Li Zie seorang dokter dari abad 21 justru mengalami kecelakaan, dan jiwanya justru berteransmigrasi ke tubuh seorang wanita lemah di jaman kuno.
Li Zie pun berniat membalas penderitaan wanita yang namanya juga sama, Li Zie. Ia pun menjadi tabib di sana dan fokusnya hanya mengumpulkan harta, ia juga memiliki ruang dimensi, Li Zie menyembunyikan identitasnya dengan sangat rapi.
Tapi bagai mana jadinya jika ketenangan itu hanya sesaat, karena pria yang berkuasa di dinasti Xuan. Yaitu Kaisar Xuan Long justru mengetahui identitas aslinya.
Seperti apa kelanjutannya? yuk mampir!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Queen Fitria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 31
Setelah beberapa saat nyerinya di tulang ekornya menghilang. Wajahnya masih cemong arang, senyum Li Zie sangat lebar, dan berkata dengan sombongnya, "Ji Yu, besok kita tidak perlu khawatir soal makanan. Kita punya sup untuk mandi kalau mau."
"Nona, kamu benar-benar putri paling licik yang pernah ada," gumam Ji Yu sambil menggelengkan kepala, ia menertawai para penjaga yang terdengar sibuk mencari penyusup.
...****************...
Di kediaman utama, Menteri Li nyaris gila. Setelah beberapa pengawal yang ia kirim ke pasar gelap, kembali dengan lesu.
"Ampun Tuan, Tabib Agung itu tidak menunjukan dirinya malam ini," ujar penjaga menunduk.
"Lapak kayu tempat biasanya Tabib Agung duduk, kini kosong," ujar penjaga lagi.
"Cari! Cari sampai ketemu! " suara Menteri Li menggelegar.
"Cari tabib itu! Putriku harus di sembuhkankan! Pernikahan dengan keluarga Wang tinggal hitungan hari!" raung Menteri Li hingga suaranya serak.
Menteri Li terduduk di kursi dengan putus asa, hatinya berdesir perih saat mendengar teriakan putri tercintanya.
Tapi ia tidak pernah sedikit pun peduli pada Li Zie, selama ini ia benar-benar melupakan putri tertuanya dan hanya fokus pada dua putri dari selir.
Putri pertamanya sudah menikah, kini tinggal putri keduanya yang bernama Li Mei. Bahkan mungkin Mentri Li sudah lupa seperti apa wajah putri tertuanya dari istri pertamanya.
Li Zie di asingkan saat umur empat belas tahun, dan kini sudah menginjak umur dua puluh satu tahun, umur yang seharusnya sudah menikah di jaman kuno itu.
Malam ini terasa menjadi malam yang panjang bagi Menteri Li dan Selir Hu serta Li Mei, mereka tidak bisa tertidur karena gatal di wajah begitu menyiksanya.
Li Mei yang sudah tidak tahan, segera menggaruknya. Tapi justru semakin merusak wajah dan semakin menyiksa rasa panas dan gatalnya.
"AAAAKKHHH!!! Ini menyiksa ku! " Li Mei kembali berjerit bahkan tubuhnya tidak bisa diam.
Li Mei meraih cermin, ingin melihat wajahnya, "Aaaaaaaaa!!!" jerit Li Mei hingga suaranya parau.
Menteri Li segera berlari menuju kamar putri tercintanya, ia diam di ambang pintu dan menutup hidung.
"Ikat putriku! jangan sampai ia melukai wajahnya! " bentak Menteri Li pada pelayan yang sedang berjaga di sana.
"Tidak! Ayah! ini sangat menyiksaku... " teriak Li Mei dengan suara parau, ia sangat tersiksa.
Li Mei di paksa berbaring dan kedua tangannya di ikat begitu juga dengan kakinya.
"Berani kalian tidak sopan padaku, kubunuh kalian! " geram Li Mei tapi ia sungguh tak berdaya.
Menteri Li mendekat ke arah ranjang dan duduk di tepi ranjang dengan mata memerah, "Mei'er sabar lah Nak, Ayah juga tidak diam saja, Ayah sedang berusaha. Besok pagi ayah akan meminta bantuan tabib istana.... Karena malam ini tabib Agung tidak menunjukkan wajahnya. "
...****************...
Di paviliun reot, Li Zie tidur dengan begitu nyenyak dengan jubah bulu rubah milik Feng sebagai selimut, meski masih samar ada aroma maskulin di sana.
Li Zie semakin nyenyak tidur saat mendengar jeritan dari Li Mei dan Selir Hu. Hatinya semakin keras saat melihat kepedulian Menteri Li untuk Li Mei, yang entah kenapa sedikit mengusik pikiran Li Zie.
Mungkin pemilik tubuh merasa sedih karena melihat perbandingan kasih sayang dari Menteri Li untuk nya.
...****************...
Pagi hari, matahari sudah mulai naik, Ji Yu baru saja menyelinap dengan hanfu tambalnya itu untuk melihat suasana di kediaman utama.
"Guru, wajah Li Mei sekarang sudah tidak berbentuk. Dia mengurung diri dan menghancurkan semua cermin di kamarnya," lapor Ji Yu sambil menahan tawa.
"Dan Guru! Menteri Li berlutut semalam di kuil leluhur, " ujarku Ji Yu lagi, ia cukup pintar mencari informasi.
"Bagus. Biarkan dia merasakan bagaimana rasanya menjadi 'sampah'," balas Li Zie santai. Ia ingin memberikan sedikit pelajaran pada orang-orang yang jahat pada pemilik tubuh ini.
"Guru! dua tabib dari istana baru saja datang. Tapi dia bukan tabib yang dulu kita temui di paviliun pangeran," lapor Ji Yu lagi, ia di sana benar-benar bersembunyi dan mendengarkan informasi dengan serius.
"Biarkan saja, mereka tidak akan ada yang bisa mengobati dua wanita kesayangan Menteri Li. Kecuali tabib Agung, " ujar Li Zie menyeringai licik
...****************...
Dua tabib istana berkeringat dingin, setiap yang mereka lakukan justru membuat gatal itu semakin menjadi, hingga Li Mei mengamuk dan mengutuk para tabib istana itu.
"Dasar tabib tidak berguna! kalian justru membuat ku semakin tersiksa! " ujar Li Mei dengan marah.
Menteri Li menatap tajam putri yang telah tak sopan pada tabib istana, Menteri Li menegur putrinya, "Mei'er jaga bicara mu, Nak."
"Aaakkk! Ayah mereka justru memperparah keadaan ku, " ujar Li Mei dengan mata melotot, kini panas dan gatal serta perih jadi semakin kuat.