NovelToon NovelToon
Thornless Red Rose

Thornless Red Rose

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Teen / Idola sekolah / Tamat
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: Sarifah31

Di balik gaun megah bertabur mawar merah dan dansa yang begitu mesra, tersimpan sebuah rahasia yang mematikan.
Melanie mengira ia telah menemukan cinta sejatinya pada diri Glen, seorang pria menawan yang memperlakukannya bak seorang ratu tanpa cela, seperti mawar merah yang indah tanpa duri (Thornless Red Rose). Namun, Melanie tidak pernah tahu bahwa di balik tatapan penuh kehangatan itu, Glen sedang merajut jaring balas dendam yang kejam terhadap keluarganya.
Ketika kebenaran perlahan mulai terkuak, Melanie harus menghadapi kenyataan pahit: apakah cinta Glen kepadanya murni nyata, ataukah ia hanya sekadar bidak dalam permainan balas dendam yang dirancang untuk menghancurkan hidupnya?
Sebuah kisah tentang cinta yang tumbuh di atas bara dendam, di mana batas antara ketulusan dan pengkhianatan menjadi begitu tipis.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sarifah31, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Retakan Pertama pada Cermin

Isak tangis yang tertahan itu akhirnya lolos juga begitu punggung tegap Glen benar-benar menghilang di balik belokan koridor. Melanie menyandarkan kepalanya pada pilar beton yang dingin, membiarkan dahinya meresapi rasa sejuk yang sedikit pun tidak mampu mendinginkan kepalanya yang terasa mau pecah. Dua belas tahun lalu. Sebuah angka yang selama ini hanya berarti masa kecil yang bahagia baginya, ternyata adalah awal dari neraka bagi orang lain, bagi Glen.

Melanie menyeka pipinya dengan kasar. Ia tidak boleh terlihat lemah. Jika ia ambruk sekarang, jaring yang dikatakan Glen tadi justru akan menjeratnya lebih cepat. Dengan sisa-sisa ketegaran yang dipaksakan, ia melangkah menuju ruang kelas Teater.

Sepanjang jam kuliah praktis hari itu, fokus Melanie terbang entah ke mana. Beberapa kali Bu Sofia menegurnya karena salah meletakkan posisi gestur saat latihan monolog. Di sudut ruangan, Diandra menatapnya dengan pandangan khawatir yang sangat kentara. Sahabatnya itu tahu, ada sesuatu yang masif yang sedang disembunyikan Melanie sejak kemarin siang.

"Mel, kita perlu bicara," Diandra langsung mencekal pergelangan tangan Melanie begitu kelas dibubarkan sore itu. Langkah mereka tertahan di dekat pintu keluar gedung teater yang mulai sepi. "Jangan bohong lagi padaku. Ini bukan soal AC kelas yang dingin atau pusing biasa. Kamu... ada masalah dengan Kak Glen, kan?"

Melanie tertegun. Ia menatap mata Diandra, ada rasa ingin menumpahkan segala beban di dadanya, namun ia urungkan. Ini terlalu berbahaya jika melibatkan orang lain. "Di, aku..."

"Aku lihat kalian di koridor barat tadi pagi, Mel," potong Diandra dengan suara yang melembut, penuh kecemasan seorang sahabat. "Aku memang suka melihat wajah tampannya, tapi cara dia mengurungmu di pilar tadi... itu tidak terlihat seperti Glen yang sedang bermain peran. Dia terlihat menakutkan, Mel. Apa dia mengancammu?"

Melanie memaksakan sebuah senyuman tipis, lalu menggeleng pelan. "Tidak, Di. Dia tidak mengancamku. Kami hanya... sedang memperdebatkan interpretasi karakter untuk tugas Bu Sofia selanjutnya. Kamu tahu sendiri kan dia se-eksentrik apa kalau soal buku?"

Diandra menatap Melanie lama, mencari kebohongan di sana, sebelum akhirnya menghela napas panjang. "Meskipun dia idola kampus, kalau dia sudah mulai membuatmu ketakutan seperti tadi pagi, beri tahu aku, ya? Aku tidak akan tinggal diam."

"Iya, Diandra. Terima kasih," bisik Melanie tulus, merasa sedikit hangat di tengah dinginnya ancaman yang mengepungnya.

Sementara itu, di sebuah kafe remang-remang tak jauh dari area kampus, Thone meletakkan cangkir kopinya dengan hentakan yang cukup keras hingga cairannya sedikit mencuat ke pinggiran keramik. Di hadapannya, Glen duduk dengan tenang, jemarinya sibuk membalik halaman buku novel fiksi ilmiah tanpa minat yang nyata.

"Glen, sampai kapan kamu mau memasang wajah seperti itu?" tanya Thone langsung tanpa basa-basi.

Glen tidak mengalihkan pandangannya dari lembaran kertas. "Wajah yang mana, Thone?"

"Wajah seorang pembunuh," sahut Thone tajam. "Aku bukan orang asing yang baru mengenalmu kemarin sore, Glen. Aku tahu kapan kamu sedang mendalami karakter fiksi, dan kapan kamu sedang benar-benar menyimpan niat buruk pada seseorang. Tadi pagi, di koridor barat... apa yang kamu lakukan pada Melanie?"

