Naura Adisty, seorang reporter muda yang ambisius, terjebak dalam kekacauan demonstrasi kampus yang justru mempertemukannya dengan Kaelith Atharrazka, ketua BEM yang angkuh namun karismatik. Pertemuan yang diawali dengan insiden cedera dan perdebatan sengit itu menjadi awal mula Kaelith terus mengusik hari-hari Naura dengan godaan khas "berondong" yang menyebalkan sekaligus menggemaskan.
Namun, di balik layar organisasi BEM yang penuh intrik, Naura tanpa sengaja mengungkap skandal korupsi besar yang menyeret nama ayah Kaelith. Ketika ancaman teror mulai mengincar nyawa Naura, Kaelith pun menanggalkan sifat jahilnya untuk menjadi pelindung utama sang reporter. Kini, di tengah bahaya yang mengintai dan beban moral yang menghimpit, keduanya harus memilih antara mengungkap kebenaran yang pahit atau mempertahankan cinta yang baru saja bersemi di tengah konspirasi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ohlyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1 Demo Kacau
Matahari siang ini rasanya sedang ingin menghukum siapa pun yang berani menginjakkan kaki di pelataran rektorat Universitas Nusantara. Panasnya menyengat, kontras dengan tensi di depan gerbang utama yang jauh lebih panas. Ribuan mahasiswa berkumpul, berteriak lantang dengan almamater yang basah oleh keringat.
Naura Adisty menyeka peluh di dahinya dengan punggung tangan, lalu kembali memastikan kamera DSLR-nya terpasang aman. Ia bukan mahasiswa yang ikut demo, bukan pula pengurus BEM yang sedang berorasi. Ia adalah seorang reporter magang di salah satu portal berita daring yang punya target mendapatkan foto headline hari ini.
"Serius, Nau, kalau kita nggak dapat foto Ketua BEM-nya lagi orasi, redaksi bakal marah besar. Jangan sampai kalah sama reporter kampus sebelah," bisik Alyssa, sahabat sekaligus rekan setimnya yang tampak kewalahan mengatur posisi di tengah kerumunan.
"Iya, Al, gue tahu! Tapi ini massa lagi chaos banget. Lo lihat deh, barisan depan mulai dorong-dorongan sama satpam," balas Naura, matanya tajam menatap ke arah panggung darurat di atas truk.
Suasana benar-benar tidak kondusif. Demo yang awalnya menuntut transparansi dana pembangunan gedung baru itu berubah menjadi aksi saling dorong. Beberapa mahasiswa mulai melempar botol plastik, dan teriakan-teriakan sumpah serapah mulai terdengar.
"Itu dia!" seru Alyssa menunjuk ke arah panggung.
Seorang pria dengan almamater yang sedikit terbuka, memperlihatkan kaus hitam di dalamnya, melompat naik ke atas kap mobil komando. Itu Kaelith Atharrazka. Ketua BEM yang terkenal karena ketampanannya, tapi lebih terkenal lagi karena sifatnya yang sulit ditebak.
Naura segera mengarahkan lensa kameranya. Klik. Klik. Klik.
"Oke, dapet," gumam Naura.
Namun, belum sempat Naura menurunkan kameranya, kerumunan mahasiswa di sampingnya tiba-tiba terdorong ke belakang karena aksi massa yang tak terkendali. Naura kehilangan keseimbangan. Ia terjatuh, kakinya terpelintir ke arah yang salah. Kameranya terlempar beberapa inci dari jangkauannya.
"Aduh!" ringis Naura. Rasa sakit yang tajam langsung menjalar dari pergelangan kakinya.
Situasi makin tidak terkendali. Mahasiswa lain yang panik terus berlarian, mengabaikan Naura yang masih tersungkur di aspal. Ia berusaha bangkit, tapi kakinya benar-benar tidak bisa menumpu berat badannya. Ia merasa terisolasi di tengah lautan orang yang sedang emosi.
Tiba-tiba, sebuah tangan besar menarik lengannya dengan sigap. Sebelum Naura sempat bereaksi, tubuhnya sudah terangkat. Ia berada dalam dekapan seseorang yang aroma tubuhnya—campuran parfum maskulin dan sedikit bau asap—membuatnya sejenak lupa rasa sakit di kakinya.
"Woi! Jalannya lihat-lihat, jangan jadi beban di tengah massa!" seru suara bariton yang terdengar familiar.
Naura mendongak. Di sana, dengan rahang yang mengeras dan sorot mata tajam yang menatap ke arah massa, adalah Kaelith Atharrazka. Pria itu baru saja turun dari mobil komando dan ternyata tepat waktu menemukan Naura.
"Kaelith?" gumam Naura, suaranya hampir hilang di antara riuhnya demo.
Kaelith tidak menjawab. Ia membawa Naura keluar dari barisan depan, menjauh dari kerumunan yang semakin beringas, hingga sampai di area teduh di samping gedung rektorat. Ia mendudukkan Naura di kursi panjang dengan cukup kasar.
"Gila lo ya? Mau mati konyol? Kerja tuh pakai otak, bukan cuma modal nekat!" semprot Kaelith. Napasnya masih terengah-engah setelah melakukan orasi panjang.
Naura, yang tadinya merasa diselamatkan, kini merasa harga dirinya tersinggung. Ia menatap Kaelith dengan tajam. "Siapa juga yang minta ditolong? Gue lagi kerja, ya! Lo sebagai ketua BEM harusnya bisa atur massa lo supaya nggak bikin celaka orang lain!"
