NovelToon NovelToon
Sistem Profesi Terhebat : Insinyur

Sistem Profesi Terhebat : Insinyur

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Mengubah Takdir / Harem
Popularitas:5.4k
Nilai: 5
Nama Author: Desau

Meski terus didera sulitnya hidup, Faris tak pernah lupa dengan mimpinya yang ingin jadi insinyur. Ketika dia difitnah dan dipenjara karena sebuah insiden, saat itulah sistem muncul untuk membantunya mengejar profesi impian.

DING!

"Selamat datang di sistem profesi terhebat!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 20 - Mencari Rumah

Keesokan paginya, sinar matahari yang hangat menembus celah-celah jendela kamar Faris. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia terbangun bukan oleh suara peluit sipir ataupun derit pintu sel, melainkan oleh kicauan burung dan aroma nasi goreng yang berasal dari dapur. Ia membuka mata perlahan, lalu menatap langit-langit kamarnya sambil tersenyum kecil.

"Aku benar-benar sudah pulang."

Perasaan itu masih terasa seperti mimpi. Ia bangkit dari tempat tidur, merapikan selimut, kemudian melakukan peregangan ringan. Tubuhnya terasa jauh lebih bugar setelah semalaman beristirahat. Efek paket bela diri yang dibelinya semalam juga membuat setiap gerakan terasa lebih ringan dan seimbang.

Setelah mandi dan mengenakan kemeja sederhana berwarna biru muda serta celana panjang hitam, Faris keluar dari kamar. Siti sudah duduk di ruang makan sambil menyiapkan sarapan, sedangkan Bu Nuri datang lebih pagi untuk membantu memasak.

"Wah, akhirnya bangun juga," ujar Bu Nuri sambil tersenyum.

Faris terkekeh kecil. "Sudah lama tidak tidur senyenyak itu."

Siti memperhatikan putranya beberapa saat. Entah mengapa, pagi itu Faris terlihat sedikit berbeda. Wajahnya memang masih sama, tetapi sorot matanya tampak lebih hidup. Cara berdirinya juga lebih tegap dibanding sebelumnya.

"Kamu kelihatan lebih segar," ujar Siti.

"Mungkin karena sekarang pikiranku sudah tenang."

Mereka bertiga menikmati sarapan sederhana sambil mengobrol mengenai rencana ke depan. Faris tidak ingin berlama-lama tinggal di rumah tua itu. Bukan karena tidak menyukainya, melainkan karena dia ingin ibunya tinggal di lingkungan yang lebih nyaman dan lebih dekat dengan rumah sakit.

"Ibu," ucap Faris setelah menghabiskan sarapannya, "hari ini aku mau melihat-lihat rumah."

Siti tampak terkejut.."Rumah?"

"Iya. Kalau ada yang cocok, kita pindah."

Siti langsung menggeleng. "Rumah ini masih bagus."

"Memang bagus, Bu. Tapi jalannya sempit. Ambulans juga susah masuk kalau terjadi sesuatu. Aku ingin Ibu tinggal di tempat yang lebih nyaman."

Bu Nuri mengangguk setuju.

"Menurut saya juga begitu. Sekarang Faris sudah punya kesempatan memulai hidup baru."

Siti akhirnya hanya tersenyum pasrah. "Asal jangan memaksakan diri. Aku tahu batas kemampuanku. Tapi memangnya kamu punya uang, Ris?"

"Ya cari aja dulu, Bu. Uang nanti urusan belakangan," sahut Faris sambil memegangi tengkuk.

Setelah berpamitan, Faris segera berangkat menuju sebuah kantor agen properti yang cukup terkenal di kota itu. Berkat kemampuan baru dari sistem, dia lebih percaya diri saat berbicara dengan orang lain.

Begitu memasuki kantor, seorang resepsionis menyambutnya dengan ramah.

"Selamat pagi. Ada yang bisa kami bantu?"

"Saya ingin mencari rumah."

"Tentu, Pak. Silakan duduk sebentar."

Tak lama kemudian, seorang agen properti menghampiri meja tamu. Wanita itu berusia sekitar awal tiga puluhan, mengenakan setelan kerja berwarna krem dengan rambut yang diikat rapi. Penampilannya profesional, sementara senyumnya terlihat hangat.

"Selamat pagi. Perkenalkan, saya Maya."

Faris berdiri dan menjabat tangannya dengan sopan. "Faris."

"Silakan duduk, Mas Faris."

