(Taka season 1)
Cerita yang memiliki selera humor tinggi yang mungkin akan mengocok perut kalian.
Menggunakan bahasa Jawa tetapi akan tetap ada terjemahan arti.
Arselio Reytaka Milard, seorang pemuda masih berstatus pelajar SMA disalah satu sekolah elite yang ada dikota Jakarta. Ia memiliki saudara kembar bernama Arselio ReyNata Milard. Nama mereka begitu mirip, meski saudara kembar namun keduanya memiliki wajah yang berbeda begitupun dengan karakter sikap mereka yang juga berbeda. Namun, saudara kembar itu begitu menyayangi satu sama lain, dimana ada sang kakak maka disitu juga ada sang adik.
Dia anak horang kaya keempat, tetapi tingkah laku disekolah seperti orang biasa. Bahkan disekolah selalu bersikap konyol, apa yang dia ucapkan selalu sukses membuat orang lain tertawa.
Apakah perjalanan mencari jati diri seorang Taka akan penuh tawa seperti julukannya?
Mari kita ikuti kisah mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mei_Mei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kuliah di Tempat yang Sama
"Astagfirullahaladzim, kak Sari kenapa?" Nata menahan tawa saat melihat penampilan Sari yang berantakan.
"Ini semua gara-gara kakakmu," ucapnya dengan nada kekesalan.
"Iya, maaf Bi." sahut Taka.
"Emang kakak ngapain sampai wajah kak Sari merah seperti udang rebus?" Nata penasaran.
"Dia nggak sengaja jatuh dijalan. Aku nggak tau, ya udah kakak ngebut aja." jawab Taka.
Seketika terdengar suara tawa yang cukup keras dari Nata, ia tak bisa lagi menahan suara tawanya. Mereka ada-ada saja, dasar pasangan unik.
Sari melirik Nata dengan sinis, tanpa perasaan adik pacarnya itu menertawai dirinya.
Mengetahui lirik dari Sari, Nata menghentikan suara tawanya. "Ups... maaf. Abisnya kalian lucu. Kok bisa sampai kak Sari terjatuh dan kak Taka nggak tau?"
Taka menjelaskan kejadian dengan detail, Nata tertawa terbahak-bahak sampai ujung mata mengeluarkan air mata. Kakaknya benar-benar konyol.
"Haha... kalian ini benar-benar lucu. Astaga... coba tadi aku liat secara langsung pasti lebih lucu lagi." ucap Nata masih dengan tawanya.
Taka yang kesal menoyor kepala Nata, tapi bukannya marah, Nata masih berlanjut ketawa.
"Eh, ngapain kamu kesini?" tanya Taka.
"Aku mau ngasih tau kakak, kalau aku nanti diantar sama Martin. Kakak nggak usah nungguin aku." Nata memberi tahu.
"Oke terserah mu, tapi hati-hati kalau ketahuan ayah bisa panjang urusannya." Taka memperingati.
"Sip kak, aku nanti turun di gang depan." kata Nata sambil berlalu.
"Dek, hati-hati loh..." pesan Taka.
"Rebes kak..." Nata mengacungkan ibu jari kearah kakaknya. Dan berlalu pergi.
Setelah mengawasi kepergian adiknya, Taka kembali duduk disamping Sari.
Menyesap minuman yang masih setengah botol.
Semilir angin berhembus membawa kedamaian dalam jiwanya. Sebelah tangan masih menggenggam botol minuman yang ternyata masih belum habis.
Pandangan mata itu lurus menatap kedepan.
Sari melakukan hal sama. Untuk sejenak keduanya terdiam dalam keheningan.
Ada sesuatu yang ingin diungkapkan oleh keduanya, tapi mulut mereka masih enggan bersuara.
Memberi ruang agar menyusun kalimat dengan pas.
"Bu..."
"Bi..."
Keduanya tak sengaja memanggil bersamaan.
Dan juga gerakan kepalanya juga bersamaan saling menoleh satu sama lain.
Senyum merekah segera terbit.
"Bubu aja duluan yang ngomong," kata Sari.
"Enggak, Bibi aja duluan."
"Perjuangan kita di sekolah tinggal menghitung hari, setelah lulus Bubu mau lanjut dimana? apa masih tetap di Universitas xxx yang Bubu katakan waktu itu?" tanya Sari dengan serius.
Taka mengangguk dengan semangat. "Iya, aku dan yang lain sudah sepakat mau lanjut di Universitas xxx." jawabnya.
"Kalau Bubu daftar disana aku juga akan masuk disana. Nanti kita barengan ya daftarnya." kata Sari.
"Aku mau tanya deh, kakak pertamamu lulusan Harvard 'kan? kenapa Bubu nggak kuliah disana juga?" tanya Sari penasaran.
"Ayah dengan bunda sudah tua, aku tidak mau jauh dari mereka." Jawab Taka singkat. Memang sadari awal hanya itu alasan kenapa ia tak mau melanjutkan kuliah di universitas yang paling digandrungi dari kalangan atas.