Kaelith mendengus sinis, ia menatap pergelangan kaki Naura yang mulai membengkak. "Kerja? Kerja kok jadi korban? Lihat kaki lo, bengkak tuh. Kalau gue telat semenit aja, lo bisa diinjak-injak sama mahasiswa yang lagi emosi tadi."
"Ya tetap aja, gara-gara demo nggak jelas lo ini, gue jadi begini!" Naura mencoba berdiri, tapi ia kembali jatuh terduduk saat rasa nyeri kembali menyerang kakinya.
Kaelith menghela napas panjang sembari melihat nama di ID card Naura, lalu berjongkok di depan Naura. "Jangan keras kepala, deh. Gue tahu lo reporter magang yang mau cari sensasi. Tapi hari ini, lo bukan reporter. Lo pasien."
Kaelith mengeluarkan ponselnya, mengetik sesuatu dengan cepat, lalu memanggil seseorang. "Arven! Bawa kotak P3K ke samping gedung rektorat sekarang. Ada wartawan kena sial di sini."
Naura melipat tangannya di dada, membuang muka. "Nggak usah panggil-panggil orang. Gue bisa sendiri."
"Lo jalan saja nggak bisa, masih mau gaya?" Kaelith menatap Naura dengan tatapan meremehkan yang membuat Naura ingin sekali menyiramkan air mineral ke wajah tampan itu.
Beberapa saat kemudian, Arven datang dengan tergopoh-gopoh membawa tas P3K. Ia menatap Naura dan Kaelith bergantian dengan ekspresi bingung. "Lah, El? Kenapa ini? Mbak Reporter yang waktu itu mau wawancara lo, kan?"
"Iya, dia lagi mau jadi pahlawan kesiangan," jawab Kaelith dingin sambil mengambil alih kotak P3K dari tangan Arven.
Naura semakin jengkel. "Siapa yang jadi pahlawan? Lo tuh yang sok pahlawan!"
Kaelith tidak memedulikan protesan Naura. Ia mulai membuka perban dan mengambil kompres dingin. Tanpa basa-basi, ia menyentuh pergelangan kaki Naura, membuat sang gadis sedikit terlonjak.
"Pelan-pelan bisa nggak?!" protes Naura.
"Ini udah pelan. Kalau mau nggak sakit, ya jangan ikut demo," jawab Kaelith santai sambil menempelkan kompres dingin itu.
Naura menatap pria di depannya. Rambutnya berantakan, keringat mengalir di pelipisnya, tapi ia tampak begitu tenang menangani kaki Naura. Kontradiksi antara ketua BEM yang berapi-api di depan massa dan pria yang sedang mengobati kakinya ini membuat Naura sedikit bingung.
"Lo... lo nggak harus lakuin ini," ucap Naura, kali ini dengan nada yang sedikit lebih lembut.
Kaelith mendongak, menatap mata Naura cukup lama. Senyum miring yang menyebalkan muncul di sudut bibirnya. "Harus, lah. Gue kan pemimpin. Tanggung jawab gue bukan cuma di atas podium, tapi juga memastikan nggak ada korban jiwa gara-gara kebijakan atau demo BEM gue."
"Tanggung jawab atau cuma biar nggak kena masalah?" tanya Naura sinis.
Kaelith tertawa pelan. "Terserah lo mau anggap apa. Yang jelas, sekarang lo berhutang budi sama gue. Jadi, jangan bikin berita aneh-aneh tentang demo hari ini."
"Wah, lo mau nyuap gue pakai jasa pengobatan ini?" Naura menatap Kaelith tidak percaya.
"Bukan nyuap. Itu namanya timbal balik," Kaelith berdiri, lalu merapikan almamaternya. Ia menatap Naura dari atas ke bawah. "Lain kali kalau mau cari berita, bawa pengawal. Atau kalau mau aman, minta gue yang jadi narasumber eksklusif. Gue kasih jaminan nggak bakal bikin lo cedera."
"Mimpi lo," balas Naura cepat.
"Kita lihat saja nanti, Mbak Reporter," Kaelith mengedipkan sebelah matanya, lalu berjalan pergi meninggalkan Naura bersama Arven yang masih bengong.
"Gila, El... lo baru aja modus sama reporter?" tanya Arven setelah Kaelith agak jauh.
Naura hanya bisa memutar bola matanya. "Tengil banget tuh cowok! Cowok sok berkuasa!"
Namun, meski ia mengumpat, jantung Naura berdegup sedikit lebih kencang dari biasanya. Pertemuan pertama yang harusnya jadi kenangan buruk, malah terasa seperti awal dari sesuatu yang lebih menyebalkan—dan entah kenapa—lebih menarik dari sekadar tugas liputan biasa.
Naura menatap punggung Kaelith yang mulai menghilang di balik kerumunan. Hari ini, ia mungkin cedera, tapi sepertinya masalahnya dengan Ketua BEM itu baru saja dimulai.
"Oke, Kaelith Atharrazka," bisik Naura pada dirinya sendiri. "Lihat saja siapa yang bakal kena masalah nantinya."
Ia mengambil kamera yang tadi sempat ia jatuhkan, memastikan lensanya tidak pecah. Tugas liputannya belum selesai, dan sekarang, ia punya satu subjek berita yang sangat ingin ia bedah habis-habisan: Si Ketua BEM yang arogan, menyebalkan, namun entah bagaimana, berhasil membuat detak jantungnya tidak stabil.