Lahir tanpa sihir (Nirmala) di dunia yang memuja kekuatan membuat Askara dibenci oleh ayahnya sendiri. Namun, sebuah rahasia besar terungkap: Askara tidak kosong, ia adalah "pemangsa sihir" yang mampu menyerap, menggabungkan, dan memantulkan kembali setiap serangan musuh. Berbekal kemampuan unik ini dan stamina fisik yang terlatih, Askara memulai perjalanan jauh demi membuktikan bahwa seorang tanpa sihir pun mampu mengguncang dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Markario Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1: Wadah yang Kosong
...HALO SAHABAT SEMUA KALAU BACA NOVEL AKU INI JANGAN LUPA LIKE YA GUYS, COMENT JUGA GUYS,BANTU AKU YA GUYS SUPAYA NOVEL INI BISA TERPILIH DALAM 80 BAB TERBAIK,CARANYA DENGAN LIKE DAN JANGAN LUPA VOTE. TERIMAKASIH...
...SELAMAT MEMBACA♥️♥️♥️...
"Berdiri, Askara! Jangan jadi pengecut!"
Suara itu menggelegar, menggetarkan dinding-dinding kayu rumah mereka yang tua. Bara api kecil beterbangan di udara, keluar dari sela-sela jemari tangan pria paruh baya yang berdiri dengan napas memburu. Bram, ayah Askara, menatap putranya dengan tatapan yang lebih panas daripada sihir api yang dikuasainya. Tatapan penuh kebencian.
Askara terbatuk, mencoba bangkit dari lantai tanah. Sudut bibirnya berdarah, bukan karena pukulan fisik, melainkan karena hawa panas yang dipancarkan ayahnya sejak satu jam lalu telah menguras oksigen di dalam ruangan. Di usianya yang kini beranjak remaja, tubuh Askara memang jauh lebih tegap dan terlatih karena setiap hari dipaksa melakukan pekerjaan fisik yang berat, namun di hadapan seorang penyihir api, dia tetaplah dianggap seonggok daging tak berguna.
"Setiap kali aku melihat wajahmu, aku hanya melihat kesialan!" Bram melangkah maju, tangannya mulai diselimuti kobaran api merah keunguan. "Ibumu... seorang penyihir hebat dari keluarga terhormat, harus mati hanya untuk melahirkan anak cacat sepertimu! Tujuh belas tahun aku menahan malu di desa ini, Askara. Tujuh belas tahun orang-orang berbisik di belakangku bahwa keturunan keluarga Barata melahirkan seorang Nirmala—manusia tanpa sihir!"
Askara mengepalkan tinjunya erat-erat hingga kukunya memutih. Dia tidak menjawab. Percuma. Sejak bisa mengingat, dialog di antara mereka selalu searah. Ayahnya mengutuk, dan dia menerima.
"Kenapa diam?! Jawab aku!" bentak Bram lagi, wajahnya memerah. "Hari ini adalah ujian seleksi akademi desa. Dan kau bahkan tidak bisa menyalakan sepercik api pun di batu ujian! Kau sengaja ingin mempermalukan aku, hah?!"
"Aku tidak bisa mengeluarkan apa yang memang tidak ada di dalam tubuhku, Ayah," jawab Askara, suaranya parau namun terdengar sangat tenang. Ketenangan yang justru semakin menyulut kemarahan Bram.
"Jangan panggil aku Ayah! Aku tidak punya anak selemahmu!"
Bram kehilangan kendali. Amarah yang dipendamnya belasan tahun memuncak. Dia menghentakkan kakinya, dan dalam sekejap, tiga bola api sebesar kepalan tangan terbentuk di udara, melayang di sekeliling tubuhnya. Udara di dalam rumah seketika menjadi sangat kering dan menyesakkan.
"Kalau saja ibumu tidak mengorbankan nyawanya untukmu..."
Bram mengarahkan telapak tangannya tepat ke dada Askara.
"Mati kau!"
Wusss!
Tiga bola api itu melesat cepat, membelah udara dengan suara menderu yang mengerikan.
Askara tidak bisa menghindar. Kecepatan sihir itu terlalu tinggi untuk fisik manusianya. Dia secara refleks mengangkat kedua tangannya ke depan dada, memejamkan mata, dan bersiap merasakan kulitnya yang akan melepuh terbakar. Apakah ini akhirnya? pikirnya pasrah.
Namun, rasa sakit itu tidak pernah datang.
Syuuuut—!
Suara benturan api yang membakar justru berubah menjadi suara desingan aneh, seolah-olah api-api itu tersedot masuk ke dalam sebuah lubang hampa.