Setelah mendengarkan kebutuhan Faris, Maya membuka beberapa katalog perumahan.

"Kalau Bapak mencari lingkungan yang tenang dan dekat fasilitas kesehatan, saya punya beberapa pilihan."

Faris memperhatikan satu per satu gambar rumah yang diperlihatkan.

"Yang ini menarik."

"Itu berada di kawasan Green Harmony Residence. Lingkungannya cukup nyaman."

"Tidak terlalu jauh dari pusat kota?"

"Hanya sekitar dua puluh menit."

Faris mengangguk.."Boleh kita lihat langsung?"

"Tentu."

Beberapa menit kemudian mereka sudah berada di dalam mobil menuju lokasi perumahan.

Sepanjang perjalanan, Maya cukup terkejut karena Faris mampu mengajukan pertanyaan yang sangat rinci mengenai kualitas bangunan.

"Fondasinya menggunakan apa? Sistem drainasenya bagaimana? Kalau hujan deras, apakah pernah banjir?"

Maya berkedip beberapa kali. "Jarang ada pembeli yang bertanya sedetail ini."

Faris tersenyum kecil. "Saya memang sedikit menyukai dunia konstruksi."

"Sedikit?"

Maya tertawa pelan. "Kalau melihat pertanyaannya, sepertinya bukan sedikit."

Diam-diam Maya memperhatikan Faris dari ujung kaki hingga kepala. Dia merasakan getaran aneh saat menatap Faris. Perlahan dia menggigit bibir bawahnya.

'Badannya lumayan juga. Terus cakep juga nih berondong. Jadi pengen dibelai,' batin Maya. Namun dia berusaha menutupi rasa ketertarikannya itu agar tetap profesional.

Sesampainya di lokasi, mereka mulai berkeliling melihat rumah contoh. Faris memeriksa dinding, struktur atap, kemiringan saluran air, hingga kualitas finishing bangunan.

Sesekali Maya memperhatikan Faris lagi. Namun pemuda itu justru lebih tertarik mengamati balok beton dan sambungan struktur.

"Mas Faris."

"Iya?"

"Boleh jujur?"

"Silakan."

"Awalnya saya kira Mas hanya calon pembeli biasa."

"Lalu sekarang?"

"Tapi kayaknya pangeran yang lagi nyasar," balas Maya.

Faris membulatkan mata. Rayuan itu justru membuatnya merinding. "A-apaan sih, Mbak... Hehe..." Dia bingung menghadapi wanita yang bersikap begitu. Mengingat Faris tak pernah dirayu oleh wanita sebelumnya.

Maya tersenyum. "Kalau begitu, perusahaan konstruksi mana yang merekrut orang berbakat sepertimu sih, Mas? Selain ganteng kayaknya Mas nya pintar juga."

Faris hanya menggeleng pelan. "Belum ada."

"Duh... Sayang sekali. Mau ikut saya saja nggak?"

Faris langsung menggeleng. "Nggak usah, Mbak. Nggak usah..."

Setelah hampir satu jam berkeliling, Faris akhirnya berkata, "Rumahnya bagus. Tapi aku masih ingin melihat beberapa pilihan lagi sebelum memutuskan."

"Itu keputusan yang bijaksana," jawab Maya. "Kalau nanti Mas membutuhkan bantuan lagi, silakan hubungi saya."

"Terima kasih."

Mereka saling berjabat tangan sebelum berpisah.

Dari sana, Faris langsung menuju workshop tempat Pak Adi bekerja. Begitu memasuki area proyek, beberapa pekerja langsung mengenalinya.

Pak Adi yang sedang memeriksa mesin las segera menghampirinya. "Wah, cepat sekali datang."

"Aku tidak mau bermalas-malasan."

Pak Adi tertawa. Tak lama kemudian, Pak Bandi juga datang membawa beberapa gulungan gambar teknik.

"Nah, orang yang kita tunggu akhirnya muncul."

Faris langsung memberi salam. "Selamat pagi, Pak."

Pak Bandi mengangguk. "Bagaimana? Sudah siap bekerja?"

"Sangat siap."

Pak Bandi mengajak Faris masuk ke ruang rapat kecil di samping workshop. Di atas meja sudah terbentang beberapa lembar gambar konstruksi berukuran besar.

Faris langsung mengenali bentuknya. "Jembatan?"

Pak Bandi tersenyum.."Benar."

