Seorang driver ojol tampan tapi bernasib sial mendapatkan sistem aplikasi "Godjek" misterius, di mana setiap orderan absurd dari pelanggan cantik memberinya hadiah kekuatan aneh yang bikin geleng-geleng kepala.
Bertahun-tahun lalu, sebelum jadi ojol, Raka memiliki seorang adik perempuan yang sangat dia sayangi. Suatu hari, adiknya memesan ojek online malam-malam untuk pulang. Raka yang saat itu sibuk, tidak bisa menjemputnya sendiri.
Malam itu, ojol yang ditumpangi adiknya mengalami kecelakaan fatal.
Kata-kata terakhir adiknya di telepon sebelum kecelakaan adalah: "Mas, aku udah jalan ya, ojolnya baik banget." Raka tidak pernah memaafkan dirinya sendiri. Dia menjadi ojol yang baik untuk "menebus Dosa" dan penyesalan di dasar hatinya setelah adiknya pergi untuk selama-lamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lihazel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Skandal Berita Pagi
Dua hari setelah sidang etik Federasi Atletik yang membersihkan nama Tiara Puspita, gang sempit Tambora yang biasanya hanya ramai oleh suara ibu-ibu menjemur pakaian dan anak-anak bermain kelereng, mendadak dipenuhi oleh kerumunan yang jauh lebih besar dan jauh lebih tidak menyenangkan.
Arya baru saja keluar dari kamar mandi luar rumahnya, rambutnya masih basah, ketika suara berisik dari arah gang utama membuat langkahnya terhenti. Ia mengintip dari balik jendela kecil, dan jantungnya langsung berdegup kencang melihat pemandangan yang tersaji di depan mata.
Sekitar sepuluh orang berpakaian rapi dengan kamera besar tergantung di leher berdiri berdesakan di depan pintu jalusi hijau rumahnya, sementara beberapa mobil van bertuliskan logo stasiun televisi swasta terparkir sembarangan di sepanjang gang, membuat jalan yang sempit itu semakin sesak.
"Mas! Mas Arya Prasetya!" seru salah satu wartawan begitu melihat sosok Arya di balik jendela, langsung mengarahkan kamera dan mikrofonnya. "Boleh minta konfirmasi soal tuduhan bahwa Anda memanfaatkan kedekatan dengan Tiara Puspita untuk mendapatkan popularitas dan uang dari beberapa wanita kaya di Jakarta?"
Arya membeku. "Hah?! Tuduhan apaan lagi ini?!" Ia buru-buru membuka pintu, dan begitu langkahnya keluar ke teras, puluhan lampu kilat kamera langsung menyorot wajahnya secara bersamaan, membuat matanya berkedip kaget.
"Pak, tolong beri jarak," ujar Arya berusaha tenang, meski di dalam dadanya kepanikan mulai menjalar cepat. "Saya nggak ngerti maksud pertanyaan Bapak tadi."
Seorang wartawan wanita dengan sigap menyodorkan ponselnya, menampilkan sebuah artikel berita yang baru saja terbit pagi itu di salah satu portal daring yang cukup besar.
[EKSKLUSIF: Sosok "Ojol Pahlawan" di Balik Skandal Federasi Atletik—Benarkah Modus Lama untuk Dekati Wanita Kaya?]
Setelah heboh membela atlet nasional Tiara Puspita dalam sidang etik Federasi Atletik pekan ini, sosok driver ojek online bernama Arya Prasetya (24) kini menjadi sorotan. Sumber anonim dari kalangan bisnis Jakarta mengungkapkan bahwa Arya bukan sekadar driver biasa, melainkan telah beberapa kali terlihat berdekatan secara mencurigakan dengan sejumlah wanita berpengaruh di ibu kota—mulai dari seorang CEO ternama, seorang mantan model internasional, hingga kini seorang atlet nasional. Pola kedekatan yang berulang ini memunculkan dugaan bahwa Arya menggunakan taktik "pahlawan kesiangan" untuk memanipulasi emosi target-targetnya demi keuntungan finansial maupun sosial...
Arya merasa darahnya seketika mendidih. Tangannya yang memegang ponsel wartawan itu bergetar. "Ini fitnah tingkat dewa! Siapa yang sengaja nyusun narasi kayak gini?! Ini bukan cuma nulis berita, ini bener-bener niat ngehancurin gua!"
