Ini adalah cerita tentang seseorang yang kembali ke masa lalunya. Seorang pendekar kuat yang berhasil mendapatkan pusaka untuk mengulang waktu.
Sembilan tahun telah berlalu semenjak kembalinya dia ke masa lalu. Banyak hal yang telah ia ubah. Kekuatannya juga perlahan mendekat ke puncak kekuatannya di kehidupan pertama.
Namun ancaman lain akhirnya muncul. Sejarah telah berubah karena campur tangannya. Kini ia harus bersiap menghadapi musuh lain yang rumit.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Boqin Changing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kesempatan Terakhir untuk Hidup
Qiu Han masih mempertahankan senyum tipis di wajahnya. Tatapannya tetap tertuju pada Tetua Agung Peng.
"Aku sudah mengetahui identitasmu."
Ia mengangkat satu tangan, lalu menunjuk ke arah pria tua itu.
"Tetua Agung Peng dari Sekte Pedang Pemecah Awan."
"Pendekar suci empat gerbang terbuka."
Tetua Peng tidak menunjukkan perubahan ekspresi, tetapi hatinya sedikit terkejut. Lawannya ternyata telah menyelidiki mereka sebelum pertemuan ini terjadi.
Tatapan Qiu Han kemudian menyapu seluruh rombongan.
"Aku juga bisa merasakan beberapa pendekar suci lainnya."
Ia terkekeh pelan.
"Sayangnya..."
"...mereka semua hanyalah Pendekar Suci kelas rendah."
Beberapa tetua langsung menggertakkan gigi mendengar ucapan itu. Meski kesal, tak seorang pun membantah. Mereka sadar bahwa dibandingkan pendekar bumi, kekuatan mereka memang masih terpaut jauh.
Qiu Han menggeleng pelan sambil tersenyum mengejek.
"Namun yang paling membuatku heran, kalian semua benar-benar orang bodoh."
Tatapannya berubah dingin.
"Berani-beraninya mengintai tempat ini."
"Bahkan membawa begitu banyak orang."
Di benaknya, jumlah rombongan dari Kekaisaran Qin sudah cukup besar. Ia sama sekali tidak mengetahui bahwa rombongan ini sebenarnya bisa menjadi jauh lebih besar karena masih ada beberapa kelompok lain yang belum sempat bergabung.
Tetua Agung Peng mengepalkan tangannya. Ia sempat melirik ke arah Boqin Changing, berniat meminta petunjuk.
Namun Boqin Changing hanya menggeleng sangat pelan. Gerakan itu nyaris tidak terlihat. Artinya sederhana, jangan bicara. Tetua Peng pun kembali menutup mulutnya.
Saat itulah Boqin Changing melangkah maju satu langkah. Ia menangkupkan kedua tangannya ke arah Qiu Han sebagai bentuk penghormatan.
"Pendekar."
"Bisakah kita menyelesaikan persoalan ini dengan baik-baik?"
"Tidak perlu ada pertempuran."
Qiu Han akhirnya mengalihkan pandangannya kepada pemuda itu.
Ia mengamati Boqin Changing dari ujung kepala hingga ujung kaki.
Wajahnya cukup tampan. Usianya juga masih muda. Namun tidak terlihat ada aura yang istimewa. Dalam penilaiannya, pemuda itu kemungkinan hanyalah salah satu murid berbakat dari sekte-sekte yang ikut dalam ekspedisi ini.
Ia bahkan tidak tertarik mencoba membaca ranah kultivasinya. Baginya, itu hanyalah pemborosan waktu.
Boqin Changing tetap berbicara dengan nada yang sangat sopan.
"Jika tidak ada pertarungan... maka tidak akan ada pertumpahan darah."
"Tidak akan ada yang mati."
"Semuanya akan baik-baik saja."
Ucapan itu membuat para murid dan tetua dari pihak Kekaisaran Qin saling berpandangan. Mereka benar-benar kebingungan.
Bukankah orang yang sedang berbicara itu adalah Boqin Changing? Pendekar terkuat di Kekaisaran Qin. Orang yang semalam masih tersenyum sambil menyiksa mata-mata musuh hingga kehilangan harapan hidup.
Mengapa sekarang justru berbicara sesopan itu kepada musuh? Apakah lawan di hadapan mereka benar-benar begitu kuat hingga bahkan Boqin Changing memilih berunding?
Di sisi lain, Qiu Han justru tertawa keras.
"Hahaha! Tidak perlu membuang waktuku."
"Aku tidak menerima negosiasi."
Ia melirik ke belakang. Ratusan anak buahnya masih mengepung seluruh kawasan itu.
Tak lama kemudian...
Swusss! Swusss! Swusss!
Beberapa sosok kembali melompat turun dari atas pepohonan. Aura mereka jauh lebih kuat dibandingkan pendekar lainnya. Mereka adalah para pendekar Suci.
Satu... Dua... Tiga... dan seterusnya.
Beberapa Pendekar Suci berdiri di belakang Qiu Han sambil menatap dingin rombongan dari Kekaisaran Qin. Jumlah pendekar suci mereka bahkan lebih banyak dari jumlah pendekar suci dari Kekaisaran Qin yang ada di tempat itu.
Qiu Han kembali menoleh kepada Boqin Changing.
"Lihatlah. Dari jumlah orang... kami jauh lebih unggul."
"Dari kekuatan... kami juga jauh lebih unggul."
Senyumnya semakin lebar.
"Menurutmu... untuk apa aku bernegosiasi?"
Ia mengangkat dagunya dengan angkuh.
"Aku hanya perlu memberi satu perintah. Lalu seluruh rombongan kalian akan dibantai dalam waktu singkat."
