NovelToon NovelToon
Resep Cinta Dokter Narendra

Resep Cinta Dokter Narendra

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Sci-Fi / Dokter
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Naila fitri

Judul lama : Diagnosis: Falling For You

dr. Narendra Adiwijaya, Sp.B adalah putra tunggal dari keluarga konglomerat, Narendra dipersiapkan sejak kecil untuk menjadi penerus Adiwijaya Healthcare Group. Tuntutan tinggi tersebut membentuk Narendra menjadi pria kaku, dominan, dingin.

dr. Nayla Kartikasari, Sp.A adalah anak pertama dari pasangan Arga Dewantara dan Citra Kirana, memiliki seorang adik bernama Bintang. Nayla memiliki sifat yang hangat, ekspresif, namun bermental baja menjadikannya dokter yang disukai oleh anak anak

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naila fitri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Zurich

Udara dingin khas Pegunungan Alpen menyapa begitu pintu pesawat privat Adiwijaya Group terbuka di Bandara Zurich, Swiss. Angin musim gugur yang berembus pelan membuat suhu udara berkisar di angka 10 derajat Celsius—cukup untuk membuat siapa saja yang baru mendarat menggigil jika tidak berselimut jaket tebal.

Nayla baru saja melangkahkan satu kakinya di tangga pesawat ketika sebuah mantel bulu tebal berwarna krem tiba-tiba diselimutkan ke bahunya dari belakang.

Aroma maskulin yang sangat dihafalnya langsung menyergap indra penciuman. Narendra berdiri rapat di belakangnya, merapikan kerah mantel Nayla lalu mengancingkannya hingga rapat ke batas leher.

"Naren, aku bisa kancingin sendiri..." protes Nayla pelan, meski bibirnya tersenyum manis.

"Biar aku aja, Sayang," sahut Narendra lekat-lekat dengan nada baritonnya yang tidak menerima bantahan. Pria itu sendiri tampil sangat tampan memakai trench coat hitam panjang yang makin menegaskan postur tubuhnya yang tinggi tegap. "Aku gak mau baru lima menit mendarat di Swiss, Dokter Spesialis Anak aku langsung masuk angin."

Nayla memutar bola matanya gemes. "Iya, Dokter Bedah Protektif."

Narendra tidak membalas, melainkan langsung meraih jemari mungil Nayla, memasukkannya ke dalam saku mantel hitamnya yang hangat, lalu menggenggamnya erat-erat sepanjang jalan menuju mobil jemputan villa mereka di kawasan Zermatt.

Perjalanan darat menuju Zermatt menyuguhkan pemandangan Pegunungan Matterhorn yang megah dengan puncak bersalju abadi. Chalet atau villa kayu bergaya klasik-modern yang telah disewa Narendra berdiri anggun di perbukitan sepi yang jauh dari hiruk-pikuk kota.

Begitu melangkahkan kaki ke dalam villa, kehangatan dari perapian batu alam langsung menyambut mereka. Dinding kaca besar di ruang tengah menyorotkan pemandangan lembah hijau dan gunung es secara langsung.

Nayla langsung berlari kecil menuju dinding kaca, menempelkan kedua telapak tangannya di sana dengan mata berbinar-binar seperti anak kecil yang baru diberi hadiah mainan.

"Baguss bangett, Naren!" seru Nayla antusias, menoleh ke arah suaminya. "Ini beneran pemandangan Matterhorn dari dalam kamar?"

Narendra meletakkan mantelnya di sandaran kursi, lalu melangkah mendekati istrinya. Ia berdiri di belakang Nayla, melingkarkan kedua lengan tegapnya di pinggang ramping wanita itu dan menyandarkan dagunya di bahu Nayla.

"Suka?" bisik Narendra lembut.

"Suka banget! Makasih ya, Naren..." Nayla menyandarkan kepalanya di dada bidang Narendra, menikmati detak jantung suaminya yang teratur.

"Sama-sama, Sayang," sahut Narendra. Jemari panjangnya usil mengusap leher hangat Nayla. "Tapi karena ini hari pertama honeymoon kita, ada aturan penting yang harus disepakati."

Nayla mengernyitkan kening, memutar tubuhnya dalam dekapan Narendra hingga mereka berhadapan. "Aturan apa? Kamu buat SOP honeymoon juga?"

