NovelToon NovelToon
Wajah Kedua Seorang MAFIA

Wajah Kedua Seorang MAFIA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Identitas Tersembunyi / Balas Dendam
Popularitas:769
Nilai: 5
Nama Author: Aurora.playgame

Aurelia Vanzara, sosok yang dulu ditakuti sebagai Crimson Queen, memilih menghilang dari dunia gelap setelah kehilangan satu-satunya orang yang mampu meluluhkan hatinya.
Kematian orang terkasih itu bukan hanya merenggut kebahagiaannya, tetapi juga menghancurkan alasan Aurelia untuk terus memegang kekuasaan.
Dengan identitas baru sebagai wanita biasa, ia mencoba menjalani hidup sederhana. Bekerja, tersenyum, dan berpura-pura bahwa masa lalunya tak pernah ada.
Namun, dunia tidak pernah benar-benar melepaskan miliknya.
Ketika sebuah keadaan mengancam satu-satunya kehidupan damai yang ia miliki sekarang, Aurelia dipaksa memilih: tetap menjadi wanita lemah yang mencoba melupakan segalanya, atau kembali menjadi ratu kejam yang pernah menguasai dunia bawah tanah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6- Dua pria

Tidid!!

Belum berselang lama sejak kepergian Max, Alena sedikit di kejutkan oleh suara klakson yang keras. Ia yang sedang merapikan bunga di etalase pun langsung menoleh ke arah jalan.

Alisnya sedikit berkerut ketika melihat sebuah mobil berhenti tepat di depan tokonya dengan cara berhenti yang terlalu kasar untuk ukuran kota yang damai seperti ini.

Tak lama, pintu mobil itupun terbuka, lalu seorang pria didorong keluar dengan kasar bahkan hampir terjatuh, namun ia segera menyeimbangkan tubuhnya.

Penampilannya rapi, wajahnya lembut… tapi sikapnya nampak terlalu patuh dan terlalu diam meski di perlakukan kasar.

Sementara di dalam mobil, seorang pria lain terlihat duduk santai, sambil menatap dengan wajah yang tidak sabar.

“Cepat carikan bunga yang bagus untuk pacarku!!! Sekarang juga!!” teriaknya kasar dari dalam mobil.

Pria yang didorong tadi hanya mengangguk cepat dan tidak berani membantah.

“Iya… baiklah, tunggu sebentar," katanya, lalu bergegas masuk ke dalam toko.

kring…

Bel pintu toko pun berbunyi.

Alena langsung menyambutnya seperti biasa layaknya pada semua pelanggan. “Selamat datang,” ucapnya lembut.

Pria itu sedikit terkejut dengan sambutan Alena. Seolah tidak terbiasa diperlakukan dengan baik.

“Iya… saya ingin memesan bunga,” katanya sopan.

Alena pun mengangguk.

“Silakan. Bunga seperti apa yang diinginkan?”

Pria itu terlihat berpikir sejenak, lalu menjawab, “Buket mawar merah… yang besar, Yang… bagus.”

Alena tersenyum karena mengerti keinginan pelanggannya itu.

“Untuk seseorang yang spesial?” tanyanya.

Pria itu pun mengangguk dengan pelan. “Bukan untuk saya," balasnya dengan nada datar.

Alena menatap pria di depannya itu sejenak. “Saya akan siapkan,” katanya.

Ia pun mulai memilih mawar-mawar terbaik. Lalu tangannya bergerak dengan terampil. Sementara pria itu berdiri dengan tenang di samping etalase.

“Nama Anda?” tanya Alena sambil merangkai bunga.

“Bara,” jawabnya singkat.

Alena pun mengangguk dengan pelan. “Baik, Pak Bara.”

Waktu telah berlalu beberapa saat. Karena buket yang dipesan cukup besar, prosesnya pun tidak sebentar.

Namun Bara tidak mengeluh. Ia hanya berdiri tanpa banyak bicara dan sesekali melirik ke arah luar seolah khawatir.

Dan benar saja... Tiba-tiba ...

BRAK!

Pintu toko terbuka dengan kasar. Lalu seorang pria masuk dengan wajah yang kesal dan langkah yang berat juga nampak arogan.

Tanpa peduli siapa pun di dalam ia langsung membentak Bara dengan nada tinggi. “Lama banget sih lo?!”

“Masih dibuat…” jawab Bara yang langsung menunduk sedikit.

“Alasan!” potong pria itu. “Cuma beli bunga doang nggak becus!”

