NovelToon NovelToon
Wanita Pilihan Sang Ceo

Wanita Pilihan Sang Ceo

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Noire 23

Nial Percy—seorang CEO tampan dengan reputasi dingin, tertutup, dan selalu memegang kendali—tidak pernah melibatkan perasaan dalam hidupnya. Segalanya terukur. Hingga suatu malam, ia meminta satu hal pada orang kepercayaannya: Mencarikan seorang wanita dengan kriteria tertentu. Tanpa ikatan. Tanpa emosi. Untuk memenuhi kebutuhan biologisnya. Namun takdir menyelipkan sesuatu yang tak ia rencanakan. Queen Lexian Arresta—wanita cantik dari keluarga terpandang yang tengah terjebak dalam perjodohan yang menyesakkan—tanpa sengaja mendengar percakapan itu. Dan dalam satu keputusan yang berani sekaligus nekat, ia menawarkan dirinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noire 23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4

Nial tertegun. Ia masih duduk di pinggir ranjang, menatap sosok wanita di sampingnya dengan pandangan yang sulit diartikan.

Kalimat "Memangnya kelihatan?" yang baru saja keluar dari bibir Queen terus bergema di kepalanya.

Pikiran Nial melayang pada realita di sekitarnya. Ini New York. Kota di mana segalanya bergerak cepat, di mana batasan seringkali kabur, dan di mana wanita dengan penampilan seanggun, seberani, dan sepercaya diri Queen biasanya sudah khatam dengan urusan ranjang.

"Benar-benar tidak masuk akal," batin Nial.

Ia bangkit dari ranjang, berdiri tegak dengan sikap yang kembali dingin, seolah momen barusan hanya gangguan kecil dalam agendanya.

“Lihat aku!”

Suaranya rendah. Tegas.

Queen perlahan mendongak, tapi ia masih tidak berani menatap langsung.

Nial memasukkan kedua tangannya ke saku celana, menatapnya datar. “Aku tidak akan menyentuh wanita yang terlihat seperti akan lari di detik berikutnya.”

Kalimat itu jatuh dingin. Tanpa emosi. Namun justru karena itu … terasa lebih menusuk.

Queen langsung mengangkat wajahnya, sedikit tersentak.

Nial melanjutkan, nada suaranya tetap tenang, hampir acuh.

“Itu merusak suasana. Dan … menghilangkan selera.”

Hening.

Queen menelan ludah.

Ada sesuatu dalam cara Nial mengatakannya—bukan merendahkan, tapi jelas … tidak tertarik pada sesuatu yang setengah hati.

Pria itu kemudian melangkah menjauh sedikit dari ranjang.

“Kau boleh pergi kalau berubah pikiran.”

Langsung. Tanpa menahan. Tanpa memaksa. Dan itu justru membuat Queen terdiam.

Beberapa detik berlalu. Lalu—

“Tidak.”

Jawaban itu keluar lebih cepat dari yang ia kira.

Nial menoleh sedikit.

Queen menarik napas dalam, mencoba menenangkan dirinya sendiri. Tangannya masih sedikit gemetar, tapi kali ini ia tidak menyembunyikannya.

“Aku tidak akan berubah pikiran,” lanjutnya, lebih pelan tapi lebih pasti. “Aku hanya … butuh waktu.”

Tatapan Nial kembali padanya. Membaca. Menilai.

“Berapa lama?” tanyanya singkat.

Queen berpikir sejenak. “Beberapa menit.”

Hening.

Nial menatapnya cukup lama sebelum akhirnya mengangguk tipis. “Baik.” Tanpa banyak kata, ia berbalik.

“Aku di ruang kerja.”

Langkahnya tenang saat keluar dari private suite, meninggalkan Queen sendirian di dalam kamar itu.

•••

Sunyi.

Benar-benar sunyi sekarang.

Queen duduk di atas ranjang, menatap kosong ke depan. Napasnya masih belum sepenuhnya stabil.

