~
Nayanika Sadira Pangestu, gadis kaya raya yang cantik, nakal, dan bar-bar, akhirnya kena batunya. Karena saking seringnya bikin pusing, ia "dibuang" orang tuanya ke sebuah pesantren pedalaman untuk bertobat.
~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 23
***
Pesan singkat yang dikirimkan oleh Gus Zayyan dari lantai dua belas Menara Al-Falah Holding masuk ke gawai Nayanika tepat saat luhur baru saja usai. Naya yang sedang melipat mukenanya di atas kasur barak menatap layar benda pipih itu dengan dahi berkerut.
[ Makan obatmu tepat waktu setelah makan siang. Jangan mencoba menyelinap keluar barak lagi saat malam hari, udara sedang tidak bagus untuk fisikmu yang baru sembuh. ]
Naya mendengkus hambar, namun jemarinya tidak menolak untuk mengetikkan balasan dengan gaya khasnya.
[ Nggak usah sok ngatur, Gus Kaku. Gue udah sembuh total ya! ]
Ia melemparkan gawai itu ke atas bantal dengan jantung yang mendadak berdegup sedikit lebih cepat. Namun, ketenangan yang baru saja ia rasakan tidak bertahan lama. Di luar barak, kebisingan yang ganjil mulai merayap masuk ke dalam kompleks asrama putri.
"Ada pencurian! Gelang emas milik Mbak Zulfa hilang dari laci kamar depan!"
Pekikan itu bersahut-sahutan, memutus ketenangan siang hari di lorong-lorong barak. Naya yang masih terduduk di kasurnya mendongak saat pintu kamarnya digebrak kasar dari luar. Tiga orang santriwati senior—antek-antek loyal Fida yang dipimpin oleh seorang gadis bermata belo bernama Mega—melangkah masuk dengan wajah yang dibuat penuh amarah. Di belakang mereka, beberapa pengurus kamar asrama ikut mengekor dengan gundah.
"Ada apa ini, Mbak-Mbak sekalian? Kenapa masuk tanpa mengetuk pintu dengan sopan?" tegur Aliyah yang baru saja meletakkan kitabnya di atas meja kecil. Wajahnya tampak tegang namun suaranya tetap dijaga sehalus mungkin demi adab santri.
"Jangan banyak bicara, Aliyah! Kami sedang melacak barang hilang," seru Mega ketus, matanya langsung tertuju lurus pada Naya yang masih melipat kaki di atas kasur. "Gelang emas murni milik Zulfa hilang tepat setelah jam makan siang tadi. Dan kebetulan, ada beberapa santriwati yang melihat anak kota ini kelayaban di dekat kamar depan."
Naya menaikkan sebelah alisnya, bibirnya menyunggingkan senyum sinis. "Gue? Kelayaban di kamar depan? Sejak selesai salat jemaah gue di sini melipat mukena, ya. Jangan asal nuduh kalau nggak punya mata."
"Mbak Mega, mohon maaf sebesarnya... Mbak Naya sejak tadi bersama kami di dalam kamar ini. Beliau tidak ke mana-mana," bela Sarah yang baru masuk membawa gayung, wajahnya pucat namun tetap mencoba pasang badan dengan bahasa yang teramat santri dan sopan.
"Kalian berdua pasti membelanya karena kalian teman dekatnya, kan?!" cecar santriwati senior lain di belakang Mega. "Pengurus kamar, tolong geledah lemari baju milik Nayanika! Biar semuanya jelas dan santri pencuri seperti dia bisa segera dikeluarkan dari pondok ini seperti Fida!"
Pengurus kamar yang merasa terdesak akhirnya mendekati lemari kayu sederhana milik Naya. Naya hanya melipat kedua tangannya di dada, menatap jengah sandiwara murahan yang sedang dimainkan di depannya.
Srek!
Pintu lemari dibuka kasar. Pengurus mulai mengaduk-aduk tumpukan gamis dan jilbab milik Naya. Tepat di bawah lipatan baju paling bawah, sebuah benda berkilau kuning keemasan terjatuh dan berdenting keras di atas lantai semen.
Ting!
Sebuah gelang emas rantai tebal berkilau di bawah cahaya matahari siang.