Narendra tersenyum tipis—senyuman jahil yang amat jarang diperlihatkan kepada orang lain. "SOP nomor satu tidak ada yang boleh membuka surel rumah sakit, tidak ada yang boleh baca jurnal medis, dan ponsel kamu resmi aku sita selama dua minggu ke depan."

"Naren!" pekik Nayla kaget. "Gimana kalau Rania atau poli anak ada emergency?"

Narendra merengkuh pinggang Nayla makin rapat, menundukkan kepalanya hingga ujung hidung mereka saling bersentuhan. Sepasang mata elangnya menatap lurus ke dalam manik mata Nayla dengan dominasi yang membakar.

"RS Medika Adiwijaya punya puluhan dokter konsulen senior yang digaji mahal buat mengatasi emergency," bisik Narendra, suaranya makin rendah dan serak. "Dua minggu ini... waktu kamu, pikiran kamu, dan seluruh perhatian kamu cuma milik aku. Paham, Nyonya Adiwijaya?"

Pipi Nayla mendadak memerah hebat. Tatapan matanya terkunci oleh intensitas emosi dari suaminya. Sebelum Nayla sempat membalas, Narendra sudah memotong sisa jarak dan mencium bibir manis istrinya dengan kehangatan yang amat dalam dan posesif.

Sementara itu, sembilan ribu kilometer dari Zurich... di Ruang Dokter Lantai Empat RS Medika Adiwijaya, Jakarta.

Gibran sedang duduk selonjoran di sofa empuk sambil menikmati es kopi susu. Rania baru saja melangkah masuk membawa tumpukan rekam medis pasien anak.

"Dokter Gibran," panggil Rania curiga. "Dokter Narendra beneran gak bisa dihubungin sama sekali? Ini ada bekas pasien operasi jantung bulan lalu yang mau konsultasi obat."

Gibran tertawa terbahak-bahak sampai nyaris tersedak kopi susunya.

"Rania..." ujar Gibran sambil menggeleng-gelengkan kepala. "Lo kalau sayang sama nyawa lo, jangan sekali-kali coba ketik pesan WhatsApp ke Naren minggu ini. Ponselnya pasti udah dimatikan total atau malah dibuang ke Danau Zurich!"

"Tapi kan cuma nanya dosis obat, Dok!"

"Boro-boro dosis obat!" semprot Gibran kocak. "Naren itu lagi mode honeymoon berdua sama Nayla di Eropa. Jangankan balasan chat, kalau lo telepon sekarang, yang ada nama lo dicoret dari daftar asisten poli!"

Rania menepuk jidatnya keras-keras. "Astaga... Dokter Naren kalau lagi bucin emang serem banget ya."

Gibran menyeringai lebar. "Makanya, biarkan dua sejoli itu bersenang-senang dulu di Swiss. Tugas kita di sini cuma satu berdoa semoga waktu mereka pulang minggu depan, kita gak langsung dikasih kabar kehadiran ponakan baru!"

**

Pagi hari di Zermatt disambut oleh kepingan salju pertama musim gugur yang turun perlahan menutupi jalanan batu bergaya abad pertengahan. Suasana desa tanpa kendaraan bermotor (car-free village) itu terasa begitu tenang.

Nayla keluar dari pertokoan kayu kecil sambil memeluk kantong kertas berisi croissant hangat dan dua cangkir hot chocolate. Ia mengenakan kupluk rajut berwarna merah marun dan syal tebal yang menutupi sebagian pipinya yang memerah akibat udara dingin.

Tak jauh di depannya, Narendra sedang berdiri di dekat kereta kuda wisata. Pria bedah itu tampil sangat maskulin dengan mantel wol tebal berwarna abu-abu gelap, memegang kamera mirrorless milik Nayla yang sengaja ia kalungkan di lehernya.

"Sayang! Lihat ke sini!" panggil Naren antusias, mengangkat ponselnya untuk mengambil foto istrinya.

Dengan senyuman terkembang lebar, Narendra melangkah menghampiri istrinya, secara alami mengambil kantong kertas dari tangan Nayla agar jari-jari halus wanita itu tidak kedinginan.

"Gak pakai sarung tangan, hm?" tegur Narendra lembut. Tanpa menunggu jawaban, ia meraih jemari mungil Nayla yang terasa dingin lalu memasukkannya ke dalam saku mantelnya yang hangat.

