NovelToon NovelToon
Membatasi Rasa

Membatasi Rasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Crazy Rich/Konglomerat / Perjodohan
Popularitas:986
Nilai: 5
Nama Author: Sarifah31

Pernah gak sih, kamu sayang banget sama seseorang, tapi demi menjaga hati dan prinsip, kamu terpaksa bersikap sedingin es ke dia?

Itu yang dirasain Zaza. Waktu hatinya mulai telanjur jauh sama Rayyan, dia milih buat mundur perlahan. Gak ada chat basa-basi, gak ada modus pengen ketemu. Semua rindu dan riuhnya perasaan cuma dia tumpahin di sepertiga malam, langsung ke Pemilik Hati.
Rayyan pun sama. Dia kelihatan cuek dan gak peduli, padahal aslinya lagi berjuang mati-matian nahan rasa demi sebuah komitmen. Akhirnya, mereka berdua terjebak dalam kesunyian, sama-sama ngira kalau cinta mereka cuma bertepuk sebelah tangan.

Saling menjauh, tapi saling mendekat lewat doa apa mungkin cara sedekat ini malah bikin mereka makin jauh selamanya? Atau justru, menjaga jarak demi ibadah bakal berujung pada akhir yang gak terduga?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sarifah31, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rahasia yang Tersimpan di Sepertiga Malam

Dua minggu berlalu sejak insiden di koridor perpustakaan, dan Kota Malang sedang akrab-akrabnya dengan suhu dingin yang menusuk tulang. Bagi Zaza, rentang waktu itu terasa seperti ujian kesabaran yang tiada habisnya. Setiap kali ia melangkah di area kampus, netranya secara tidak sadar selalu memindai sekeliling, memastikan tidak ada sosok tinggi berambut acak-acakan dengan skateboard di tangannya. Zaza sengaja mengubah rute jalannya, memilih lewat jalur belakang laboratorium yang sepi dan mempercepat langkah setiap kali kelas usai.

Ia benar-benar membangun benteng tak kasatmata. Tidak ada ruang untuk celah sekecil apa pun.

Sore itu, suasana di rumah Dinoyo terasa hangat berkat aroma kue pukis yang baru saja diangkat Umi dari cetakan. Zaza duduk di ruang tengah, membantu menyusun kue-kue itu ke dalam wadah plastik besar.

"Zaza, besok Sabtu kamu ada agenda di kampus?" tanya Umi sambil menyeka keringat di dahinya dengan ujung daster.

Zaza mendongak, menyunggingkan senyum tipis. "Ada rapat evaluasi bentar buat acara UKM, Umi. Paling cuma sampai siang. Kenapa, Mi?"

"Ini, loh. Teman Abi yang dari Surabaya mau datang syukuran rumah barunya di daerah Batu. Abi sama Umi mau berangkat agak pagi. Kalau kamu senggang, Abi minta kamu ikut sekalian. Biar kamu juga kenal sama keluarga beliau. Katanya, mereka punya anak laki-laki yang seumuran sama kamu, baru lulus kuliah di luar negeri," ucap Umi dengan nada penuh arti yang langsung membuat dada Zaza berdesir tidak nyaman.

Perjodohan. Kata itu memang tidak terucap secara gamblang, tapi Zaza tahu persis ke mana arah pembicaraan uminya. Bagi keluarga yang taat seperti keluarganya, mengenalkan anak pada anak sahabat adalah jalur paling umum untuk memulai sebuah hubungan yang serius tanpa melalui proses pacaran.

Zaza menunduk, jemarinya pura-pura sibuk merapikan tutup wadah kue. "Nanti Zaza kabari lagi ya, Umi. Takutnya rapatnya malah sampai sore."

"Ya sudah, nduk. Tapi kalau bisa ikut, ikut ya. Abi pasti senang sekali," sahut Umi lembut sebelum berjalan kembali ke dapur.

