Naomi Clarisse tak pernah iri pada kehidupan sang kakak. Meski selalu dibandingkan dan diperlakukan tidak adil, ia memilih bekerja keras demi keluarganya.
Namun hidupnya berubah dalam semalam ketika Alicia Grace, kakaknya sendiri, menjebaknya di kamar hotel bersama Nathaniel Wijaya, pewaris keluarga mafia yang dikenal dingin dan tak mengenal ampun.
Sebuah fitnah menghancurkan nama baik Naomi. Di saat Alicia menghilang bersama pria pilihannya, Nathaniel yang dipenuhi amarah memaksa Naomi menggantikan posisi sang kakak di altar pernikahan.
Pernikahan itu adalah hukuman bagi Nathaniel.
Dan mimpi buruk bagi Naomi.
Ketika satu per satu rahasia mulai terungkap, Naomi harus memilih: terus menjadi korban, atau melawan demi mengungkap dalang di balik fitnah yang telah merenggut hidupnya.
Tunggu kelanjutannya hanya di Novel Toon atau Manga Toon.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Naomi mencoba Terbuka
Langit mulai diselimuti warna senja ketika sebuah mobil hitam perlahan memasuki halaman Wijaya Mansion. Deretan pelayan yang sedang berjaga di depan rumah segera menundukkan kepala memberi hormat saat Nathan turun dari mobil.
"Selamat sore, Tuan."
Nathan hanya mengangguk singkat sebelum melangkah memasuki mansion. Begitu berada di dalam, suasana rumah terasa jauh lebih tenang dibanding biasanya. Aroma masakan yang baru selesai dimasak masih samar tercium dari arah dapur, sementara beberapa pelayan tampak sibuk menyiapkan meja makan.
"Nathan." Suara Alan menghentikan langkahnya.
Pria paruh baya itu baru saja keluar dari ruang baca sambil membawa sebuah buku di tangannya.
"Pulang lebih cepat hari ini?"
Nathan menghentikan langkah. "Masih ada sedikit urusan di rumah."
Jawaban singkat itu membuat Alan sedikit mengangkat sebelah alisnya. Jarang sekali Nathan membawa urusan pribadi ke dalam percakapan.
"Kalau begitu, cuci muka dulu. Sebentar lagi makan malam."
Nathan mengangguk pelan. "Baik."
Ia kembali melangkah menuju lantai atas. Namun ketika melewati ruang keluarga, langkahnya kembali terhenti.
Dari kejauhan ia melihat Naomi sedang membantu seorang pelayan menyusun beberapa buku yang tadi dipinjam Leon dari perpustakaan kecil mansion.
Perempuan itu tampak berbicara pelan kepada Leon sambil merapikan kerah seragam rumah anak itu.
"Besok jangan lupa dikembalikan ke rak yang sama, ya."
Leon mengangguk patuh. "Iya."
Naomi tersenyum kecil, lalu mengusap lembut rambut bocah itu. Pemandangan sederhana itu membuat Nathan terdiam beberapa detik. Dari tempatnya berdiri, ia melihat Naomi tersenyum ketika Leon mengangguk patuh. Senyum itu begitu ringan, tanpa sedikit pun mengharapkan perhatian dari siapa pun.
Sebelum sempat menyadari apa yang sedang dilakukannya, Nathan kembali melangkah. Ia memilih naik ke lantai dua tanpa mengatakan apa pun.
Naomi yang kebetulan menoleh hanya sempat melihat punggung pria itu menghilang di balik belokan tangga. Entah mengapa, sore itu ada sesuatu yang terasa berbeda.
☘️☘️☘️☘️
Tak lama kemudian. Bel makan malam berbunyi pelan. Seluruh anggota keluarga mulai berkumpul di ruang makan.
Alan duduk di kursi utama, disusul Rieke di sampingnya. Leon segera mengambil tempat seperti biasa, sementara Naomi membantu para pelayan menyajikan hidangan.
Nathan datang paling akhir. Ia menarik kursinya tanpa banyak bicara. Makan malam berlangsung tenang.
Sesekali Alan membahas perkembangan salah satu proyek perusahaan, sedangkan Rieke lebih banyak mengobrol dengan Leon mengenai kegiatan sekolahnya.
Naomi hanya diam mendengarkan beberapa kali ia melirik Nathan ada banyak hal yang ingin disampaikannya. Namun melihat wajah pria itu yang tampak lelah setelah seharian bekerja, ia kembali mengurungkan niatnya.
"Mungkin nanti di kamar," batinnya.
