NovelToon NovelToon
Sang Warok

Sang Warok

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Fantasi / Action
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Bang Jigur

Ayah dan ibunya dibunuh didepan mata dan kepalamya. tapi justru sang pembunuhlah yang akan menjadi guru nya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20

Sejak hari yang melelahkan itu, halaman belakang gubuk bambu berubah menjadi sebuah arena latihan yang ganjil sekaligus menyiksa.

Lorong bambu buatan Sang Warok kian hari kian memanjang. Jumlah batangnya terus ditambah hingga jarak antarcelah menyempit secara ekstrem. Beberapa batang sengaja digantung bebas menggunakan tali rotan tipis, membuatnya mudah bergoyang liar bahkan hanya karena embusan angin yang halus.

Sementara itu, di kedua pergelangan tangan Jangkrik, sepasang Gelang Baja Wulung masih melingkar kokoh—bobotnya seakan tak pernah berkurang barang se-ons pun.

Pada hari pertama latihan baru itu, Jangkrik harus pasrah menerima lebih dari seratus sabetan pecut Samandiman. Hari kedua, jumlahnya menyusut menjadi delapan puluh tiga sabetan. Hari kelima, turun lagi hingga empat puluh sabetan.

Hingga seminggu berlalu, Sang Warok hanya perlu mengayunkan cambuknya sebanyak dua belas kali.

Namun, penurunan angka itu tidak lantas membuat Jangkrik merasa dirinya bertambah sakti. Sebaliknya, proses melelahkan ini justru mulai membuka matanya tentang betapa buruk, kaku, dan kasarnya cara ia bergerak selama bertahun-tahun ini.

Suatu pagi, ketika sisa-sisa embun masih menggantung bening di pucuk ilalang, Jangkrik kembali berdiri di mulut lorong bambu. Ia menarik napas perlahan, membuang segala beban di kepalanya.

Ia tidak terburu-buru. Ia tidak lagi memikirkan ujung lorong sebagai tujuan. Fokusnya kini hanya satu: menyatu dan memperhatikan dengan saksama ritme gerakan setiap batang bambu yang sedang diayunkan angin pagi.

Dedaunan saling bergesekan, batang-batang bergoyang lembut, dan angin berputar konstan. Jangkrik pun mulai melangkah, ikut mengalir bersama alam.

Selangkah. Ia memutar bahunya tipis.

Langkah kedua. Ia merendahkan pinggangnya secara luwes.

Langkah ketiga. Ia mengangkat kaki tanpa menimbulkan riak udara.

Tubuhnya meliuk melewati celah-celah sempit yang mustahil tanpa menyenggol satu pun batang bambu.

Pletar!

Suara itu tidak terdengar. Sang Warok masih berdiri diam mematung, pecutnya tak bergerak.

Jangkrik terus melanjutkan pergerakannya. Satu langkah lagi, dua langkah, sepuluh langkah, lima belas langkah... hingga akhirnya, dengan satu sentakan halus, ia berhasil keluar dari ujung lorong.

Bersih. Tanpa ada satu pun bilur sabetan baru di tubuhnya.

Jangkrik membalikkan badan, dadanya naik-turun teratur saat menoleh ke belakang. Di ujung sana, Sang Warok tampak tersenyum tipis—sebuah pemandangan yang teramat langka.

"Bagus. Itu keberhasilan pertamamu."

Jangkrik menyeka bulir peluh di dahinya dengan lengan baju. "Berarti latihan di lorong ini sudah selesai?"

Senyum di wajah Sang Warok seketika lenyap, digantikan oleh kilat jenaka yang berbahaya. "Itu baru permulaan dari neraka yang sesungguhnya."

Senyum lega Jangkrik pun ikut menguap.

Sang Warok membungkuk, memungut tiga buah batu kali sebesar kepalan tangan dari atas tanah. "Masuk dan berdiri di sana lagi."

Jangkrik menelan ludah, namun tetap melangkah kembali ke tengah-tengah kepungan lorong bambu.

Tanpa peringatan, Sang Warok melontarkan batu pertama. Wus! Batu itu meluncur deras mengincar kepalanya. Jangkrik dengan sigap memiringkan tubuhnya ke samping. Batu kali itu melintas, hanya berjarak beberapa jari dari daun telinganya.

Namun, belum sempat ia menarik napas lega, batu kedua sudah menyusul cepat, memotong dari arah pinggang.

Buk!

Batu itu menghantam keras pahanya. Jangkrik meringis kesakitan. Belum pulih keseimbangannya, batu ketiga langsung menerjang tanpa ampun.

Duk!

Hantaman keras mendarat di bahunya. Sentakan itu membuat tubuh Jangkrik terlempar ke samping hingga menyenggol dua batang bambu sekaligus. Lorong bambu itu bergoyang hebat.