Zaza bersandar pada dinding ruang tengah, mengembuskan napas berat. Ada rasa sesak yang tiba-tiba berhulu di dadanya. Di satu sisi, ia adalah anak yang selalu patuh dan tidak ingin mengecewakan orang tuanya. Namun di sisi lain, ada sebuah sudut di hatinya yang kini telah terisi oleh sebuah nama yang bahkan tidak berani ia sebut dengan lantang di depan manusia. Nama seorang pemuda yang dunianya berbanding terbalik dengannya.

Di saat yang sama, kemewahan rumah di kawasan Ijen tidak mampu meredakan badai yang sedang bergemuruh di dalam kamar Rayyan. Pemuda itu duduk di tepi ranjangnya, menatap nanar ke arah sebuah sajadah polos berwarna hijau tua yang baru saja ia beli sore tadi dari sebuah toko perlengkapan ibadah di dekat Pasar Besar.

Seumur hidupnya, Rayyan jarang sekali menyentuh benda itu kecuali saat hari raya atau saat terpaksa menemani papanya salat jumat demi urusan citra di depan rekan bisnis. Tapi malam ini, egonya benar-benar runtuh. Penolakan dingin dari Zaza dua minggu lalu tidak membuatnya mundur, melainkan justru memosisikan dirinya pada sebuah titik balik yang radikal.

Rayyan ingin tahu apa yang membuat gadis itu begitu kukuh menjaga jarak. Ia ingin mengerti mengapa dunia Zaza terasa begitu tenang dan berwibawa, sementara dunianya sendiri yang bergelimang harta justru terasa hampa dan bising.

"Gue harus mulai dari mana?" gumam Rayyan lirih pada kesunyian kamarnya.

Ia membuka ponselnya, bukan untuk melihat media sosial atau memeriksa grup obrolan anak-anak motor, melainkan mencari video panduan salat di platform digital. Jari-jarinya yang biasa memegang papan skateboard kini bergerak ragu, mengetik kata kunci tata cara wudu dan salat malam. Rayyan membacanya berulang kali, menghafal setiap gerakan dan bacaan pendek yang tertera di layar dengan kesungguhan yang belum pernah ia miliki sebelumnya.

Malam merayap semakin larut hingga jarum jam menunjuk angka tiga dini hari. Kota Malang di luar jendela terasa begitu beku, namun tekad di dada Rayyan justru menghangat.

Dengan langkah ragu, ia masuk ke kamar mandi. Air dingin yang menyentuh kulitnya saat berwudu seolah meluruhkan sebagian beban tak kasatmata yang selama ini menghimpit kepalanya. Selesai bersuci, ia membentangkan sajadah hijau tua itu menghadap kiblat. Di dalam kamar yang luas dan sepi, Ahmad Rayyan Dafril melipat tangannya di dada, memulai rakaat pertamanya di sepertiga malam.

Beberapa kilometer dari sana, di atas hamparan sajadah merah marunnya, Zaza juga sedang bersujud panjang. Di jam yang sama, di bawah langit malam yang sama, kedua manusia ini kembali terhubung melalui frekuensi yang paling rahasia.

Zaza mengangkat kepalanya, duduk bertumpu pada kedua kakinya dengan air mata yang menetes perlahan. Keheningan malam itu terasa begitu mencekam bagi hatinya yang sedang bimbang memikirkan ucapan uminya tentang rencana pertemuan di hari Sabtu.

"Ya Allah... Engkau tahu hamba sedang berjuang mati-matian membatasi rasa ini," bisik Zaza dalam isak yang tertahan, menengadahkan kedua telapak tangannya. "Jika keteguhan hamba bersikap dingin kepadanya selama ini adalah jalan yang benar, maka hamba mohon ringankanlah hati hamba untuk menerima siapa pun pilihan kedua orang tua hamba nanti. Namun... jika pemuda yang menatap hamba di koridor hari itu adalah orang yang Engkau takdirkan untuk membawa hamba lebih dekat kepada-Mu, mohon mudahkanlah jalannya. Jagalah hatinya, ya Allah, sebagaimana hamba mencoba menjaga hati hamba di sini..."

