Di dunia di mana status ditentukan oleh kekuatan roh bela diri, Lin Xiao dianggap sebagai sampah tak berguna karena hanya memiliki roh berupa sebuah makam kuno yang hancur.
Dikhianati oleh klannya sendiri, dirundung habis-habisan oleh sepupunya, dan secara terbuka dihina oleh tunangannya yang sombong, Lin Xiao mencapai titik terendah.
Namun, di saat kematian mendekat, rahasia makam itu bangkit. Alih-alih sebuah sampah, makam itu ternyata adalah Makam Para Raja, gudang tersembunyi yang menyimpan sisa-sisa jiwa, ingatan, dan teknik tak terkalahkan dari ratusan kaisar dan raja bela diri kuno yang pernah mendominasi dunia.
Didorong oleh dendam membara, Lin Xiao berlatih secara diam-diam menggunakan warisan terlarang tersebut.
Dari pemuda yang diremehkan, dia tumbuh menjadi sosok dingin yang kejam terhadap musuh, siap menghadapi seluruh klan dan sekte demi melindungi ayahnya yang lemah, serta mendaki puncak kekuatan bela diri sebagai Pewaris Makam Para Raja yang sejati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Tok tok tok.
Suara ketukan keras di pintu halaman belakang memecah kesunyian pagi kediaman Lin Xiao.
Paman Zhou bergegas membuka pintu dan mendapati dua orang penjaga berseragam faksi Kepala Tetua berdiri di sana.
"Kepala Tetua memanggil Lin Tianhai dan putranya ke balai utama sekarang juga." ucap salah satu penjaga dengan nada angkuh.
"Ada sidang darurat yang harus dihadiri oleh seluruh anggota keluarga inti klan."
Lin Xiao yang sedang berlatih pernapasan di teras kamarnya perlahan membuka matanya.
Senyum tipis yang sangat dingin langsung terbentuk di wajahnya.
"Paman Zhou, suruh mereka kembali dan katakan kami akan segera ke sana." perintah Lin Xiao dengan tenang.
Paman Zhou mengangguk dan menutup pintu halaman setelah kedua penjaga itu pergi dengan wajah merendahkan.
Pelayan tua itu kemudian menatap Lin Xiao dengan raut wajah yang dipenuhi kekhawatiran mendalam.
"Tuan Muda, firasat saya mengatakan ini adalah jebakan dari Kepala Tetua." ucap Paman Zhou dengan suara bergetar.
"Mereka pasti ingin menggunakan insiden kemarin untuk menghukum Tuan Muda."
Kriet.
Pintu kamar Lin Tianhai terbuka dan pria paruh baya itu melangkah keluar dengan pakaian yang rapi.
Wajahnya yang kemarin sudah memerah sehat kini kembali terlihat pucat, dan napasnya sengaja dibuat tersengal-sengal.
Uhuk. Uhuk.
Lin Tianhai terbatuk pelan sambil bersandar pada kusen pintu kayu.
"Jangan khawatir, Kakak Zhou." ucap Lin Tianhai sambil mengedipkan sebelah matanya ke arah putranya.
"Kita akan pergi ke sana dan melihat pertunjukan apa yang sedang disiapkan oleh rubah tua itu." lanjut sang ayah dengan nada santai yang sama sekali tidak sesuai dengan penampilannya yang sakit-sakitan.
Lin Xiao segera berjalan mendekat dan memapah lengan ayahnya dengan hati-hati.
Mereka berdua berjalan perlahan meninggalkan area kumuh itu menuju balai utama klan.
Sepanjang perjalanan, Lin Xiao terus menekan auranya hingga titik terendah menggunakan teknik Kaisar Racun.
Di mata orang lain, dia hanyalah pemuda biasa di tahap Pembentukan Dasar tingkat pertama yang sangat lemah.
Suasana di balai utama Klan Lin pagi ini terasa sangat tegang dan padat.