Suasana di dalam toko langsung terasa tidak nyaman karena keributan tersebut. Beberapa pelanggan saling pandang dan merasa aneh. Sementara Alena tetap diam namun matanya mengamati.

“Cepat selesaiin!” lanjut pria itu sambil mendekat. “Atau gue cari orang lain aja!”

“Sebentar lagi selesai,” jawab Bara, pelan dan tanpa melawan juga tanpa emosi.

"Ckk!" Pria itu mendecak kesal. “Lo tuh ya… dari dulu emang nggak pernah berguna.”

Kalimat itu terdengar jelas dan tentunya menyakitkan, namun Bara hanya diam, menunduk seakan ikhlas menerimanya.

Mendengar penuturan kasar pria di depannya, tangan Alena yang sedang merangkai bunga pun berhenti sesaat, karena jelas ia tidak menyukai apa yang dilihatnya.

Beberapa detik kemudian, ia melanjutkan pekerjaannya. Namun kali ini dengan lebih cepat dan lebih efisien.

“Sudah hampir selesai,” kata Alena, dengan nada sopan namun terdengar tegas, seolah ingin mengakhiri situasi itu secepat mungkin.

Kemudian pria arogan itu meliriknya dan baru benar-benar memperhatikan. “Oh… yang punya toko ini ya?” katanya sambil menyeringai. “Lumayan juga.”

Tatapannya tidak sopan dan juga mengganggu. Lalu Alena pun menatapnya balik tanpa ekspresi, hingga akhirnya Alena menyelesaikan buketnya.

Buket mawar merah yang tersusun sempurna, besar dan indah.

“Pesanan Anda,” katanya sambil menyerahkan pada Bara.

Bara pun menerimanya dengan hati-hati. “Terima kasih.”

“Berapa?” tanya pria arogan itu sambil mengeluarkan dompet.

Alena pun menyebutkan harga tanpa menatapnya lama dan pria itu pun membayar dengan asal.

“Udah, ayo!” katanya pada Bara, dan Bara pun mengangguk.

Namun sebelum keluar, Bara menoleh ke arah Alena dan mengucapkan, “Terima kasih… sekali lagi.”

Dan Alena pun hanya mengangguk kecil hingga mereka keluar.

kring…

Pintu toko pun kembali tertutup.

Namun sebelum mobil itu benar-benar pergi, Alena sempat melihat bagaimana Bara kembali diperlakukan kasar. Didorong masuk ke mobil seolah tidak berarti.

“Kasihan…” gumam salah satu pelanggan yang berada di dekat Alena, namun Alena tidak membalasnya dan hanya melanjutkan pekerjaannya.

**

Keesokan harinya, bahkan terbilang masih pagi dan toko pun baru saja buka.

kring…

Bel pintu berbunyi dan Alena pun menoleh untuk menyambut pelanggan pertamanya di hari itu. Saat melihat Alena tidak menduga jika yang datang ternyata Bara.

Pria itu berdiri di depan pintu masuk dengan sikap yang sama seperti kemarin. Tenang, dan sopan.

“Selamat pagi,” sapa Alena.

“Pagi,” jawab Bara dengan sedikit menunduk.

“Ada yang bisa saya bantu?”

Bara terlihat ragu sejenak, lalu berkata, “Saya ingin memesan… bunga lili putih. Buket sedang saja.”

"Baik," balas Alena seraya mengangguk.

Ia pun mulai mengambil beberapa tangkai lili putih, dengan gerakan seperti biasa, anggun dan terlatih.

Beberapa saat berlalu, suasana di toko saat ini terasa tenang, hingga yang terdengar hanya suara daun dan kertas pembungkus yang saling bersentuhan.

“Ada yang ingin disampaikan?” tanya Alena tiba-tiba tanpa menoleh.

Bara sedikit terkejut dengan pertanyaan Alena itu dan sempat kikuk. “Maaf?”

Alena masih fokus pada rangkaiannya namun segera menjawab, “Anda terlihat seperti… ingin mengatakan sesuatu sejak tadi.”

Bara pun terdiam selama beberapa detik dan sedikit heran, dalam hatinya berpikir 'kok dia bisa tau sih?'

“Saya… sebenarnya diminta untuk sesuatu," ucapnya dengan sedikit ragu.

Kini Alena menoleh dengan tatapan yang tenang. “Diminta?”

Bara pun mengangguk.

“Adik tiri saya… menyuruh saya untuk meminta nomor Anda.”

Alena tidak terkejut dengan hal itu seolah ia sudah menduganya. “Dan Anda?” tanya Alena.

