Di saat dunia memilih memihak yang kuat, Seline hadir bersama Sistem Balas Dendam untuk menghukum mereka yang lolos dari hukum.
Ia akan merayu pria yang paling dicintai targetnya, meruntuhkan kepercayaan, mematahkan kesetiaan, lalu membiarkan para pelaku menyaksikan kebahagiaan yang mereka bangun di atas penderitaan orang lain runtuh dengan tangan mereka sendiri.
Ia bukan malaikat. Bukan pula iblis.
Ia adalah keadilan yang gagal diberikan dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ucum_alattas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29
“Max, aku baik baik saja,” hibur Selina lembut.
Mata Maxime memerah. Ia menatap wajah Selina yang pucat itu.
“Aku benar benar baik baik saja. Aku bahkan bisa melompat sekarang. Apa kau perlu buk_ Max,” kalimat Selina terputus karena Maxime memeluknya erat.
“Kau harus baik baik saja,” bisik Maxime dengan suara parau.
Selina yang mendengar itu terdiam. Matanya juga memerah. Pelan, ia menepuk punggung suaminya itu.
“Hmm, kau jangan khawatir. Aku akan baik baik saja. Anak kita juga,” bisiknya lebut.
Maxime bergumam pelan. Pelukannya semakin mengerat, membuat Selina yang bisa merasakan dengan jelas kekhawatiran Maxime itu tersenyum.
Namun, dalam hati sistem benar benar memarahi keputusan Selina yang ia anggap ceroboh.
[“Tuan, bagaimana anda bisa membahayakan diri anda sendiri? Bagaimana jika Selina berhasil mencelakai anda. Nasib baik, Maxime menangkap anda tepat waktu sebelum anda membentur lantai. Tuan, tolong, pikirkan konsekuensinya sebelum anda bertindak.”]
Selina hanya tersenyum. “Apa yang perlu kau takutkan. Aku tidak akan melakukan sesuatu tanpa alasan. Ini adalah klimaks dari balas dendam yang aku susun,” ucapnya dengan senyum lembut.
Sistem terkejut. [“Tuan? Rencana apalagi yang tidak aku ketahui?”]
“Kau lihat, saja. Kali ini, aku akan memberikan keadilan sepenuhnya untuk mereka yang memohon keadilan,” bisiknya lembut.
[“Tuan, apa anda ingin menyelesaikan misi anda hari ini?”] tanya sistem penasaran.
Selina terdiam. Namun, diamnya sudah menjadi jawaban jelas untuk sistem.
“Sistem, jika aku menyelesaikan misi ini, apa dunia ini juga akan runtuh? Lalu, bagaimana dengan Maxime, bagaimana dengan anak anak yang akan ku lahirkan nanti?” tanyanya tiba tiba penasaran.
[“Tuan, anda tidak perlu khawatir. Saat anda menyelesaikan misi, anda akan diberi dua pilihan. Pertama, anda bisa tetap tinggal di sini, dan meninggal karena usia tua. Kedua, anda bisa langsung pergi ke dunia kedua, dengan meninggalkan kloning anda di dunia ini. Jangan khawatir, kloning itu juga bagian dari anda. Tidak akan ada perbedaan antara kloning atau pun diri anda sendiri.”
Selina yang mendengar itu sedikit lega. Ia tak bisa menampik, perhatian Maxime sedikit membuatnya luluh. Jika ia harus meninggalkan dunia ini, dan membuat Maxime sendirian, ia sedikit kasihan. Selain itu, anak yang ia kandung, ia juga perlahan menanamkan kasih sayang untuk bayi ini.
“Baiklah, aku ingin tetap di dunia ini sampai aku melahirkan anak pertamaku. Saat usia anak ini masuk tiga tahun, aku akan pergi ke dunia selanjutnya,” putusnya setelah banyak pertimbangan
Tetap tinggal di dunia ini tidaklah mungkin. Ia tak ingin mensiasiakan waktunya. Ia juga takut, semakin lama ia berhubungan dengan Maxime, ia akan memiliki banyak ikatan dengan pria itu.
[“Baik, Tuan, sebenarnya, anda tidak perlu khawatir. Setiap anda memasuki dunia baru, perasaan yang anda miliki dengan target di setiap dunia akan di ekstrak. Anda hanya akan memiliki ingatan tentang mereka, tapi tidak dengan ikatan.”]
Selina yang mendengar itu tersenyum tak menanggapi.
“berjanjilah padaku, jangan gegabah. Jangan temui wanita gila itu lagi. Selina, kau tahu, saat melihat tubuhmu hampir terjatuh, rasanya duniaku benar benar runtuh,” ucap Maxime sungguh sungguh.
Ucapan itu menarik Selina dari alam bawah kesadarannya. Matanya menatap Maxime yang sudah menguraikan pelukannya itu.
Matanya bertemu dengan tatapan Maxime yang lembut, penuh kekhawatiran, dan penuh harap.
“Ya, jangan khawatir. Aku akan mendengarkanmu mulai sekarang.”
“Bagus!”
