NovelToon NovelToon
Setelah Terlahir Kembali, Aku Menikahi Jenderal Perang

Setelah Terlahir Kembali, Aku Menikahi Jenderal Perang

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Balas Dendam / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: AnaDww

Dinginnya malam di puncak musim dingin menampar Gu Mingyue dengan kenyataan yang kejam. Alih-alih kehangatan, sang suami justru menyuguhkan cawan berisi racun demi bisa bersanding dengan perempuan lain. Di ambang kematiannya yang tragis, Mingyue menyadari bahwa ketulusannya selama ini hanyalah sebuah kesia-siaan.

Kini, takdir memberinya kesempatan kedua. Terlahir kembali di masa lalu, Gu Mingyue bersumpah demi sisa napasnya: ia tidak akan pernah lagi menjadi istri penurut yang mencintai Adipati Yu'an, Zhao Yuchen.

Langkahnya kali ini membawa Mingyue bertemu dengan Shen Mufeng—Jenderal Perang Penakluk Utara yang terkenal dingin, tegas, tajam, dan anti-wanita. Menolak mengulang tragedi yang sama, Gu Mingyue membulatkan tekad: ia akan menikahi sang Jenderal Agung dan membiarkan mantan suaminya hancur dalam penyesalan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnaDww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Empat—Konfrontasi Shen Mufeng

Cawan porselen di tangan Shen Mufeng berketuk di atas meja, menimbulkan suara ketukan pelan yang anehnya sanggup menggema dan membungkam seisi ruangan. Pandangan para pejabat yang sempat terfokus padanya langsung tersentak membuang muka, tidak berani menantang aura sang Jenderal Agung.

Pria itu terkekeh pelan sebelum menoleh ke arah Gu Mingyue. Matanya sempat melirik tajam penuh penghinaan ke arah Gu Lian dan Zhao Yuchen yang membeku, sebelum akhirnya netra gelapnya kembali fokus sepenuhnya pada Gu Mingyue.

"Nona Besar Gu ternyata masih mengingat dengan jelas kejadian malam itu," ucapnya dengan nada datar.

Seketika, beberapa tamu undangan kembali saling pandang. Riuh bisik-bisik beralih terdengar pelan di sudut-sudut aula.

"Tentu saja, karena Anda begitu berani," sahut Gu Mingyue tenang.

"Nona Besar Gu, mereka hanyalah segerombolan berandal pasar yang mencoba merebut uang," ucap Shen Mufeng dingin, terdengar sarkas. Ia kemudian mengalihkan pandangannya, menatap Jenderal Gu dalam-dalam untuk waktu yang cukup lama.

"Mereka bukan kelompok pemberontak bertopeng yang berpura-pura setia ... bukankah begitu, Jenderal Besar Gu?" lanjut Shen Mufeng dengan nada suara yang teramat pelan, namun sanggup membuat atmosfer aula seketika merosot hingga ke titik beku.

Gu Mingyue yang menyaksikan riak kepanikan di wajah ayahnya hanya bisa tersenyum samar di balik cawannya. Di kehidupan kedua ini, Shen Mufeng ternyata jauh lebih menarik dan berbahaya daripada yang pernah ia bayangkan.

Tawa pelan tiba-tiba terdengar dari Pejabat Wang. Tawa kikuknya itu sengaja dilemparkan untuk menengahi konfrontasi dingin dari Shen Mufeng. "Saya rasa atmosfer ini terlalu kaku untuk sebuah jamuan kepulangan. Bukankah lebih baik jika kita segera melanjutkan ke acara berikutnya?"

Jenderal Gu yang sempat membeku selama beberapa saat akhirnya menghela napas panjang—perpaduan antara rasa lega sekaligus awal dari otaknya yang mulai berputar keras memikirkan taktik untuk lepas dari jeratan Shen Mufeng.

"Tentu saja, Pejabat Wang. Kali ini koki dapur kediamanku sengaja menyiapkan hidangan musim semi yang istimewa," sahut Jenderal Gu memaksakan keramahan.

Begitu saja, hidangan demi hidangan mulai disajikan ke meja para tamu satu per satu. Suasana mencekam yang sempat membekukan aula kini perlahan tergantikan oleh kepulan aroma makanan yang kaya akan rempah. Wangi semur daging yang gurih, tumis sayur yang segar, sup ayam hangat, serta beberapa camilan manis tradisional mulai tercium samar, membangkitkan selera.

Acara makan berlangsung untuk beberapa lama, hingga akhirnya jamuan formal tersebut tiba pada sesi santai, yaitu acara minum bersama bagi para pria. Memanfaatkan momen itu, Gu Mingyue segera bangkit untuk pamit undur diri lebih dulu. Ia melangkah keluar dari aula dengan ritme kaki yang tenang. Hanfu toskanya tampak melambai, tersapu ringan oleh embusan angin musim semi yang sejuk.

"Nona begitu berani hari ini," bisik Fan Li'er lembut dengan nada penuh semangat di sampingnya.

Gu Mingyue menoleh sekilas lalu menyunggingkan senyum tipis. "Bukankah sesekali seseorang memang harus berani?"