“Gila…” gumamnya pelan.

Ia menjatuhkan tubuhnya ke atas bantal, menutup wajahnya dengan kedua tangan.

Beberapa menit.

Hanya butuh beberapa menit untuk mengumpulkan keberanian. Untuk kembali menjadi dirinya yang tadi.

Namun—hangatnya seprai, lelah yang tiba-tiba menyerang, dan emosi yang terlalu penuh perlahan menariknya ke bawah.

Matanya terpejam dan tanpa sadar—Queen tertidur.

•••

Di ruang kerja, Nial berdiri di dekat jendela besar.

Waktu berlalu.

Lima menit. Sepuluh. Lima belas.

Alisnya sedikit berkerut. “Apa - apaan.” gumamnya pelan.

Ia berbalik, lalu berjalan kembali menuju private suite.

Pintu terbuka. Dan—Langkahnya terhenti.

Queen terbaring di atas ranjang. Tertidur nyenyak. Benar-benar nyenyak.

Beberapa detik Nial hanya berdiri di sana, menatap.

Tidak percaya. Lalu—sebuah tawa pelan lolos dari bibirnya.

Pendek. Rendah.

“Luar biasa…”

Ia menggeleng pelan, berjalan mendekat ke sisi ranjang. Menatap wajah Queen yang benar-benar tenang—tanpa beban, tanpa kecanggungan.

Wanita ini … baru saja membuatnya menunda keinginannya. Dan sekarang—tertidur seperti tidak terjadi apa-apa.

“Untuk pertama kalinya … aku menunggu seorang wanita. Dan dia malah tidur.”

Nial menghembuskan napas panjang, antara kesal dan tidak habis pikir.

Tangannya terangkat, hampir menyentuh rambut Queen—namun berhenti di udara.

Beberapa detik. Lalu ia menarik tangannya kembali.

“Ya, tidurlah. Semoga kau bermimpi buruk.”

Pagi hari.

Cahaya matahari masuk melalui jendela besar, menyusup perlahan di antara tirai tipis yang setengah terbuka. Sinar keemasan itu jatuh tepat di atas ranjang, menyentuh wajah Queen dengan lembut—terlalu lembut untuk dunia yang akan ia hadapi beberapa detik lagi.

Queen bergerak pelan. Alisnya berkerut, napasnya berubah lebih dalam sebelum akhirnya matanya terbuka perlahan.

Beberapa detik, ia hanya menatap langit-langit, kosong … seperti seseorang yang belum sepenuhnya kembali ke kenyataan. Lalu—semuanya menghantamnya sekaligus.

Malam tadi.

Nial.

Private suite. Dan—

“Ya Tuhan…”

Queen langsung bangun setengah duduk, napasnya tercekat. Matanya membesar saat menoleh ke sekeliling ruangan yang terlalu familiar.

Kamar itu. Ranjang itu. Dan fakta bahwa ia masih di sana.

Tangannya langsung menutupi wajahnya, jari-jarinya sedikit gemetar.

“Aku … ketiduran?” bisiknya pelan, hampir tidak percaya pada dirinya sendiri.

Bukan hanya ketiduran. Tapi… di tempat ini. Di saat seperti itu. Dengan Nial.

Rasa malu datang begitu cepat, diikuti rasa bersalah yang bahkan lebih dalam. Dadanya terasa sesak.

“Aku benar-benar…” Queen menggigit bibirnya, “memalukan.”

Ia buru-buru menyingkirkan selimut, hendak turun dari ranjang, tapi—

klik.

Suara pintu terbuka.

Queen membeku.

Langkah kaki itu terdengar tenang. Terukur. Tidak tergesa, namun justru itu yang membuat jantung Queen berdegup lebih kencang.

Nial.

Perlahan, Queen menoleh. Dan di sana—pria itu sudah berdiri. Rapi seperti biasa.