Sementara itu, Nathan sebenarnya menyadari beberapa kali Naomi mencuri pandang ke arahnya ia memilih tetap diam.
Bukan karena mengabaikan tapi karena ia tahu. Percakapan yang akan mereka lakukan malam ini tidak bisa dibahas di depan semua orang.
☘️☘️☘️☘️☘️
Setelah makan malam usai, seluruh penghuni mansion kembali ke aktivitas masing-masing. Alan memilih masuk ke ruang baca, sementara Rieke menemani Leon menyelesaikan tugas sekolahnya.
Naomi berjalan perlahan menuju kamar. Sepanjang langkahnya, jantungnya terus berdebar. Berulang kali ia mengingat ancaman yang diterimanya siang tadi.
Tak lama kemudian. Pintu kamar kembali terbuka. Nathan masuk sambil melonggarkan dasinya. Wajahnya tampak sedikit lelah, tetapi kali ini sorot matanya tidak sedingin biasanya.
Ia meletakkan ponsel dan dompet di atas meja.
"Kau masih belum tidur?"
Naomi mengangguk pelan. "Saya menunggu Tuan."
Nathan menoleh. "Kau ingin membicarakan sesuatu?"
Naomi menggenggam kedua tangannya sendiri. "Iya."
Nathan menarik kursi di dekat meja kerja, lalu duduk. "Apa yang terjadi?"
Nathan menunggu dengan sabar, tanpa menyela sedikit pun. Sorot matanya tetap tertuju pada Naomi, membuat perempuan itu merasa bahwa kali ini pria tersebut benar-benar bersedia mendengarkan apa yang ingin ia sampaikan.
"Siang tadi..." kata Naomi terputus, "setelah Tuan berangkat ke kantor, saya menerima telepon."
Nathan mengangkat pandangan. "Dari siapa?"
Naomi menarik napas panjang. "Nomornya tidak dikenal. Awalnya tidak ada yang berbicara. Hanya terdengar suara napas."
Nathan mulai memperhatikan setiap kata yang keluar dari bibir Naomi. "Lalu?"
"Beberapa detik kemudian... Kak Alicia berbicara."
Nathan yang semula bersandar perlahan meluruskan tubuhnya. "Apa yang dia katakan?"
Naomi menelan ludah. "Dia meminta saya berhenti mencari tahu tentang dirinya."
Ruangan mendadak sunyi. Nathan menatap Naomi tanpa berkedip. "Persis seperti itu?"
Naomi mengangguk. "Dia berkata, kalau saya masih ingin hidup tenang... saya harus berhenti mencari tahu tentangnya."
Rahang Nathan perlahan mengeras. "Berarti... dia tahu kau melihatnya di depan butik."
"Saya juga berpikir begitu, Tuan. Tapi saya tidak mengerti." Naomi menatap Nathan dengan wajah bingung. "Saya tidak pernah menceritakan pertemuan itu kepada siapa pun selain Tuan. Kedua pengawal juga tidak mungkin mengetahui isi pembicaraan kita."
Nathan terdiam. Pikirannya segera bekerja menyusun berbagai kemungkinan.
"Nomor teleponnya masih ada?"
Naomi segera menyerahkan ponselnya. "Masih."
Nathan melihat riwayat panggilan itu beberapa saat. Nomor tersebut tidak tersimpan tapi ia hafal pola seperti ini.
Nomor sekali pakai. Sengaja digunakan agar sulit dilacak. Nathan mengembalikan ponsel itu kepada Naomi.
"Mulai malam ini... jangan angkat panggilan dari nomor yang tidak kau kenal."
Naomi mengangguk. "Baik."
"Dan kalau ada pesan, telepon, atau orang asing yang mencoba menghubungimu... beritahu aku saat itu juga."
Naomi sedikit tertegun. "Baik, Tuan."
Nathan berdiri dari kursinya. Sorot matanya berubah jauh lebih tajam. Kalau Alicia sudah mulai menghubungi Naomi secara langsung, berarti mereka juga mengetahui setiap perkembangan penyelidikannya.
Artinya...
Ada kemungkinan seseorang sedang mengawasi mansion. Atau lebih buruk lagi...
Ada orang yang diam-diam membocorkan informasi kepada mereka. Nathan mengepalkan tangannya perlahan.
"Sepertinya... permainan mereka sudah dimulai."
Ucapan itu terdengar lirih. Namun cukup jelas untuk membuat Naomi ikut merasakan ketegangan yang mulai memenuhi ruangan. mereka menyadari bahwa musuh yang sedang mereka hadapi bukan hanya licik tetapi juga selalu selangkah lebih dulu
Bersambung .....