NovelToon NovelToon
Ramuan Ajaib: Bangkitnya Bumi

Ramuan Ajaib: Bangkitnya Bumi

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Anak Genius / Mengubah Takdir
Popularitas:7.8k
Nilai: 5
Nama Author: Asep agustian

Diusir dari desa karena fitnah kemiskinan, Bumi terdampar di kerasnya ibu kota sebagai kuli panggul pasar yang kerap. Satu-satunya alasan ia bertahan hidup adalah Alya, gadis sederhana yang tulus merawat luka-lukanya.

Nasib Bumi berubah total setelah ia di beri ramuan ajaib oleh kakek misterius yang membuat perubahan pada tubuh dan otaknya. Terbangun dengan kecerdasan mutlak sekelas superkomputer, Bumi bertransformasi menjadi The Ghost Trader—raja saham baru yang ditakuti di dunia bisnis. Ia bahkan berhasil menyelamatkan perusahaan milik Kirei, seorang CEO wanita dingin yang akhirnya jatuh hati pada harga diri Bumi.

Namun, berdiri di puncak takhta berarti mengundang badai. Adrian, konglomerat kejam sekaligus rival asmaranya, siap menghancurkan Bumi lewat sabotase berdarah. Di tengah perang bisnis yang mematikan, hati Bumi juga terkoyak dalam dilema pelik antara ketulusan Alya dari masa lalunya, atau pengorbanan Kirei yang mempertaruhkan nyawa demi masa depannya.

Mampukah mantan ku

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asep agustian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32. Rendra Berulah Lagi

Siang itu, udara di dalam kamar kosan Bumi terasa cukup gerah. Seperti biasa, Bumi sedang asyik duduk bersila di atas kasur busanya, fokus mengamati pergerakan grafik hijau-merah di layar ponselnya. Setelah keberhasilan analisisnya yang tanpa sengaja menyelamatkan perusahaan Kirei kemarin, Bumi merasa insting trading-nya semakin tajam. Ia baru saja mengeksekusi beberapa lot saham yang diprediksi akan mengalami lonjakan menjelang penutupan sesi pertama.

Tiba-tiba, keheningan di kamar kosan itu pecah oleh getaran keras dan dering nyaring dari ponselnya. Layar menampilkan nama pemanggil, Dika.

Bumi langsung menggeser tombol hijau dan menempelkan ponsel ke telinganya. "Halo, Dik? Ada apa? Tumben siang-siang telepon."

"Halo! Mas Bumi! Gawat, Mas!" suara Dika di seberang telepon terdengar sangat panik dan terengah-engah, seperti sedang bersembunyi. "Alya, Mas! Alya lagi diganggu sama si Rendra di kampus!"

Bumi seketika menghentikan aktivitas menganalisis sahamnya. Sorot matanya langsung menajam, dan rahangnya mengatup rapat. Rendra. Nama itu adalah sosok senior kampus Alya sekaligus anak juragan kaya yang tempo hari menyuruh Barong dan anak buahnya memukuli Bumi di pasar, orang yang sama yang lari terbirit-birit saat Barong takluk.

"Rendra? Dia berulah lagi?" tanya Bumi, suaranya mendadak berubah dingin dan berat. "Dia ngapain Alya di sana, Dik?"

"Iya, Mas! Si Rendra bawa beberapa orang luar ke area parkir fakultas kita! Mereka ngepung Alya dan gak ngebiarin Alya pergi. Gua mau maju melerai tapi dilarang sama temen-temen karena orang-orang yang dibawa Rendra itu kelihatan serem dan sangar banget, Mas! Tolong cepetan ke sini, Mas Bumi!" seru Dika penuh kecemasan.

"Kirim alamat lengkap kampusnya lewat peta digital sekarang juga, Dik. Gua langsung jalan," jawab Bumi tegas sebelum mematikan sambungan telepon.