Gerakan tangan Glen yang hendak membalik halaman buku mendadak terhenti. Atmosfer di meja sudut kafe itu langsung berubah mencekam. Glen perlahan menutup bukunya, lalu menatap Thone dengan sepasang mata elang yang tidak menyiratkan emosi apa pun.

"Dia hanya sebutir kerikil yang kebetulan berada di jalan yang harus kulalui, Thone," jawab Glen, suaranya terdengar sangat datar, hampir menyerupai robot.

"Kerikil? Kamu membuat gadis seceria Melanie hampir menangis di tengah koridor dan kamu menyebutnya kerikil?" Thone memajukan tubuhnya, menurunkan volume suaranya namun penuh penekanan. "Aku tidak tahu apa yang direncanakan oleh otak gilamu itu, Glen. Tapi kalau ini ada hubungannya dengan masa lalu yang sering membuatmu terbangun tengah malam sambil berteriak... tolong jangan libatkan orang yang tidak bersalah. Melanie tidak tahu apa-apa!"

Glen terkekeh pendek, sebuah tawa kering yang terasa hambar dan dingin. Ia menegakkan tubuhnya, menatap Thone dengan kilat mata yang mendadak menajam penuh dendam.

"Tidak bersalah?" bisik Glen, suaranya bergetar oleh kemarahan yang dipendam selama belasan tahun. "Uang yang dipakai untuk membayar biaya kuliahnya yang mahal, gaun-gaun indah yang melekat di tubuhnya, dan senyuman tanpa beban yang selalu ia pamerkan di kampus ini... semuanya dibeli dengan darah dan air mata keluargaku, Thone. Jadi jangan pernah katakan padaku bahwa dia tidak bersalah."

Thone tertegun, kehilangan kata-kata demi melihat luka menganga yang begitu pekat di dalam diri sahabatnya.

Glen bangkit dari kursinya, menyampirkan tas denimnya ke bahu. Sebelum melangkah pergi, ia menatap telapak tangan kanannya sendiri, merasakan kembali getaran hebat yang sempat menjalar saat pergelangan tangan Melanie yang hangat berada di dalam cengkeramannya kemarin. Ada retakan kecil yang ganjil di dalam hatinya, sebuah perasaan asing yang mencoba menolak kenyataan bahwa Melanie hanyalah korban dari dosa orang tuanya.

Namun, Glen buru-buru menepis rasa itu. Ia mengepalkan tangannya kuat-kuat. "Cermin itu sudah pecah sejak dua belas tahun lalu, Thone," ujar Glen pelan sebelum melangkah keluar kafe. "Dan aku tidak akan membiarkan siapa pun menyatukannya kembali sebelum semuanya hancur menjadi debu."

1
Filan
langsung nembak aja nih Melanie
Filan
terlalu kejam untuk Melanie? untukmu kali
Xlyzy
sadarkan teman mu itu thone
Xlyzy
Kamu fikir naskah mu sudah rapih namun kamu lupa kamu membuat naskah dengan manusia yang memiliki akal dan sifat yang berbeda kamu tidak bisa mengatur mereka sesuai dengan alur yang kamu mau seharus nya kamu punya naskah cadangan antisipasi kalau naskah pertama tidak sukses di eksekusi
-Thiea-
perlahan, tanpa kamu sadari, niatmu itu sudah melenceng dari tujuan aslinya.
-Thiea-
ditantangin langsung sama Melani tuh Glen. kamu melampiaskan kekesalan pada orang yang gak tahu apa-apa. Apakah itu adil?
Mingyu gf😘
wahhh ada apa nih
Three Flowers
kayaknya kehidupan Glen ini ngeri banget sampai dia selalu ngehalu jadi pahlawan, mungkin dia pingin banget menyelamatkan keluarganya tapi tidak berdaya
Mingyu gf😘
iya kalau di pikir pikir buat apa begitu
Mingyu gf😘
Aduhh para cogan kampus🤭
Three Flowers
dia habis ngadepin penjahat terselubung 🤣
Filan
Kok Thone tahu segalanya? Kasihan juga Glen sok misterius padahal semua orang bisa baca dia 😅
Cimol krispy
panjang lebar banget kalimat Melanie dan itu langsung kena ke hati sih harusnya
Cimol krispy
Kenapa Glen? Kamu berfikir Melanie akan terus menjadi kelinci ketakutan yang tidak akan melawanmu
Sarifah_Aini97: Kelinci penakutnya sekarang udah berubah jadi penantang paling telak buat Glen 🤭 Makasih banget ya Kak Cimol udah selalu ngikutin perkembangan karakter Melanie dan Glen sejauh ini 🤭
total 1 replies
Miu.Nuha
selamatkan Glen, Melanie...
dia kayaknya gk benar2 jahat, tapi tersesat 😭😭
Miu.Nuha
karna melanie bukan wanita yang mudah kamu pikirkan bahkan kamu permainkan...
mau dicoba? entar kamu kena mental lagi malah 🤭🤭🤭
Mega Siregar
memang benar... walaupun Melanie tidak tahu apa2, tapi hati Glen pasti sakit melihat kehidupan yg hancur karena orang tua Melanie sedangkan Melanie hidup dengan kecemewahan diatas air mata orang tua Glen..
Mega Siregar
akhirnya, kamu jujur juga, Glen...
pasti beran memendam semuanya sendiri...
ginevra
inikah awal Glen menyukai melanie
ginevra
makjleb banget melanie
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!