NovelToon NovelToon
Dua Kali Jatuh Cinta

Dua Kali Jatuh Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi
Popularitas:952
Nilai: 5
Nama Author: SAIDA VALE

Nadia mati mengenaskan akibat dikhianati. Namun, takdir memberinya kesempatan kedua dengan memindahkan jiwanya ke tubuh Chelsea Latief, gadis kaya raya yang sedang koma.

Terbangun sebagai Chelsea, Nadia tidak hanya harus mencari cara untuk menghancurkan orang-orang yang telah membunuhnya di masa lalu, tetapi ia juga harus bertahan hidup di rumah mewah yang penuh dengan konspirasi racun, sekaligus menghadapi Reynald—tunangan arogan yang tiba-tiba berbalik mengejar cintanya.

"Aku bukan Chelsea yang bisa kamu injak-injak lagi, Tuan Reynald."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SAIDA VALE, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 29: Taruhan Nyawa di Jalanan Sentosa

Peringatan dari pesan teks itu membuat pupil mata Nadia seketika mengecil. Ia menatap layar ponselnya dengan cengkeraman tangan yang mengerat hingga buku jarinya memutih. The Watcher kembali bergerak lebih cepat daripada maut itu sendiri.

"Ada apa, Chelsea?" Reynald menangkap perubahan drastis dari ekspresi wajah tunangannya saat mereka berjalan menyusuri koridor keluar menuju lobi utama.

Nadia menoleh perlahan, suaranya merendah menjadi bisikan yang teramat serius. "Rem mobil Rolls-Royce hitam yang disiapkan untuk kita... sudah dipotong oleh orang-orang Arthur."

Mendengar hal itu, langkah kaki Reynald langsung terhenti. Matanya berkilat penuh amarah yang menakutkan, memancarkan aura tirani yang sanggup membekukan sekitar. Pria itu menatap Barra yang berjalan beberapa langkah di depan mereka.

"Barra, tahan mobilnya. Lakukan pemeriksaan visual pada sistem pengereman Rolls-Royce di depan sekarang juga. Jangan buat keributan," perintah Reynald dingin melalui earpiece komunikasinya.

Barra mengangguk sekilas tanpa berbalik, lalu melangkah lebih cepat menuju pelataran lobi. Dua menit kemudian, suara Barra terdengar kembali di earpiece Reynald dengan nada yang menegang. "Laporan akurat, Tuan. Selang minyak rem utama dipotong dengan rapi menggunakan pisau taktis. Jika kita mengendarainya di jalur turunan cepat menuju jalan tol, kita akan langsung kehilangan kendali."

Nadia melirik ke arah pintu keluar kaca lobi. Di sana, sang sopir sewaan Singapura yang tampak tidak tahu apa-apa sudah berdiri dengan payung, siap membukakan pintu mobil mewah tersebut. Sementara dari kejauhan, di dalam sebuah mobil SUV gelap yang terparkir di seberang jalan, Nadia bisa melihat siluet dua orang pria dengan teropong yang sedang mengawasi mereka.

Mereka sedang menunggu Nadia dan Reynald masuk ke dalam jebakan maut tersebut.

"Arthur ingin membuat ini terlihat seperti kecelakaan transportasi biasa bagi investor asing," desis Nadia dengan senyuman miring yang penuh dendam. "Taktik yang sangat klise."

"Kita tidak akan menggunakan mobil itu," ucap Reynald, bersiap memanggil unit helikopter pribadi dari anak perusahaannya di Singapura.

"Tidak, Reynald. Jika kita tidak masuk ke dalam perangkapnya, Arthur akan tahu bahwa kita memiliki informan internal dan dia akan mengganti strateginya dengan sesuatu yang lebih tidak tertebak," potong Nadia cepat. Otak taktisnya berpikir dalam hitungan detik. "Kita harus tetap menggunakan mobil itu, tapi dengan skenario kita sendiri."

