Sembilan tahun lalu, Mentari Ayuningtyas terpaksa mematahkan hati Devan Elvano.
Di masa SMA, Devan hanyalah remaja miskin berkemeja lusuh yang mengendarai motor tua. Demi menuruti tuntutan keluarganya dan menyembunyikan sebuah rahasia menyakitkan, Mentari memutus hubungan mereka dengan cara yang paling kejam, meninggalkan luka mendalam di hati pria yang teramat mencintainya itu.
Kini, roda takdir telah berputar 180 derajat.
Mentari terjebak dalam realitas urban yang mencekik. Sebagai seorang wanita kantoran biasa, ia mendapati dirinya di ambang kehancuran ketika sang ibu jatuh sakit dan tagihan rumah sakit menumpuk hingga ratusan juta. Di tengah keputusasaannya, takdir justru mempertemukannya kembali dengan Devan.
Namun, Devan yang sekarang bukanlah remaja lemah yang bisa ditindas. Ia telah menjelma menjadi CEO Elvano Group—seorang miliarder dingin nan kejam yang memiliki jaringan restoran bintang lima di berbagai negara dan memegang saham mayoritas di perusahaan tempat Mentari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nge Game, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tamparan Ego
Suasana di sudut ballroom mewah itu mendadak mendingin, kontras dengan alunan musik klasikal yang mengalun lembut di latar belakang. Kata 'murahan' yang keluar dari belahan bibir merah Clara seolah bergaung di telinga Mentari, menghantam harga dirinya telak-telak.
Mentari bisa merasakan puluhan pasang mata dari lingkaran sosialita di sekitar mereka mulai berbisik-bisik, melemparkan tatapan menilai yang merendahkan ke arahnya. Ia sadar, di mata orang-orang ini, seorang wanita kantoran biasa yang mendadak digandeng oleh miliarder sekelas Devan Elvano tak lebih dari sekadar pemanis malam atau—yang lebih buruk—wanita simpanan.
Rian yang melihat kilat terluka di mata Mentari tidak tinggal diam. Bos kreatif itu melangkah maju, memutus jarak. "Nona Clara, jika Anda memiliki mata yang cukup jeli, Anda akan tahu bahwa gaun satin sutra emerald green yang dikenakan Mentari adalah rancangan eksklusif desainer ternama Paris yang nilainya setara dengan mobil mewah. Tidak ada yang murahan dari dirinya," bela Rian dengan suara tenang namun tegas, menatap Clara tanpa rasa takut.
Clara mendengus remeh, melepas gelayutan tangannya di lengan Devan lalu melipat kedua tangannya di dada. "Oh, benarkah? Desainer Paris? Pertanyaannya, apakah dia membelinya dengan uangnya sendiri, atau... menggunakan taktik tertentu untuk membuat pria kaya menggesek kartu kredit mereka?" Clara melirik sinis ke arah tangan Devan yang masih melingkar protektif di pinggang Mentari.
"Clara."
Satu kata itu keluar dari mulut Devan. Suaranya tidak keras, namun getaran dingin di dalamnya sanggup menghentikan tawa sinis yang hampir meledak dari mulut Clara. Devan perlahan menolehkan kepalanya, menatap Clara dengan mata elang yang menyipit berbahaya.
"Jaga bicaramu jika kamu masih ingin melihat saham Wijaya Group aman di mejaku besok pagi," desis Devan. Nada suaranya datar, tanpa emosi, namun sarat akan ancaman mutlak.
Clara seketika memucat. Ia tahu betul Devan bukan pria yang suka menggertak. Jika Devan mengatakan akan menghancurkan sesuatu, maka pria itu akan melakukannya tanpa berkedip, tidak peduli pada hubungan bisnis keluarga mereka.
"D-Devan... aku hanya bercanda. Kenapa kamu harus seberlebihan ini membela seorang... asisten?" ralat Clara dengan suara yang mulai bergetar, mencoba meredam amarah pria di depannya.
Devan tidak menjawab Clara. Ia justru mengalihkan pandangannya kembali pada Rian yang masih berdiri menantang di sana. "Dan untuk Anda, Direktur Rian. Acara ini adalah jamuan privat untuk para investor kelas atas. Kehadiran Anda di sini hanya karena undangan formal agensi. Kurasa tugas Anda malam ini sudah selesai. Silakan tinggalkan area ini sebelum keamanan menyeret Anda keluar."
Rian mengepalkan tangannya kuat-kuat. Ia menatap Mentari, mencari kepastian di mata wanita itu. Namun, Mentari hanya menggelengkan kepalanya pelan dengan tatapan memohon. Mentari tidak ingin posisi Rian di kantor terancam hanya karena membelanya.
