Aku hanya ingin memiliki keluarga. Namun, takdir justru menyeretku ke dalam cinta yang mustahil. Terjebak di antara pria yang kucintai dan kakak angkat yang diam-diam menginginkanku, aku dipaksa menghadapi rahasia kelam yang selama bertahun-tahun disembunyikan. Saat kebenaran terungkap, bukan hanya hatiku yang hancur, tetapi seluruh hidupku ikut berubah. Akankah cinta menjadi penyelamat... atau justru awal dari kehancuranku?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andinirhein, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keluarga Yang Ku Pilih.
Hampir dua minggu Eun Dam menjalani perawatan di rumah sakit. Hari ini, aku menjemputnya untuk pulang ke apartemennya.
Sesampainya di sana, kami langsung menuju ruang keluarga.
"Duduklah dulu. Aku akan membuatkan minuman dingin untukmu," ujarnya sambil berjalan ke arah dapur.
"Tidak usah repot-repot. Biar aku bantu, ya?" tanyaku sambil mengikuti langkahnya.
"Hsst! Duduk!" tegurnya sambil menunjuk sofa.
Aku pun menurut.
Tak lama kemudian, ia kembali membawa dua gelas minuman dingin dan beberapa camilan yang tersusun rapi di atas nampan.
"Makan ini dulu, cantik. Aku mau mandi sebentar. Kalau ingin menonton drama, ini remotnya," ucapnya lembut sambil menyerahkan remot televisi yang berada di atas meja.
Aku mengangguk pelan.
Kurang lebih lima belas menit berlalu. Aku duduk santai sambil menikmati camilan yang disiapkannya.
Namun, tiba-tiba lamunanku terseret oleh drama yang sedang kutonton.
Drama itu menceritakan kisah cinta terlarang antara seorang kakak laki-laki dan adik sambung perempuannya.
Dadaku mendadak terasa sesak.
Mengapa jalan cerita ini begitu mirip dengan kehidupanku?
Aku terdiam, tenggelam dalam pikiran sendiri.
Lamunanku buyar saat seseorang membelai lembut pipi kananku.
"Hei, Seolhwa..." suara Eun Dam terdengar pelan.
Aku tersentak dan menoleh.
"Eoh? Sejak kapan kamu di sini?" tanyaku terkejut.
Ia tersenyum tipis.
"Apa yang kamu pikirkan sampai tidak menyadari kehadiranku, hm?" tanyanya sambil mengusap pucuk kepalaku.
Aku terdiam sejenak sebelum menggeleng pelan.
"T-tidak. Tidak ada apa-apa," jawabku berbohong.
Eun Dam menatapku lekat.
"Seolhwa, kamu tahu tidak? Sebuah hubungan bisa bertahan karena komunikasi."
Aku menoleh ke arahnya.
"Kalau dua orang saling terbuka, saling percaya, dan tidak menyembunyikan apa pun, hubungan itu akan menjadi sehat."
Aku menggigit bibir bawahku pelan.
Apa aku harus memberitahunya?
Apa aku harus mengatakan bahwa sebenarnya aku bukan adik kandung Hwi Sol Oppa?
Jantungku berdegup semakin cepat.
"Baiklah," lanjut Eun Dam sambil tersenyum lembut. "Aku tidak akan memaksamu bercerita. Tapi kamu harus ingat satu hal."
Ia menggenggam tanganku perlahan.
"Aku akan selalu ada untuk mendengarkan semua ceritamu, Seolhwa."
Kalimat itu membuat pertahananku runtuh.
Aku mencengkeram erat ujung rokku. Menarik napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan.
"S-sebenarnya aku..."
Tenggorokanku terasa tercekat.
"Aku bukan adik kandung Hwi Sol Oppa."
"Apa?" Mata Eun Dam membelalak. "Apa maksudmu?"
Aku menundukkan kepala.
"Aku juga baru mengetahui semuanya beberapa bulan lalu. Saat itu aku menemukan buku harian Oppa dan membaca isinya."
Suaraku mulai bergetar.
"Aku bahkan sudah mendatangi panti asuhan tempat aku diadopsi untuk mencari keberadaan orang tua kandungku."
Pandangan mataku jatuh ke lantai.
"Tapi sampai sekarang aku belum menemukan mereka."
Hening sesaat menyelimuti ruangan.
