Sejak kecil, Josh memiliki teman yang tak bisa dilihat siapa pun. Tiga belas tahun kemudian, teman itu kembali. Bersama Veron, Brandon, dan Gibran, ia mengungkap misteri yang telah terkubur selama puluhan tahun. Namun semakin dekat pada kebenaran, semakin dekat pula mereka pada kematian. Karena... tidak semua teman yang tak terlihat datang dengan niat baik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CRZ CREW, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17 — Menghubungkan Titik
Mereka berkumpul lebih pagi dari biasanya di taman belakang sekolah, sebelum bel masuk berbunyi, memilih tempat yang cukup jauh dari keramaian agar tidak ada yang mendengar percakapan serius mereka.
Keesokan paginya, Josh menceritakan seluruh visi yang ia saksikan kepada teman-temannya, yang mendengarkan dengan saksama sambil sesekali saling bertukar pandang cemas. Wajah mereka semakin pucat mendengar bagian tentang
"sesuatu yang lain" yang disebutkan sosok itu.
"Jadi dia bukan hantu jahat yang mau nyelakain kita?"
tanya Brandon, sedikit lega meski tetap waspada. "Tapi ada yang lain yang lebih jahat?"
"Kayaknya gitu," jawab Josh.
"Dan namanya Raka. Dia korban juga, sama kayak dua sahabatnya dulu satu di antaranya masih hidup sekarang."
"Pak Ian,"
gumam Veron, matanya membelalak menyadari sesuatu.
"Itu kenapa dia selalu keliatan takut tiap kita nanya soal ini."
Mereka memutuskan untuk kembali menemui Pak Ian sepulang sekolah, kali ini dengan tekad lebih kuat untuk mendapatkan jawaban jujur, tidak peduli seberapa menyakitkan kebenaran itu bagi gurunya.
Namun sebelum mereka sempat menemuinya, Veron tiba-tiba berhenti di tengah koridor, tubuhnya kaku, matanya kosong menatap lurus ke depan seperti sedang melihat sesuatu yang tidak ada di sana.
"Veron?"
Gibran mengguncang bahunya pelan, khawatir.
Beberapa detik kemudian, Veron tersentak sadar, napasnya memburu, keringat dingin membasahi keningnya.
"Gue baru liat sesuatu,"
katanya, suaranya bergetar.
"Bukan mimpi, tapi kayak... kilasan.
Gue liat ruang laboratorium lama, dan ada bayangan lain di sana, bukan Raka. Sesuatu yang lebih gelap, lebih besar, kayak nggak punya bentuk pasti."
"Itu yang dimaksud Raka soal 'yang lain'?"
tanya Josh, dadanya semakin sesak.
"Mungkin,"
Veron mengangguk pelan, masih berusaha menstabilkan napasnya.
"Dan gue ngerasa... dia udah tahu kita lagi nyari cara buat ngelawan dia."
Mereka melanjutkan langkah menuju ruang guru dengan hati yang semakin berat. Pak Ian sedang duduk sendirian di mejanya, mengoreksi tumpukan kertas ulangan, namun raut wajahnya langsung berubah tegang begitu melihat keempat siswanya berjalan masuk dengan ekspresi serius yang tidak biasa.
"Pak, kami tahu soal Raka,"
kata Josh langsung, tidak ingin membuang waktu lagi.
"Kami tahu Bapak salah satu dari dua sahabatnya yang selamat. Dan kami butuh Bapak jujur sekarang, karena ini bukan cuma soal saya lagi. Ini soal kami bertiga."
Pak Ian menjatuhkan bolpoinnya, tangannya gemetar hebat. Untuk pertama kalinya sejak mereka mengenalnya, guru fisika yang selalu tenang dan rasional itu terlihat begitu rapuh, seperti tembok pertahanan yang telah lama ia bangun akhirnya runtuh dalam sekejap.
"Bagaimana kalian tahu namanya?" bisiknya, suaranya nyaris tak terdengar.
"Dia yang kasih tahu langsung," jawab Josh.
"Dan dia bilang, ada sesuatu yang lain yang lebih berbahaya, yang juga menunggu di sana bersamanya selama ini.
" Wajah Pak Ian seketika pucat pasi, seolah darahnya sendiri mengalir mundur mendengar kalimat itu. Ia menatap keempat siswanya bergantian, matanya dipenuhi ketakutan yang telah lama terpendam selama puluhan tahun.
"Kalau begitu," katanya akhirnya, suaranya bergetar hebat,
"kalian dalam bahaya yang jauh lebih besar dari yang kalian sadari. Saya kira sudah selesai. Saya kira dengan mengunci ruangan itu selama tiga puluh tahun, semuanya akan tetap diam di sana."
"Apa yang sebenernya ada di sana, Pak?"
tanya Veron, suaranya menuntut jawaban yang tidak bisa lagi ditunda.
Pak Ian menatap jendela ruang guru yang menghadap langsung ke arah gudang tua di belakang sekolah, tempat ruang laboratorium lama itu berada, dan untuk pertama kalinya, keempat siswa itu melihat sesuatu yang mereka tidak pernah duga akan terlihat di mata seorang guru fisika yang rasional air mata yang mengalir diam-diam, dan di baliknya, ketakutan murni yang telah disimpan selama tiga dekade.
"Sesuatu yang seharusnya tidak pernah kami bangunkan,"
jawabnya lirih,
"dan yang sekarang, karena kalian bertiga, mungkin sudah terbangun sepenuhnya."
Ruang guru yang biasanya terasa hangat oleh sinar matahari sore itu tiba-tiba terasa dingin, seolah menyerap suasana hati Pak Ian yang tenggelam dalam ketakutan lamanya. Keempat siswa itu saling berpandangan, menyadari bahwa percakapan ini baru saja membuka pintu menuju kebenaran yang jauh lebih besar dan lebih berbahaya dari yang pernah mereka bayangkan sebelumnya, dan tidak ada jalan untuk kembali lagi ke masa sebelum mereka mengetahuinya.
Sebelum mereka meninggalkan ruang guru, Pak Ian meminta mereka untuk tidak menceritakan apa pun yang baru saja mereka dengar kepada siapa pun, termasuk orang tua mereka sendiri, khawatir hal itu justru akan menarik perhatian yang tidak diinginkan atau membuat mereka dianggap mengada-ada.
"Temui saya lagi malam ini, di rumah saya,"
katanya sebelum mereka pergi, suaranya masih bergetar.
"Saya akan ceritakan semuanya, sedetail yang saya ingat."
Mereka berempat mengangguk, sepakat untuk kembali malam itu juga. Namun begitu mereka melangkah keluar dari gedung sekolah yang mulai sepi, langkah Veron tiba-tiba terhenti di tengah koridor, wajahnya memucat seketika.
"Ada yang salah,"
bisiknya, matanya menatap kosong ke depan seperti sedang melihat sesuatu yang tidak ada di sana.
"Aku ngerasa... kita lagi diawasin. Dari deket banget."
...****************...