Beliau menarik kursi lalu duduk. "Saat ini saya sedang menjadi konsultan untuk proyek pembangunan jembatan penghubung antarkabupaten."

Faris memperhatikan gambar tersebut dengan serius. "Kelihatannya proyek besar."

"Nilainya ratusan miliar."

Mata Faris sedikit membesar.

Pak Adi menyandarkan tubuhnya ke kursi.

"Masalahnya, proyek ini sedang mengalami kebuntuan."

Faris mengernyit. "Kebuntuan?"

Pak Bandi mengangguk. "Tim desain beberapa kali berselisih paham."

"Kenapa?"

Pak Bandi menghela napas panjang. "Karena arsitek utamanya."

Faris menunggu penjelasan lebih lanjut.

"Dia masih muda," lanjut Pak Bandi. "Lulus dengan prestasi luar biasa dan memang sangat berbakat."

"Kalau begitu bukankah bagus?"

"Masalahnya bukan kemampuan."

Pak Adi menyela sambil tertawa kecil. "Masalahnya sifatnya."

Pak Bandi mengangguk pelan. "Dia sangat keras kepala. Terlalu yakin dengan idenya sendiri sehingga sulit menerima masukan. Sudah beberapa kali terjadi perdebatan dengan tim struktur."

Faris kembali melihat gambar di atas meja. "Jadi desain arsitekturnya bertabrakan dengan kebutuhan teknis?"

"Kurang lebih begitu."

Pak Bandi tersenyum tipis. "Itulah sebabnya aku senang kamu datang hari ini."

Faris tampak bingung. "Saya?"

"Ya."

Pak Bandi menunjuk gulungan gambar di hadapannya. "Besok ikut aku ke lokasi proyek."

Faris spontan membelalak. "Saya?"

"Anggap saja sebagai kesempatan belajar."

Pak Adi ikut menepuk bahunya. "Jangan khawatir. Tidak ada yang mengharuskanmu menyelesaikan masalah."

Pak Bandi tersenyum penuh arti. "Tapi... siapa tahu kamu justru menemukan sesuatu yang selama ini tidak kami lihat."

1
Ita Xiaomi
Faris kerja yg giat dan bahagiakan ibumu jg.
Ambu Rinddiany Thea
awas noh gengsi jadi cintrong
Rommy Wasini Khumaidi
bagus ceritanya,makasih sudah membuat cerita yang bagus
Desau: makasih kak😍🤭
total 1 replies
Rommy Wasini Khumaidi
gengsi digedein si Vanesa
Ambu Rinddiany Thea
gantuuung lagi kaya jemuran kan kan😔
Ambu Rinddiany Thea
tenang ris rata2 emamg semua cewe gt ga mau kalah bentar lagi juga mesem mesem sendiri 🤭😁
Rommy Wasini Khumaidi
yah belum dapat point ya Ris,sabar bentar lagi vanesa bakal mengakui kekalahanya
Ita Xiaomi
🤣🤣🤣 mulai resah
Ita Xiaomi
👍👍👍. Di daerah ortuku pernah mengalami jembatannya ambruk dan banyak nyawa yg melayang. Anak-anak yg kehilangan nyawa 😢
Ita Xiaomi
Mau lihat reaksi arsitek utama saat ktm ama Faris.
Rommy Wasini Khumaidi
sudah pasti Faris akan menemukan solusi
Ambu Rinddiany Thea
lah malah nyalahin orang dasar otak dengkul , cerita anak kuliahan tp sableng .. wkwkwkwkw
Rommy Wasini Khumaidi
yeyy Faris jadi kaya👏👏
Apriwan 99
up yg banyak ,ok sampai jumpa bulan depan
Ita Xiaomi
Baru belajar sistemnya😁
Ita Xiaomi
Alhamdulillah bs kumpul lg ama ibunya.Klo dah sukses nanti berbagi rejeki jg dgn Bu Nuri, Pak Adi dan Pak Bandi.
Ita Xiaomi
Nanti bantu pak Adi di galerinya dan bantu Pak Bandi jg di proyeknya😁.
Rommy Wasini Khumaidi
selamat ya Ris,atas kebebasanmu dan pencapaian poin sistemnya
Ambu Rinddiany Thea
Alhamdulillah akhirnya setelah sekian purnama bebas juga kamu faris , borong semua faris gunakan semua hadia dari sistem buat masa depan kamu .. 🥰
Rommy Wasini Khumaidi
Semoga cepat keluar ya Ris
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!