"Lupa di meja tadi," kekeh Nayla manja. Ia mendekatkan cangkir cokelat hangat ke bibir Narendra. "Cobain deh, rasanya enak banget. Ada rasa cinnamon-nya sedikit."

Narendra menyesap cokelat hangat itu nurut, namun sepasang mata elangnya tetap mengunci pandangan ke wajah cantik istrinya. "Manis. Tapi masih kalah manis sama kamu."

Pipi Nayla seketika merona lebih merah daripada warna kupluk rajutnya. "Narendra Adiwijaya! Kamu belajar dari mana sih gombalan receh kayak gitu? Pasti diajarin Gibran, ya?"

Narendra terkekeh rendah—suara bariton yang terdengar sangat memanjakan di tengah deru angin dingin Zermatt. "Gibran gak punya kapasitas buat ngajarin aku, Sayang. Itu murni reaksi alami setiap kali aku liat kamu."

Nayla menepuk pelan dada tegap suaminya, meski tak bisa menahan tawa bahagia yang membuncah di dadanya. Mereka berjalan berdampingan menyusuri trotoar bersalju.

**

Di sebuah restaurant saat Narendra sedang memesan menu makan siang di meja kasir, Nayla duduk di dekat jendela kaca besar yang menghadap langsung ke panorama Pegunungan Matterhorn. Tiba-tiba, seorang pria berpostur tinggi dengan pakaian musim dingin elegan melangkah mendekati mejanya.

"Nayla? Nayla Kartikasari?" panggil pria itu dalam bahasa Indonesia dengan aksen yang sangat familiar.

Nayla menoleh sentak. Keningnya berkerut mencoba mengenali wajah pria paruh baya yang berdiri di depannya. Pria itu memiliki gaya bicara yang berwibawa, rambut klimis beruban tipis, dan tatapan mata yang cerdas.

"Profesor Adrian?" panggil Nayla ragu, sebelum matanya membelalak kaget. "Profesor Adrian Hartanto?!"

Pria itu tersenyum lebar. Prof. dr. Adrian Hartanto, Sp.A(K)—seorang senior konsultan pediatri reputasi internasional yang dulu menjadi pembimbing utama dan mentor kesayangan Nayla saat ia menempuh pendidikan spesialis anak.

"Ya ampun, Nayla! Beneran kamu!" seru Profesor Adrian hangat. "Saya pikir saya salah lihat dari luar tadi. Sudah lama sekali gak ketemu sejak kamu selesai pendidikan di Jakarta!"

Nayla langsung berdiri dengan sopan. "Iya, Prof! Saya kaget banget ketemu Profesor di Zermatt. Profesor lagi ada acara simposium di sini?"

"Ada konferensi gabungan pediatri Eropa di Zurich minggu ini, terus saya sengaja main ke Zermatt buat liburan singkat," jawab Profesor Adrian ramah. Matanya melirik ke arah gaun dan cincin pernikahan yang melingkar cantik di jari manis Nayla. "Wah, kamu makin sukses saja. Dan... tunggu, cincin itu? Kamu sudah menikah?"

"Sudah, Prof. Baru seminggu yang lalu," senyum Nayla mengembang penuh rasa syukur.

Sebelum Profesor Adrian sempat menanyakan sosok pria beruntung tersebut, sebuah aroma maskulin mendadak menyapu area meja.

Aura dominasi yang pekat dan dingin seketika merayap di sekitar mereka. Narendra melangkah kembali dari meja kasir, berdiri tepat di samping Nayla. Tangan kekarnya tanpa ragu langsung merengkuh pinggang ramping Nayla, menarik tubuh istrinya sedikit rapat ke sisinya dalam gestur kepemilikan yang sangat jelas.

Sepasang mata elang Narendra menatap Profesor Adrian dengan pandangan menilai yang tajam.

"Ada apa, Sayang?" tanya Narendra rendah, suaranya sarat akan nada protektif yang tak teralihkan.

Profesor Adrian agak tersentak melihat kehadiran pria tinggi tegap yang memancarkan aura intimidasi begitu kuat di depan Nayla. Namun sebagai sesama senior di dunia medis, ia cepat menguasai diri.

Nayla tersenyum menenangkan, mengusap pelan lengan Narendra yang melingkar di pinggangnya untuk meredakan keposesifan suaminya. "Naren, kenalin. Ini Profesor Adrian, dosen pembimbing tesis dan mentor aku waktu sekolah spesialis anak dulu."