Kemejanya licin tanpa kusut, rambutnya tertata sempurna. Tidak ada jejak kelelahan, tidak ada bekas emosi semalam. Seolah—tidak ada yang terjadi.

Tatapan Nial jatuh padanya.

“Selamat pagi.” Suaranya rendah. Singkat. Formal.

Queen membuka mulut, tapi tidak ada suara yang keluar. Tenggorokannya terasa kering.

“P-pagi…” balasnya akhirnya, pelan, tidak yakin.

Hening.

Beberapa detik yang terasa jauh lebih lama dari seharusnya.

Nial melangkah masuk sepenuhnya ke dalam ruangan, lalu berhenti beberapa langkah dari ranjang. Tatapannya tidak berubah—tetap tenang, tetap sulit dibaca. Namun aura di sekitarnya  berbeda.

Lebih dingin. Lebih jauh.

Queen meremas ujung selimut tanpa sadar.

“Aku…” ia mencoba bicara, “…aku minta maaf, aku—”

“Tidak perlu.” Nial memotongnya langsung. Tanpa memberi ruang.

Queen terdiam. Kata-katanya menggantung di udara, tak sempat selesai.

Nial menatapnya beberapa detik, lalu berkata dengan nada yang tetap datar. “Kau bisa pergi sekarang.”

Kalimat itu jatuh begitu saja.

Tanpa emosi.

Tanpa tekanan. Namun justru karena itu … terasa seperti tamparan.

Queen langsung tersentak. “Apa…?”

Nial tidak mengulang. Ia hanya menatapnya, seolah kalimat tadi sudah lebih dari cukup.

“I-ini karena aku … ketiduran?”

Tidak ada jawaban langsung.

Nial berjalan mendekat ke meja di sisi ruangan, mengambil ponselnya, lalu melirik sekilas ke arah Queen.

“Aku tidak punya waktu untuk sesuatu yang tidak jelas,” ucapnya singkat.

Queen menelan ludah. “Tidak jelas…?”

“Ya.”

Nial akhirnya menatapnya lagi. “Datang dengan keputusan. Lalu ragu. Lalu tertidur.”

Nada suaranya tetap tenang, tapi setiap kata terasa tajam.

“Itu bukan sesuatu yang akan aku hargai.”

Queen merasa dadanya seperti diremas.

Ia langsung turun dari ranjang, berdiri dengan cepat—terlalu cepat sampai hampir kehilangan keseimbangan.

“Bukan begitu—aku cuma—aku benar-benar tidak sengaja, aku cuma butuh waktu dan aku—”

“Queen.”

Sekali lagi, Nial memotong. Kali ini, suaranya lebih rendah.

Queen langsung terdiam.

“Alasan tidak mengubah apa pun.”

Hening.

Mata Queen mulai memanas. “Aku tidak bermaksud mengabaikanmu … aku cuma … aku gugup. Aku tidak terbiasa dengan ini…”

Nial tidak langsung menjawab. Ia hanya menatapnya. Menilai. Membaca setiap ekspresi di wajah Queen yang kini jelas menunjukkan kepanikan. Namun—

tidak ada perubahan di wajahnya.

“Kau benar,” ucapnya akhirnya.

Queen mengangkat wajahnya, sedikit berharap.

“Ini bukan duniamu.”

Kalimat itu pelan. Tapi menghancurkan.

Napas Queen tercekat.

“Dan aku tidak tertarik untuk menunggu seseorang yang tidak yakin berada di sini.”

Sunyi.

Benar-benar sunyi.

Queen merasakan sesuatu runtuh di dalam dirinya—bukan karena dimarahi, tapi karena cara Nial membuat semuanya terdengar begitu … final.

“Aku—aku bisa—” ia maju satu langkah tanpa sadar, “aku bisa perbaiki—”

“Tidak perlu.”

Dingin.

Cepat.

Tanpa celah.

Langkah Queen terhenti.

Matanya mulai berkaca-kaca.

