup agar napasnya lebih teratur.
Panel sistem muncul lagi.
【Misi utama dimulai: Menjadi Ayah Terkuat.】
【Tahap pertama: lindungi ibu dan janin.】
【Catatan: hadiah mengikuti tingkat tanggung jawab nyata host. Tidak ada hadiah untuk niat kosong.】
Arya membaca kalimat terakhir itu dengan mata tajam.
Baik.
Ia akan membuktikannya dengan tindakan.
Pintu ruang pemeriksaan terbuka.
"Kirana Putri Ayu?" panggil seorang perawat.
Kirana tersentak.
Arya berdiri lebih dulu, lalu mengulurkan tangan.
"Ayo."
Kirana memandang tangan itu. Ragu masih ada, takut juga masih ada. Namun kali ini ia meraihnya.
Mereka berjalan ke ruang pemeriksaan.
Sebelum masuk, Kirana berhenti.
"Arya."
"Ya?"
"Kalau dokter bilang aku benar-benar hamil..."
"Aku tetap di sini."
Kirana menunduk. Suaranya hampir habis.
"Tapi, Arya... Mama akan membunuhku kalau dia tahu."