“Max, apa ... kak Helena baik baik saja?” tanya Selina hati hati.
Maxime yang baru saja memperingati selina terkait Helena langsung mengeraskan rahangnya. Perubahan ekspresi itu membuat selina menciut.
“Max, biar bagaimana pun dia kakaku. Aku ... aku hanya mengkhawatirkannya. Aku juga tidak akan pernah menemuinya lagi, seperti katamu,” jelasnya cepat.
Mendengar itu, Maxime menghela nafas panjang. Ia pandangi istrinya itu.
“Kau akan tahu nanti.”
Mata Selina berkedip polos. Tindakan itu membuat Maxime kembali mendesah. Memikirkan betapa polosnya istrinya ini, dan bagaimana licik dan kejamnya Helena.
Drt ... Drt ...
Suara getaran ponsel itu menarik perhatian Maxime. Maxime yang melihat jika yang menghubunginya adalah asistennya langsung mengangkat panggilan itu tanpa ragu.
“Ya.”
[“Tuan, saya sudah menyerahkan semua bukti kejahatan wanita itu pada keponakan wanita yang dibunuhnya. Tuan, jika anda tahu siapa keponakan wanita itu sekarang, anda akan benar benar terkejut.”] suara penuh semangat dari sebrang sana membuat Maxime mengangkat sebelah alisnya.
“Siapa?” tanyanya dingin.
[“Dia sekarang menjadi selingkuhan suami nona Helena. Tuan, sepertinya, Tuhan benar benar tidak buta. Dulu, nona Helena menjadi selingkuhan bibi wanita itu, membuat wanita itu harus hidup terlunta lunta karena kematian satu satunya kerabat yang ia miliki. Dan sekarang, keponakan wanita itu malah menjadi selingkuhan suaminya. Ya, meskipun menjadi simpanan itu hal tercela, tapi entah mengapa, jika yang menjadi istri sahnya nona Helena, saya benar benar mendukungnya,”] celoteh asisten itu semakin tak sadar jika apa yang ia katakan benar benar tidak cocok untuk diucapkan seorang asisten.
Namun, anehnya Maxime sama sekali tak menegurnya. Alih alih menegurnya, Maxime malah menyeringai.
“Bukankah ini hal bagus. Bantu wanita itu untuk menyebar luaskan skandal Helena. Biarkan semua orang di dunia itu tahu, jika di dunia ini, ada wanita yang sekejam itu. Bahkan, saat usianya belum dewasa, ia bisa bersikap lebih menakutkan dibanding penjahat di luar sana,” perintah Maxime dingin.
Setelah bertukar kata beberapa saat, Maxime mematikan sambungan telfonnya. Matanya masih memperlihatkan sorot kejam. Jika Helena tak mencoba menyakiti istrinya, ia tetap akan memenuhi kesepakatan antara dirinya dan Samuel, untuk menutupi skandal putrinya itu.
Namun, karena Helena sudah berani menyentuh Selina, maka ia tak perlu menepati janjinya itu lagi. Selain itu, ia pikir, Helena memang pantas mendapatkannya. Tangan wanita itu terlalu berlumuran darah.
***
Plak!
Tamparan itu menjadi sambutan pertama yang diterima Helena saat mendapati kemunculan Franklin.
Ia yang berpikir Franklin sengaja datang untuk berbaikan dengannya benar benar tercengang.
“Jalang! Kau benar benar memalukan. Aku akan menceraikanmu sekarang juga!” teriak Franklin dengan wajah merah padam.
Helena yang mendengar kata perceraian terbelalak. Meskipun ia membenci Franklin karena berani selingkuh di belakangnya, tapi ia tahu, satu satunya penopang yang ia miliki saat ini adalah franklin.
Orang tuanya meninggalkannya. Mereka menganggapnya tidak lagi berguna. Lebih tepatnya ayah kandungnya.
Sekali pun ibunya masih sesekali menghiburnya secara diam diam, tapi ia tahu, ibunya tak akan berani melawan ayahnya.
“Apa yang kau katakan? Franklin! Apa kau masih laki laki. Kau menceraikan istrimu saat dia keguguran?” maranya dengan nafas memburu.
Namun, Franklin sama sekali tak peduli. Ia mengambil ponsel, kemudian melemparkan ponsel itu ke atas paha Helena, membuat Helena yang marah hanya bisa menerima ponsel itu dan melihat berita yang menjadi trending topik saat ini.
“Ini ... ini tidak mungkin,” gumamnya tak percaya.
“Aku tidak akan pernah memiliki istri seorang pembunuh sepertimu!” ucapnya dingin sebelum berbalik.
Helena yang mendengar itu medongak. Kepanikan menguasainya.
“Franklin, kau tidak bisa meninggalkanku begitu saja!”
Namun, Franklin sama sekali tak peduli. Ia tahu, Helena suka bermain main. Tapi, ia tak pernah tahu, Helena akan menjadi wanita sekejam itu.
Sedikit rasa sayang yang ia miliki benar benar lenyap. Hanya menyisikan perasaan jijik yang kuat.