“Pakai waktumu untuk memutuskan sesuatu sebelum datang,” lanjut Nial, “bukan saat sudah di dalam.”

Setiap kata terasa seperti jarak yang semakin melebar di antara mereka.

Queen menggigit bibirnya kuat-kuat, menahan sesuatu yang hampir keluar.

“Aku minta maaf…” bisiknya, kali ini jauh lebih pelan. “Aku benar-benar minta maaf…”

Nial tidak menjawab. Ia hanya menatapnya beberapa detik … lalu berpaling.

“Pintunya di sana.”

Selesai.

Itu saja.

Tidak ada tambahan.

Tangan Queen mengepal pelan di samping tubuhnya.

“Aku tidak bermaksud seperti itu…” katanya lagi, lebih ke dirinya sendiri daripada ke Nial.

Beberapa detik berlalu sebelum akhirnya Queen menarik napas dalam, mencoba mengumpulkan sisa harga dirinya.

Ia menunduk sebentar.

Lalu berbalik.

Langkahnya pelan saat berjalan menuju pintu. Setiap langkah terasa berat, seolah ada sesuatu yang menahannya untuk pergi—atau mungkin … sesuatu yang ia tinggalkan di belakang.

Saat tangannya menyentuh gagang pintu, ia berhenti.

Sebentar saja.

Sangat sebentar.

Seolah berharap—Nial akan menghentikannya.

Mengatakan sesuatu.

Apa saja. Namun—

tidak ada.

Hanya keheningan dingin di belakangnya.

Dan itu cukup untuk membuat Queen membuka pintu tanpa menoleh lagi.

Pintu tertutup pelan, namun suara kecil itu seolah menggema lebih lama dari seharusnya di dalam ruangan.

Nial tidak bergerak. Ia masih berdiri di tempatnya, tatapannya tertuju lurus ke arah pintu yang baru saja dilewati Queen.

Wajahnya tetap tenang—terlalu tenang—seperti permukaan air yang tidak menunjukkan apa pun. Namun rahangnya mengeras.

Beberapa detik berlalu.

Lalu satu detik lagi. Dan tanpa alasan yang jelas—

ia merasa terganggu.

Perasaan itu datang tiba-tiba. Tipis. Mengganggu. Seperti sesuatu yang tidak pada tempatnya.

Nial mengalihkan pandangannya, berjalan beberapa langkah menjauh dari pintu. Tangannya masuk ke saku celana, langkahnya tetap tenang—terukur seperti biasa. Tapi pikirannya tidak.

Bayangan itu muncul lagi.

Wajah Queen.

Cara wanita itu menatapnya semalam—setengah berani, setengah ragu.

Cara napasnya terputus saat jarak mereka menghilang. Dan—ciuman itu.

Singkat, tidak sempurna, bahkan bisa dibilang berantakan. Namun justru itu.

Alis Nial berkerut tipis. “Tidak masuk akal…”

gumamnya pelan.

Ia berhenti di dekat meja, menatap kosong ke permukaan marmer yang dingin.

Hanya sebuah ciuman. Bahkan jauh dari yang terbaik. Lalu kenapa—ia masih mengingatnya?

Kenapa tubuhnya masih menyimpan sisa sensasi itu seolah belum selesai?

Kenapa ia merasa terganggu hanya karena wanita itu pergi begitu saja?

Nial menghembuskan napas panjang. Kesal.

Bukan pada Queen, tapi pada dirinya sendiri.

“Sama sekali tidak penting.”

Kalimat itu keluar dingin. Seolah mencoba meyakinkan.

Tanpa pikir panjang, ia meraih ponselnya.

Layar menyala. Nama yang sama. Ia menekan panggilan.

Tidak butuh waktu lama.

“Ya, Tuan?” Suara Rayden terdengar di seberang.

Tenang. Siap.

Nial tidak langsung menjawab. Ia menatap lurus ke depan, matanya sedikit menyipit. Lalu—

“Carikan aku wanita untuk nanti malam.”