"Nah! Benar, kan?! Ini gelang milik Zulfa!" pekik Mega dengan wajah puas yang tidak bisa disembunyikan. "Astagfirullah hal adzim... ternyata Al-Falah benar-benar kemasukan pencuri dari kota! Pengurus, tunggu apa lagi? Laporkan anak ini ke dewan pengurus pusat agar dia diseret dan diusir dari sini sekarang juga!"
Sarah dan Aliyah menutup mulut mereka dengan tangan, syok luar biasa.
"Mbak Naya... ini... ini tidak mungkin, kan?" bisik Aliyah dengan mata yang mulai berkaca-kaca, menatap Naya dengan pandangan memohon agar sahabatnya membela diri.
Naya menatap gelang di lantai itu, lalu beralih menatap wajah Mega yang sedang tersenyum kemenangan. Otak cerdas anak Jakarta-nya langsung bekerja. lIa tahu betul ini adalah jebakan licik dari sisa-sisa pengikut Fida yang dendam karena junjungan mereka dikeluarkan secara sepihak kemarin.
Naya bangkit dari kasurnya, melangkah perlahan mendekati Mega. Bukannya ketakutan atau menangis, Naya justru menunduk, mengambil gelang emas itu, lalu melemparkannya tepat ke arah dada Mega hingga gadis senior itu terkesiap menangkapnya.
"Gue nggak tahu siapa yang naruh mainan murah ini di lemari gue," ucap Naya, suaranya terdengar dingin dan tajam, membuat seisi kamar mendadak senyap. "Tapi kalau kalian pikir jebakan kelas teri kayak gini bisa bikin gue nangis dan merangkak pulang ke Jakarta... kalian salah besar. Simpan aja dulu senyum puas lu itu, Mbak Mega. Karena roda itu berputar, dan biasanya... yang main licik bakal mampus duluan."
"Kamu... berani-beraninya kamu bicara sekasar itu pada senior?!" bentak Mega dengan wajah memerah menahan malu sekaligus kesal karena reaksinya Naya sama sekali di luar perkiraan mereka. "Ayo kita laporkan dia!"
Sore harinya, setelah kegemparan di barak sedikit mereda karena pengurus asrama masih memproses laporan kehilangan tersebut ke kantor pusat, Naya memilih untuk membersihkan diri. lIa berjalan sendirian menuju bilik kamar mandi belakang yang terletak di dekat kebun bambu—area yang biasanya sepi saat menjelang waktu ashar karena para santriwati lebih memilih mengantre di kamar mandi utama.
Langkah kaki Naya yang masih agak gontai akibat sisa lemas terhenti tepat di lorong semen di balik bilik bambu. Tiga siluet tubuh berkerudung panjang sudah berdiri tegak, memblokade jalan keluar satu-satunya.
Mega, Zulfa, dan satu santri senior bertubuh bongsor sudah menunggu dengan wajah masam.
"Mau ke mana, Anak Kota?" sindir Zulfa, sang pemilik gelang, dengan nada suara yang dibuat sehalus mungkin namun sarat akan bisa racun. "Setelah berbuat onar dan mencuri, apakah kamu masih punya muka untuk mandi dan bersuci di pondok ini?"
Naya menghela napas lelah, meletakkan handuk dan peralatan mandinya di atas pembatas semen. "Gue lagi capek ya, badan gue masih agak pegal. Kalau kalian mau tanding balapan atau berantem fisik, mending entar sore aja di lapangan."
"Nayanika, jaga bicaramu!" bentak santri senior yang bertubuh bongsor, melangkah maju hingga bayangan tubuhnya mengintimidasi Naya. "Kamu pikir kami tidak tahu kelicikanmu? Kamu menggunakan koneksi orang dalam kotamu atau menyuap pengurus ndalem, kan? Sampai-sampai Mbak Fida yang sudah bertahun-tahun mengabdi dan dihormati di sini bisa dikeluarkan dalam waktu semalam hanya karena urusan sepele denganmu!"
Naya terkekeh sinis, menyandarkan bahunya pada tiang bambu dengan gaya angkuh. "Menyingkirkan Fida? Hebat banget ya gue kalau bisa ngatur-ngatur Kiai Besar di sini. Lu semua itu sebenernya bodoh atau emang sengaja menutup mata, sih? Teman lu si Fida itu diusir karena busuknya kelakuan dia sendiri, bukan karena gue!"