"Saya nggak—" Arya berusaha bicara, namun suaranya kalah oleh gemuruh pertanyaan bertubi-tubi dari para wartawan yang saling berebut mendekat.
"Benarkah Anda menerima uang dari Citra Kirana untuk kontrak eksklusif?"
"Apa hubungan Anda dengan Nadia Anastasia sebenarnya?"
"Apakah Ibu Anda tahu soal modus operandi ini?"
Kata terakhir itu membuat sesuatu di dalam dada Arya seketika retak. Bukan karena tuduhan terhadap dirinya sendiri—ia sudah cukup kebal menghadapi omongan orang setelah bertahun-tahun hidup di jalanan Jakarta. Namun menyeret nama ibunya ke dalam fitnah keji ini adalah batas yang tidak bisa ia toleransi.
Sebelum Arya sempat merespons, pintu jalusi hijau di belakangnya terbuka. Bu Aminah melangkah keluar dengan mengenakan celemek dapurnya yang masih basah oleh minyak goreng, wajahnya yang teduh kini dipenuhi kebingungan sekaligus kekhawatiran melihat kerumunan yang mengepung rumahnya.
"Arya, ini ada apa, Le?" tanya Bu Aminah dengan suara lembut namun sedikit gemetar, matanya menyapu wajah-wajah asing yang memenuhi teras rumahnya.
Para wartawan langsung mengalihkan kamera mereka ke arah Bu Aminah, membuat wanita paruh baya itu tersentak kaget oleh sorotan lampu yang tiba-tiba.
"Ibu Aminah? Benarkah Anda mengetahui bahwa anak Anda memanfaatkan kebaikan hati wanita-wanita kaya untuk—"
"Cukup!" Arya berteriak, suaranya bergetar oleh amarah yang sudah tidak bisa ia tahan lagi. Ia melangkah maju, berdiri tepat di depan ibunya seperti tameng, menghalangi seluruh kamera dari wajah Bu Aminah yang mulai pucat. "Kalian boleh nanya apa aja ke saya. Tapi jangan pernah bawa-bawa nama Ibu saya ke dalam omong kosong ini."
God-Phone di saku celana Arya bergetar hebat, memancarkan cahaya merah pekat yang jarang muncul—warna yang biasanya hanya keluar saat ada ancaman serius terhadap orang-orang yang ia sayangi.
TING-TONG!
[PERINGATAN DARURAT SISTEM: SERANGAN REPUTASI DIGITAL TERDETEKSI!]
[Analisis: Kampanye fitnah ini didalangi oleh jaringan buzzer bayaran yang terhubung langsung dengan Faksi Segitiga Emas, kemungkinan besar diperintahkan oleh Reynald Pratama sebagai balas dendam atas kekalahannya di depan gedung SCBD beberapa waktu lalu. Narasi ini sengaja disusun untuk menghancurkan reputasi Driver sekaligus mengintimidasi keluarga dan komunitas pangkalan ojol Tambora.]
[Status: Rumah Ibu Kandung Driver kini dikepung oleh sepuluh awak media dan diperkirakan akan terus bertambah dalam beberapa jam ke depan. Sistem tidak dapat menyediakan bukti fisik penangkal fitnah secara instan—ini murni pertarungan kebenaran melawan kebohongan yang telah dikemas rapi.]
[Misi Darurat: Pertahankan Kehormatan Keluarga. Batas Waktu: Tidak Terbatas—Namun Semakin Lama Fitnah Ini Dibiarkan, Semakin Dalam Luka yang Akan Ditimbulkan.]
Arya membaca notifikasi itu dengan rahang mengeras. "Reynald Pratama. Gua udah nebak bakal ada balesan dari dia, tapi nggak nyangka dia bakal secepat dan sekeji ini nyerang lewat media."
Namun sebelum Arya sempat memikirkan langkah selanjutnya, suara riuh dari ujung gang mendadak terdengar—bukan suara wartawan, melainkan deru puluhan motor bebek yang datang bersamaan, seperti gelombang jaket hijau lumut yang bergerak serentak menuju satu arah.