Langsung. Tanpa pembukaan.

Rayden terdiam sepersekian detik. “Lagi, Tuan?”

Nial mendengus—meski tahu pria itu tidak bisa melihatnya.

“Lakukan saja.” Suaranya turun, lebih rendah dan tajam. “Carikan beberapa sekaligus.”

Hening singkat di seberang. Rayden jelas terkejut.

“…Baik, Tuan.” Hanya itu yang bisa ia katakan.

Nial melanjutkan, kali ini lebih dingin dari sebelumnya. “Aku tidak peduli dimana kau menemukannya, asal jangan di perusahaan ini atau di depan ruanganku seperti semalam.”

Panggilan langsung berakhir bahkan sebelum Rayden menanggapi.

Nial menurunkan ponselnya perlahan. Ruangan kembali sunyi. Namun kali ini, keheningan itu terasa berbeda.

Ia menoleh sekilas ke arah pintu sekali lagi.

Hanya sekilas.

Sangat cepat.

Seolah refleks yang tidak ia sadari. Lalu ia memalingkan wajah.

Memaksa dirinya untuk kembali ke rutinitas yang seharusnya. Namun jauh di dalam—

ada satu hal yang tidak bisa ia sangkal.

Wanita yang baru saja pergi itu—jejaknya tertinggal lebih dalam dari yang seharusnya.

Di sisi lain gedung—Rayden baru saja menurunkan ponselnya perlahan dari telinganya.

Alisnya berkerut. Wajahnya… jelas menunjukkan kebingungan yang jarang terlihat.

“…Beberapa sekaligus katanya?”

Ia mengulang pelan, seolah memastikan dirinya tidak salah dengar.

Ya, memang Nial Percy adalah pria yang tahu apa yang ia inginkan—dan biasanya, ia tidak pernah bertele-tele. Namun— hari ini terasa berbeda.

Nada suaranya tadi.

Dingin, memang. Tapi ada sesuatu di baliknya.

Tegang.

Seperti … emosi yang dipaksakan tetap terkendali.

Rayden menyipitkan mata sedikit, berpikir. “Semalam hanya dengan satu wanita…” gumamnya pelan, “…dan sekarang jadi seperti ini?”

Sebuah kesimpulan sederhana langsung terbentuk di kepalanya. Bosnya itu—

"Dia ketagihan."

Sudut bibir Rayden sedikit terangkat, nyaris ingin tertawa kecil. Ia sudah bersiap untuk berbalik dan menjalankan perintah, namun—pintu lift di ujung koridor terbuka, dan seseorang keluar dari sana.

Rayden langsung menangkap sosok itu dalam satu pandangan. Seorang wanita. Langkahnya pelan. Bahunya turun. Dan—wajahnya murung.

Rayden terdiam. Matanya sedikit menyipit, menajam. Ia mengenali wanita itu.

Queen.

Satu-satunya wanita yang masuk ke private suite Nial semalam. Dan melihat kondisinya sekarang—

tidak butuh waktu lama bagi Rayden untuk menyadari satu hal: ada yang tidak beres.

Tanpa berpikir panjang, ia langsung melangkah cepat.

“Nona.”

Suara Rayden memanggil dengan sopan, namun cukup tegas untuk menghentikan langkah Queen. Ia menoleh perlahan. Matanya masih sedikit basah, meski ia berusaha menyembunyikannya.

“Iya…?” jawabnya pelan.

Rayden berdiri beberapa langkah darinya, menatap dengan penuh pengamatan—tidak kasar, tapi jelas menilai situasi.

“Maaf jika lancang,” ucapnya rapi, “tapi … Anda yang bersama Tuan Nial semalam.”

Queen langsung menegang. Tangannya refleks menggenggam tasnya lebih erat. “Iya … aku…”

Kalimatnya menggantung.

Rayden memperhatikan setiap detail kecil itu.

“Apakah semuanya baik-baik saja?” lanjut Rayden.

