Sejak bayi, Chelsea tumbuh dalam pelukan keluarga yang memberinya cinta tanpa batas.
Tanpa sadar ... Chelsea mencintai satu orang yang tak seharusnya ia cintai. Sampai sebuah rahasia menghancurkan semuanya.
Sayangnya, orang yang paling ia cintai memilih untuk mempercayai kebohongan. Chelsea pergi dengan hati yang hancur dan berjanji untuk kembali sebagai kebanggaan keluarga.
Dia bangkit dan membuktikan bahwa dirinya mampu berdiri sendiri. Saat semua kebenaran terungkap
El baru sadar bahwa dia telah kehilangan seseorang yang selalu mencintainya.
Namun di saat yang sama, seseorang datang membawa cinta yang selama ini diam-diam ia simpan, Al. Akankah Chelsea membuka hatinya kembali? Atau memilih meninggalkan semua luka di masa lalu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mama reni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab Tiga Belas
Restoran mewah itu biasanya menjadi tempat yang nyaman bagi El. Suasana tenang, musik lembut yang terdengar samar, dan pemandangan kota dari balik kaca besar seharusnya bisa membuat siapa pun merasa rileks. Tapi tidak yang pria itu rasakan hari ini.
Sejak mereka duduk di meja dekat jendela, pria itu hampir tidak mengatakan apa pun. Tatapannya lebih sering kosong menatap pemandangan di luar daripada melihat makanan yang sudah tersaji di depannya.
Zoya yang duduk di hadapannya mulai merasa ada sesuatu yang berbeda. Biasanya El memang tidak banyak bicara. Tapi hari ini diamnya terasa lain.
“El,” panggil Zoya pelan. El tidak langsung menjawab.
“El.”
Baru kali ini El menoleh. “Hm ... ya.”
Zoya memperhatikan wajah pria itu. “Kamu dari tadi diam.”
El hanya mengangkat alis sedikit.
“Ada apa?”
“Tidak ada apa-apa.”
Zoya tersenyum kecil, tapi matanya tetap mengamati El. “Kamu bukan orang yang pandai menyembunyikan sesuatu.”
El terdiam. Entah kenapa, ucapan itu membuat pikirannya kembali pada pagi tadi. Wajah Chelsea saat mengatakan akan pergi. Wajahnya yang tampak sedikit sedih dan matanya yang sembab.
El menarik napas panjang. “Chelsea pamit tadi pagi.”
Seketika ekspresi Zoya berubah. Ia berpura-pura terkejut. “Chelsea pergi?”
El mengangguk pelan.
“Kenapa?” Nada suara Zoya terdengar penuh rasa penasaran, tapi ia segera menambahkan dengan wajah sedih. “Maksudku ... kenapa dia harus pergi? Apa karena dia tahu siapa ibunya?”
Pertanyaan itu membuat tangan El yang memegang gelas berhenti. El menatap Zoya.
Zoya langsung terlihat gelisah. “Aku ... aku tidak bermaksud buruk waktu mengatakan semua itu, El.”
Beberapa detik El hanya diam. Lalu ia menjawab dengan suara datar. “Ini bukan salah kamu, Zoya.”
Zoya menatapnya. “Benarkah?”
El mengangguk. “Chelsea pergi karena keputusan dia sendiri.”
Zoya menunduk memainkan ujung jarinya. “Aku cuma takut Daddy dan Mommy kamu menyalahkan aku.”
El mengerutkan kening. “Kenapa mereka harus menyalahkan kamu?”
“Karena setelah aku mengatakan semuanya tentang ibunya Chelsea ....” Zoya menggigit bibirnya pelan. “Mungkin mereka akan berpikir aku yang menghancurkan hubungan kalian.”
El langsung menggeleng. “Tidak ada yang bisa menyalahkan kamu.”
“Tapi aku takut mereka mengira aku menghasut kamu.”
“Mereka tidak seharusnya berpikir begitu.”
Nada suara El terdengar lebih tegas. “Aku tahu tujuan kamu baik, Zoya.”
Zoya menatap El dengan mata yang terlihat sedikit berkaca-kaca. “Aku cuma ingin kamu tahu kebenaran.”
“Aku tahu.”
“Karena selama ini kamu hidup dalam kebohongan.”
El diam. Kalimat itu kembali membuat pikirannya berputar. Kebohongan tentang Chelsea dan masa lalu keluarganya. Serta semua hal-hal yang selama ini tidak pernah ia tahu.
Zoya perlahan meraih tangan El yang berada di atas meja. Genggaman itu membuat El menatapnya.
“El ....”
“Ada satu rahasia lagi yang harus kamu ketahui tentang Chelsea.”
Tatapan El berubah. “Apa?”
Zoya terlihat ragu. “Tapi aku takut.”
“Takut apa?”
“Aku takut nanti Daddy dan Mommy kamu semakin menyalahkan aku.”