Reynald mengernyitkan alisnya, mencengkeram pundak Nadia dengan posesif. "Aku tidak akan membiarkanmu bertaruh nyawa di dalam mobil tanpa rem, Chelsea! Itu terlalu gila, bahkan untuk ukuran gertakan bisnis!"

"Dengarkan aku dulu, Reynald yang terhormat," Nadia menatap langsung ke dalam manik mata elang pria itu dengan keyakinan yang mutlak. "Barra adalah pengemudi taktis profesional. Pelabuhan logistik Sentosa hanya berjarak tiga kilometer dari sini dengan jalur lurus yang memiliki area pasir darurat di ujung dermaga. Kita biarkan mobil itu melaju, biarkan para pengejar itu mengikuti kita, dan kita lumpuhkan mereka di area yang jauh dari jangkauan kamera publik."

Nadia mengulas senyuman menawannya yang sarat akan bahaya. "Bukankah kamu bilang ingin melihat seberapa jauh singa betina kecilmu ini bisa mencabik mangsanya?"

Reynald menatap wajah cantik Chelsea yang memancarkan keberanian yang luar biasa. Ketakutan akan kehilangan gadis ini sempat merayap di hatinya, namun harga diri dan keyakinan mutlak yang dipancarkan Chelsea justru memicu adrenalin kemarahan yang sama di dalam dirinya.

Reynald melepaskan cengkeramannya, lalu mengulas seringai miring yang tidak kalah kejam. "Baiklah. Mari kita ikuti permainan gilamu, Tunanganku. Barra, masuk ke kursi kemudi. Kita lakukan tactical crash di ujung dermaga barat."

Tiga puluh detik kemudian, Nadia dan Reynald melangkah keluar dari lobi dengan ketenangan yang menipu, seolah tidak terjadi apa-apa. Mereka masuk ke dalam kabin belakang mobil Rolls-Royce hitam yang mewah. Barra mengambil alih kemudi setelah diam-diam memindahkan sang sopir sewaan ke mobil logistik cadangan dengan alasan keamanan internal.

Begitu mobil mewah itu meluncur keluar dari pekarangan aula konvensi, mobil SUV gelap yang sejak tadi mengawasi langsung bergerak mengikuti dari belakang dengan jarak yang konstan.

Jalanan menuju lingkar luar pelabuhan Sentosa mulai sepi, didukung oleh guyuran gerimis tipis yang membuat aspal tampak hitam mengilat. Kecepatan mobil mulai merangkak naik hingga menyentuh angka seratus kilometer per jam saat Barra sengaja mengambil jalur turunan tajam yang menuju ke arah dermaga logistik luar.

"Tuan, mobil di belakang mulai menambah kecepatan dan mencoba memepet kita," lapor Barra tenang, matanya fokus pada kemudi sembari sesekali menekan pedal rem yang kini sudah terasa kosong tanpa tekanan sama sekali. Rem mobil telah sepenuhnya blong.

Di kabin belakang, Reynald menarik tubuh Nadia ke dalam pelukan kokohnya, mengunci posisi gadis itu dengan tubuh tegapnya agar aman dari benturan. Nadia bisa merasakan detak jantung Reynald yang berirama cepat, bukan karena takut, melainkan karena gairah pertempuran yang membara.

"Barra, hitungan mundur tiga puluh detik sebelum ujung dermaga. Pastikan mobil mereka ikut terseret ke dalam pasir pembatas!" perintah Reynald dengan suara berat yang penuh otoritas.

"Siap, Tuan! Tahan posisi Anda!" Barra membanting setir secara mendadak ke arah kiri, membuat bodi mobil Rolls-Royce bergesekan keras dengan bodi mobil SUV pengejar hingga memercikkan badai bunga api di kegelapan malam.

Brak! Ciiiiaaaat!

Dua mobil raksasa besi itu saling mengunci dalam kecepatan tinggi, melesat lurus menuju ujung jalur dermaga yang dipenuhi oleh tumpukan pasir penahan darurat dan pembatas air laut yang dalam. Permainan maut internasional ini telah resmi mencapai titik puncaknya di atas aspal Singapura.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!