"Tentu saja! Dengan begitu, ibu dan anak yang suka menindas Nona itu pasti akan membisu," sahut Li'er sembari tersenyum puas.

Mereka berjalan menyusuri jalan setapak batu yang melewati paviliun milik Gu Lian. Saat melintasi pagar rendah yang membatasi pekarangan tersebut, sayup-sayup suara yang terbawa oleh embusan angin menghentikan langkah mereka. Gu Lian dan ibu kandungnya—sang selir—ternyata tengah berbincang serius di halaman paviliun.

Gu Mingyue memberi isyarat kepada Li'er untuk diam, lalu berdiri mematung di balik bayangan pagar.

"Mingyue hari ini sudah bertindak terlalu berani," cetus sang selir dengan nada ketus.

"Ibu, bukankah ini terasa sangat aneh?" tanya Gu Lian, suaranya masih menyiratkan sisa kecemasan dari aula tadi.

"Ada apa?"

"Dia selalu mengejar dan menyukai Kakak Zhao. Namun hari ini, di depan semua orang, dia justru terang-terangan mengatakan menyukai Shen Mufeng."

"Memang aneh. Apalagi si kaku Shen Mufeng itu mendadak sudi hadir hari ini," gumam sang selir, terdengar ikut berpikir keras.

Gu Lian meremas saputangannya dengan geram. "Apakah... apakah ini rencana mereka berdua sejak awal untuk mempermalukan Ayah dan Kakak Zhao?"

Gu Mingyue tersenyum samar. Alih-alih bersembunyi, ia kembali melangkah dan sengaja menginjak tumpukan dedaunan kering di bawah kakinya hingga menimbulkan bunyi gemerisik yang kentara. Sentakan suara itu seketika membuat dua perempuan di halaman paviliun menoleh panik ke arah pintu pagar bulat.

Suasana mendadak senyap saat siluet Gu Mingyue tertangkap oleh penglihatan mereka. Mengabaikan ketegangan yang merayap di wajah musuhnya, Gu Mingyue menyunggingkan senyum tipis seraya mengangguk formal.

"Selir Lin," sapanya ringan dengan penekanan posisi yang sengaja ia jatuhkan, sebelum akhirnya kembali melanjutkan langkah menuju paviliun pribadinya.

Kedua wanita itu buru-buru membalas salam dengan kaku, lalu bergegas masuk ke dalam paviliun mereka dengan wajah pucat menahan malu.

Gu Mingyue terus melangkah hingga tiba di halaman paviliunnya sendiri. Namun, langkahnya seketika melambat saat mendapati seorang pria tengah berdiri tegap di sana, didampingi oleh seorang pengawal pribadi. Jubah putih bersih yang melambai ditiup angin sudah cukup menjelaskan siapa sosok berwibawa tersebut.

"Jenderal Agung Shen," sapa Mingyue sembari membungkuk hormat, menyembunyikan keterkejutannya.

Shen Mufeng menyunggingkan senyum samar yang nyaris tak kentara. "Nona Besar Gu, saya sudah cukup lama menunggu Anda di sini."

"Apakah ada keperluan mendesak, Jenderal?"

Pria itu mengangkat sebelah alisnya dengan gestur jenaka namun mengintimidasi. "Tentu saja. Bukankah di aula tadi Anda baru saja menyeret nama saya dan memicu sebuah skandal besar?"

Gu Mingyue tersenyum lembut, sama sekali tidak gentar dengan tatapan tajam pria di hadapannya. "Jika demikian, silakan masuk dan kita bicarakan hal ini di dalam paviliun saya, Jenderal."

Gadis itu mengedarkan pandangan sekilas di sekitar mereka. "Sebab saya rasa, tempat terbuka seperti ini memiliki jauh lebih banyak telinga dan mulut daripada semestinya."

Shen Mufeng menatap wajah Gu Mingyue selama beberapa saat dalam keheningan. Embusan angin musim semi yang bertiup pelan menerbangkan beberapa kelopak bunga di sekitar mereka, membuat beberapa helai rambut Gu Mingyue mengibas lembut bersama lambaian kain hanfu-nya.

Seulas senyum tipis akhirnya lolos dari bibir tegas Shen Mufeng. "Saya rasa, desas-desus mengenai keanggunan Nona Besar Gu di ibu kota memang benar adanya."

Gu Mingyue tetap menatapnya lurus, tidak membiarkan ketegangan batinnya terbaca. Pandangan keduanya saling mengunci.

"Namun," lanjut Shen Mufeng, suaranya merendah penuh penekanan, "mereka tampaknya lupa untuk menambahkan betapa beraninya Nona Besar Gu."

Gu Mingyue terkekeh pelan, mencairkan suasana dengan keanggunan yang alami. "Jenderal Agung Shen terlalu memuji saya."

"Saya sedang tidak memuji."

...----------------...

1
Ana Dww
Hai semua, ini adalah karya pertamaku dengan tema pembalasan wanita bergenre Fantasi Kelahiran Kembali.

Iseng aja bikin karena lagi suka nonton drachin 🦭

Semoga kalian menyukainya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!