NovelToon NovelToon
Udin Jagoan Bapak

Udin Jagoan Bapak

Status: sedang berlangsung
Genre:Naik Kelas / Misteri / TKP / Thriller
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: YoshuaSatrio

Keputusan Udin menerima perintah mutasi ke gudang cabang malah menyeretnya pada kasus dan fakta masa lalu.

.........

“Kecelakaan kerja lagi,” bisik buruh di sebelahnya. “Sudah yang ketiga. Katanya... ditagih hantu kepala pabrik.”

Udin kaku. Nama Bejo Santoso, korban terbaru, pernah ia lihat semalam. Di buku log lembur Bapak, tujuh belas tahun lalu. Tepat di bawah nama Budi Hartono. Ayahnya sendiri.

..........

Satu koper tua, satu daftar nama, satu pabrik yang gak pernah bener-bener mati.

Mampukah ia membongkar busuknya lantai produksi? Atau dia bakal jadi nama keempat di daftar korban?

'UDIN JAGOAN BAPAK'

So, kisah Udin hanya fiktif karangan Author ya. Jika ada kesamaan nama, lokasi, dan situasi, itu cuma kebetulan yang kebetulan banget. Selamat membaca.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YoshuaSatrio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

UMPAN YANG TERGIGIT

Di ruang pengunjung khusus, dengan dinding bercat putih pudar. Di tengah ruangan ada satu meja kayu dan dua kursi besi. Di pojok ada kamera CCTV kecil dengan lampu berkedip secara berkala.

Sutinah duduk tegak mengenakan baju tahanan warna oranye. Sanggulnya masih rapi, tetapi tidak ada lagi bros mutiara di dadanya, dan di pergelangan tangannya, sebuah borgol mengikat kesombongannya.

Pintu besi berderit terbuka. Masuklah Wawan, pengacara berusia 60-an yang ditunjuk Sutinah. Seorang sipir mengikutinya dari belakang, lalu menutup pintu dan berdiri berjaga di luar.

Wawan duduk di hadapan Sutinah, dengan meja kayu sebagai satu-satunya pemisah di antara mereka. "Selamat pagi, Bu."

Sutinah tersenyum tipis. "Pagi, Pak. Bagaimana? Surat pra-peradilan sudah diajukan?"

Wawan membuka tasnya, mengeluarkan map lalu membukanya. "Ini bukti-bukti yang dilampirkan penyidik, Bu," katanya. "Mutasi rekening yayasan, foto dari rekaman CCTV hotel Sekar Tunggal, berita acara pemeriksaan Darman, dan yang terbaru, berita acara kesaksian Kardi."

Jari Sutinah berhenti di atas meja, tapi urung menyentuh berkas itu. "Itu semua bisa dibantah, Pak. Perputaran uang itu hanya bagian dari donasi. Pertemuan di hotel adalah pertemuan sosial. Sedangkan Kardi, itu murni dendam karena dulu tidak saya angkat jadi pengurus yayasan."

Pak Wawan menatap lurus pada klien di depannya itu. "Bu, saya sudah 30 tahun menangani perkara. Kalau hanya melawan satu bukti, saya berani bilang kita bisa menang," Wawan menghela napas jengah. "Tapi ini ada empat. Dan semuanya mengarah ke satu titik, yaitu Ibu sendiri."

Sutinah diam, sedang mengukur posisinya. Pengacara senior itu melanjutkan. "Ancaman pasal pencucian uang dan permufakatan jahat, minimal 5 tahun, maksimal 20 tahun."

Mendengar itu, Sutinah menegakkan dagu. "Saya tidak bersalah," tegasnya.

Wawan menghela napas. "Saya tahu Ibu kuat. Tapi pengadilan butuh bukti. Dan bukti-bukti ini, Bu... berat." Wawan menutup mapnya. "Ada satu jalan. Kerja sama. Sampaikan siapa yang memerintahkan, siapa yang menikmati. Jika Ibu menjadi saksi mahkota, hukumannya bisa dipotong separuh."

"Saya ini pembina yayasan, Pak. Saya tidak tahu soal teknis. Saya tidak memerintah siapa-siapa. Nama siapa yang harus saya sebut? Tiga pejabat itu, atau...."

"Apa rencana Anda, jika anda ingin selamat bersama putra anda, maka serahkan bukti apa saja yang bisa menjerat tiga orang itu," desak Pak Wawan.

"Ada. Mintalah asisten rumah tanggaku untuk mengantarmu ke rumah baca pribadiku, di sudut ruangan, ada buku berwarna merah bata yang usang, tekan itu maka kau akan menemukan sesuatu." Dengan senyum licik, Sutinah seolah menemukan jalan. "Tapi simpan dulu itu, pakai jika menurutmu mendesak saja."