Mega melangkah maju, jarinya menunjuk tepat di depan wajah Naya, hampir menyentuh ujung hidungnya. "Jangan berlagak suci! Di sini kami yang senior, Nayanika! Kamu itu cuma anak buangan, anak liar tidak tahu adab yang dititipkan orang tuamu karena mereka sudah tidak sanggup mendidikmu di Jakarta! Kamu tidak punya hak untuk menghancurkan posisi kami di Al-Falah!"
Mega mendorong bahu Naya dengan cukup keras, membuat tubuh Naya yang belum pulih seratus persen mundur satu langkah hingga membentur dinding bambu. Prak!
Rasa nyeri sempat menjalar di punggungnya, namun sentuhan fisik itu justru menyalakan sumbu petasan di dalam diri Nayanika Pangestu. Jiwa bar-bar yang biasa menaklukkan jalanan ibu kota seketika meledak.
Naya menegakkan kembali punggungnya. la maju satu langkah besar, menepis tangan Mega dengan sentakan kasar hingga gadis senior itu meringis kesakitan. Naya mendekatkan wajahnya, menatap Mega dengan sepasang mata yang berkilat tajam, sedingin es, memancarkan aura kedaulatan murni dari seorang pewaris Pangestu Grup sekaligus pemilik sah tanah yang sedang mereka injak.
"Dengar ya, Mbak-Mbak yang terhormat," desis Naya, suaranya tidak berteriak, namun setiap kata yang keluar terdengar begitu menekan dan mematikan. "Gue emang anak baru di sini. Gue emang nggak tahu apa-apa soal kitab atau aturan pondok kalian. Tapi kalau soal mental... jangan pernah samakan gue dengan santri jemaah kalian yang bakal nangis kalau lu gertak!"
Naya beralih menatap Zulfa, lalu ke arah santri bertubuh bongsor yang mendadak tertegun melihat keberanian Naya.
"Lu mau main drama pencurian emas? Lu mau main dorong-dorongan di kamar mandi belakang yang sepi kayak gini? Silakan!" tantang Naya dengan dagu terangkat tinggi, tidak ada ketakutan sedikit pun di matanya. "Tapi perlu kalian tahu... tanah yang hari ini kalian injak buat berdiri, ubin semen tempat kalian bersujud, sampai air yang kalian pakai buat mandi di bilik ini... semuanya bisa hilang dalam kedipan mata kalau gue mau. Gue tidak butuh menyuap pengurus ndalem demi menyingkirkan kalian. Cukup dengan satu kalimat dari mulut gue, jangankan kalian bertiga... seluruh barak kalian ini bisa gue ratakan dengan tanah!"
Mega terkesiap, mundur selangkah dengan wajah kaget luar biasa. lIa merinding melihat sorot mata Naya yang mendadak dipenuhi oleh wibawa kekuasaan kelas atas yang belum pernah ia lihat dari santri mana pun di pesantren ini.
"K-Kamu... kamu bicara apa? Jangan berhalusinasi!" sahut Mega, suaranya mulai bergetar gundah, kehilangan taring senioritasnya seketika.
"Gue nggak pernah halusinasi kalau soal kekuasaan," balas Naya dengan senyum dingin yang menohok. "Jadi, sebelum gue bener-bener kehilangan kesabaran dan bikin kalian bertiga menyusul Fida malam ini juga... mending lu semua minggir dari hadapan gue sekarang. Gue mau mandi."
Ketiga santri senior itu terpaku di tempatnya, membeku dalam keheningan lorong bilik bambu. Nyali mereka yang tadinya berapi-api runtuh seketika oleh ketegaran verbal anak kota yang sama sekali tidak melibatkan otoritas Gus Zayyan ataupun keluarga ndalem. Mereka menyadari, di balik jilbab instan santri biasa itu, ada seekor macan yang salah mereka bangunkan.
Tanpa memedulikan lagi wajah-wajah pucat para seniornya, Naya meraih handuknya kembali dengan santai, lalu melangkah menerobos barisan mereka begitu saja, menyisakan deru angin sore yang menggoyang dedaunan pohon bambu dengan suara gemerisik yang dingin.
BERSAMBUNG
ahhhh gus zayyan, naya yg di perhatiin aku yg baperrrrrrr
lanjut thor up yg banyak