NovelToon NovelToon
Gadis Buta Dan Pemuda Buruk Rupa

Gadis Buta Dan Pemuda Buruk Rupa

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Diam-Diam Cinta / Orang Disabilitas
Popularitas:779
Nilai: 5
Nama Author: ELIYONA_5758

Melati, gadis miskin dan buta, yang dijual oleh bibinya. Demi utang. Tak pernah mengira, pelariannya dari kejaran anak buah Juragan Herwanto akan menuntunnya pada dekapan masa lalu.

Di sebuah gang sempit, ia dipertemukan kembali dengan Satya, sahabat karibnya saat tumbuh bersama di panti.

Lima tahun berpisah, takdir kembali mempertemukan keduanya, dalam balutan nestapa yang berbeda.

Melati tidak pernah tahu bahwa Satya hidup dalam bayang-bayang wajah yang cacat, akibat kebakaran hebat masa lalu. Tragedi maut yang menewaskan orang tuanya. Satya sengaja didepak dan dianggap mati oleh pamannya yang picik demi menguasai harta warisan keluarga Utama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ELIYONA_5758, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6. Dimanipulasi Anak Sendiri

Hingga Satya mulai bersikap hangat padanya. Meraka mulai dekat.

Satya yang pintar, membuat Melati kagum.

Teman pria pertamanya itu, selalu sigap membantu Melati. Menyelesaikan soal sulit. Jemari Satya dengan sabar menuntun tangannya menulis huruf Braille di atas kertas tebal.

Hari berganti. Selang empat bulan berada di panti. Melati menanyakan, “Kenapa kamu tidak sekolah sepertiku?”

“Aku sekolah kok. Home-schooling.”

Melati yang tidak tahu, bertanya, “Apa itu? Kedengarannya keren.”

“Ada guru yang didatangkan ke sini. Khusus mengajar untukku.”

“Kok enak? Aku kok tidak? Padahal kita sama-sama ….” Melati terdiam, tak berani melanjutkan kalimat.

“Sama-sama cacat ya?” suara Satya terdengar datar. “Aku kan nggak bisa jalan hehehe “

“Maaf.” Melati menunduk.

“Tak apa. Toh empah bulan di sini. Berkat kamu, aku jadi punya semangat belajar berjalan.”

“Ayo semangat lagi.” Melati meraba dengan tingkat, mencari kursi roda Satya. “Lho kok nggak ada?”

“Kamu tidak tahu, kalau sejak sebulan lalu. Aku mulai jalan pakai tongkat pemapah.”

“Wah keren! Kamu hebat Satya. Arkhhh ….”

Tanpa sengaja Melati, hampir tersandung batu. Beruntung Satya sigap menangkapnya.

“Kamu nggak apa?”

“Satya kamu ….”

“Aku bisa berdiri tanpa tongkat, Mel!” Satya berteriak, tepat di telinga Melati. Membuat gadis itu menjatuhkan tongkat, untuk menutup telinga.

“Bantu aku duduk.” Melati meraba sekitar.

Satya sigap membantunya duduk. Lalu mulai berjalan. “Aku bisa jalan, ini semua berkat kamu.”

“Berkat Tuhan, Satya. Bukan aku.” Melati tersenyum.

“Iya. Terimakasih Melati.” Satya menganggap tangan Melati. Tanpa sadar. Membuat gadis itu terhenyak sesaat.

“Doakan aku bisa melihat ya?” Melati buru-buru mengarahkan pembicaraan. “Aku ingin melihat warna,” cicihnya polos. “Sejak lahir aku buta. Aku hanya tahu gelap. Aku ingin melihat wajah. Terutama wajah kamu.”

Hening.

Satya diam. Tak ada balasan kata. Hanya embusan angin, dingin menerpa wajah.

“Ah tapi sepertinya itu sulit. Aku bisa melihat. Kalau ada orang yang mau sukarela mendonorkan mata, untukku.” Melati mengoreksi cepat. “Itu juga kalau cocok. Kalau tidak. Itu akan sulit.”

“Kamu akan melihat, Mel. Suatu saat kamu akan melihat.”

Lamunan Melati terhenti di kalimat akhir Satya. Saat suara jam beker, terdengar nyaring. Ia kembali meraba cepat. Mematikan, sebelum Bibi dan Mawar mengamuk. Detak panik menyergap dadanya saat telapak tangannya menekan tombol pemutus suara di atas meja nakas.

