"Hentikan, Jose!"
"Kau akan menyesal!" ucap Eva merintih kesakitan.
Jose tak menggubrisnya sama sekali. Bahkan ia dengan tega meminta pengawalnya untuk memukul Eva lebih keras.
"Jangan bersandiwara, Eva. Kau telah menyakiti Luna."
Mata Eva membelalak, Eva tak menyangka disaat seperti ini suaminya masih membela gadis yang telah memfitnahnya.
"Kau salah, Jose. Aku tak pernah menyentuh Luna. Apa lagi menyakitinya," balas Eva.
"Cukup, Eva! Berhenti berpura-pura. Luna adalah korban. Jangan mencoba menyangkalnya," ucap Jose dingin.
"Baiklah, Jose. Aku menerima apapun. Tak aku tidak akan pernah memaafkan mu jika sesuatu terjadi padaku dan..."
"Pukul dia lebih keras!" potong Jose, seakan tak ingin lagi mendengar sepatah kata pun dari Eva.
Plak Plak Plak
"Hentikan...Aku mohon padamu," rintih Eva lagi, namun kini suaranya lirih dan sudah kehabisan tenaga.
Bulir bening mengalir begitu saja dari pipinya. Eva memegang erat perutnya merasakan sakit di dalam sana. Hingga ia menatap bawa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irh Djuanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Butuh transfusi
Beberapa menit kemudian...
Ruang tindakan darurat di penthouse itu berubah menjadi begitu sibuk. Lampu operasi dinyalakan.
Peralatan bedah tersusun rapi di atas meja stainless steel.Dokter mengenakan sarung tangan steril, sementara dua perawat sibuk menyiapkan kantong transfusi.
"Tekanan darah pasien terus menurun, Dok."
"Mulai transfusi sekarang."
"Iya, Dok."
Jarum infus perlahan dipasang pada lengan Eva.
Di sisi lain, selang transfusi mulai mengalirkan darah menuju tubuh Jose.Eva memejamkan mata sejenak saat merasakan darahnya mulai mengalir keluar.Ia tidak mengeluh sedikit pun.Tatapannya tetap tertuju ke arah Jose yang terbaring tak sadarkan diri.
Beberapa menit berlalu.
Warna wajah Jose yang semula pucat perlahan mulai membaik.Dokter mengamati monitor.
"Tekanan darah mulai naik."
"Bagus."
Ia mengembuskan napas lega.
"Teruskan."
Eva menatap monitor itu tanpa berkedip.Di dalam hatinya berkecamuk begitu banyak perasaan.
Pria yang berada di balik pintu ruang operasi itu...
Adalah orang yang pernah menghancurkan hidupnya.
Namun...
Pria yang sama juga rela menjadikan tubuhnya tameng demi menyelamatkannya.Konflik itu membuat dadanya kembali terasa sesak.Tak lama kemudian, kantong darah yang diambil dari Eva telah memenuhi jumlah yang dibutuhkan.Perawat segera mencabut jarum infus.
"Nyonya, sudah cukup."
Eva mengangguk pelan.
Namun ketika hendak berdiri...Tubuhnya sedikit limbung.
"Pelan-pelan, Nyonya," ujar perawat sambil menopangnya.
"Aku tidak apa-apa."
Dokter menoleh.
"Perawat, antarkan Nyonya Eva beristirahat."
Eva langsung menggeleng.
"Tidak."
Dokter mengernyit.
"Operasi akan berlangsung cukup lama."
"Aku akan menunggu."
"Tapi kondisi Anda..."
"Aku akan tetap di sini."
Nada suara Eva lembut, tetapi tegas.Dokter akhirnya mengangguk.
"Baiklah."
Ia lalu memandang Jose yang sudah dibius.
"Kita mulai."
Pintu ruang operasi perlahan ditutup.
BRAK...
Lampu merah bertuliskan OPERASI BERLANGSUNG menyala.Erick berdiri tegak di depan pintu dengan kedua tangan saling menggenggam.Setiap beberapa detik ia melirik jam di pergelangan tangannya.Sementara Eva duduk di kursi ruang tunggu.
Tatapannya kosong.Ingatannya terus berputar pada semua kejadian yang telah dialaminya.
Mulai dari kehilangan anaknya...
Hingga saat Jose melindunginya dari peluru.
Air mata kembali menetes tanpa suara.
Di sisi lain pintu...
Dokter mengambil napas panjang.
"Pisau bedah."
Perawat segera menyerahkannya.
"Mulai sayatan."
Monitor jantung kembali berbunyi stabil.
BIP... BIP... BIP...
Dokter bekerja dengan sangat hati-hati.
"Pengisap."
"Ya, Dok."
"Darah masih cukup."
Beberapa menit berlalu.Keringat mulai membasahi dahi dokter.
"Pelurunya terlihat."
Semua orang menahan napas.
"Penjepit."
Dokter menjepit ujung peluru yang tertanam di dekat bahu Jose.
"Sedikit lagi..."
Ruangan menjadi sangat sunyi.
CLINK...
Butiran logam itu akhirnya berhasil dikeluarkan dan jatuh ke dalam wadah stainless.Dokter mengembuskan napas panjang.
"Peluru berhasil dikeluarkan."
Belum sempat semua orang merasa lega...Monitor jantung mendadak berbunyi lebih cepat.
BIP! BIP! BIP!
