Demi melindungi harga diri suaminya yang mandul, Larissa rela menanggung caci maki sebagai wanita mandul. Namun, pengorbanannya dibalas dengan surat cerai dan pengusiran kejam setelah sang suami memalsukan hasil medisnya demi bersanding dengan wanita lain.
Tiga tahun berlalu, dunia terguncang ketika Larissa bangkit sebagai istri dari CEO terkaya dan melahirkan dua anak yang sehat. Saat kebohongan masa lalu mulai terbongkar, giliran Larissa yang memegang kendali untuk membuat mantan suaminya merangkak dalam penyesalan seumur hidup.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CHIBEL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21 - Keputusan yang mengubah garis nasib
Waktu satu minggu berjalan bagai pasir yang luruh dengan lambat di dalam jam kaca.
Rumor miring mengenai statusnya sebagai wanita yang didepak karena mandul tidak pernah benar-benar surut. Rika dan Maya, dua staf senior yang merasa tersisih oleh kejeniusan proposal Larissa, justru semakin gencar menaburkan bisa di belakang punggungnya.
Mereka memelintir cerita sukses presentasi Larissa di Megah Corp, berbisik-bisik di pantry bahwa Larissa pasti menggunakan "cara kotor" atau menjual kemiskinannya untuk menarik belas kasihan para direksi di sana.
Setiap kali Larissa berjalan melewati koridor, tatapan miring, senyuman mengejek, dan bisikan sinis selalu mengikuti langkah kakinya.
Larissa menatap layar komputer usangnya. Jika dia tetap bertahan di perusahaan logistik kecil ini, ruang geraknya untuk membalas dendam kepada keluarga Baskoro akan sangat terbatas.
Reputasinya di tempat ini sudah cacat secara sosial akibat fitnah yang disebarkan Bram dan Vera. Di ruko pengap ini, dia hanya akan berakhir sebagai buruh administrasi yang terus-menerus digilas oleh gosip jahat, tanpa pernah memiliki modal dan kekuatan yang cukup untuk membalikkan keadaan.
Tawaran eksklusif dari Bayu adalah satu-satunya jembatan emas yang dia miliki. Untuk menghancurkan sebuah dinasti old money seperti keluarga Baskoro, dia harus berdiri di tempat yang jauh lebih tinggi daripada mereka.
Dia harus menggenggam kekuasaan yang sanggup membuat Bram tidak berkutik. Dan tempat itu berada di Megah Corp.
Hari Selasa pagi, tepat satu minggu setelah penandatanganan kontrak logistik pertama, Larissa kembali melangkah masuk ke dalam gedung pusat Megah Corp. Keputusan telah diambil, dan garis nasibnya hari ini akan diubah secara total oleh tangannya sendiri.
Harris sudah berdiri menyambutnya di depan lift khusus eksekutif dengan senyum formal. Larissa kembali dikawal naik menuju lantai paling atas, ruangan Bayu.
Begitu pintu ruangan itu dibuka oleh Harris, Larissa melangkah masuk. Bayu sedang berdiri di dekat dinding kaca raksasa, menatap pemandangan lanskap kota Jakarta dengan cangkir kopi hitam di tangan kanannya.
Pria itu membalikkan tubuhnya perlahan, matanya langsung mengunci pandangan Larissa.
"Selamat pagi, Pak Bayu," sapa Larissa, berdiri di depan meja pria itu.
"Selamat pagi, Ibu Larissa" sahut Bayu. Dia berjalan mendekat, meletakkan cangkir kopinya, lalu memberi isyarat agar Larissa duduk. "Satu minggu telah berlalu. Saya harap Anda datang ke sini membawa jawaban yang sudah matang bagi putra saya."
Larissa duduk dan menatap lekat manik mata Bayu. "Saya datang ke sini untuk menyatakan bahwa saya bersedia menerima posisi sebagai asisten pribadi Anda sekaligus pendamping khusus untuk Elang, Pak."
Bayu menyunggingkan senyum, sebuah ekspresi kepuasaan dari seorang penguasa yang berhasil mendapatkan permata paling berharga yang dia incar. "Keputusan yang sangat cerdas, Bu. Elang akan sangat senang mendengar ini."
Meskipun Bayu menyambut keputusan Larissa dengan hangat, pembawaannya tetap terasa sangat profesional.
Dia tidak memperlakukan Larissa sebagai seorang pelayan atau pekerja domestik biasa. Bayu meraih sebuah map kulit baru berwarna biru tua yang sudah disiapkan di atas meja, lalu menggesernya ke hadapan Larissa.
"Ini adalah kontrak kerja baru Anda di luar struktur PT Laju Utama," ujar Bayu dengan tegas.