Bang Jay, yang rupanya sudah mendengar kabar dari salah satu tetangga yang melihat kerumunan wartawan sejak subuh, memimpin barisan itu dengan wajah geram. Di belakangnya, Dedi "Gacor" dan lebih dari dua puluh driver ojol lain dari berbagai pangkalan se-Jakarta Barat—yang selama ini saling mengenal lewat grup WhatsApp komunitas—ikut berbondong-bondong datang begitu mendengar bahwa salah satu dari mereka sedang difitnah habis-habisan.
"WOI! MINGGIR SEMUA!" teriak Bang Jay begitu motornya berhenti tepat di mulut gang, memblokade jalur masuk para wartawan yang hendak semakin masuk mendekat. "Ini rumah orang, bukan studio infotainment! Kalau mau wawancara, wawancara yang bener, jangan asal nge-framing!"
Dedi ikut turun dari motornya, berdiri di samping Bang Jay dengan tangan terlipat, memancarkan aura solidaritas kelas pekerja yang tidak bisa diremehkan. "Iya! Arya ini anak paling jujur yang pernah kita kenal! Dia nolongin orang bukan buat pamer, bukan buat duit! Kalau ada yang mau nulis berita bohong soal dia, urus dulu sama kita semua!"
Para wartawan yang tadinya percaya diri kini mulai tampak canggung, terjepit di antara barisan motor ojol yang mengelilingi mereka dari segala penjuru gang sempit. Beberapa dari mereka mulai menurunkan kamera, menyadari bahwa situasi ini sudah bergeser jauh dari yang mereka bayangkan.
Namun, di tengah kekacauan itu, seorang pria berpenampilan necis melangkah keluar dari sebuah sedan hitam yang baru saja tiba, tersenyum tipis melihat kekacauan yang sedang terjadi. Reynald Pratama berdiri dengan tangan di saku celana desainernya, kacamata hitam bertengger di atas kepala meski matahari belum terlalu terik.
"Wah, wah," ujar Reynald dengan nada mengejek, melangkah mendekat dengan percaya diri. "Ternyata benar, ojol satu ini punya pasukan sendiri. Lucu juga, seolah-olah kalian bisa membela kebenaran cuma dengan jumlah motor yang banyak."
Arya menatap Reynald dengan sorot mata tajam, tangannya mengepal erat di dalam saku jaket premiumnya. "Lu yang nyebar fitnah ini, kan, Reynald?"
Reynald tertawa pendek, tidak menyangkal maupun mengakui secara langsung. "Aku cuma memastikan kebenaran tersampaikan ke publik, Arya. Bahwa seorang driver ojol miskin dari gang kumuh tiba-tiba dekat dengan begitu banyak wanita kaya... itu pasti mengundang pertanyaan wajar, kan? Publik berhak tahu."
"Kebenaran menurut lu, atau kebenaran yang lu bikin sendiri buat ngehancurin gua karena masih sakit hati soal kejadian di depan gedung SCBD waktu itu?" balas Arya tanpa gentar.
Wajah Reynald sedikit mengeras mendengar sindiran itu, namun ia cepat menutupinya dengan senyum sinis. "Terserah kamu mau anggap apa. Yang jelas, sebentar lagi seluruh Jakarta akan tahu siapa dirimu sebenarnya. Dan setelah itu, tidak ada satu pun wanita kaya yang akan mau dekat-dekat lagi denganmu—termasuk keluargamu yang akan kesulitan mencari nafkah karena reputasi busuk yang melekat pada nama Prasetya."
Ancaman itu menghantam Arya lebih dalam daripada serangan fisik mana pun. Namun tepat pada saat kemarahannya hampir meledak menjadi tindakan yang bisa ia sesali, God-Phone di sakunya kembali bergetar, kali ini dengan cahaya keemasan yang familiar.
TING-TONG!
[SKILL BARU TERBUKA: "HACKER INSTAN VIA LAYAR SENTUH PECAH"]
[Deskripsi: Kemampuan pasif permanen yang teraktivasi otomatis saat Driver menghadapi serangan fitnah digital yang terdokumentasi secara elektronik. Efek: Driver dapat melacak dan mengungkap jejak digital asli di balik narasi palsu, selama ada perangkat elektronik yang tersambung ke jaringan yang sama di sekitar radius 50 meter.]
[Catatan Sistem: Reynald Pratama membawa tablet pribadinya saat ini. Sistem mendeteksi riwayat pesan yang menunjukkan instruksi langsung kepada agensi buzzer bayaran untuk menyebarkan narasi fitnah tersebut.]