Tanpa berkata apa-apa, Eun Dam menarik tubuhku ke dalam pelukannya.
Tangannya mengusap lembut rambutku seolah berusaha menenangkan semua luka yang selama ini kusimpan sendiri.
"Tenang saja," bisiknya.
"Aku akan membantumu menemukan mereka. Kita akan mencarinya bersama."
Aku memejamkan mata sejenak sebelum perlahan melepaskan pelukan itu.
Lalu aku menggeleng pelan.
"Tidak."
Eun Dam menatapku bingung.
"Dulu aku memang sangat ingin mengetahui siapa orang tua kandungku. Aku ingin tahu mengapa mereka meninggalkanku."
Aku tersenyum pahit.
"Tapi sekarang aku berubah pikiran."
"Seolhwa..."
"Aku lebih memilih menjalani hidupku seperti sekarang. Sebagai adik Hwi Sol Oppa dan sebagai anak dari orang tuaku."
Air mata mulai menggenang di pelupuk mataku.
"Semakin aku mencari tahu tentang mereka, semakin hatiku sakit."
Aku menunduk dalam.
"Aku tidak membenci mereka. Aku yakin mereka memiliki alasan sendiri saat menitipkanku ke panti asuhan."
Suaraku bergetar.
"Hanya saja... aku tidak ingin membuka luka itu lagi."
Aku mengangkat kepala dan menatap Eun Dam.
"Karena itu, tolong jangan pernah menceritakan hal ini kepada Hwi Sol Oppa."
Ia terdiam beberapa saat.
"Anggap saja kita tidak pernah mengetahui apa pun."
Eun Dam menatapku dalam-dalam sebelum akhirnya mengangguk.
"Baiklah."
Ia menggenggam tanganku dengan lembut.
"Jika itu yang kamu inginkan, aku akan menghormati keputusanmu, Seolhwa."
"Oh ya, lusa aku akan mengunjungi orang tuaku di Daegu. Apa kamu mau ikut denganku?" tanya Eun Dam dengan nada hati-hati.
Aku menoleh ke arahnya.
"Ikut?"
Eun Dam mengangguk pelan lalu tersenyum.
"Tentu saja. Mulai sekarang, kedua orang tuaku juga adalah orang tuamu, Seolhwa."
Aku terdiam sejenak.
Kalimat sederhana itu berhasil membuat hatiku menghangat.
"Memangnya boleh?" tanyaku ragu.
"Tentu boleh." Ia terkekeh pelan. "Bahkan menurutku, kamu harus ikut."
Aku tak kuasa menahan senyum.
"Baiklah kalau begitu. Lagipula aku juga belum pernah ke Daegu."
"Kalau begitu sudah diputuskan." Eun Dam mengusap puncak kepalaku dengan gemas. "Lusa kita berangkat bersama."
Aku mengangguk pelan.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku merasa memiliki tempat untuk pulang.
Di sisi lain, Hwi Sol tengah disibukkan oleh pekerjaannya yang menumpuk.
Pria itu duduk di kursi ruang kerjanya sambil menatap layar tablet di tangan. Berbagai jadwal rapat, laporan proyek, dan agenda bisnis memenuhi hari-harinya selama beberapa minggu ke depan.
"Banyak sekali jadwal bulan ini," gumamnya pelan.
Jemarinya terus menggulir layar.
"Lusa aku juga harus berangkat ke Singapura."
Hwi Sol menghela napas panjang.
Ia meletakkan tabletnya di atas meja, lalu menyandarkan tubuh ke kursi kerja. Tangannya terangkat memijat pelipis yang mulai terasa nyeri akibat kelelahan.
Ruangan itu kembali sunyi.
Namun di tengah kesibukan yang menyesakkan, pikirannya tiba-tiba melayang pada satu orang.
Seolhwa.
Sorot mata Hwi Sol berubah sendu.
Masih ada satu hal yang selama ini ia sembunyikan.
Satu kebenaran yang terus menghantuinya siang dan malam.
Kebenaran tentang siapa dirinya sebenarnya.
Ia menutup mata sejenak.
Bagaimanapun juga, Seolhwa berhak mengetahui semuanya.
Meski kenyataan itu begitu pahit.
Meski setelah mengetahui kebenaran tersebut, mungkin saja Seolhwa akan membencinya.
Hwi Sol mengepalkan tangannya erat.