Hanya butuh waktu satu menit bagi Bumi untuk menerima pesan berisi titik koordinat lokasi kampus Alya. Tanpa membuang waktu, Bumi langsung menyambar jaketnya dan melangkah lebar keluar dari kosan. Di depan gerbang pasar, ia langsung menemui Barong yang kebetulan sedang mengawasi anak buahnya menertibkan parkiran motor.

"Bang Barong, gua pinjem motor lu sekarang. Kunci mana?" pinta Bumi tanpa basa-basi.

Barong yang melihat raut wajah Bumi yang sangat serius langsung tanggap. Ia segera merogoh kantongnya dan menyerahkan kunci motor matic besarnya kepada Bumi. "Ada apa, Bos Bumi? Kok kayaknya tegang banget? Mau gua temenin sekalian?"

"Rendra berulah lagi di kampusnya Alya. Dia bawa orang buat ganggu Alya," jawab Bumi singkat sambil memakai helm.

Mendengar nama Rendra, wajah Barong langsung mengeras. "Kurang ajar itu anak! Gak kapok-kapoknya cari perkara! Ayok, Bos, gua ikut bonceng! Gua juga mau lihat siapa yang berani dia bawa sekarang!"

Bumi mengangguk setuju. Barong langsung melompat ke jok belakang, dan dengan satu hentakan gas yang kuat, motor melesat kencang membelah kepadatan jalanan kota menuju kampus Alya.

Tepat tiga puluh menit kemudian, motor yang dikendarai Bumi memasuki gerbang kampus dan langsung mengarah ke area parkiran belakang dekat fakultas teknik yang tampak agak sepi namun mulai dikerumuni beberapa mahasiswa dari kejauhan.

Bumi memarkirkan motornya dengan cepat. Begitu melepas helm, pandangannya langsung tertuju pada sesosok gadis yang sangat ia kenal. Alya sedang berdiri terpojok di dekat pilar gedung, wajahnya tampak sangat pucat dan ketakutan. Di hadapannya, Rendra berdiri berkacak pinggang dengan senyuman licik yang menghias wajahnya.

Namun, yang membuat langkah kaki Barong di belakang Bumi mendadak melambat adalah sosok lima orang pria berbadan tegap yang berdiri mengawal Rendra. Mereka mengenakan pakaian serba hitam, dengan tatapan mata yang sangat dingin, kejam, dan penuh bekas luka di wajah mereka.

Barong tiba-tiba menarik pelan ujung jaket Bumi, suaranya mendadak berbisik dengan nada yang agak gentar. "B-bos Bumi... tunggu sebentar, Bos."

Bumi menoleh sedikit. "Kenapa, Bang?"

"Orang-orang yang di samping Rendra itu... mereka bukan preman pasar biasa kayak anak buah gua dulu, Bos," bisik Barong dengan dahi yang mulai dibasahi keringat dingin. "Mereka itu preman penguasa wilayah kota. Secara struktural, mereka memang masih satu organisasi besar di bawah jaringan gua, tapi pengaruh, koneksi, dan teknik berkelahi mereka udah jauh lebih hebat. Kelompok mereka yang menguasai semua keamanan bar, diskotik, dan tempat hiburan malam terbesar di wilayah pusat kota. Jujur, Bos, gua agak takut kalau harus menyinggung atau bermasalah sama mereka. Urusannya bisa panjang sama bos besar di kota."

Bumi menatap lima orang pria berbadan tegap itu dengan saksama. Alih-alih merasa takut atau gentar setelah mendengar penjelasan Barong, sorot mata Bumi justru terlihat sangat tenang dan jernih.

"Gua gak peduli siapa mereka atau apa yang mereka kuasai di kota ini, Bang," jawab Bumi santai namun sarat akan ketegasan yang mutlak. "Siapa pun yang berani mengganggu ketenangan Alya, mereka harus berhadapan sama gua."

Bumi kembali melangkah mantap mendekati kerumunan tersebut, diikuti oleh Barong yang terpaksa ikut melangkah meski dengan perasaan was-was yang besar.