Arya menatap Reynald dengan mata yang tiba-tiba berbinar tajam, seolah bisa melihat sesuatu yang tidak terlihat oleh orang lain di sekitarnya. Ia melangkah maju, tanpa rasa gentar sedikit pun.
"Reynald," ujar Arya tenang, namun ada nada yang membuat seluruh kerumunan di sekitarnya terdiam. "Coba deh, tunjukkan tablet lu ke semua wartawan yang ada di sini. Kalau lu emang yakin nggak ada yang perlu ditutupi, nggak ada salahnya, kan?"
Reynald tersentak, matanya melebar sepersekian detik sebelum ia buru-buru menutupinya dengan tawa yang dipaksakan. "Ngapain juga aku harus nunjukkin barang pribadi ke kamu?"
"Karena kalau lu nggak nunjukkin," Arya melanjutkan dengan suara yang semakin tenang namun tegas, "semua orang di sini bakal makin curiga kalau ada yang lu sembunyikan. Dan kalau emang lu nggak ada hubungannya sama fitnah ini, kenapa lu buru-buru dateng ke sini pagi-pagi banget, tepat setelah berita ini viral?"
Beberapa wartawan yang tadinya sibuk mengambil gambar kini mulai mengalihkan perhatian mereka ke arah Reynald, insting jurnalistik mereka mencium adanya sesuatu yang lebih besar di balik kejadian ini.
"Benar juga," gumam salah satu wartawan senior, mulai mengarahkan mikrofonnya ke arah Reynald. "Mas, boleh tahu alasan Anda datang ke lokasi ini pagi-pagi sekali? Apa hubungan Anda dengan berita yang baru terbit ini?"
Reynald merasakan keringat dingin mulai membasahi punggungnya, menyadari bahwa situasi mulai berbalik arah dengan cepat di luar kendalinya. "I-itu... kebetulan saja aku lewat sini—"
"Kebetulan?" potong Arya, mengulang kata yang sama seperti yang pernah diucapkan Reynald padanya beberapa waktu lalu di lobi Menara Cakrawala, kali ini dengan nada yang jauh lebih menusuk. "Sama kebetulannya kayak lu yang selalu muncul setiap kali gua atau orang-orang yang gua sayang lagi diserang, Reynald?"
Ketegangan di udara semakin memuncak. Bang Jay dan Dedi, yang sejak tadi berdiri waspada, kini melangkah mendekat dengan sorot mata tajam mengunci Reynald dari kedua sisi, seolah memberi tekanan psikologis tambahan tanpa perlu kekerasan fisik sedikit pun.
Tepat pada momen krusial itu, sebuah mobil lain berhenti mendadak di ujung gang—kali ini sebuah Range Rover berwarna abu-abu satin yang sangat dikenal oleh seluruh warga Tambora. Pintunya terbuka, dan Nadia Anastasia melangkah keluar dengan kacamata hitam besarnya, diikuti oleh asisten pribadinya yang membawa laptop di tangan.
"Aku dengar ada yang mencoba menghancurkan nama baik seseorang yang penting bagi banyak orang," ujar Nadia dengan suara tegas, matanya menatap tajam ke arah Reynald begitu ia melangkah mendekat. "Kebetulan sekali, tim media saya sudah melacak sumber narasi fitnah ini sejak semalam. Dan hasilnya sangat menarik."
Asisten Nadia membuka laptopnya, menampilkan sebuah dokumen digital yang berisi jejak transaksi keuangan mencurigakan antara sebuah agensi buzzer bayaran dengan rekening pribadi yang terdaftar atas nama—Reynald Pratama.
Seluruh kerumunan wartawan langsung riuh, kamera-kamera kembali menyala, kali ini menyorot layar laptop yang dipegang asisten Nadia dengan penuh antusiasme jurnalistik.
"Ini... ini rekayasa!" Reynald berusaha membela diri, namun suaranya sudah kehilangan seluruh ketegasan yang tadi ia tunjukkan.
"Rekayasa atau bukan, biar publik yang menilai," ujar Nadia dingin, melangkah mendekati Arya dengan sorot mata yang penuh kepercayaan diri. "Aku sudah cukup lama berkecimpung di dunia media untuk tahu bedanya fakta dan fitnah, Reynald. Dan kali ini, kamu jelas-jelas berada di sisi yang salah."