"Aku pergi, Mentari. Sampai bertemu besok di kantor," ujar Rian akhirnya, berbalik dan melangkah pergi dengan aura kekecewaan yang kental.
Setelah Rian menjauh, Devan langsung melepaskan cengkeramannya dari pinggang Mentari dengan kasar, membuat Mentari sedikit terhuyung. Ego Devan yang terluka karena melihat Mentari dibela oleh pria lain membuat hatinya terasa panas terbakar.
"Ikut aku," perintah Devan singkat pada Mentari, mengabaikan Clara yang masih mematung dengan wajah kesal.
Devan menarik pergelangan tangan Mentari menuju koridor sepi di dekat area VIP lounge yang terisolasi dari keramaian ballroom. Begitu suasana benar-benar sepi, Devan membalikkan tubuh Mentari hingga punggung wanita itu membentur dinding marmer yang dingin. Kedua tangan kokoh Devan mengunci pergerakan Mentari, mengurung tubuh ramping itu di antara kedua lengan bidangnya.
"Puas, Mentari?" desis Devan, wajahnya hanya berjarak beberapa sentimeter dari wajah Mentari. Napasnya yang memburu terasa hangat di kulit wajah Mentari. "Puas membuat pertunjukan di depan kolega bisnisku? Jadi itu alasanmu menolakku di masa lalu? Karena kamu lebih memilih pria-pria lembek seperti bosmu itu?!"
Mentari menatap Devan dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Rasa sakit di pergelangan tangannya tidak sebanding dengan rasa sakit di hatinya akibat tuduhan tak berdasar itu.
"Apa katamu? Memilih Pak Rian?!" Mentari setengah berbisik, mencoba menahan suaranya agar tidak meledak menjadi tangisan. "Dia hanya bosku, Devan! Dia membelaku karena dia memiliki empati, hal yang sama sekali tidak kamu miliki sekarang! Kamu berubah menjadi monster yang egois!"
"Ya! Aku monster!" bentak Devan rendah, matanya berkilat merah menahan emosi dan cemburu yang berkecamuk. "Monster ini yang baru saja melunasi hutang ibumu! Monster ini yang memindahkan ibumu ke kamar terbaik! Dan monster ini pula yang berhak atas setiap detik dalam hidupmu selama satu tahun ke depan!"
Devan mencengkeram dagu Mentari, memaksa wanita itu menatap langsung ke dalam manik matanya yang dipenuhi luka masa lalu yang belum sembuh. "Jangan pernah biarkan pria lain menyentuhmu, membelamu, atau bahkan menatapmu dengan pandangan memuja seperti yang dilakukan bosmu tadi. Kamu milikku, Mentari. Secara profesional... maupun legal di atas kertas kontrak kita."
"Kamu tidak bisa mengatur hatiku, Devan..." air mata Mentari akhirnya luruh, membasahi jemari Devan yang mencengkeram dagunya. "Kamu bisa membeli tubuhku untuk berdiri di sampingmu malam ini, tapi kamu tidak akan pernah bisa membeli hatiku lagi seperti dulu."
Kata-kata Mentari seolah menjadi tamparan keras bagi ego Devan. Pria itu terpaku selama beberapa detik, menatap lekat-lekat air mata yang mengalir di pipi wanita yang diam-diam masih menguasai seluruh relung hatinya itu. Perlahan, Devan melepaskan cengkeramannya dari dagu Mentari. Ia memalingkan wajahnya, mencoba menyembunyikan kerapuhan yang sempat melintas di matanya.
"Hapus air matamu," ujar Devan, suaranya mendadak kembali dingin dan datar, seolah bentakan kemarahan tadi tidak pernah terjadi. "Kembali ke ballroom. Tersenyumlah di depan para investor seolah kita adalah pasangan paling bahagia di dunia. Jika aku melihat ada satu tetes air mata lagi di wajahmu... aku akan memastikan agensi tempatmu bekerja kehilangan seluruh klien besarnya besok pagi."
Mentari memejamkan mata, menghirup napas dalam-dalam untuk menenangkan dadanya yang sesak. Ia mengusap sisa air mata di pipinya dengan ujung jari, mencoba memperbaiki topeng ketegaran di wajahnya.
"Baik, Pak Devan," jawab Mentari dengan suara bergetar namun formal.
Ketika mereka kembali melangkah memasuki ballroom, Devan kembali mengulurkan lengannya. Dengan berat hati dan sisa harga diri yang remuk, Mentari melingkarkan tangannya di sana. Di bawah kilatan lampu kristal dan senyuman palsu yang mereka pamerkan, badai di dalam hati mereka justru baru saja dimulai. Dan di sudut ruangan, sepasang mata milik Clara menatap mereka dengan kilat dendam yang mematikan.