Elden Caster. Pengusaha sebuah Group Imperial terbesar di negaranya, pria yang terkesan dingin, dan juga menyeramkan. Hingga suatu saat, hatinya yang dingin itu mencair ketika bertemu dengan seorang gadis. Siapakah gadis itu? Hingga mampu membuat orang yang terkenal kejam dapat luluh dengan mudahnya. Temukan jawabannya di 'Dont Give Me Hope!'
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kyushine / Widi Az Zahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dont Give Me Hope! Bagian 28
Saat itu David sudah menjemputnya untuk pergi ke kantor. Namun, sebelum menuju C.E Star, ia meminta asistennya untuk lebih dulu menuju Beauty Garonic, karena ada yang ingin di pastikan olehnya.
Setibanya disana, ia mencoba mencari Meliya di ruangannya, dan ia tak menemukannya. Kemudian, ia memanggil salah seorang staff kantor yang biasa bekerja sama dengan Meliya.
"Nona Carter, nona Diane, dan nona Ashley pergi ke Swiss pagi tadi."
"APA? SWISS? KENAPA TIDAK ADA YANG MEMBERITAHUKU SAMA SEKALI?" Saat itu juga Elden marah besar ketika mendengar berita kepergian mereka tanpa ada yang mengonfirmasi kepadanya lebih dulu.
"EL, Diane menandatangani kontrak untuk sebuah film, dia ingin aku yang menjadi penata riasnya disana, dan proses syuting akan di lakukan di Swiss."
Benar. Saat itu, Ashley memang sudah memberitahunya. Namun, siapa sangka jika mereka akan pergi secepat itu? Bahkan Ashley pun tidak mengatakan apa-apa lagi.
"David, segera hubungi asisten Diane, dan minta untuk menyebutkan lokasi mereka. Setelah itu, pesankan satu tiket untukku kesana."
"Baik tuan."
Setelah menempuh waktu yang cukup panjang, dan melelahkan. Diane beserta kru film lainnya pun tiba di Swiss. Kemudian, mereka di minta untuk beristirahat lebih dulu, dan syuting akan mulai dilakukan besok pagi.
Pemandangan kota di malam hari begitu indah, lampu-lampu kota terlihat cantik ketika di pandangi dari kamar yang Ashley tempati saat ini.
Tak lupa ia memberitahu sang kakak jika dirinya sudah tiba disana, dan ia begitu menyukai tempat tersebut. Sam yang mendengar suara bahagia sang adik pun ikut merasakan hal yang sama, karena sejak dulu, kebahagiaan Ashley merupakan kebahagiaan untuk dirinya.
Sepanjang malam ia bicara dengan sang kakak melalui telfon. Hingga mulai merasa lelah, Ashley menyudahi panggilan tersebut. Kemudian, ia membersihkan tubuhnya terlebih dahulu, lalu ia akan segera beristirahat.
•••
Hari pertama di Swiss. Hari itu merupakan musim gugur disana, dan itu pemandangan yang sungguh menarik untuk Ashley. Lamunannya tersadar ketika Diane memanggilnya untuk segera melakukan riasan, karena mereka akan memulai syuting dua jam dari sekarang.
Ashley, Meliya, dan beberapa penata rias yang lainnya mencoba melakukan hal yang maksimal untuk para artis.
Kemampuan akting Diane cukup bagus, ia juga sangat mudah beradaptasi dengan lawan mainnya serta para rekannya. Hal tersebut cukup membuat mereka para kru merasa di permudah, dengan begitu syuting bisa berjalan dengan lancar.
"Cari tahu dimana mereka menginap, dan cari tahu kamar mana yang di tempati olehnya." Gumam seseorang dari kejauhan yang tengah memandangi proses syuting tersebut.
Hingga tak terasa malam pun tiba, merasa tidak menemukan kendala di hari pertama, sutradara film mengajak mereka untuk makan malam bersama. Yang lain bersorak gembira mendengar kabar tersebut, namun berbeda dengan Ashley.
Merasa lelah, Ashley memutuskan untuk kembali ke kamar agar bisa beristirahat lebih dulu. Diane sungguh mengkhawatirkan kondisinya, bagaimana pun jika terjadi sesuatu padanya, Elden tidak akan tinggal diam, dan Diane tidak menginginkan hal tersebut terjadi.
"Aku tidak apa-apa, kau kembali saja dengan mereka."
"Sungguh?" Gumam Diane, dan Ashley mengangguk seraya tersenyum. "Jika begitu hubungi aku jika kau membutuhkan sesuatu."
Setelah mengatakan itu, Diane kembali menuju restaurant tempat dimana rekan yang lainnya berkumpul. Ashley yang sudah tiba di hotel, langsung membaringkan tubuhnya di atas ranjang.
Benar-benar merasa lelah, ia pun memejamkan matanya begitu saja. Masih dengan kondisi yang berantakan hingga tanpa ia sadari, ada seseorang yang sudah menyelinap masuk ke dalam kamarnya.
Gadis itu tampak lelap sekali dalam tidurnya, hingga membuat orang tersebut tertawa kecil saat melihatnya. Kemudian, ia pun membenarkan posisi gadis tersebut, dan juga menyematkan selimut untuk menutupi tubuhnya.
Malam semakin larut, dan Ashley yang menghentakkan tangannya ke sebelahnya, tiba-tiba saja ia merasa jika ada seseorang yang berbaring di sisinya.
Perlahan namun pasti, Ashley membuka matanua sedikit demi sedikit. Matanya terbelalak ketika melihat siapa orang itu, ia bahkan langsung bangun dari baringannya.
"Hey. Ini masih malam, kenapa tidak kembali tidur saja?" Gumam orang tersebut yang melingkarkan tangannya di perut Ashley, namun masih dengan mata yang terpejam.
"Kak Leon? Bagaimana kau bisa berada disini?" Ashley menyingkirkan tangan tersebut, dan langsung turun dari atas ranjangnya.
Bersambung ...
Aku tunggu kedatangan kk di karya aku ya
"Kamu matahari dan aku bulan" dan
"Siren or Human"
Semangat🥰
readermu rindu akan ceritamu thor,,,, 🤗🤗🤗