El menatap Zoya lama. “Kalau itu memang kebenaran, katakan saja.”
Zoya diam. Seolah berpikir.
“Tidak perlu kamu sembunyikan.”
Wanita itu menarik napas perlahan. Seakan sedang mengumpulkan keberanian.
“El ....”
“Iya.”
“Aku tidak ingin kamu membenciku karena mengatakan ini.”
El menatapnya serius. “Katakan.”
Zoya menunduk sebentar. Lalu perlahan mengangkat wajahnya. “Chelsea ... bukan anak dari mantan suami Mommy kamu.”
Tatapan El langsung berubah. “Apa maksud kamu?”
Zoya menggenggam tangan El lebih erat. “Mantan suami Mommy kamu sebenarnya mandul.”
Ruangan itu terasa semakin sunyi bagi El.
“Saat ia belum tau mengenai kebenaran kalau dirinya hamil, ia memanfaatkan itu.”
El tidak bergerak. “Maksudnya?”
Zoya menarik napas. “Ibu Chelsea memanfaatkan ketidaktahuan suaminya mengenai penyakit yang ia derita.”
Mata El membesar sedikit. “Jadi ....”
“Ibunya Chelsea berselingkuh.” Kata-kata itu jatuh begitu saja. Seolah menjadi sesuatu yang menghantam kepala El.
“Dia hanya ingin hamil.” Zoya melanjutkan dengan suara pelan. “Lalu setelah dia hamil, dia mengatakan kepada suaminya kalau anak itu adalah anaknya.”
El membeku. Untuk beberapa saat, tidak ada satu pun kata yang keluar dari mulutnya. Tangannya perlahan mengepal di atas meja. Rahangnya mengeras.
“Maksudnya ... ibunya Chelsea berselingkuh dan mengakui kalau anak itu anak suaminya.”
Suaranya terdengar berat. Makin tak percaya dengan kenyataan yang didengar. "Dan Chelsea itu anak hasil perzinaan ibunya?”
Zoya mengangguk pelan. “Iya.”
El menatap kosong ke depan. Dadanya terasa penuh dengan emosi yang sulit dijelaskan.
Marah, kecewa dan bingung semua bercampur menjadi satu. "Berarti bukan hanya berselingkuh dengan mantan suami mommy, tapi ia juga melakukan saat telah bersuami. Wanita macam apa ibunya itu!"
"Benar, El," jawab Zoya.
“Dari mana kamu tahu semua ini, Zoya?”
Pertanyaan itu membuat Zoya terdiam. Wajahnya terlihat benar-benar ragu. Ia mengalihkan pandangan.
“Aku ....”
El terus menatapnya. “Dari mana?”
Zoya tampak berpikir cukup lama. Beberapa detik berlalu, akhirnya ia menjawab.
“Dari seseorang. Tapi maaf El, aku tidak bisa mengatakan siapa orang itu.”
El masih diam.
“Tapi aku memastikan semua yang aku katakan itu benar.”
El menghela napas panjang. Matanya masih terlihat penuh kemarahan. “Jadi selama ini ....” Ia berhenti. Tidak sanggup menyelesaikan kalimatnya.
Zoya memperhatikan perubahan wajah El. “El, aku tahu ini berat.”
El menatapnya.
“Tapi aku tidak ingin kamu terus hidup dalam kebohongan.”
Beberapa saat kemudian El mengangguk kecil. “Terima kasih.”
Zoya terlihat sedikit lega. Tampaknya El tak menyalahkan dirinya.
“Sekali lagi terima kasih, karena kamu, aku jadi tahu semuanya.”
Kalimat itu membuat senyum kecil muncul di wajah Zoya. “Aku hanya melakukan apa yang seharusnya.”
El tidak menjawab. Ia kembali melihat makanan di depannya. Tapi selera makannya sudah hilang.
Mereka kembali mencoba melanjutkan makan siang. Pelayan datang menuangkan minuman, mengganti beberapa hidangan, dan memastikan semuanya baik-baik saja.
Namun suasana di antara mereka sudah berubah. Tidak seperti awal ketika mereka datang. El lebih banyak diam. Pikirannya terus kembali pada Chelsea, gadis yang selama ini tinggal di rumahnya.
Chelsea.yang selalu memanggil Hana dan Arsaka dengan penuh kasih. Wanita yang selalu dianggap sebagai adiknya.
Dan sekarang, sebuah cerita baru tentang dirinya muncul. Sementara Zoya hanya memperhatikan El dari seberang meja.
Ia tahu mulai hari ini sesuatu telah berubah. Bukan hanya tentang Chelsea. Tapi juga tentang cara El melihat keluarganya. Dan yang pasti, tentang cara El melihat Chelsea mulai sekarang.
tapi sama Noah jg gak papa🤭
semoga Arsaka lebih ngek dengan tujuan mereka