Karin mengira semuanya telah berakhir saat tubuhnya terjatuh ke dasar jurang. Namun ketika membuka mata, ia justru kembali menjadi gadis berusia dua puluh tahun dan mendapati kedua orang tuanya masih hidup.
Kesempatan kedua itu membuatnya bersumpah mengubah takdir. Ia harus menyelamatkan keluarganya dan menghindari pernikahan dengan Giorgino, pria yang kelak menghancurkan hidupnya.
Demi menggagalkan rencana perjodohan, Karin nekat mengaku telah memiliki kekasih. Masalahnya, pria itu tidak pernah ada.
Dalam kepanikannya, hanya satu nama yang terlintas di benaknya—Kai, mahasiswa berandal yang dingin, cuek, dan terkenal sebagai badboy kampus.
Namun semakin dekat dengannya, Karin menyadari bahwa kehidupan keduanya ternyata menyimpan rahasia yang jauh lebih besar daripada sekadar kesempatan hidup kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LaQuin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Riak Yang Mulai Terlihat
Bab 28
Pagi itu, kampus terasa lebih sibuk dari biasanya. Beberapa mahasiswa terlihat mondar-mandir membawa laptop dan map presentasi. Di lorong fakultas, suara diskusi terdengar dari berbagai sudut.
Hari itu adalah jadwal presentasi hasil observasi setiap kelompok.
Karin berjalan menuju ruang kelas sambil memegang flashdisk yang berisi bahan presentasi.
"Semoga lancar..." gumamnya pelan.
"Harusnya lancar."
Suara Kai terdengar dari samping.
Karin menoleh dan tersenyum.
"Pagi."
"Pagi."
Kai membawa laptopnya sendiri. Seperti biasa, wajahnya tampak tenang seolah presentasi hanyalah bagian lain dari rutinitas.
Tak lama kemudian, Raka datang sambil berlari kecil.
"Tunggu... tunggu!"
Nia yang sudah berdiri di depan kelas langsung menyipitkan mata.
"Kamu bangun kesiangan?"
"Bukan."
"Lalu?"
Raka tersenyum lebar.
"Aku beli gorengan."
Nia memijat pelipis.
"Prioritas hidupmu memang aneh."
"Perut harus didahulukan."
"Kamu presentasi atau piknik?"
Candaan mereka membuat Karin dan Kai saling berpandangan lalu tersenyum kecil.
Beberapa menit kemudian, dosen memasuki kelas.
"Selamat pagi."
"Selamat pagi, Pak."
"Baik. Hari ini kita mulai presentasi. Kelompok pertama, silakan."
Satu per satu kelompok maju.
Sekitar satu jam kemudian...
"Kelompok tiga."
Kai berdiri lebih dulu.
"Ayo."
Mereka berempat maju ke depan kelas.
Presentasi dimulai oleh Karin yang menjelaskan latar belakang observasi. Setelah itu Kai menerangkan proses kerja bengkel dan hasil pengamatan lapangan. Nia memaparkan administrasi, sedangkan Raka menjelaskan dokumentasi sambil sesekali melontarkan humor ringan yang membuat suasana kelas tetap hidup.
Bahkan dosen ikut tersenyum.
"Saudara Raka."
"Iya, Pak?"
"Untung presentasi ini bukan lomba melawak."
Seketika satu kelas tertawa.
Raka menggaruk tengkuknya.
"Siap, Pak."
"Tapi penyampaiannya bagus."
"Terima kasih, Pak."
Setelah sesi tanya jawab selesai, dosen menutup map penilaiannya.
"Kerja sama kelompok kalian cukup baik."
Keempatnya saling berpandangan.
"Data observasinya lengkap, pembagian tugasnya jelas, dan penyampaiannya juga rapi."
Beliau mengangguk puas.
"Pertahankan."
Mereka serempak mengucapkan terima kasih sebelum kembali ke tempat duduk.
Begitu duduk, Raka langsung mengembuskan napas panjang.
"Alhamdulillah..."
Nia tersenyum lebar.
"Kamu tegang juga ternyata."
"Aku takut ditanya."
"Kamu kan jawabnya ngaco."