"Dok! Tekanan darah turun lagi!"
Dokter langsung menoleh.
"Apa?!"
Perawat melihat layar monitor dengan wajah pucat.
"Terjadi perdarahan di bagian dalam!"
"Dok! Terjadi perdarahan!"
Dokter yang baru saja meletakkan peluru itu langsung berbalik.
"Aspirator! Cepat!"
"Ya, Dok!"
Perawat segera menyedot darah yang mulai memenuhi area operasi.
Dokter mengamati dengan saksama.
"Sumbernya di mana..."
Beberapa detik terasa begitu panjang.
Lalu matanya membelalak.
"Pembuluh darahnya robek!"
"Penjepit pembuluh!"
Perawat langsung menyerahkan alat yang diminta.
Dokter menjepit pembuluh darah yang bocor, tetapi darah masih terus merembes keluar.
"Tambahkan transfusi!"
"Kantong darah pertama hampir habis, Dok."
"Pasang kantong kedua!"
"Iya!"
Monitor jantung kembali berbunyi.
BIP... BIP... BIP...
Angkanya terus berubah.
Tekanan darah Jose masih belum stabil.
Dokter menggertakkan gigi.
"Benang jahit vaskular!"
Dengan tangan yang tetap tenang meski keringat membasahi dahinya, ia mulai menjahit pembuluh darah yang robek.
Satu jahitan...
Dua jahitan...
Tiga jahitan...
Semua orang di dalam ruangan menahan napas.
Beberapa detik kemudian...
Perdarahan mulai berkurang.
"Dok... tekanan darahnya mulai naik."
Dokter tidak langsung menjawab. Ia memastikan tidak ada lagi kebocoran.
"Sedot lagi."
"Sudah bersih, Dok."
Ia mengamati luka operasi untuk terakhir kalinya.
"Tidak ada perdarahan aktif."
Seluruh tim operasi mengembuskan napas lega.
"Syukurlah..."
Dokter masih belum lengah.
"Kita belum selesai. Tutup luka operasinya."
"Baik, Dok."
Sementara itu...
Di luar ruang operasi.
Eva duduk memeluk kedua lututnya. Sejak tadi matanya tidak pernah lepas dari lampu merah bertuliskan OPERASI BERLANGSUNG.
Erick berdiri beberapa langkah darinya.
Tak ada satu kata pun yang terucap.
Waktu terasa berjalan sangat lambat.
Satu jam...
Dua jam...
Hingga akhirnya...
Lampu merah itu padam.
Klik...
Pintu ruang operasi terbuka perlahan.
Dokter keluar lebih dulu. Maskernya dilepas, memperlihatkan wajah yang dipenuhi kelelahan.
Eva langsung berdiri.
"Dokter..." Suaranya bergetar.
"Bagaimana keadaannya?"
Dokter terdiam beberapa saat, membuat jantung Eva dan Erick seakan berhenti berdetak.
Lalu...
Sudut bibir dokter terangkat membentuk senyum tipis.
"Operasinya berhasil."
Erick langsung menutup wajahnya dengan kedua tangan.
"Syukur..."
Eva memejamkan mata. Air mata mengalir tanpa mampu ia tahan.
Dokter melanjutkan,
"Pelurunya sudah berhasil kami keluarkan.
Perdarahan juga sudah dapat dihentikan."
"Tapi..."
Senyum di wajah mereka perlahan memudar.
"Kondisinya masih kritis."
Eva kembali menatap dokter.
"Apa maksud Dokter?"
"Empat puluh delapan jam ke depan akan menjadi masa yang paling menentukan. Kalau tubuhnya mampu melewati masa kritis itu..."Dokter menarik napas panjang.
"...peluangnya untuk pulih sangat besar. Namun jika tidak..."
Kalimat itu menggantung.
Tak seorang pun sanggup melanjutkannya.
Dokter menatap Eva dengan lembut.
"Sekarang semuanya bergantung pada kekuatan tubuhnya."
Tak lama kemudian, Jose didorong keluar dari ruang operasi.
Wajahnya masih pucat.
Selang infus dan monitor jantung masih terpasang di tubuhnya.Eva memandangnya dalam diam.
Tanpa sadar, jemarinya perlahan terulur.
Namun tepat sebelum menyentuh tangan Jose...
Ia menghentikan gerakannya sendiri.
Tangannya kembali ditarik perlahan.
Ia hanya berbisik sangat lirih hingga nyaris tak terdengar.
"Jangan mati... Aku belum selesai membencimu..."
belajar sono dari Ragna yg punya bapak setengah sinting setengah waras sana.
jadi anak mafia kok bulol plus obses payah sih🤣
pak Escobar juga terlalu manjain sih. didik tuh anakmu dgn benar. bukan dukung jadi pelakor.
atau ada yg sengaja buat wajahnya semirip mungkin?
tapi, kau nggak tau, selingkuhan mu itu dekat dengan musuhmu
semangat.
jangan lupa mampir di karya aku..
udah nyiksa malah ngatain cinta.
dulu kemana, Jose?
mau ketemu sama tokoh aku nggak?
btw, Eva. kalau kau sudah dengar pengakuan Jose, jgn ampuni dia, ya.
padahal udah jadi mafia selama beberapa tahun loh.
pasti pengalamannya banyak dan udah bertemu banyak orang.
mudah banget dikibulin
nggak kayak bosmu