Di tengah kekacauan itu, sebuah Mercedes-Benz S-Class hitam lainnya berhenti dengan anggun, dan Citra Kirana melangkah keluar dengan blazer navy blue-nya yang memancarkan wibawa korporat yang tak tertandingi.
"Reynald Pratama," suara Citra memotong tegas, membuat seluruh perhatian kembali teralihkan padanya. "Aku baru saja menerima laporan dari divisi legal perusahaanku bahwa kamu telah melakukan pencemaran nama baik secara terorganisir terhadap mitra logistik resmi Grand Indonesia Group. Kami akan mengambil langkah hukum yang tegas, dan aku memastikan seluruh jaringan bisnis keluarga Pratama akan mengetahui persis siapa yang bertanggung jawab atas skandal memalukan ini."
Reynald berdiri terpaku, dikepung oleh tatapan tajam Arya di satu sisi, tekanan sosial dari puluhan driver ojol yang solid di sisi lain, serta ancaman hukum dan reputasi dari dua wanita paling berpengaruh di Jakarta yang kini berdiri berdampingan—bukan lagi sebagai rival, melainkan sebagai sekutu yang sama-sama ingin melindungi Arya.
"Ini belum selesai," desis Reynald akhirnya, wajahnya pucat pasi sebelum bergegas masuk kembali ke dalam sedannya dan melesat pergi meninggalkan gang Tambora dengan kecepatan yang menunjukkan kepanikan yang tidak bisa ia sembunyikan lagi.
Para wartawan yang tadinya datang untuk memburu skandal kini justru sibuk menulis ulang narasi berita mereka, kali ini dengan sudut pandang yang jauh berbeda—kisah tentang solidaritas komunitas ojol, kebersamaan yang tulus, dan seorang driver yang berhasil membuktikan kejujurannya di hadapan fitnah yang keji.
Bu Aminah, yang sejak tadi berdiri di ambang pintu dengan tangan gemetar, kini menghela napas lega, matanya berkaca-kaca menyaksikan bagaimana anaknya dibela oleh begitu banyak orang—bukan karena kekayaan atau kekuasaan, melainkan karena ketulusan yang telah ia tanamkan sejak kecil.
"Arya," bisik Bu Aminah begitu kerumunan mulai membubarkan diri, menghampiri anaknya dengan mata yang masih basah. "Ibu nggak nyangka, ternyata banyak banget orang yang sayang sama kamu, Le."
Arya tersenyum lelah, memeluk pundak ibunya dengan lembut. "Arya juga nggak nyangka, Bu. Tapi Arya bersyukur banget."
God-Phone di saku Arya bergetar pelan sekali lagi, memancarkan cahaya hijau yang menenangkan.
[MISI SELESAI DENGAN HASIL SEMPURNA!]
[Serangan Reputasi Berhasil Dinetralkan Melalui Kombinasi Solidaritas Komunitas, Dukungan VIP, dan Kejujuran Driver.]
[Peringatan Sistem: Reynald Pratama diperkirakan akan melaporkan kegagalan ini kepada jaringan Faksi Segitiga Emas yang lebih besar. Sistem mendeteksi kemungkinan eskalasi konflik menuju level korporat yang jauh lebih serius dalam waktu dekat. Bersiaplah, Mitra Arya—pertempuran sesungguhnya baru saja dimulai.]
Arya menatap notifikasi itu dengan napas panjang, menyadari bahwa kemenangan hari ini hanyalah awal dari sebuah perang yang jauh lebih besar. Namun untuk saat ini, ia memilih untuk menikmati kehangatan yang mengelilinginya—pelukan ibunya, tepukan bangga Bang Jay dan Dedi di pundaknya, serta tatapan penuh kepercayaan dari Citra dan Nadia yang kini berdiri sebagai sekutu, bukan lagi sekadar rival yang memperebutkan hatinya.
Di ujung gang, motor-motor ojol mulai bubar satu per satu, kembali ke rutinitas mencari nafkah masing-masing, meninggalkan Tambora yang kembali tenang seperti sedia kala—meski semua yang hadir hari ini tahu, badai yang sesungguhnya baru saja mengintip dari balik cakrawala Jakarta, menunggu waktu yang tepat untuk kembali menerjang.