Pletar! Pletar!

Dua ledakan cambuk Samandiman langsung menyambar punggungnya secepat kilat.

"Agh!" Jangkrik menggigit bibir bawahnya erat-erat hingga berdarah, mencoba menahan erangan yang hendak lolos.

Sang Warok sudah menimang batu berikutnya di tangan. "Jangan hanya mengandalkan matamu untuk melihat batu-batu ini! Rasakan kehadirannya! Di medan pertempuran, lawan tidak akan pernah sudi menunggu sampai kau siap!"

Selama hampir dua jam penuh, halaman belakang gubuk itu menjadi saksi bisu latihan yang brutal. Batu-batu terus beterbangan dari berbagai arah, cambuk Samandiman terus menyalak membelah udara, dan lorong bambu bergoyang tanpa henti seolah hendak runtuh. Tubuh Jangkrik kini kembali dipenuhi oleh memar-memar kebiruan yang baru.

Menjelang siang hari, Sang Warok akhirnya menurunkan pecutnya, menandakan latihan berakhir.

Jangkrik seketika langsung ambruk, terduduk lemas di atas tanah yang berdebu. Napasnya memburu hebat, dadanya kembang-kempis maraton.

Sang Warok melangkah mendekat, lalu duduk bersila di hadapan muridnya. "Jangkrik."

"Apa?" jawab Jangkrik dengan sisa tenaganya.

"Di dunia persilatan, ada tiga tingkatan indra bagi seorang pendekar," ucap Sang Warok serius.

Jangkrik terdiam, memasang telinganya baik-baik.

"Tahap pertama adalah melihat. Tahap kedua adalah merasakan. Dan tahap ketiga..." Sang Warok mengulurkan telunjuknya, mengetuk pelan dada kiri Jangkrik, tepat di posisi jantungnya. "...adalah mengetahui*l."

Jangkrik mengernyitkan dahi, menahan rasa nyeri di dadanya. "Apa bedanya antara merasakan dan mengetahui?"

Sebagai jawaban, Sang Warok menjepit selembar daun kering dengan dua jarinya, lalu melepaskannya dari ketinggian. Daun itu melayang-layang perlahan, terombang-ambing oleh angin siang.

"Saat daun ini jatuh, mataku tidak lagi sekadar melihat bentuknya. Kulitku juga tidak perlu repot-repot merasakan embusan angin yang membawanya. Tetapi seluruh instingku sudah tahu pasti, di titik mana dan kapan daun ini akan menyentuh permukaan tanah."

Jangkrik terkesiap, matanya terpaku memandangi daun kering itu hingga benar-benar mendarat sempurna di atas tanah. Tepat di titik yang sebelumnya ditunjuk oleh lirikan mata gurunya.

"Kalau kau sudah berhasil mencapai tahapan mengetahui," lanjut Sang Warok dengan suara berat, "kau tidak akan lagi bergerak karena merespons atau bereaksi pada serangan lawan. Kau... mendahului mereka."

Kata itu seketika terpatri kuat dan terus bergema di dalam kepala Jangkrik.

Mendahului.

Bukan menunggu serangan tiba. Bukan pula sekadar membalas hantaman. Melainkan bergerak dan mengeksekusi, sesaat sebelum lawan sempat menyelesaikan niat di dalam pikiran mereka.

Sang Warok bangkit berdiri, menepuk celananya yang kotor. "Bersiaplah. Besok subuh kita akan turun gunung lagi."

Jangkrik ikut memaksakan tubuhnya yang remuk untuk berdiri tegak. "Ke pasar bawah gunung?"

"Bukan."

"Lalu ke mana?"

Sang Warok mengalihkan pandangannya jauh ke arah barat—menatap hamparan hutan tua yang lebat dan gelap, sebuah wilayah tak tersentuh yang belum pernah mereka datangi selama ini. "Ke tempat yang jauh lebih berbahaya dari tempat ini."

Jangkrik meraba gagang golok pendek yang terselip di pinggangnya, merasakan insting pemburunya terusik. "Apakah kita akan menghadapi manusia?"

Sang Warok menggeleng pelan. "Bukan."

"Lalu?"

Pria berjanggut itu tidak langsung menjawab. Ia hanya meninggalkan satu kalimat penutup yang dingin sebelum melangkah masuk ke dalam gubuk bambu.

"Serigala hutan berburu dengan mengandalkan ketajaman taringnya. Harimau berburu dengan memamerkan keagungan cakarnya. Dan besok... kau akan belajar bagaimana cara menghadapi makhluk yang berburu murni dengan kecerdikan."

Jangkrik berdiri mematung, menatap lurus ke arah hutan purba di kejauhan yang mulai ditelan bayang-bayang malam.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!