Sambil mendekap benda kecil itu. Melati bergumam, “Benar juga. Satya tak pernah membiarkan aku meraba wajahnya.” Ia menghela napas. Bayangan penolakan halus Satya setiap kali ia ingin menyentuh pipinya kini mulai masuk akal setelah mendengar hinaan bibinya tadi.

“Aku tak pernah melihat wajah. Tapi aku bisa merasakan … cintanya.” Melati mendekapkan jam weker itu ke dadanya, tersenyum getir di tengah kegelapan, memantapkan hati bahwa rupa tak akan pernah mengubah rasa yang telah tertanam sejak lama. “Toh aku tak tahu wujud bagus dan tidak itu bagaimana? Aku hanya tahu gelap ….”

“Aku izin sebentar, ya, Pak,” ujar Satya pada Pak To, keesokan paginya.

Langkah kakinya yang hendak melangkah keluar dari area kerja terhenti tepat di samping meja kasir. Membuat suasana pagi di bengkel yang biasanya bising oleh suara mesin mendadak senyap dan menegang.

“Eh, tumben.” Pak To mengeryit. Pria paruh baya itu meletakkan buku nota yang sedang dipegangnya, menatap lekat-lekat pada guratan cemas yang tercetak jelas di wajah rusak pemuda di hadapannya.

“Aku sudah berpikir lama. Soal Melati. Sepertinya aku harus ke rumah bibinya.” Satya nampak berpikir sejenak. Kemudian menatap Pak To dengan pandangan tak enak hati.

“Kalau boleh saya mau minta tolong. Apa Bapak bisa pinjamkan saya uang. Sekitar dua ratus ribu. Saya ingin menyewa kos bulanan, buat Melati. Nanti bulan depan, Bapak bisa memotong gaji saya. Biar saya terima lima ratus ribu juga gak apa.”

Tangannya meremas ujung kaus kerja yang bernoda oli, menunjukkan betapa mendesaknya intrik yang sedang menjerat nasib gadis buta itu.

“Eh, maksudnya gimana ini, Den?” Pak To mengernyit. Wajah tuanya mendadak pias, tersentak oleh pengorbanan yang dirasa terlalu besar. “Gaji Den Satya dua juta, kalau dipotong ….”

“Tunggu. Kok dua juta, Pak?” Satya tersentak. Ia melangkah maju satu jangkah, menatap Pak To dengan mata membelalak lebar. “Gaji saya kan sejuta. Tiap ada kesalahan, dipotong seratus ribu. Bulan kemarin saja saya terima tujuh ratus lho, Pak.”

“Wah si Rina nggak beres ini,” tutur Pak To geram. Mengepal tangan kuat. Urat-urat di pelipisnya menegang, menyadari ada kelicikan di balik laporan keuangan yang dikelola putrinya sendiri. “Gaji pegawai di sini, semua sama satu setengah, sampai dua juta.”

Pak To menghela napas, mulai gusar. Ia bahkan tanpa sadar menggebrak meja kayu di dekatnya, membuat cangkir kopinya bergetar halus.

“Kok si Taufik dapat lima juta, Pak?” Eko yang baru datang, memotong percakapan.

Ia melempar kunci pas ke atas kotak perkakas, memicu dentang logam yang nyaring di tengah ketegangan yang kian memuncak.

“Apa? Taufik kan anak baru. Masak iya dapat lima juta?” Pak To bingung. Ia memandang Eko dengan tatapan tak percaya, seolah seluruh sistem kepercayaannya baru diruntuhkan.

“Kalau nggak percaya. Cek aja catatan transferan Mbak Rina ke karyawan. Jangan cuma nota keluar masuk. Saya saja kena potong dua ratus ribu, Pak. Hanya gara-gara kurang senyum,” sambat Eko, “padahal wajah saya kan memang garang kayak kolektor leasing, Pak.”

Eko mengusap wajahnya yang sangar dengan lap kumal, berusaha mencairkan drama internal yang kian memanas.

“Aku akan mengecek. Kalian tenang saja.” Pak To menepuk pundak Eko dan Satya gantian. Sambil menarik napas dalam-dalam, mencoba mengendalikan emosinya yang siap meledak. Demi meluruskan ketidakadilan di tempat kerjanya.

“Lebih kasihan Satya, Pak.” Eko melanjutkan, “tapi karena kegoblokan dia juga sih. Nggak berani bantah. Padahal sudah dizalimi begitu.” Ekor matanya melirik Satya dengan tatapan iba, sekaligus kesal, atas kepasrahan sahabatnya yang keterlaluan.