"Aku harus mengatakannya..."
Suara itu nyaris tak terdengar.
Cepat atau lambat, rahasia itu akan terungkap.
Dan ketika hari itu tiba, hidup mereka mungkin tidak akan pernah sama lagi.
***
Malam hari telah tiba.
Aku sedang fokus menatap layar laptop di meja kerja kamarku ketika suara ketukan pintu disertai panggilan lembut menghentikan aktivitasku.
"Seolhwa..."
Aku segera berdiri dan membuka pintu.
"Iya, Oppa?"
Di hadapanku, Hwi Sol oppa berdiri dengan ekspresi yang sulit kuartikan.
"Apa kamu sedang sibuk?" tanyanya pelan.
"Sedikit. Memangnya ada apa?" Aku tersenyum tipis. "Masuklah, Oppa. Duduk dulu."
Hwi Sol oppa melangkah masuk lalu duduk di sofa kecil yang berada di sudut kamar.
Namun, alih-alih langsung berbicara, ia justru terdiam cukup lama.
Aku dapat melihat kegelisahan di wajahnya.
"Ada sesuatu yang ingin Oppa sampaikan," ucapnya akhirnya.
Aku menatapnya penuh perhatian.
"Tapi Oppa harap setelah mendengarnya nanti, kamu bisa memahami keadaan ini dan tidak membenci Oppa, Eomma, maupun Appa."
Dadaku berdesir pelan.
Sebenarnya, aku sudah tahu apa yang akan ia katakan.
Aku sudah mengetahui rahasia itu sejak beberapa bulan lalu.
Namun, aku memilih berpura-pura tidak tahu.
"Iya, Oppa," jawabku lembut. "Aku janji."
Hwi Sol oppa menarik napas panjang sebelum akhirnya mulai menceritakan semuanya.
Tentang masa laluku.
Tentang bagaimana aku diadopsi.
Tentang kenyataan bahwa aku bukan anak kandung keluarga mereka.
Sepanjang cerita itu berlangsung, aku memasang ekspresi terkejut sebaik mungkin.
Bukan karena aku ingin berbohong.
Aku hanya tidak ingin Oppa mengetahui bahwa aku sudah lebih dulu menemukan kebenaran tersebut.
Karena jika aku mengaku sudah tahu, besar kemungkinan ia juga akan menyadari bahwa aku mengetahui perasaannya selama ini.
Dan aku tahu, hal itu hanya akan membuatnya semakin terluka.
Aku tidak ingin menambah luka yang selama ini ia sembunyikan sendirian.
Setelah selesai bercerita, Hwi Sol oppa menatapku dengan cemas.
Wajahnya dipenuhi rasa bersalah.
"Kamu baik-baik saja, Sayang?" tanyanya sambil memegang kedua pundakku dengan lembut.
Aku dapat melihat matanya yang sedikit memerah.
"Maafkan kami. Kami terpaksa menyembunyikan semua ini darimu selama bertahun-tahun. Oppa, Eomma, dan Appa hanya..."
Namun sebelum ia sempat menyelesaikan kalimatnya, aku langsung memeluknya erat.
Tubuh Oppa seketika membeku.
"Aku baik-baik saja, Oppa," bisikku.
Air mata mulai menggenang di pelupuk mataku.
"Justru aku yang harus berterima kasih."
Aku mempererat pelukanku.
"Terima kasih karena kalian sudah merawatku."
Suaraku bergetar.
"Terima kasih karena kalian sudah membesarkanku dengan penuh kasih sayang."
"Terima kasih karena telah memberiku keluarga."
Perlahan, ia membalas pelukanku.
Tangannya mengusap lembut punggungku, seolah ingin menenangkan seluruh kesedihan yang ada.
Lalu ia menundukkan kepala dan mengecup puncak rambutku dengan penuh kasih.
"Terima kasih..." suaranya terdengar serak.
Aku dapat merasakan tubuhnya sedikit bergetar.
"Terima kasih karena telah tumbuh menjadi wanita yang begitu baik dan bijaksana, Seolhwa."
Aku memejamkan mata.
Untuk pertama kalinya, rahasia yang selama ini membebani hati kami akhirnya terucap.
Dan anehnya, yang tersisa bukanlah kemarahan.
Melainkan rasa syukur karena kami masih memiliki satu sama lain sebagai keluarga.