"Baik. Kalau itu keputusan Ibu, kita lawan di pra-peradilan dulu. Tapi saya harus jujur, peluang menangnya tipis."

Sutinah mengangguk dengan ekspresi tidak berubah. Tetap tenang dan datar yang terukur.

.......................

Diruang kerja, rumah dinas ketua DPRD, lampu gantung kristal menyala redup, gorden tebal menutup rapat, seolah memblokir suara dan aktivitas di dalamnya.

Di meja terdapat tiga cangkir kopi yang sudah dingin, tak ada yang berniat menyentuhnya.

Pak Wawan duduk di kursi utama. Nyonya Rantini duduk di sebelah kanan, tampak gelisah sambil membolak-balik ponsel di tangannya. Sulman duduk paling ujung, lebih gelisah dari nyonya Rantini.

Tidak ada yang bicara selama hampir lima menit, hingga kemudian Karsiman masuk. "Jadi, Sutinah sudah resmi ditahan."

"Iya, Pak. Beritanya sudah masuk TV, katanya penahanan 20 hari."

Samsul menelan ludah. "Apa... apa dia akan menyebut nama kita, Pak?"

Karsiman menoleh cepat ke arah Samsul, lalu menatapnya tajam. "Kenapa harus bicara? Dia tidak bodoh. Dia tidak punya bukti yang kuat untuk menjatuhkan kita!" ujarnya dengan nada tinggi, hampir terdengar seperti bentakan.

Rantini mengangguk cepat. "Benar. Makanya kita harus tetap satu suara. Donasi, tidak tahu menahu pembukuan. Pertemuan di hotel itu kebetulan acara sosial, dan kita tidak kenal Darman."

Sulman mengusap wajahnya. "Kalian yakin akan sesederhana itu? Bagaimana kalau—"

"Kalau apa lagi?!" potong Rantini dengan ekspresi jengah. "Atau kau mengaku saja nanti! Lalu masuk penjara biar anak istrimu yang sok pamer itu jadi gelandangan!" bentaknya. "Kau tinggal ikuti arahan saja, beres! Penakut banget sih!" imbuhnya mencemooh.

"Sudah cukup, jangan berdebat lagi. Mari bersiap berangkat ke Poltabes sesuai rencana. Pak Wawan, silakan ke rumah Sutinah, jika memang ada bukti yang memberatkan kami, tolong hancurkan itu, atau cucumu yang melamar PNS dengan kualifikasi rendah itu...." Karsiman sengaja menggantung ucapannya.

"Baik, Pak. akan saya pastikan semua aman!" sahut cepat Wawan.

Keempat orang itu pun akhirnya bubar, tiga diantaranya menuju ke Poltabes dengan jeda waktu sesuai yang telah mereka atur. Dan Wawan menuju ke rumah Sitinah.

...........

Ruang interogasi 1. Di ruangan kecil itu, hanya ada meja, dua kursi, dan kamera di sudut.

AKBP Raharja duduk tegak, di depannya Sulman duduk gelisah tanpa pengacara. Di samping Raharja ada Bripka Eman bersiap mencatat hasil penyelidikan.

Di atas meja tergeletak map. Di dalamnya ada foto, rekaman, dan berita acara.

"Pak Sulman. Terima kasih sudah datang," sapa AKBP Raharja.

Sulman memaksa diri untuk tersenyum, sekuat tenaga menutupi kegelisahannya. "Sama-sama, Pak. Saya siap membantu," jawanya dengan suara agak bergetar.

AKBP Raharja membuka map, lalu mengeluarkan satu foto dan meletakkannya di tengah meja. "Tanggal 28 Januari 2012, Anda datang ke hotel."

"Ya, Pak. Ada acara silaturahmi dengan pembina yayasan," jawab Sulman terukur, tepat seperti yang diajarkan Karsiman.

AKBP Raharja mengeluarkan foto kedua, foto Darmawan, lalu foto ketiga Rantini. "Tiga pejabat. Satu hotel. Satu malam. Kebetulan?" tekan Raharja menatap lurus ke wajah Sulman.

Sulman mengangguk tapi lututnya gemetar, tanpa berani balas menatap dua penyidik di depannya itu. "Kebetulan, Pak."

Raharja bersandar. Ia tidak membantah pernyataan Sulman. Ia hanya mengeluarkan satu benda lagi, Flashdisk. "Ini rekaman kesaksian Kardi, ia berani bersumpah mengetahui keterlibatan kalian sejak 17 tahun, bahkan kalian mengusulkan penyekapan Budi, kepala pabrik yang saat itu menjabat."