“Aku tak apa, sudah jangan mengadu.” Satya mendengkus ke Eko, lalu mengalihkan tatapan ke Pak To. Ia tidak ingin konsentrasinya terpecah dari urusan menyelamatkan Melati dari cengkeraman Juragan Herwanto. “Mengenai pinjaman itu ….”

“Tenang saja Den … eh, maksudku Satya.” Dengan gerakan terburu, Pak To mengambil uang di kantongnya. “Ini pakai saja.” Beliau mengulurkan lima lembar uang merah dengan tangan bergetar.

“Kok banyak, Pak?” Satya menerima dengan bingung, uang lembaran lima merah dari tangan Pak To. Nilainya jauh melebihi apa yang ia minta untuk sekadar menyewa kamar kos.

“Sudah tak apa. Anggap sedekah ke anak yatim. Pak To kan juga jarang sedekah sama kita.” Eko mendorong tangan Satya, supaya memasukkan uang ke saku. Ia menyeringai lebar, mencoba meringankan beban pikiran yang menggelayuti pundak Satya.

“Sontoloyo kamu!” Pak To mencebik ke arah Eko, tapi tersenyum ke Satya. Meksi begitu, ia tetap mengangguk mantap, memberikan restu batin bagi perjuangan gadis muda, teman lama sang mantan majikan.

“Kalau begitu saya permisi, ya, Pak.” Satya pamit. Membalikkan badan dengan cepat, tatapannya menatap lurus ke arah jalan raya yang mulai ramai oleh intrik kehidupan kota kecil 'T'.

“Eh, mau ke mana?” Eko yang tak tahu apa-apa, menahan. Ia mencekal pergelangan tangan Satya yang tampak tergesa-gesa.

“Aku izin untuk hari ini saja, Ko. Titip bengkel ya.” Satya menepis. Kemudian melangkah cepat. Menuju motor pinjamannya. Ia mengabaikan panggilan Eko, fokusnya telah bulat seutuhnya untuk segera memacu kendaraan ke rumah Turi sebelum semuanya terlambat.

Sementara Eko menepuk dahi. “Amsyong, tiwas aku bela. Lha kok zong.” Kakinya menghentak ke lantai semen.

“Sudah, habis ini aku mau minta mutasian. Kalau ada selisih. Lumayan uangnya buat kamu. Ojo nesu gitu, toh.” Pak To menghibur, menepuk pelan pundak Eko.

Keduanya menatap kepergian Satya dengan helaan napas pasrah, di tengah keheningan pagi bengkel yang berselimut drama tersembunyi.

“Tumben, kamu meminjamkan pakaianmu?” Melati mengerutkan kening. Merasa heran, karena Mawar mendadani-nya pagi itu.

Bahkan meminjamkan pakaiannya. Jemarinya meraba kain sutra halus yang melekat di tubuhnya, memicu debar kecurigaan yang mendalam di dalam dada.

“Mumpung aku libur,” balas Mawar sambil memoleskan lipstik di bibir Melati. “Sempurna.” ia menarik kembali kuasnya, menatap hasil riasannya dengan senyum penuh intrik tersembunyi yang mengerikan.

“Kamu mau ajak aku jalan-jalan ya, makanya meriasiku begini?” Melati tersenyum kecil. Mencoba berpikir positif. “Sayang aku nggak bisa melihat. Padahal aku ingin melihat wajahku dan wajahmu.”

Ia menengadahkan wajah polosnya. Mencoba mencari ketulusan dari sepupunya di tengah kegelapan abadi yang menyelubunginya.

Mawar mencebik sinis. Tanpa Melati tahu.

"Wajahmu jelek. Kalau aku cantik. Kita sungguh tidak sepadan.” Sambil melangkah mundur egois, melempar alat riasnya kasar ke atas meja rias hingga berdenting nyaring.

“Hehehe, iya.” Melati menyembunyikan getir dengan kekehan kecil. Bahunya merosot turun, menyadari posisi dirinya yang selalu dianggap beban rendahan.

“Ayo.” Mawar menarik tangan Melati. Menggiringnya ke luar kamar.

Cengkeraman tangan Mawar terasa begitu erat dan dingin, memaksa langkah kaki Melati yang ringkih untuk mengikuti arahannya.

Sampai di rumah tamu. Tanpa Melati tahu, beberapa pria sudah menunggu. Dengan wajah penuh nafsu. Atmosfer ruangan mendadak terasa begitu pekat, mencekam, dan sarat akan ancaman yang mengerikan.

1
Harsoemi Akm
lanjutksn
Hesty Gemini
lanjut, jangan lupa mampir ya di karya aku. 🙏
ELIYONA: makasih.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!