Nayla lalu menatap mentornya. "Prof, ini suami saya... dr. Narendra Adiwijaya"

Mendengar nama Narendra Adiwijaya, mata Profesor Adrian seketika membelalak terang. "Adiwijaya? Pimpinan Operasional RS Medika Adiwijaya sekaligus putra dari Arsenio Adiwijaya?"

Narendra mengangguk kaku, mengulurkan tangannya dengan formalitas dingin namun tetap sopan. "Narendra Adiwijaya. Salam kenal, Profesor."

Profesor Adrian menyambut uluran tangan Narendra, terkekeh pelan penuh kagum. "Luar biasa... pantas saja Nayla tidak pernah merespons kabar perjodohan dari kolega-kolega senior dulu. Ternyata dia disunting oleh salah satu dokter bedah dan pimpinan rumah sakit terbaik di negeri ini."

Narendra menyunggingkan senyum tipis—senyuman penuh kemenangan yang ditunjukkannya secara elegan. "Nayla adalah prioritas saya, Profesor."

Profesor Adrian tertawa hangat. "Saya bisa lihat dari cara kamu memegang pinggangnya, Dokter Narendra. Sangat protektif. Nayla ini dulu mahasiswi paling jenius yang pernah saya bimbing, jadi tolong jaga dia baik-baik."

"Tentu," sahut Narendra mantap tanpa ragu sedikit pun. "Tanpa diminta pun, saya akan menjaganya dengan sangat baik."

Pipi Nayla kembali membara mendengar ucapan suaminya di depan mentor seniornya sendiri. Setelah berbincang singkat dan mengucapkan selamat atas pernikahan mereka, Profesor Adrian akhirnya pamit untuk bergabung dengan rombongan koleganya.

Begitu Profesor Adrian berlalu dari kafe, Nayla mendongak menatap wajah suaminya yang masih tampak keruh dan agak kaku.

"Naren..." panggil Nayla lembut, menyenggol lengan Narendra. "Jangan bilang kamu...cemburu?"

Narendra mendudukkan Nayla di kursi, lalu ia sendiri duduk di depannya. Pria itu menyesap kopi hitamnya tenang, namun matanya tetap menatap Nayla lekat-lekat.

"Dia mantan dosen kamu yang dulu sering kamu puji-puji di jurnal itu, kan?" gumam Narendra dengan suara bariton yang agak berat.

Nayla tak sanggup menahan senyum giginya. Seorang dr. Narendra Adiwijaya yang ditakuti seluruh residen di rumah sakit ternyata bisa cemburu hanya pada seorang profesor senior.

Nayla mengulurkan tangannya di atas meja, menggenggam erat jemari kekar suaminya.

"Dia itu cuma mentor akademis aku, Suamiku sayang," bisik Nayla manis, menekankan kata Suamiku. "Yang punya hati aku, yang nemenin aku tiap malam, dan yang ada di masa depan aku cuma kamu. Narendra Adiwijaya."

Narendra menatap jemari mereka yang bertaut, lalu menghembuskan napas panjang. Senyuman tipis yang sangat hangat akhirnya terukir di bibirnya. Ia membalikkan telapak tangan Nayla, mengecup punggung tangan istrinya itu dengan penuh kelembutan.

"Aku cuma gak suka ada pria lain yang menatap kamu terlalu lama, Nayla," aku Narendra jujur dan posesif. "Bahkan mentor kamu sekalipun."

Nayla tertawa pelan, menggelengkan kepalanya melihat tingkah bucin suaminya yang makin hari makin tidak ada obatnya.

Jangan lupa like yoooow😚

Mau double up ga nihhh?

1
tata
thor up nya jangan lama²+ banyakin ya 🤭
Macyooo: Wkwkwk, terima kasih sudah mampir friends😚
total 1 replies
Macyooo
Jangan lupa tinggalkan jejak friends
Macyooo
jangan lupa tinggalkan jejak yaaa
Macyooo
Jangan lupa tinggalkan jejak yaaa
Macyooo
Jangan lupa tinggalkan jejak ya friends
Macyooo
Haloooo Friendsss!! welcome di cerita pertama akuu, semoga suka yaaa, happy reading 😍😍
Macyooo
Halooo friendsss!!! welcome di cerita pertama akuu, semoga suka yaaa, yang punya kritik dan saran boleh nihh disampaikan🤩🤩
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!