"Kompensasi finansial yang saya sebutkan minggu lalu berlaku mutlak sejak Anda menandatangani kertas ini. Sebagai asisten pribadi saya dan pendamping khusus Elang, Anda dituntut untuk memiliki mobilitas yang tinggi dan kesiapan penuh jika Elang membutuhkan Anda. Seluruh akomodasi dan kebutuhan harian Anda selama bertugas akan ditanggung sepenuhnya oleh anggaran khusus kesekretariatan CEO."
Larissa membaca lembaran kontrak kerja baru itu dengan cermat. Nilai tunjangan dan nominal gaji yang tertera di sana begitu fantastis, sebuah angka yang sanggup membiayai operasional sepuluh ruko PT Laju Utama sekaligus.
Ini bukan hanya kontrak kerja; ini adalah modal besar, sebuah fondasi kokoh yang diberikan Adrian untuk mengangkat kelas sosial Lana dalam semalam.
Larissa meraih pulpen bernopol emas di atas meja, lalu dengan guratan tangan yang sangat mantap, dia membubuhkan tanda tangan resminya di atas lembar kontrak baru tersebut. "Saya siap menjalankan tanggung jawab saya, Pak Bayu."
Setelah menyelesaikan urusannya dengan Bayu, Larissa kembali ke kantornya. Udara panas dan debu jalanan yang menempel di kaca ruko terasa begitu kontras dengan kemewahan dingin yang baru saja dia tinggalkan di Megah Corp.
Larissa melangkah masuk ke lantai dua, berjalan lurus menuju ruangan Pak Joko untuk menyerahkan surat pengunduran dirinya yang resmi.
Pak Joko menerima surat itu dengan wajah yang dipenuhi rasa campur aduk karena akan kehilangan staf jeniusnya.
Setelah proses administrasi rilis pengunduran diri selesai ditandatangani oleh Pak Joko, Larissa melangkah menuju kubikel kerjanya untuk mengemas barang-barang pribadinya.
Kehadiran Larissa yang tiba-tiba memasukkan buku catatan, pulpen, dan beberapa barang pribadi ke dalam sebuah kotak kardus seketika memicu kegemparan samar di antara para staf administrasi lainnya.
Rika dan Maya yang sejak tadi sedang bergosip di dekat dispenser langsung menghentikan obrolan mereka. Sepasang mata mereka berbinar penuh dengan kedengkian dan rasa puas yang culas.
Rika melangkah mendekati meja Larissa dengan tangan yang dilipat di depan dada, senyuman meremehkan terukir jelas di wajahnya yang dipoles riasan tebal.
"Wah, wah... lihat siapa yang sedang beres-beres barang," ujar Rika dengan nada suara yang sengaja dinyaringkan agar seluruh orang di lantai dua mendengar sindirannya.
"Ada apa ini, Ris? Kamu tiba-tiba mengemas barang? Jangan-jangan kamu akhirnya menyerah dan memutuskan untuk keluar dari kantor ini ya?"
Maya ikut melangkah maju, berdiri di samping Rika sembari tertawa sinis. "Aduh, Rika, kamu jangan blak-blakan begitu dong, kasihan Larissa. Dia kan pasti frustrasi dan tidak kuat lagi menanggung malu di sini setelah didepak secara kejam oleh keluarga Pak Bram Baskoro. Menjadi staf administrasi biasa dengan gaji pas-pasan di sini pasti terasa sangat berat ya bagi mantan istri pewaris yang mandul pembawa sial?"
Beberapa staf pemasaran dan administrasi lain di sekitar ruangan mulai melayangkan pandangan menilai dan kasihan ke arah Larissa.
Di dalam benak mereka yang sudah teracuni oleh gosip, mereka mengira Larissa benar-benar hancur mentalnya akibat intimidasi bertubi-tubi sejak bekerja di sini sehingga memilih untuk lari dari kenyataan dan luntang-lantung di jalanan setelah dicerai.
Larissa menghentikan gerakan tangannya yang sedang memasukkan sebuah botol minum ke dalam kardus. Dia mendongakkan kepalanya perlahan, menatap Rika dan Maya secara bergantian.
Tidak ada kemarahan, tidak ada air mata, dan tidak ada pembelaan diri. Sebaliknya, sepasang manik mata gelap Larissa menatap mereka dengan tatapan datar.
"Keputusan keluar dari tempat ini adalah hakku" ujar Larissa dengan suara yang sangat tenang.
"Kalian tidak perlu mengkhawatirkan bagaimana caraku bertahan hidup di luar sana. Khawatirkan saja bagaimana cara kalian mempertahankan posisi kalian di kantor ini hingga usia pensiun nanti."
Rika mendengus kencang, merasa tersinggung oleh ketenangan Larissa yang tidak tergoyahkan. "Halah! Sok sombong sekali kamu! Kita lihat saja seberapa lama wanita mandul sepertimu bisa bertahan hidup di jalanan kota ini tanpa ada sandaran pria kaya atau pekerjaan tetap!"