"Sayang loh Bu, padahal kedua orang tuamu mampu membiayai kuliahmu disana. Kalau aku sih pengen banget ya... tapi jelas orang tuaku akan keberatan kalau aku kekeh minta kuliah disana." kalimat terakhir diucapkan dengan nada sedih.
"Kalau Bibi kuliah disana, kita malah nggak bisa satu kampus." Taka ingin menghibur Sari, ia tau Sari memang bukan kalangan atas. Tapi gadis pujaannya itu juga lumayan berkecukupan.
"Tapi bener ya, Bubu kuliah di Universitas xxx. Nanti kita bareng lagi!" Sari memperingati dengan jari telunjuknya.
"Iya Bi, aku bakal satu kampus denganmu. Kita nggak akan terpisah." jawab Taka.
"Ah... Bubu bisa aja... Semoga kita bisa duduk bersama ya..." kata Sari malu-malu.
"Lah, ini bukannya duduk bersama?" tanya Taka.
"Maksud aku, kita duduk bersama diatas pelaminan." jawab Sari semakin malu.
"Oh begitu. Ya mudah-mudahan saja."
Setiap insan mempunyai harapan, dan itulah harapan dari kedua insan yang memadu kasih. Berharap suatu saat bisa duduk berdampingan diatas pelaminan.
Padahal bayangan itu masih jauh, mereka sudah membayangkan itu.
Masih membutuhkan waktu 4tahun untuk menyelesaikan pendidikan akhir. Mencari pengalaman kerja, dan mencari pengalaman hidup. Semua masih harus dilewati, entah dengan tawa atau luka.
Berpisah dengan Sari, Taka mengayuh sepeda onthel sendiri. Sari pulang dengan menaiki taksi, sedangkan Taka pulang sendirian menaiki sepeda.
Diperjalanan yang panjang, remaja itu melambatkan kayuhan sepedanya.
Tes...
Setetes darah menetes membasahi kerangka sepeda. Taka langsung memberhentikan sepeda itu dipinggir jalan, bukan hanya tetesan darah yang keluar dari hidungnya, tapi tiba-tiba kepalanya terasa berat.
Ia beristirahat di bahan pohon rindang. Mengambil tissu dan mengusap daerah hidung.
"Kenapa aku mimisan? apa terlalu lelah sampai keluar darah mimisan?" ucapnya sendiri.
Hanya usapan beberapa kali darah itu sudah tidak lagi keluar. Ia membuang tissu yang ada noda darah.
Kaki panjangnya masih belum beranjak, dirasakan kepala yang pusing itu belum hilang.
Sejauh mata memandang tak ada yang melintasi jalan itu, saat ini tepat pukul 1 siang dengan terik matahari yang sangat luar biasa menyengat kulit.
Dia berpikir karna kelelahan dan juga cuaca extrim membuat tubuhnya sedikit merasakan tidak enak.
Tak ingin memaksakan diri, Taka menghubungi supir pribadi untuk menjemputnya.
Perjalanan menuju kerumah masih sangatlah jauh, dengan terik matahari seperti ini membuatnya malas melanjutkan perjalanan.
Menunggu sendirian, tak lama mobil hitam metalik sudah berhenti tepat didepannya. Supir pribadi segera turun dan membungkukkan badan sebentar. "Tuan muda kedua," sapanya.
"Pak Arman, kalau aku naik mobil, sepeda onthel ini bagaimana?" tanya Taka.
"Nggak pa-pa tuan muda, nanti bisa ditali diatas atap mobil." jawab pak Arman.
"Tuan muda, kenapa anda terlihat pucat?" Arman meneliti wajah Taka.
"Aku kelelahan, lihatlah mataharinya panas banget. Jadi kepalaku sedikit pusing." jawab Taka.
Pak Arman mengangguk-anggukan kepala. Ia percaya dengan ucapan Taka.
"Perlu dibantu nggak, pak?" Taka menawarkan diri untuk membantu.
"Tidak perlu tuan muda, biar Bapak aja yang urus sepedanya. Tuan muda tunggu didalam mobil saja." pak Arman menolak tawaran dari Taka, dan menyuruh untuk menunggu didalam mobil.
Setelah masuk kedalam mobil, Taka menyandarkan kepala dikursi belakang. Berharap rasa pusing itu segera hilang.
Setelah selesai, pak Arman melajukan mobil untuk kembali kerumah majikannya.
Ia memperhatikan wajah Taka lewat kaca spion didepannya. "Tumben sekali tuan muda kedua terlihat lesu begitu? biasanya dia selalu energik?" ucapnya lirih.
"Mungkin saja memang kelelahan seperti yang dikatakannya tadi." imbuhnya.
Tak ambil pusing, ia mengabaikan begitu saja dan kembali fokus menyetir mobil.
Taka sendiri sudah memejamkan mata dan tertidur pulas.
Mampir thor,kayaknya seru ceritanya..🙋🙋😄