Boqin Changing sama sekali tidak berubah ekspresi. Ia justru tersenyum tipis.
"Pendekar. Cobalah berpikir sekali lagi. Niatku sungguh baik."
"Jika pertarungan benar-benar terjadi... akan timbul banyak korban jiwa."
Nada suaranya tetap tenang, tanpa sedikit pun ancaman.
Namun ucapan itu justru membuat seluruh pihak musuh tertawa terbahak-bahak.
"Hahaha!"
"Korban jiwa?"
"Pemuda ini lucu sekali!"
"Apa dia masih mengira mereka punya kesempatan menang?"
"Benar-benar naif!"
"Bahkan sekarang masih berbicara tentang perdamaian."
Gelak tawa memenuhi kawasan markas yang belum selesai dibangun itu.
Tak seorang pun dari mereka menyadari bahwa pemuda yang sedang mereka tertawakan bukan sedang memohon belas kasihan. Ia hanya sedang memberi mereka kesempatan terakhir untuk tetap hidup.
Boqin Changing tetap mempertahankan senyum tipisnya. Tatapannya tidak pernah lepas dari Qiu Han.
"Pendekar. Aku akan meminta sekali lagi."
"Cobalah pikirkan keputusanmu."
Suaranya masih terdengar tenang.
"Karena jika pertarungan ini benar-benar terjadi..."
"...aku tidak ingin nanti kau sendirian."
Qiu Han sempat mengernyit.
"Sendirian?"
Sesaat kemudian, ia justru tertawa semakin keras.
"Hahaha!" Bocah... Kau terlalu banyak bicara."
Boqin Changing hanya menganggukkan kepala pelan.
"Baiklah. Aku hanya mengingatkan."
Nada suaranya tetap sopan. Sama sekali tidak terdengar marah ataupun kecewa.
Justru sikap tenang itu membuat beberapa tetua dari pihak Kekaisaran Qin semakin bingung. Mengapa Boqin Changing masih terus berbicara seperti sedang membujuk seorang teman?
Di sisi lain, kesabaran Qiu Han akhirnya habis. Tatapannya berubah dingin.
"Cukup!"
Ia mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi.
"Habisi mereka!"
"Bunuh semuanya!"
"Jangan sisakan seorang pun!"
"Ya!"
Ratusan pendekar berpakaian hitam langsung bergerak bersamaan.
Swusss! Swusss! Swusss!
Mereka menerjang dari segala arah seperti gelombang hitam yang hendak menelan seluruh rombongan.
Melihat itu, Tetua Agung Peng langsung mengangkat pedangnya.
"Semua bersiap!"
"Formasi bertahan!"
Para murid dan tetua segera bersiap. Namun, belum sempat kedua belah pihak benar-benar bertabrakan. Terdengar tawa kecil.
"Hehehe..."
Boqin Changing menggeleng pelan.
"Aku... sudah memperingatkan kalian."
Perlahan ia mengangkat tangan kanannya. Tidak ada aura yang meledak. Tidak ada gerakan yang mencolok. Ia hanya mengucapkan beberapa kata dengan tenang.
"Tombak Bayangan Bawah Tanah."
Seketika, seluruh bayangan di bawah kaki para pendekar berpakaian hitam bergetar.
Qiu Han mengernyit.
"Apa?"
Belum sempat pikirannya selesai.
Brak! Brak! Brak!
Ratusan tombak hitam pekat tiba-tiba menerobos keluar dari dalam tanah. Bukan dari depan, bukan dari samping, melainkan langsung dari bawah kaki setiap musuh.
"Aaarrrgggghhhh!"
"Puaaakh!"
"Tidak...!"
Tombak-tombak bayangan itu menembus dada, perut, tenggorokan, hingga jantung mereka.
Tubuh para pendekar hitam langsung terangkat beberapa meter ke udara. Darah menyembur ke segala arah. Puluhan lalu ratusan tubuh menggantung di atas tombak-tombak hitam seperti boneka yang dipajang.
Para pendekar suci yang baru saja melangkah maju pun mengalami nasib yang sama. Mereka bahkan tidak sempat mengeluarkan jurus. Seketika mati.
Seluruh kawasan markas berubah menjadi lautan darah. Hanya ada, satu orang yang tetap berdiri, Qiu Han. Boqin Changing sengaja tidak menyerangnya.
Oleh karena itu, di tengah pemandangan mengerikan tersebut, hanya Qiu Han seorang yang masih berdiri utuh. Matanya membelalak lebar. Tubuhnya membeku.
"Apa ini...?"
Tatapannya menyapu ke segala arah. Semua bawahannya mati. Seluruh pendekar suci yang ia bawa juga mati.
Tidak ada satu pun yang masih bernapas. Bahkan beberapa orang masih mempertahankan ekspresi menyerang ketika tubuh mereka tertusuk tombak bayangan hitam.
Qiu Han merasakan hawa dingin menjalar dari telapak kaki hingga ke puncak kepala. Baru sekarang ia menyadari. Ia bahkan tidak melihat kapan pemuda itu menyerang.
Boqin Changing menurunkan perlahan tangan kanannya. Seluruh tombak bayangan perlahan menghilang bersama bayangan yang menyelimutinya. Mayat-mayat berguguran ke tanah satu demi satu.
Bruk... Bruk... Bruk...
Suara tubuh yang menghantam tanah bergema memenuhi kawasan yang kini berubah seperti neraka.
Boqin Changing menatap Qiu Han sambil tersenyum ramah.
"Aku... sudah mengingatkanmu dari tadi."
ta apalah !!
biar alurnya lambat asal selamat