Askara membuka matanya perlahan. Dia tertegun. Tiga bola api milik ayahnya tidak membakarnya. Aliran energi panas itu justru mengalir masuk melalui telapak tangannya, menembus kulit, menjalar lewat pembuluh darah, dan berkumpul di dalam dadanya.
Untuk pertama kalinya dalam hidup, Askara merasakan sesuatu yang luar biasa di dalam tubuhnya yang selama ini dianggap "kosong". Itu adalah energi. Energi sihir api milik ayahnya. Namun, rasanya tidak panas. Di dalam tubuh Askara, energi itu terasa jinak, patuh, dan menunggu perintah.
Napas Askara mendadak menjadi sangat memburu.
Jantungnya berdegup dua kali lebih cepat. Stamina fisiknya terkuras drastis dalam hitungan detik, seolah-olah dia baru saja berlari maraton sejauh belasan kilometer. Lututnya gemetar menahan beban energi asing tersebut.
Di seberang ruangan, Bram mematung. Matanya membelalak lebar, menatap kedua telapak tangan Askara yang kini memancarkan pendaran cahaya merah redup.
"A-apa... apa yang kau lakukan?!" suara Bram bergetar, campur aduk antara syok dan tidak percaya. "Sihirku... ke mana sihirku?!"
Askara menatap tangannya sendiri. Dia bisa merasakan bahwa tiga bola api yang diserapnya tadi kehilangan sebagian besar kekuatannya saat masuk ke dalam tubuhnya. Jika dia melepaskannya sekarang satu per satu, kekuatannya hanya akan seperti percikan api pemantik instan yang lemah.
Namun, ada sebuah insting purba yang mendadak bangkit di kepala Askara. Gabungkan. Sebuah bisikan tanpa suara menyuruhnya untuk menyatukan ketiga energi yang terpecah itu di dalam dadanya.
Askara memejamkan mata, fokus pada rasa lelah yang menghimpit staminanya. Dia memeras sisa-sisa tenaga fisiknya, memaksa ketiga aliran sihir lemah di dalam dirinya untuk saling berbenturan, melebur, dan memadat menjadi satu kesatuan yang utuh.
Glek. Askara menelan ludah. Keringat dingin bercucuran di pelipisnya. Teknik penggabungan ini benar-benar menguras staminanya secara brutal, tapi hasilnya instan. Energi di dalam dadanya berlipat ganda, menjadi jauh lebih padat dan berbahaya daripada tiga bola api asli milik ayahnya.
Askara kembali menatap ayahnya. Kali ini, tidak ada lagi ketakutan di mata pemuda itu.
"Kau bilang aku sial karena lahir tanpa sihir, bukan?" Askara mengangkat sebelah tangannya, mengarahkan telapak tangannya ganti mengunci posisi ayahnya.
"Kau..." Bram mundur satu langkah, insting bertarungnya mendadak berteriak bahaya saat melihat pusaran udara di sekitar Askara mulai memanas ekstrem.
"Sihirmu... aku kembalikan!"
BLAAAM!
Satu gelombang api raksasa berbentuk raungan naga melesat keluar dari telapak tangan Askara. Itu bukan lagi sekadar bola api biasa, melainkan hasil penggabungan murni yang tekanannya membuat lantai tanah di bawah kaki Askara retak dan hangus terbakar.
Bram yang terkejut setengah mati secara refleks memunculkan perisai api untuk menahan serangan itu. Namun, daya hancur dari api yang sudah digabungkan Askara terlalu masif.
BOOM!
Perisai Bram hancur berantakan. Tubuh pria paruh baya itu terpental ke belakang, menghantam lemari kayu hingga hancur dan jatuh terduduk di sudut ruangan. Pakaiannya koyak dan dipenuhi bercak hangus.
Hening mencekam seketika melingkupi rumah itu. Yang terdengar hanyalah suara kayu yang terbakar perlahan dan deru napas Askara yang terengah-engah.
Askara jatuh bertumpu pada satu lututnya. Tubuhnya luar biasa lelah, otot-ototnya terasa lemas seperti jeli akibat staminanya yang terkuras habis untuk melakukan penggabungan tadi. Namun, dia tersenyum tipis. Ditatapnya sang ayah yang kini menatapnya balik dengan wajah pucat pasi dan dipenuhi rasa takjub sekaligus ketakutan yang mendalam.
Hari itu, di dalam rumah tua yang pengap, sang Nirmala telah tiada. Yang tersisa hanyalah Askara—sang pemangsa sihir.