"Makanya takut."
Karin terkekeh.
Hari itu, untuk pertama kalinya mereka merasa benar-benar menjadi sebuah tim.
-
-
-
Jam kuliah berakhir menjelang siang.
Mahasiswa mulai meninggalkan kelas.
Saat Karin sedang memasukkan laptop ke dalam tas, seseorang menghampiri mereka.
"Selamat ya."
Mereka menoleh.
Maureen berdiri sambil membawa beberapa buku.
"Presentasinya bagus."
"Terima kasih," jawab Karin ramah.
Maureen lalu menoleh kepada Kai.
"Penjelasanmu mudah dipahami."
Kai mengangguk sopan.
"Terima kasih."
"Aku jadi lebih mengerti materi observasi."
"Syukurlah."
Percakapan itu berlangsung singkat.
Namun mata Karin tanpa sadar mengikuti setiap ekspresi Maureen. Ia melihat bagaimana perempuan itu tersenyum ketika berbicara kepada Kai.
Dan anehnya, dadanya kembali terasa sesak.
Untung Raka datang menyela.
"Ayo makan!"
Nia langsung menggeleng.
"Kamu mikirnya makan terus."
"Kan sudah selesai presentasi."
"Itu bukan alasan."
"Semua keberhasilan harus dirayakan."
"Dompetmu yang bayar?"
Raka langsung terdiam.
"...Boleh patungan?"
Semua tertawa.
Maureen ikut tersenyum kecil sebelum berpamitan.
"Duluan ya."
"Hati-hati," jawab Karin.
Di kantin...
Mereka memilih meja di dekat jendela.
Raka masih sibuk bercerita tentang presentasi tadi.
"Pak dosen hampir ketawa gara-gara aku."
"Hampir?" sahut Nia.
"Iya."
"Menurutku beliau nahan sabar."
"Kejam."
Kai hanya menikmati makan siangnya sambil sesekali mendengarkan perdebatan mereka.
Di sela-sela obrolan, Karin tanpa sadar melirik Kai. Pria itu tetap seperti biasanya. Tenang. Sederhana. Tidak banyak bicara.
Namun entah sejak kapan, kehadiran Kai membuat suasana makan siang terasa berbeda.
-
-
-
Sore harinya...
Kai berpamitan lebih dulu karena harus bekerja.
"Aku duluan."
"Hati-hati," ucap Karin.
"Iya."
Kai berjalan meninggalkan kantin. Tanpa sadar, pandangan Karin mengikuti langkahnya hingga menghilang di balik gedung.
"Hei."
Suara Nia membuyarkan lamunannya.
"Kamu lihat apa?"
"Nggak lihat apa-apa."
"Yakin?"
"Iya."
Nia hanya tersenyum kecil. Ia tidak melanjutkan pertanyaannya. Namun dalam hati, ia mulai menyadari sesuatu. Belakangan ini, tatapan Karin kepada Kai semakin sering.
Dan setiap kali Kai pergi, Karin selalu memperhatikannya hingga benar-benar menghilang.
Di sisi lain kampus...
Maureen berdiri sendirian di koridor lantai dua. Dari kejauhan ia sempat melihat Karin memandangi Kai yang berjalan menuju gerbang.
Perlahan, senyum di wajahnya memudar. Ia menundukkan kepala.
"Ternyata..." gumamnya lirih. "Kamu memang benar-benar menyukainya."
Kalimat itu bukan ditujukan kepada Kai. Melainkan kepada Karin.
Namun anehnya, bukannya mundur, hati Maureen justru semakin terusik. Ia menggenggam buku di dadanya sedikit lebih erat.
"Kalau begitu..." tatapannya perlahan berubah tegas. "...aku juga tidak akan menyerah."
Untuk pertama kalinya, tekad itu muncul bukan karena permintaan Gio. Melainkan karena keinginannya sendiri.
Sementara di tempat lain, Gio masih percaya bahwa semua berjalan sesuai rencananya. Ia sama sekali belum menyadari, bahwa bidak yang ia gerakkan perlahan mulai memiliki tujuan sendiri.
-
-
-
Bersambung...