Mengisahkan tentang seorang kakak yang memendam perasaannya terhadap adiknya.
Seorang Ma Jiaqi pemuda pendiam, yang menyimpan rasa cintanya terhadap sang adik selama lebih dari sepuluh tahun. Perasaan itu seakan terus tumbuh seiring berjalannya waktu yang selama itu juga menyebabkan dirinya harus melewati rasa sakit yang Ia pendam.
"Apa benar bahwa kakak menyukaiku?"
"Maafkan kakak."
"JAWAB PERTANYAANKU!" Teriak Wati saat mengetahui semua fakta.
Sehingga ... pada suatu hari sang adik mengetahui tentang perasaannya. Jawaban apa yang akan sang kakak berikan? Apakah Jiaqi akan memberitahu tentang perasaannya? Atau bahkan sebaliknya?
Juga beberapa dari sahabatnya yang mengalami permasalahan CINTA yang mereka lalui.
"Pergilah dari hadapanku! Aku tak butuh kau berada di kehidupanku."
"Dewi sebegitu benci kah kamu terhadapku?"
"Ben j-jangan terlalu kasar! Ini sa-sakit."
"M-maaf aku terbawa suasana."
Penasaran? Yuk ikuti terus cerita ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wati Charoline H., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sera & Wati.
Kriiiing...
Bunyi bell sekolah telah berbunyi menandakan bahwa kelas akan segera di mulai. Wati dan Sera bergelayut dengan buku-buku mereka, berfokus akan bacaan yang mereka nikmati dengan semangat. Hingga guru pun datang. "Selamat pagi anak-anak."
"Selamat pagi pak," ucap mereka serempak.
Wati dan Sera menutup buku yang mereka baca untuk melanjutkan pelajaran yang akan diadakan oleh pak gurunya.
"Baiklah, sekarang buka buku matematika kalian di halaman dua delapan," ucap guru Andre yang memulai pelajaran. Terdengar seruan tidak suka dari beberapa anak-anak di kelas itu.
"Ah, bapak kenapa harus matematika sih."
"Iya nih pak, kok pelajaran itu."
"Bikin males deh ah."
Dan berbagai seruan lainnya yang mereka lontarkan kepada gurunya. "Sudah! Sudah! Jangan banyak membantah, cepat kerjakan saja!!"
Wati dan Sera hanya menggeleng kepala pelan saat melihat kelakuan para siswa di kelasnya. "Aneh-aneh saja," gumam Sera.
Beberapa saat kemudian, bell pun berbunyi. Para siswa berhamburan keluar untuk menuju kerumah masing-masing karena lelahnya mata pelajaran yang menguras pikiran.
"Sera... kau langsung pulang kan?" ucap Wati saat membereskan buku-bukunya.
Sera mengangguk. "Iya wat, kenapa emang ....?"
"Aku boleh ikut?"
Sera menoleh ke arah Wati. "Tumben-tumbenan kamu mau ikut, ada apa?" tanya Sera pada Wati.
"Tidak apa-apa, aku hanya ingin minta izin untuk menginap di rumahku satu Minggu,' jawab Wati yang sudah selesai dengan tasnya.
Sera menghentikan aktivitasnya yang sedang membereskan buku-buku itu dengan mata yang membulat. "Loh, ada Wat kok tiba-tiba? Enggak deh!! Enggak!!"
"Sera ... aku mohon tolong turuti kemauanku kali ini ya! Aku ingin kamu bahagia aja," Wati memegang bahu sahabatnya dengan pelan.
Sera yang masih dalam kebingungannya hanya mengangguk pasrah. "Ok-oke, aku ikut apa kata kamu saja."
Wati tersenyum mendengar ucapan Sera. "Yaudah yuk kita ke rumahmu sekarang!"
Wati menyeret Sera keluar dari kelasnya. Sera sendiri hanya diam mengikuti langkah Wati, sambil melirik ke arah Dimas yang hanya tercengang. Wati bahkan melupakan sahabatnya itu.
"Kok aku di tinggal sendirian sih? Wat, Ser tunggu dong!" ucap Dimas yang tertinggal jauh oleh sahabatnya.
***
"Aku pulang," ucap Sera saat telah tiba di rumahnya. Sera pun mempersilahkan Wati untuk masuk.
"Eh, nak Wati ...," sahut Mariska ibu Sera yang tengah duduk menonton acara TV di ruang tamu.
"Selamat sore Tante," ucap Wati memberi salam saat ibu Sera menghampirinya.
Ibu Sera mengangguk dan tersenyum. "Sudah lama kamu tidak kemari, Tante sampai kangen loh sama nak Wati."
"Hem...," Wati tersenyum, "Iya Tante maaf saya tidak sempat datang kemari karena tugas sekolah."
"Iya tidak apa-apa. Justru itu bagus karena tugas sekolah lebih penting, ya sudah! duduk dulu yuk!" ujar ibu Sera mempersilahkan Wati untuk duduk di sebelahnya. "Sera... kamu ganti baju dulu sana! selepas itu buatkan Wati minum," imbuhnya lagi.
"Tidak perlu repot-repot Tante," ucap Wati.
"Ah, tidak kok kan cuma minuman. Lagipula tamu itu harus di suguhkan sesuatu bukan cuma di ajak ngobrol saja," balas ibu Sera.
Beberapa menit kemudian Sera datang membawa segelas air putih ke ruang tengah. "Minum dulu Wat. Maaf adanya cuma air putih saja."
Wati menggeleng cepat. "Tidak apa-apa kok, lagian siapa juga yang minta jus comberan Ser," sahut Wati yang mendapat kekehan dari Sera dan juga Mariska.
"Emm, tante... saya datang kesini berniat ingin meminta izin kepada Tante," tutur Wati dengan nada pelan ke arah ibu Sera.
"Izin untuk apa nak Wati ...?" tanya ibu Sera.
Wati melirik ke arah Sera yang juga menatapnya. "Boleh tidak jika Sera menginap di rumah saya satu minggu Tante, karena kita ada tugas yang harus di selesaikan hari itu juga," ucap Wati bohong yang mendapat pelototan Sera.
Bersambung...
Jangan lupa untuk tinggalkan like, komen dan rate kalian ya. Agar aku bisa lebih bersemangat lagi dalam membuat cerita ini, Terimakasih.
Mohon maaf, ijin promo ya thor. Ada suka cerita perang epik dng MC yg punya bnyk pasukan..mampir yuk di novel sy " penguasa dua benua" moga suka..
semangat semoga dengan sedikit kritikan bisa memotivasi penulis untuk menjadikan karya yg lebih baik.. aminn
1. akhirnya wati tau klo jiaqi bukan kakak kandungnya.
2. sera sama tony akhirnya pisah.
3. dewi meninggoy, cowoknya jadi sad boy.
4. menik mencoba menerima ben.
5. whidie nikah sama cowoknya.
btw berarti yg happy ending cma si whidie dong yg lainnya sad ending and open ending 😭😖
paling menarik peehatian kata2 patkay coklat, masa upil disamakan sm cinta 🤣🤣🤣