Ratusan murid berkumpul di halaman luar, sementara di dalam ruangan, belasan tetua duduk berjejer di kursi kayu ukir mereka.
Di kursi tertinggi pada ujung ruangan, Kepala Tetua Lin Zhen duduk dengan postur tegak dan memancarkan wibawa palsu.
Lin Jian berdiri tepat di belakang kakeknya dengan senyum sombong yang sangat menyebalkan.
Tap. Tap.
Suara langkah kaki Lin Xiao yang memapah ayahnya memecah kebisingan di dalam ruangan.
Semua mata langsung tertuju pada ayah dan anak yang terlihat sangat menyedihkan itu.
"Lihatlah mereka, masih berani menampakkan wajah setelah membuat malu klan kita di depan Keluarga Su." bisik seorang tetua.
"Kudengar Lin Xiao juga membuat keributan di balai tugas kemarin, anak itu benar-benar sudah kehilangan akal."
Lin Xiao mengabaikan semua cibiran itu dan menuntun ayahnya ke kursi kosong di sudut ruangan.
Namun sebelum Lin Tianhai sempat duduk, Lin Jian melangkah maju dan menunjuk ke arah mereka.
"Berhenti di sana!" bentak Lin Jian dengan suara lantang yang menggema di balai utama.
"Kursi itu hanya untuk tetua klan yang aktif dan berguna, bukan untuk orang cacat yang hanya bisa menghabiskan harta klan!"
Lin Xiao menghentikan langkahnya dan menatap Lin Jian dengan pandangan sedingin puncak gunung es.
Mata pemuda itu menyiratkan teror kematian yang membuat Lin Jian tanpa sadar memundurkan kakinya selangkah.
'Bocah ini... tatapannya mengingatkanku pada kotak kayu berdarah tadi malam.' batin Lin Jian sambil menelan ludah dengan susah payah.
'Tidak mungkin, itu pasti hanya kebetulan saja.'
"Jaga bicaramu, Lin Jian." ucap Lin Tianhai dengan suara serak yang sengaja dibuat lemah.
"Aku masih menyandang gelar tetua agung di klan ini, kau tidak berhak melarangku duduk."
Brak.
Kepala Tetua Lin Zhen memukul sandaran kursinya dengan keras untuk menghentikan perdebatan.
"Lin Jian benar, kau tidak pantas lagi duduk di deretan kursi kehormatan itu, Lin Tianhai." ucap Lin Zhen dengan nada mutlak.
"Hari ini aku mengumpulkan semua orang untuk membahas masalah parasit di dalam klan kita." lanjut pria tua itu sambil menatap tajam ke arah Lin Tianhai.
Ruangan balai utama menjadi sangat sunyi, semua orang tahu bahwa badai besar akan segera terjadi.
Lin Xiao tetap memapah ayahnya berdiri di tengah ruangan, wajahnya tidak menunjukkan sedikit pun rasa takut atau panik.
"Sudah tiga tahun sejak insiden yang menghancurkan kultivasimu, Lin Tianhai." ucap Lin Zhen memulai pidato pengadilannya.
"Selama tiga tahun ini, klan telah mengeluarkan ribuan koin emas setiap bulannya untuk membeli obat-obatanmu."
"Dan apa hasil yang didapatkan oleh klan?" tanya Lin Zhen meretoriskan pertanyaannya kepada seluruh tetua.
"Tidak ada. Kau tetap menjadi cacat, dan putramu malah memperburuk nama baik kita di Kota Jade River."
Beberapa tetua yang merupakan kroni dari Lin Zhen langsung mengangguk setuju dengan sangat antusias.
"Benar, kita tidak bisa terus memelihara orang yang tidak berguna!" sahut salah satu tetua berwajah tirus.
"Sumber daya klan terbatas, lebih baik diberikan kepada generasi muda berbakat seperti Tuan Muda Jian." tambah tetua lainnya dengan nada menjilat.