Sulman tertunduk diam, bola matanya bergerak tak tenang. 'Bagaimana ini, kenapa nama Kardi yang muncul sebagai saksi? Aku harus bilang apa?' batinnya semakin gemetar.

AKBP Raharja menyadari kegelisahan Sulman, sejak awal. "Kami tidak menuduh, Pak. Kami hanya mencari kebenaran."

AKBP Raharja berdiri, ia menatap ke dinding kaca satu arah, membelakangi Sulman. "Anda datang terakhir untuk memenuhi panggilan kami sebagai saksi, tapi jika anda dengan berani membantu kami, satu saja pengakuan Anda, itu akan meringankan hukuman, seandainya saja di kemudian hari Anda terbukti terlibat."

"Mak-maksudnya?" tanya Sulman gugup.

'Bagus, umpan mulai digigit!' batin Raharja, lalu menyunggingkan senyum. "Kami hanya ingin mengungkap kebenaran dibalik penyekapan dan kematian pak Budi, tapi ternyata muncul banyak bukti-bukti baru dan nama-nama baru yang terlibat." AKBP Raharja sengaja mengambil jeda, dari kaca di depannya, ia menangkap pantulan ekspresi Sulman yang semakin tak tenang.

"Mungkin kedatangan anda terakhir juga telah diatur seseorang, untuk menjadikan anda sebagai kambing hitam." Satu kalimat praduga yang meluncur ringan dari bibir Raharja, tepat masuk ke kepala Sulman.

Ruangan itu seketika sunyi, hanya terdengar dengung freon AC. Sulman yang menunduk, menarik napas berat, lalu tiba-tiba ia berdiri. "Permisi, Pak. Bolehkah saya ke kamar kecil dulu?"

Raharja mengangguk dengan senyum tipis yang menang. Briptu Eman pun sigap bangkit, lalu mengantar Sulman.

Di dalam kamar kecil, Sulman membuka keran. Air dingin ia percikkan ke wajahnya, lalu menatap cermin, dan mendapati dirinya sendiri yang pucat bahkan tangannya gemetar hebat.

Ia teringat anaknya, teringat cicilan rumah baru permintaan istrinya, lalu teringat kata Karsiman, 'Tenang, ini hanya interogasi pemeriksaan saksi.' Detik selanjutnya, ucapan AKBP Raharja terngiang jelas di kepalanya. 'Seseorang mengatur Anda untuk menjadikan Anda sebagai kambing hitam.'

Sulman mulai goyah, ia teringat hal-hal kecil saat Karsiman dengan percaya diri menekannya, bahkan tak segan meninggikan suaranya. Ia juga teringat bagaimana Rantini sering merendahkan dirinya.

Lima menit kemudian ia kembali ke ruang interogasi. Wajahnya sudah berbeda. Tidak ada lagi senyum kaku ataupun gelisah. Sulman kembali duduk, kali ini lebih tenang. "Pak..."

AKBP Raharja tidak memotong, ia hanya meletakkan pulpen dan kertas di atas meja, melempar senyum tipis menatap lurus ke arah Sulman.

"Saya mau bicara. Tapi... saya minta perlindungan. Untuk saya dan keluarga saya," ucap Sulman kemudian.

Bripka Eman menyandarkan punggungnya, sambil bersedekah, memberi senyuman yang sama ke arah Sulman. sedangkan AKBP Raharja mengangguk pelan. "Baik, ceritakan dari awal. Siapa yang memerintahkan pertemuan itu? Siapa yang mengatur aliran dananya, dan untuk apa?"

Sulman menarik napas panjang. Air matanya terbendung di sudut mata. "Yang perintahkan adalah...."

...****************...

Bersambung.

Adalah.....

🤭🤭🤭

1
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
betul 👍🏻
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
menangkap
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Dah puyeng tuh, bukti udah jelas 😏
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Pembohong 😏
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Yah tamat dong filmnya 🤭
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
anggota tim
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
kemudian membuka
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
agenda hari ini
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Sebagai senior
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
pelaku kejahatan
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
jawab kompak
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Kalian berdua
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Semangaaaaaaat 💪🏻
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Nah kan, untunglah pak Budi punya catatan nya 😌
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
kemudian
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
meremas kemudi itu
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Dih pk ngancam segala 😏
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Yg bener 😏
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
mungkin ada ruangan khusus yg tersembunyi 😌
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Berarti kemarin pura" kan 😏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!