"Mas Bumi!" teriak Dika dari kejauhan yang langsung lega melihat kedatangan sang penyelamat.

Mendengar teriakan Dika, Rendra langsung membalikkan badannya. Begitu melihat sosok Bumi yang berjalan ke arahnya, senyum di wajah Rendra semakin melebar, penuh dengan rasa dendam yang selama ini ia pendam sejak kekalahannya di pasar tempo dulu.

"Wah, wah, lihat siapa yang datang! Si Kuli pasar kesayangan kita akhirnya nunjukkin batang hidungnya juga!" ejek Rendra dengan suara keras yang sengaja didekatkan ke arah Alya. "Gimana, Bumi? Masih jagoan lu setelah keluar dari kandang lu di pasar induk?"

Alya yang melihat kedatangan Bumi langsung berteriak cemas. "Mas Bumi! Tolong jangan mendekat! Rendra bawa orang-orang jahat dari kota, Mas! Mereka bahaya banget!"

Bumi memberikan senyuman menenangkan kepada Alya. "Tenang aja, Mbak Alya. Mas Bumi di sini. Mbak gak usah takut lagi ya."

Bumi kemudian mengalihkan pandangannya langsung kepada Rendra, menatapnya dengan tatapan meremehkan. "Rendra, lu rupanya belum kapok juga ya setelah kemarin lari terbirit-birit dari lapangan? Sekarang lu malah berani main kasar ke kampus orang dan ganggu perempuan. Gak punya urat malu lu?"

Wajah Rendra seketika memerah padam mendengar sindiran telak dari Bumi, terutama karena hal itu diucapkan di depan para mahasiswa yang menonton dan orang-orang kota bawaannya. Kemarahan Rendra langsung memuncak, ia mengepalkan tangannya kuat-kuat.

"Kurang ajar lu, Bumi! Lu pikir gua bakal takut lagi sama lu?!" bentak Rendra dengan suara bergetar menahan amarah. "Hari ini gua bakal balas semua kekalahan dan rasa malu gua tempo dulu di pasar! Lu pikir lu udah hebat karena bisa ngalahin Barong?!"

Rendra kemudian melirik ke samping Bumi, dan matanya terbelalak melihat sosok Barong yang berdiri tegak di belakang pemuda itu dengan sikap yang sangat patuh. "Dan lu, Barong! Lu bener-bener pengkhianat ya! Sekarang lu malah jadi kacung peliharaan si kuli pasar ini?! Mana harga diri lu sebagai kepala preman pasar induk, hah?!"

Barong yang ditunjuk-tunjuk oleh Rendra langsung mendengus kasar, mencoba menutupi rasa gentarnya terhadap orang-orang kota di samping Rendra. "Lu jangan banyak bacot, Rendra! Bos Bumi ini sekarang pimpinan gua yang sah! Gua tunduk sama orang yang punya kehormatan, bukan sama anak manja yang cuma bisa berlindung di ketiak bapaknya kayak lu!"

Salah satu pria berbadan tegap yang paling besar dari kelompok kota, yang tampaknya merupakan pemimpin kawalan Rendra hari itu, melangkah maju satu langkah. Ia menatap Barong dengan pandangan yang sangat dingin dan meremehkan.

"Oh, jadi ini Barong yang katanya takluk sama bocah ingusan?" ucap pria tegap itu dengan suara berat yang serak. "Memalukan banget lu, Barong. Bikin nama jaringan kita di kota jadi jatuh aja. Pantesan lu cuma dapet jatah jaga pasar becek, mental lu rupanya emang cuma sekelas kuli."

Barong mengepalkan tangannya mendengar penghinaan itu, namun ia tetap menahan diri dan melirik ke arah Bumi, menunggu tindakan apa yang akan diambil oleh ketua barunya tersebut di hadapan para penguasa tempat hiburan malam kota yang sangat berbahaya itu. Bumi hanya berdiri santai dengan kedua tangan di saku celananya, siap menghadapi badai yang akan datang demi melindungi orang yang disayanginya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!