Pertanyaan itu sederhana tapi cukup untuk membuat pertahanan Queen runtuh sedikit.

Ia menarik napas dalam, lalu tertawa kecil—kering, tanpa benar-benar merasa lucu.

“Tidak…” jawabnya jujur, pelan. “Sepertinya … tidak.”

Rayden semakin yakin, ada sesuatu yang tidak sesuai dengan dugaan awalnya.

“Jika boleh tahu…” ia sedikit menunduk sopan, “…apa yang terjadi?”

Queen ragu.

Beberapa detik.

Seolah menimbang apakah ia harus menjawab atau tidak. Namun mungkin karena emosinya masih penuh—atau karena pria di depannya terlihat cukup netral—ia akhirnya bicara.

“Aku…” ia menghela napas, “…aku ketiduran.”

Rayden berkedip.

Sekali.

Dua kali.

“…Maaf?”

Queen menutup wajahnya dengan satu tangan, jelas malu.

“Aku tahu ini kedengarannya bodoh,” katanya cepat, “tapi aku benar-benar cuma butuh waktu sebentar untuk berpikir, dan siapa sangka … aku malah tidur. Sampai pagi.”

Hening.

Satu detik.

Dua detik. Lalu—Rayden tertawa. Benar-benar tertawa. Pendek di awal, lalu semakin jelas.

Untuk ukuran dirinya yang selalu tenang dan profesional, reaksi itu … cukup langka.

Queen langsung menurunkan tangannya, menatapnya kaget.

“Apanya yang lucu?” tanyanya, setengah kesal, setengah bingung.

Rayden menggeleng pelan, masih menahan sisa tawanya.

“Maaf… maaf,” katanya, mencoba kembali serius, meski sudut bibirnya masih terangkat.

Sekarang—

semuanya masuk akal.

Nada dingin Nial.

Perintah tiba-tiba.

Dan emosi yang jelas tidak biasa.

Bukan karena malam itu berjalan terlalu baik—

tapi justru sebaliknya.

Rayden menatap Queen sekali lagi, kali ini dengan ekspresi yang berbeda. Lebih … mengerti.

“Jadi,” ucapnya pelan, “Semalam Anda benar - benar hanya tidur?”

Queen mengangguk cepat, wajahnya masih merah karena malu. “Iya … dan sekarang dia marah.”

Rayden menghela napas pelan, menggeleng lagi.

“Bukan marah,” gumamnya hampir tak terdengar, lebih ke dirinya sendiri.

Queen mengernyit. “Hmm?”

“Tidak apa-apa,” ujar Rayden, singkat. Namun dalam pikirannya—ia hampir tertawa lagi.

Sebelum berpisah, Rayden menatap Queen sekali lagi, kali ini dengan sedikit rasa penasaran yang baru.

Wanita ini … tanpa sadar—baru saja mengacaukan ritme seorang Nial Percy.

1
Mia Camelia
semoga dady nya queen kasih restu ke quen and niel🥰
Mia Camelia
yaah ketauan deh😂😂😂
Mia Camelia
nial mode cemburu tuh ada rexi🤔🤣
Mia Camelia
hahaha niel bisa aja mencari kesempatan dalam kegelapan kolong meja🤣🤣🤣
Mia Camelia
ya ampun ternyata sempat hadir nial junior yah🤔🤔🤔
Mia Camelia
hahaha rayden berani bongkaran aib nial kalo ada britania,🤣🤣🤣
lanjut thor😄👍makin seru liat nial🥰
Mia Camelia
nial gercep banget sih, queen jadi takut itu🤣🤣🤣
Mia Camelia
lanjut lagi thor🥰
Mia Camelia
lari queen🤣🤣🤣
Mia Camelia
lanjut thor🥰
Mia Camelia: semangat ya thor😄😄
semoga lolos kontrak, aku doaiin biar lancar, biar bisa lanjut lagi cerita nya👍
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!