Larissa tidak membalas ucapan ketus itu lagi. Dia mengabaikan mereka sepenuhnya, kembali mengemas sisa barangnya dengan keanggunan yang sangat kokoh.
Setelah seluruh barang pribadinya masuk ke dalam kardus, Larissa mengangkat kotak tersebut di atas kedua lengannya.
Dia berjalan perlahan menuju meja utama Pak Joko untuk menyerahkan draf draf laporan manifes terakhirnya yang sudah diselesaikan sebelum dia pergi.
Pak Joko sedang berdiri di depan mejanya, memegang lembar surat rilis pengunduran diri Larissa beserta selembar surat dokumen referensi kerja eksternal yang diterbitkan oleh sistem manajemen database pusat.
Surat referensi itu merupakan dokumen rahasia perusahaan yang terhubung langsung dengan jaringan penempatan staf baru di tingkat korporasi mitra korporat.
Rika dan Maya yang masih penasaran ikut melangkah mendekati meja Pak Joko, berniat menyaksikan bagaimana momen-momen terakhir Larisssa yang mereka kira akan pergi dengan kepala tertunduk kalah.
Tapi detik berikutnya, suasana di sekitar meja administrasi utama itu jatuh ke titik yang mencekam.
Pak Joko yang sedang membaca baris demi baris tulisan di atas dokumen referensi eksternal Larissa tiba-tiba menghentikan gerakannya.
Wajah pria paruh baya itu seketika berubah menjadi sangat pucat pasi, nyaris kehilangan seluruh pasokan warnanya seputih kertas. Sepasang mata paruh bayanya membelalak lebar dengan sangat dramatis, menatap lembar kertas di tangannya dengan rasa tidak percaya.
Tangannya yang memegang kertas itu mulai bergetar, membuat lembaran dokumen tersebut berderik pelan di keheningan ruangan.
"P-Pak Joko? Ada apa?" tanya Rika yang mulai merasa ada yang tidak beres melihat perubahan mimik wajah drastis atasannya. "Kenapa wajah Bapak pucat begitu?"
Pak Joko tidak memedulikan pertanyaan Rika. Pria paruh baya itu mendongakkan kepalanya dengan perlahan, menatap sosok Larissa yang sedang berdiri tegak memegang kardus.
Pak Joko menelan ludahnya dengan susah payah, suaranya terdengar tercekat di tenggorokan saat dia berbisik dengan nada yang bergetar hebat karena rasa takjub yang luar biasa besar.
"Larissa... kamu... kamu mengundurkan diri dari sini bukan karena frustrasi..." bisik Pak Joko, suaranya yang parau menggema memotong keheningan lantai dua.
"Di dokumen sistem pusat ini... kamu... kamu tercatat telah diterima kerja langsung di kantor pusat Megah Corp? Sebagai... sebagai asisten pribadi utama di lingkungan privat kesekretariatan CEO tertinggi?!"
Deg.
Kalimat yang keluar dari mulut Pak Joko terasa bagaikan sambaran petir di siang bolong yang menghantam ulu hati Rika, Maya, dan seluruh staf di dalam ruangan tersebut dengan sangat telak.
Rika dan Maya seketika mematung membeku di tempat mereka berdiri. Mulut mereka sedikit terbuka, dan sepasang mata mereka membelalak lebar penuh dengan rasa syok.
Mereka mengira Larissa akan luntang-lantung di jalanan sebagai sampah yang dibuang; namun kenyataannya, wanita yang selama ini mereka injak-injak dan mereka caci maki itu justru baru saja melakukan lompatan kasta yang luar biasa gila, posisi elite tertinggi yang bahkan tidak akan pernah bisa diimpikan oleh siapa pun di ruko kecil ini seumur hidup mereka.
Larissa menatap wajah pucat Pak Joko, lalu mengalihkan pandangan matanya ke arah wajah Rika dan Maya yang kini sudah ketakutan dibayangi rasa bersalah atas gosip jahat mereka selama ini.
Larissa tidak tersenyum mengejek, dia tidak memaki balik mereka yang sudah bungkam tak berkutik.
Dia hanya menganggukkan kepalanya, mempertegas status barunya yang telah berada di langit tertinggi.
"Benar, Pak Joko. Tugas saya di tempat ini sudah selesai," ujar Larissa dengan tenang. "Terima kasih atas bimbingan Bapak selama ini."
Larissa membalikkan badannya, mendekap kardus kecilnya dengan tegap, lalu melangkah pergi meninggalkan lantai dua ruko PT Laju Utama tanpa sekali pun menoleh ke belakang lagi.
Bersambung
Emak suka cerita ini , tidak bertele- tele, alurnya runtut