Zaza mengusap wajahnya, mencoba meredakan debaran dadanya yang terasa begitu riuh di dalam kesunyian kamar.

Sementara itu, di kamar megahnya, Rayyan baru saja menyelesaikan salam terakhirnya. Ia menatap telapak tangannya yang gemetar. Ada perasaan tenang yang luar biasa...sebuah kedamaian yang tidak pernah bisa ia beli dengan seluruh uang sakunya yang berlimpah.

Rayyan menunduk, menyentuh permukaan sajadahnya dengan kening yang masih menyisakan sisa air wudu. Untuk pertama kalinya dalam hidup, ia berdoa dengan melibatkan nama seorang perempuan.

"Ya Allah... gue gak tahu apakah gue pantas buat dia," ucap Rayyan dengan bahasa yang jujur dan kaku, khas dirinya sendiri. "Dunia kami terlalu beda. Bokap-nyokap gue cuma peduli soal kasta, dan dia... dia terlalu suci buat orang kayak gue. Tapi malam ini gue janji, gue gak akan deketin dia pakai cara gue yang dulu. Gue bakal perbaiki diri gue dulu di sini. Kalau dia memang takdir yang Engkau simpan buat gue, tolong jangan biarkan jarak ini bikin dia lupa sama keberadaan gue..."

Malam itu, di hadapan Pemilik Hati, dua jiwa yang saling mengira bahwa cinta mereka bertepuk sebelah tangan itu justru sedang saling mendekat. Di dunia nyata mereka terjebak dalam perang dingin dan kesunyian, namun di langit sepertiga malam, nama mereka telah saling bertukar dalam untaian doa yang paling khusyuk.

1
Nurul
mending ta'aruf saja, Zaza
Nurul
mulai terbayang, cepat beristighfar
Xlyzy
kalau merasa ga pantas seharusnya harus bisa merubah diri agar pantas untuk nya
Xlyzy
Dilema si ini jadi nya mau nolak gimana sama orang tua
Xlyzy
Tapi ga harus di jodohin jugak sih cukup kenalkan mereka dulu kalau mereka saling suka baru nikahkan mereka
Cimol krispy
padahal temenan aja nggak di larang loh za
Sarifah_Aini97: bukan mahram kak
total 1 replies
Cimol krispy
jadi dari tadi kamu bikin heboh koridor karna nyariin Zaza ya rayyan
Miu.Nuha
barangkali jodohny ya itu rayyan
beruntung kalo perjodohan itu mengarah kesana 😙
Miu.Nuha
makanya...
bikin abang rayyan bingung
si eneng berada dijalur lain sih 😁
Filan
doanya pakai gue /Facepalm/
Sarifah_Aini97: Wkwk iya nih, biar doanya terasa lebih akrab dan personal langsung ke pencipta-Nya 🤣
total 1 replies
Filan
susah sih ya, kalau dia masih belom bisa sholat. gimana bisa jadi imam?
Filan
langsung sholat malam aja nih... sholat wajibnya gimana, Ray? /Chuckle/
Filan
menghindar nih ceritanya
Filan
skateboard apa udah jadi bagian dirinya? 😅
Aquarius97 🕊️
bagus Rayyan.. awalnya berubah karena Zaza, tapi lama2 dari hati yaa

. sampai kamu gak bisa meninggalkan sholat hehe
Three Flowers
semoga doa Rayyan terkabul, karena dia sudah meminta dengan jalan yang benar
Three Flowers: okay kakak
total 2 replies
Three Flowers
Rayyan dapat hidayah sejak bertemu Zaza
Three Flowers
bau-bau mau dijodohkan, apalagi calonnya baru lulus dari luar negeri
Three Flowers
seperti dikejar hantu, ya😅
Mega Siregar
hindari siapa tuh, za🤭?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!