“Tidak punya pilihan,” jawab Bara jujur. “Tapi… saya tidak bermaksud memaksa," jawabnya tulus dan tidak dibuat-buat.

Alena pun tersenyum tipis. Namun bukan senyum yang hangat tapi lebih ke senyuman bijak. “Saya tidak memberikan nomor pribadi,” katanya tenang.

Bara pun langsung mengangguk. “Saya mengerti...”

Namun sebelum ia melanjutkan perkataannya, Alena mengambil sebuah kartu kecil dari meja. “Ini nomor toko, Kalau ingin memesan bunga, bisa hubungi ke sini.”

Bara menerimanya dengan kedua tangan dan tetap sopan. “Terima kasih.”

Beberapa saat kemudian, buket lili putih itu selesai. Buket itu nampak indah, sederhana namun elegan.

Alena lalu menyerahkannya, namun ia tidak langsung melepas buket tersebut.

“Bara," panggilnya.

Pria itu pun spontan menatapnya dan sedikit terkejut karena namanya dipanggil lalu menundukkan pandangannya kembali.

Alena menatapnya beberapa detik lalu berkata dengan pelan. “Kamu kelihatannya orang baik. Tapi jadi baik juga harus bijak. Jangan sampai di injak-injak.”

Bara mengangkat wajahnya dan menatap Alena cukup lama, seolah mencoba memahami sesuatu yang lebih dari sekadar kata-kata itu.

Lalu ia menunduk sedikit dan berkata, “Terima kasih.”

**

Dan saat itu...

kring…

Pintu terbuka lagi dan suasana pun berubah.

“Wah wah wah… pagi-pagi sudah ada tamu spesial ya?”

Suara yang sangat familiar. Alena bahkan tidak perlu menoleh karena ia tau jika itu adalah Max.

Max masuk dengan santai, diikuti dua temannya di belakang. Namun kali ini, tatapannya langsung tertuju pada Bara lalu ke buket bunga di tangannya, lalu kembali ke Alena.

“Baru tau aku,” katanya sambil mendekat, “kalau kamu bisa selembut ini ke pelanggan tertentu.”

Nada suara Max terdengar santai, namun jelas ada sesuatu di baliknya.

Alena hanya langsung kembali ke ekspresi datarnya. “Kalau ingin membeli, silakan antre,” katanya singkat.

Max tidak langsung menjawab, tapi ia hanya berdiri di samping Bara dan menatapnya dari atas ke bawah.

“Buket lili putih…” gumamnya. “Pilihan yang lembut.”

Adapun Bara, ia tetap diam dan tidak terpancing.

“Untuk siapa?” lanjut Max.

“Bukan urusan Anda,” jawab Bara tenang.

"Wtwiw!" Teman Max langsung bersiul pelan. “Wah, berani juga.”

Max tersenyum namun matanya tidak ikut tersenyum.

“Tenang saja,” katanya. “Aku cuma penasaran.”

Ia melirik ke arah Alena dan melanjutkan perkataannya, “Atau mungkin… aku cemburu?”

Alena menghela napas dengan kasar.

“Max.”

Max lalu mengangkat kedua tangannya. “Baik, baik. Aku cuma bercanda.”

Namun ia tidak mundur dan masih berdiri terlalu dekat hingga Bara akhirnya melangkah mundur.

“Permisi,” katanya sopan.

Ia lalu berjalan menuju pintu dan keluar dari toko, seakan tidak ingin terlibat dalam sebuah masalah.

kring…

Pintu pun tertutup.

Max terus menatap ke arah pintu lalu kembali ke Alena. “Dia berbeda ya.”

Tapi Alena tidak menjawab. Ia hanya lanjut merapikan bunga.

“Cara kamu bicara ke dia…” lanjut Max. “Tidak seperti biasanya.”

Kini Alena menoleh dengan tatapan dingin. “Kalau kamu datang hanya untuk mengganggu, pintu masih terbuka."

“Aku cuma tidak suka… melihat orang lain dapat perhatian lebih," jawab Max sambil tersenyum tipis tapi nampak serius.

“Perhatian tidak untuk diperebutkan, Max”

1
𝐀⃝🥀Weny
keren kau Max👍🏻
𝐀⃝🥀Weny
akhirnya dapat restu juga dari camer🤭 hati² kamu Sofia jangan sampai kamu membangunkan singa yang sedang tidur😁
𝐀⃝🥀Weny
dobel up thor
Aurora: siap... di usahakan ya.../Ok/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!